
Akhirnya Lily mengambil jaket itu dan segera masuk untuk membersihkan diri. Lily terlihat sangat senang karena dia mempunyai sahabat yang seperti Dewi. Lily juga heran kenapa pria sedingin Danish mau membantunya bahkan membawanya ke rumah sakit. Lily bersiap siap untuk masuk kuliah hari ini. Kuliah seperti hari - hari biasa tidak ada yang spesial dari hari ini namun Danish tidak terlihat berangkat kuliah namun itu tidak penting ( pikirnya ).
Disisi lain Danish yang masih tidur di rumah pun akhirnya terbangun. Hari menunjukkan pukul 13.00 wib dimana Danish sudah kesiangan untuk masuk kuliah. ( Danish pernah meminta pembantunya untuk tidak membangunkannya ketika dia sedang tidur kecuali untuk suatu hal yang penting )
Danish terbangun dan langsung melihat jam yang ada di sampingnya.
" siall .... " gumannya yang terliat sedikit marah
Dengan segera dia beranjak dari kamar tidur dan bersiap - siap.
Dengan rambut yang tertata rapi dan pakaian serba hitam. Danish memutuskan untuk mengunjungi makam ibunya. ( Ibu Danish meninggal ketika ia melahirkannya )
Danish tidak pernah menerima kasih sayan dari ibunya. Jangankan kasih sayang bahkan bertemu pun tidak pernah. Danish merasa sangat bersalah kenapa ibunya pernah melahirkan dia. Namun ayahnya selalu memberi semangat pada Danish dan bersikeras bahwa ini bukanlah salahnya. Namun nenek Danish yaitu ibu Wijaya yang merupakan istri dari Bapak Wijaya kakek Danish.
Nenek Danish sangat membenci Danish dan bakahkan ketika kakek Danish meninggal dulu pun nenek Danish menyalahkan Danish atas kematian neneknya. Sejak saat itulah ayah Danish memutuskan untuk menyekolahkan Danish di luar negeri. Danish tidak mempunyai siapapun selain ayahnya yang selalu mendukungnya oleh karena itu Danish segera pulang ketika mendengar ayahnya sakit. Danish pulang dari Luar Negeri lantaran di beritahu bahwa Ayah Danish mempunyai penyakit leoukimia ( kanker darah ) jadi Danish memutuskan untuk pindah kuliah di indonesia untuk menjaga ayahnya. Danish sangat terluka dengan keadaan yang begitu tidak baik untuknya namun bagaimanapun juga Danish adalah seorang pria jadi dia harus bertahan apapun keadaannya.
LM.
Udara dingin menusuk setiap sentinya
Bermil mil berjalan menujunya
Apa ? Siapa ? Kenapa begitu berharga
Terbaring rerumputan yang menjulang
Tinggi seperti gunung
Penuh bunga, harum , dan tertulis namanya
Tempat suci terakhir yang ku pijakkan
Bertemu namun tak berjumpa
Bersama namun tak saling sapa
Keadaan yang tidak dapat mengubahnya
Salah satunya harus berusaha
Ikut namun tak melihat alam semesta
Atau tinggal namun tanpanya
Danish menceritakan keadaannya kepada ibunya yang sudah berada di alam lain. Ya Danish sudah berada dimakam ibunya. Memeluk kuburan ibunya dan berkata.
" ma Danish pingin ketemu mama. Mama denger Danish kan ? Beri Danish semangat ma " ucapnya dalam kesedihan
" Danish udah pindah kuliah di Indonesia lagi, jadi Danish bakal sering ketemu mama " ( lanjutnya )
__ADS_1
Danish masih berkabung dalam kepergian mamanya. Ulang tahun Danish tidak pernah di rayakan karena neneknya tidak pernah memperbolehkan siapapun untuk merayakan ulang tahunnya. Namun , meskipun begitu Ayah Danish selalu memberi kado ulangtahun dan ucapan selamat ulang tahun untuk Danish setiap tahunnya tanpa sepengetahuan neneknya ( yang merupakan ibu mertua Rizal, ayah Danish )
Danish mendoakan ibunya dengan segenap jiwanya. Danish ingin bertemu ibunya , menerima kasih sayangnya , memberikan semangat untuk anaknya dan masih banyak keinginan seorang putra yang tidak pernah menerimanya.
