
3. Malam berlalu canda berlalu kehadiran sebuah mimpi mulai mendekat di alam bawah sadar mereka. Yaa mereka mulai merasakan lelah dan terlelap dalam balutan pelukan satu sama lain. Cahaya bulan yang menyinari kecantikan mereka berdua. Hembusan angin malam yang me - nyelimuti mereka berdua. Suasana penuh cinta berada dalam seluruh ruangan itu. Meski sedikit berantakan namun mereka membayarnya dengan rasa bahagia. Mereka akhirnya tertidur pulasss.
Sementara itu di rumah megah milik seorang pria yang sangat tampan dan elegant. Yaa siapa lagi dia adalah Danish. Sementara Lily dan Dewi yang ter tidur begitu pulas berbeda dengan Danisg yang tidak dapat tidur. Dia berdiri di samping jendela kamarnya. Menatap sebuah pemandangan malam yang indah.
" fyuhhhh.... " Suara hembusan nafas yang seakan akan keluar karena beban.
Kemudian Danish mengambil gitar yang berada tepat di samping yempat tidurnya dan duduk di jendela dengan gitar berada di pangkuannya. Seolah sedang merindukan sesuatu, seolah sedang me nginginkan sesuatu, dengan nada penuh ke sedihan Danish mulai memainkan gitarnya. Alunan lagu yang mempunyai makna baginya. Apakah ada makna khusus dalam raut wajahnya ? Tidak rindukanlah seseorang selagi kau mau, temui seseorang ketika kau me nginginkan. Karena tidak ada yang bisa mengerti diri sendiri kecuali di sendiri. Orang lain hanya melihat dari apa yang bisa mereka lihat. Namun , mereka tidak bisa melihat apa yang orang tersebut rasakan.
" siall " ucapan kesal Danish seketika keluar dari mulutnya yang indah
" aku pikir kamu baik - baik saja " ucapannya lirih.
Danish memutuskan untuk berbaring di tempat tidurnya meski dia tidak bisa tidur. Danish melihat ponsel nya dan dia melihat jam yang tertulis pukul 02.30 yang mana sudah dini hari dan Daniah masih tidak bisa tertidur. Entah apa yang meng ganggu pikirannya namun Danish harus tidur karena besok harus berangkat kuliah.
Pikiran kacau , hati gelisah , seolah jiwa tidak menginginkan keadaan. " Hidup segan mati tak mau " seperti itulah kira - kira yang dirasakan Danish .
Sebuah cahaya tinggi yang muncul , suara suara yang membentuk alunan musik untuk menyadarkan seseorang. Dedaunan hijau yang basah oleh embun. Orang - orang yang mulai berlalu lalang menjalankan kewajiban mereka. Dengan sambutan yang sangat indah " PAGI "
Akhirnya pagi pun datang, sudah saatnya mereka semua untuk bangun.
" Emhhh..... " suara Lily yang masih setengah bangun. Lalu Lily mengambil jam weker yang ada di sampingnya dan melihat jam. Waktu sudah menunjukkan pukul 8.00 pagi yang ebrarti mereka harus segera bangun.
" Wi .... Dewi .... Dewi bangunnn " menggoyangkan dewi perlahan
" iyyaa apaan " suara yang terlihat malas untuk keluar
" Udah pagi woy bangun , lu ada kelas pagi nggak ? " tanya Lily yang sudah duduk sambil mengucek matanya
" enggak ada kok , udah ah mau tidur lagi emhhhh " jawab Dewi males
" bangun ah udah jam 8 pagi ini kita harus mandi abis itu sarapan , bangun tidur agak laper gw " Ucap dewi sambil megang perutnya
Mereka langsung memutuskan untuk mandi dan berganti baju. Selesai mandi mereka mulai berias meski berias natural mereka tetap harus menjalankan kewajibannya sebagai wanita yang mana tidak pernah luput dari yang namanya " kaca "
" tok ....... tok ...... tok ...... " suara pintu kosan Lily yang sedang di ketok oleh seseorang
" siapa pagi - pagi gini tumben ada tamu " mata Dewi dan Lily saling memandang dan akhirnya Lily yang memutuskan untuk membuka pintunya.
" biar gw yang bukain " ucap Lily
Lily berjalan pelan menuju pintu kosan karena tidak biasanya ada tamu yang datang apalagi hari masih termasuk pagi untuk bertamu.
" iyaa " suara Lily sambil membuka pintunya
Dan betapa mengejutkannya yang datang adalah seorang wanita paruh baya yang terlihat cantik dan elegant dengan seragam kantoran berwarna cream dan hitam yang di pakainya.
" ah eh mama " suara Lily canggung
" masuk dulu ma " lanjutnya
__ADS_1
Dengan senyuman wanita yang tak lain tak bukan adalah mama kandung nya Lily itu masuk kedalam dengan sebuah rantang yang di bawanya. Yaa itu adalah rantang makanan yang sudar di siapkannya untuk anak tercintanya karena tahu anaknya tidak pernah ada dirumah dan sarapan bersamanya.
" siapa Ly yang dateng " tanya Dewi sambil fokus mengeringkan rambutnya.