Setelah pergi dari makam ibunya Danish memutuskan untuk pergi ke rumah temannya Yoga yang kebetulan sedang menatto pelanggannya.
" waeyooo udah rapi aja lo, dari mana lo Dan " ( tanya Yoga yang senang melihat sahabatnya datang )
" Abis jari makam nyokap " jawabnya
" Tumben lo , udah makan lo ? Lecek amat tu muka udah kek kardus bekas ae lu ah. Sekali kali senyum kek " ( seperti biasa Yoga mulai menggoda Danish )
" paan dah " ( Danish hanya senyum sinis )
" Eh Ga gw juga pengen di tatto deh gimana menurut lo ? " tanya Danish meminta komentar Yoga
" eh lu kan kuliah. Gausah aneh² deh ntar susah nyari kerjaan " Yoga langsung menolak
Danish lalu menghela nafas panjang seolah dia sedang mempunyai banyak pikiran. Danish merasa tidak mempunyai tujuan apapun lagi , namun ingat dengan keadaan ayahnya yang semakin memburuk Danish mulai bingung lagi. Bagaimana bisa dia meninggalkan ayahnya yang sudah sangat menyayanginya.
Ruangan yang penuh dengan warna dan gambar tatto di sekitarnya, ya diansdang berada di ruangan kerja Yoga.
Satu pekan berlalu, ujian mingguan untuk praktik musik pun akan tiba besok, dan sekarang semuah mahasiswa dan mahasiswi di kelas Lily sedang mempersiapkan dan berlatih untuk mendapat nilainyang terbaik. Lily sudah mempersiapkan latihannya dan membuat lagu yang menurutnya sudah terdengar bagus. Karena bingung mau ngapain lagi Lily memutuskan untuk kerumah Nyokapnya karena sedikit merasa bersalah atas apa yang dia bicarakan minggu lalu kepada ibunya.
Sesampainya Lily di depan rumah nyokapnya Lily bingung mau masuk apa tidak , dengan langkah yang enggan Lily akhirnya memutuskan untuk masuk. Lily memanggil ibunya namun tidak ada yang menjawabnya sampai bibiknya datang dan mengatakan bahwa ibunya tidak dirumah dan masih ada di kantor. Yaa karena memang masih jam jam kerja. Lily lalu memutuskan untuk pergi ke kamarnya ( lebih tepatnya yang pernah jadi kamarnya meski hanya beberapa hari );Lily melihat sekeliling kamarnya dan yaaa tidak ada yaang berubah. Lalu Lily pergi ke ruangan yang ernah ibunya siapkan untuknya. Terlihat seperti studio musik dengan peralatan yang lengkap disana. Meski Liky tidak bisa memainkan semuanya namun nyokapnya memberikan segalanya ( yaa karena memang orang kaya sih ).
Ruangan yang berwarna ungu dan merah muda dengan dinding yang terpajang fotonya yang sangat besar. Lily memegang piano yang berdiri tepat di depannya yang terlihat bersih karena mungkin dirawat meski tidak dipakai . karena tidak ada yang bisa bermain musik kecuali Lily itu sendiri. Dengan ragu Lily menata kursinya dan bersiap untuk duduk bermain piano.
" jrengggg ....... Jrenggg ....... Jrengggg ........ Jrengggggg " suara piano yang menjadi sebuah benang tanpa ujung. BERANTAKAN !!!!!!
" aarrrrrgggghhhhhhhh " Jeritaan Lily yang mengingat kejadian pahit.