" eh loo tante Marisa " ucapnya kaget
( Marisa adalah nama ibu Lily, beliau juga merupakan direktur perusahaan SANJAYA yang merupakan perusahaan besar milik mendiang ayahnya bapak SANJAYA )
" kalian tidur bareng ? Syukurlah trimakasih nak Dewi sudah mau nemenin Lily " dengan senyuman ramah Ibu Lily mengucapkan terima kasih untuk Dewi
" Ada apa ma datng kesini pagi pagi " ucap Lily langsung blak blakan
" ini mama buatin sarapan untuk kamu, makan bareng yuk kebetulan mama sengaja bawa banyak " ucapnya dengan penuh antusias dan harapan
" makasih ma , tapi lain kali gausah bikinin Lily sarapan. Uang yang mama kasih masih cukup kok untuk beli sarapan. Liky juga berusaha irit biar gak nyusahin mama " ucap Lily cetus
" Eh ly gaboleh gitu..... " bisik Dewi kepada Lily
" iya tante tadi Lily bilang dia laper banget makannya sensi gitu , yaudah yuk makan dulu soalnya aku juga udah laper banget tante " ajaknya
Akhirnya mereka pun menata makanan di meja makan dan sarapan bersama. Namun tak sepatah katapun keluar dari mulut indah Lily.
Suasana canggung , sepi , sunyi , bahkan suara benturan sendok dan piring pun tak terdengar.
Dewi yang makan sambil sesekali melirik dan menatap ibunya Lily. " Dia terlihat sangat cantik bahkan ketika sedang makan sekalipun. Tak heran Lily juga memiliki wajah yang cantik " dalam hati Dewi
Luas namun sempit
Banyak wajah namun sepi
Layaknya sebuah hati yang mulai mati
Luka yang membekas ?
Sulit untuk menyembuhkan ?
Ingatan yang tajam sangat menyenangkan
Namun bagaimana dengan ingatan buruk yang tidak bisa dilupakan ?
Akankah kau menutupinya dengan wajah bahagia itu. Apakah kau tidak capek ?
Sampai kapan ?
Sampai sang surya berbolak balik menyapa sang rembulan ?
Dengan penuh keheningan mereka sedikit demi sedikit menyantap makanan nya sampai akhirnya mereka selesai. Ibu Lily pun akhirnya dengan canggung dan bingung memulai pembicaraan dengan santai.
__ADS_1
" Ly kamu yakin nggak mau pulang kerumah dan tinggal sama mama ? " tanya ibu Lily penuh harapan
" anuu Ly aku tunggu diluar aja ya , kalian ngobrol dulu aja enggak papa " sahut Dewi karena merasa mereka butuh waktu untuk berdua
" Nggak usah Wi kita langsung berangkat aja udah siang juga nanti telat " dengan nada sedikit menyindir
" trimakasih tapi Lily udah nyaman disini , terus lain kali gausah bawain sarapan juga ntar ganggu mama kerja. Yaudah ya Lily berangkat dulu mama juga langsung berangkat aja ntar telat ke kantornya " lanjut Lily dengan nada sedikit sinis.
Lalu Lily dan Dewi langsung berjalan menuju kampus padahal kelas masih lama di mulainya. Dengan tetesan air mata yang keluar seketika itu Lily berjalan dan merasa dia sudah keterlaluan terhadap ibunya. Namun semua itu tidak sebanding dengan kurangnya kasih sayang Lily dari orang tuanya sewaktu kecil. Lily sangat sedih dan langsung terlintas dipikirannya me memikirkan siapa ayahnya sebenarnya. Namun Lily lebih memilih untuk tidak tahu. Daripada harus bertemu dengan ayahnya dan merasakan luka seperti saat dia bertemu dengan ibu kandungnya. Meski disebut anak haram lah, anak buangan lah, anak gaguna, anak pembawa sial dan lain lain Lily sangat sabar ketika berada di depan semua orang itu. Namun apa yang terjadi ketika Lily sendirian ?
Dengan hati yang hancur air mata yang menetes ingatan demi ingatan datang menghampiri pikiran Lily. Karena merasa tidak sanggup lagi Lily jongkok dan menangis dengan kedua tangan dan lututnya sebagai sandaran. Dewi yang melihatnya pun ikut bersedih hati dan memeluknya. Suara tangisan yang terisak - isak pikiran yang kacau Lily menyuarakan isi hatinya dengan setiap tetes demi tetes air mata yang mengalir. Entah takdir akan mengubah kehidupannya kelak atau Lily akan terus hidup dalam kegelapan tidak ada yang tahu.
" gw udah kelewatan banget kan wi ? Iya kan hiks " dalam tangisnya
" enggak kok udah yuk berangkat , apa lu mau gw temenin balik lagi aja ? " Tawaran Dewi karena bingung
" gausah wi, lu berangkat dulu aja gw maubpergi ke perpus kota " Lily menolak dewi ( sambil membersihkan air mata yang ada di pipinya )
" gw temenin ya ? " jawab Dewi khawatir
" gausah wi gw mau sendiri aja , yaudah ya bay " langsubg berjalan tanpa menunggu ucapak dewi
" eh yaudah hati - hati " dengan sangat khawatir dewi mengiyakan
Pandangan lurus, fikiran kosong, hati gelisah Lily berjalan entah menuju kemana. Langkah kaki yang tiada hentinya bergantian kedepan. Suara bising kendaraan bercampur dengan orang - orang sedang berbicara. Hembusan udara panas yang menghangatkan suasana atau lebih tepatnya membuat hati semakin panas. namun kabut mulai terlihat di sekitar akankah suasana kembali menjadi dingin di sekitar Lily. Lily berjalan dan terus berjalan sampai akhirnya dia berhenti di sebuah jembatan disalah satu jalan yang ada di daerah tersebut. Lily memandangi pemandangan sungai yang mengalir dengan indahnya. warna sungai yang terlihat hijau yang menandakan bahwa sungai tersebut mungkin sangat dalam. Lily hanya berdiri dan melamun meliht semua pemandangan dengan indahnya. Melihat kendaraan kendaraan yang berlalu lalang suara suara klakson yang memenuhi daerah itu.
Sementara itu diwaktu yang sama ada seorng pria yang sudah siap untuk berangkat kuliah namun terlihat sangat enggan untuk masuk kuliah sehingga pria tersebut memutuskan untuk berjalan jalan sebentar menggunakan motornya siapa lagi kalau bukan Danish. pria yang terlihat pintar namun entah sejak kapan dia jadi malas seperti itu. Danish jalan jalan ke kota dan meletakkan motor yang ia kendarai dan memutuskan untuk berjalan jalan sebentar di jembatan kota. Danish menikmati setiap hembusan angin yang ia gunakan untuk bernafas terasa sangat melegakan baginya bisa berjalan jalan sebentar di sana.
" glududduk ..... gluduukk ...... " suara petir yang mulai terdengar dan awan hitam yang mulai menutupi kecerahan sang matahari. menandakan bahwa sebentar lagi akan hujan. ya tidak selang beberapa detik hujan pun turun begitu derasnya. Daniah berniat untuk meninggalkan tempat itu untuk mencari tempat berteduh sebelum akhirnya dia melihat seorang gadis dengan rambut panjang yang terurai yang terlihat memakai baju berwarna pink yang sedang menikmati setiap tetes demi tetes air hujan. Danish memandanginya terus menerus karena itu mengingatkan dirinya kepada seseorang. Danish tersenyum sedikit melihat gadis itu. siapa dia ? pikirnya. karena terlihat dari jauh jadi Danish tidak terlalu mengenali siapa wanita yang ada disana itu.
Lily yamg sedang di pandangi laki - laki bernama Danish tersebut tidak tahu kalau ada seseorang yang sedang melihatnya. Lily tenggelam dalam bayangan dan pikirannya. dengan mata tertutup dan kedua tangan yang sedang memegang hatinya seolah dia mengharapkan sesuatu. air mata yang bercampur dengan air hujan , senyuman hambar yang mengikit di bibirnya. rambut oanjng yang basah di buatnya , . dia tidak menghindari hujan malah justru menikmatinya. apakah dia tidak takut nanti akan sakit ( dalam pikiran Danish yang masih memandanginya dalam kejauhan )
Danish terkejut ketika melihat kaki gadis tersebut yang tak lain adalah Lily mulai gemetar dan lemas, Karena takut gadis itu akan jatuh ke sungai Danish laangsung lari dan yaa danish menangkap tangannya dan gadis itu jatuh ke atas Danish yang sudah menolongnya.
Namun anehnya gadis itu tidak berterimakasih namun malah berkata seolah Danish melakukan hal yang buruk.
" Lu kenapa nolongin gw ? " tanya Lily dengan tangisannya
" kenapa ? gw tu anak pembawa sial lu ngapain nolongin gw hah kenapa lu tolongin gw " ( masih dalam tangisannya )
" Eh lu gila ya , dasar cewek setress " ucap Danish terlihat sedikit marah
" iya gw gila , semua orang juga bilang gw gila " ucap Lily semakin keras dalam tangisannya
Danish tercengang dengan ucapan Lily yang menjawabnya. Danish merasa sedikit merasa bersalah karena mungkin dia mengucapkan kata yang nggak seharusnya dia katakan. melihat dia masih menangis di pangkuannya dengan kondisi masih hujan lebat akhirnya Danish pun mengajak Lily untuk berteduh dulu. awalnya Lily menolak karena Lily sangat sedih pada saat itu namun Danish sedikit memaksa karena takut nanti dirinya akan sakit terkena hujan yang begitu lebatnya. Setelah berteduh di lorong jembatan mereka pun hanya duduk dan menggosok gosokkan tangannya agar merasa hangat. melihat Lily yang basah kuyup dan terlihat kedinginan Danish pun akhirnya memutuskan untuk pergi.
" gw tinggal dulu bentar , lu tungguin gw disini jangan kemana - mana " perintah Danish untuk Lily dan Lily hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Lily merasa semakin dingin karena baju yang dipakainya semua basah terkena air hujan.
__ADS_1