" arrrrrggggghhhhhh ....... Aaaarrrrgggghhhhh ...... " ( jeritan kembali terdengar dari mulut indah Lily )
Dia tersungkur di lantai membuang kursi yang tadinia duduki, menjerit jerit histeris seperti singa yang sedang lapar. Air mata menetes derasss
" anak siall ...... Anak pembawa sial ...... Anak haram ...... " ( suara yang terdengar di kepalanya ) bayangan - bayangan jahat yang menghantuinya. Dia menutup matanya , menutup telinganya , menjambak - jambak rambutnya.
" tidakkk ....... Tidak ....... Tidak ...... " jeritan yang semakin kerassss , semakin menjadi - jadi. Ruangan yang tadinya indah di pandang , suara kedamaian yang menyeluruh menjadi ruangan yang di penuhi dengan emosi dan air mata amarah. Bibik yang mendengar suara teriakan Lily langsung berlari dan memastikan keadaan Lily. Bibik terlihat takut dan langsung menelfon majikannya yang tak lain adalah ibunya Lily sang nyonya rumah. Lily langsung berlari ke kamarnya dan berteriak teriak sekeras mungkin. Bibik melihat Lily berlari untuk melihat Lily setelah dia menelfon nyonya nya. Namun sayangnya Lily mengunci pintu kamarnya dari dalam. Lily Lily langsung mencari - sesuatu , mengobrak abrik kamarnya semua barang yang ada di dalam kamarnya hancur. Ya seolah tersenyum senang dan jahat Lily menemukan benda tajam yang pernah ia sembunyikan di bawah kasurnya dan ternyata masih ada disana. Lily kembali membuat luka di lengan tangannya yang bahkan mempunyai bekas luka belum lama ini.
" sretttt ....... " silet yaang berjalan lurus dan cepat tepat di lengan tangannyaa. Darah mulai bercucuran air mata menetes deras dan suara tangisan yang sangat familiar.
" Lily ..... Lily ...... Lily ...... Buka pintunya sayang " teriak ibunya sambil mengetok - ngetok pintu kamar Lily yang terkunci.
" pergiiii ...... Pergi ....... Aku ini anak pembawa sial " teriak Lily yang mulai pucat dan lemas. Lily duduk di tepian lantai kasurnya. Menangis ? Berteriak ? Apa gunanya ? Semua tidak akan mengubah keadaan apapun.
Lily mulai lemas, lemas sampai bibirnya terlihat gemetaran. Darah yang kembali mengalir air mata yang mengotori pipi sampai ke lehernya. Tangisan Lily berhenti , suara Lily tidak terdengar , Lily mulai tidak sadarkan diri. Ibunya yang terkihat sangat khawatir masih berteriak di depan pintu dan menyebut nyebut anak kesayangannya itu.
" pak tolong dobrak saja pintunya. " pinta ibunya kepada sopir nya tersebut. Sopirnya langsung berjalan kearah pintu dan mendorong dorong badannya ke pintu itu
" bugg .... Bug ..... Bug ...... Brakkkkk " pintu akhirnya terbuka.
Ibu Lily langsung kembali berteriak dan lari kearah Lily.
__ADS_1
" Lily ...... Lily ..... Nak bangun " ( ibunya Lily nenangis dan memutuskan untuk membawa Lily ke rumah sakit ). Dengan bantuan sopirnya Lily di gendong menuju mobil dan langsung dibawa kerumah sakit.
Lily langsung di dorong untuk menjalankan pemeriksaan dan ibunya masih terlihat khawatir padanya. Beberapa saat kemudian dokter pun kekuar dari ruangan dan pemeriksaan.
" bagaimana keadaan anak saya dok " tanya ibu Lily khawatir.
" Tidak apa bu anak ibu akan baik - baik saja. Dia hanya pusing karena kehilangan banyak darah tepat di pergelangan tangannya. Untung saja anak ibu tidak mengenai aliran sarafnya jika terkena itu mungkin anak ibu akan kehilangan anaknya. Oh iya ada yang ingin saya katakan pada ibu , bisa ibu ikut saya sebentar ke ruangan saya ? " ( dokter meminta ibunya Lily untuk ikut dengannya untuk menbicarakan hal penting ) yang langsung di setujui oleh dirinya.
Beberapa saat kemudian Ibu Lily keluar dari ruangan dokter tersebut dengan wajah yang sedikit kecewa dan sedih. Dia langsung menuju ke ruangan rawat Lily . dia melihat anaknya yang sedang terbaring tidak sadarkan diri dan dan melihat tangan anaknya yang penuh dengan luka.
Dia memegang tangan Lily dan menangis entah apa yang dikatakan dokter itu sehingga membuatnya begitu sedih melihat anaknya. ( seorang ibu mana yang tega melihat anaknya sakit ) . Bulan mulai naik yang menandakaan bahwa hari sudah malam , namunLily belum juga siuman dari pingsan nya. Ibu Lily yang masih memegang erat tangan anaknya dan bersedih melihat anaknya dan beliau juga mulai terlelap di kasur rumah sakit yang di tiduri Lily.
Tengah malam tiba, Lily terbangun dari mimpi buruknya. Lily membuka matanya dan melihat dia sudah berada di rumah sakit. Lily melihat ibunya yang memegang erat tangannya yang sudah terlelap. Lily langsung meneteskan airmata melihatnya , antara sedih dan kecewa dengan erlakuan ibunya dahulu Lily bingung. Pikiran Lily campur aduk dia hanya meneteskan airmata dan beberapa saat kemudian dia kembali tertidur.
LM.
Menangis ? Untuk apa ?
Itu tidak akan mengubah keadaan,
Berusaha ?
Benarrrrrr !!!!! Kau harus berusaha menghadapinya
Jika diperlukan kau bisa mengubahnya
Keadaan akan tetap sama jika kita hanya berkabung
Keadaan akan menjadinlebih baik atau menjadi lebih buruk ketika kau mencoba untuk berusaha
Apakah susah berusaha ?
Tentu saja
Bahkan bayi pun akan bersusah payah terlebih dahulu sebelum akhirnya dia bisa berjalan dan berbicara dengan baik.
Pagi harinya di kampus Lily tepatnya di ruangan kesenian sudah bersiap 27 mahasiswa dan mahasiswi yang siap untuk melakukan ujian praktik kesenian yaitu membuat lagu sendiri. Suasana terlihat ramai mereka saling bertanya mengenai musik yang mereka buat. Dewi yang terlihat khawatir karena tadi dia tidak menjemput Lily ke kosnya untuk berangkaymt bersama, dia menuju kelas seni dan bertanya kepada beberapa teman kelas Lily mengenai Lily.
" Eh Lo liat Lily nggak ? " tanyanya kepada seorang mahasiswi yang sedang berkatih untuk ujiannya.
" enggak , tapi tadi pak dosen sempet bilang kalau Lily tidak masuk karena sakit " jawab salah satu teman sekelasnya Lily
" oh ya makasih ya " kata Dewi
Dewi lalu langsung mencoba menghubungi Lily namun sampai sekarang Lily tidak menjawab telfonnya. Karena takut Lily kenapa - napa akhirnya Dewi mencoba untuk menelfon Nyokap Lily dan yaa ternyata Lily berada di rumah sakit. Dewi langsung bergegas menuju kerumah sakit untuk melihat keadaan dari sahabatnya tersebut.
sampai dirumah sakit Dewi yang terlihat jhawatir langsung memanggil dan memeluk Lily.
" lo kenapa lagi sih ? baru juga kemaren lo keluar rumah sakit sekarang masuk lagi . lu demam lagi ? " tanya dewi khawatir yang membuat ibunya Lily tersontak kaget.
" apa ? kemaren kamu di rawat dirumah sakit ? kenapa nggak bilang sama mama ? kamu kenapa ? " nyokap Lily langsung melontarkan banyak pertanyaan
__ADS_1