
THROWBACK waktu Danish bersama Sila di luar negeri.
Ketika Kuliah Libur Danish dan Salli banyak menghabiskan waktu bersama. Mereka memutuskan untuk berjalan - jalan ke kawasan seattle ( Amerika Serikat ) dimana mereka hanya berjalan - jalan menikmati kebersamaan mereka. Mereka saling tersenyum sumpringah satu sama lain. Seolah dunia hanya milik mereka berdua, mereka sangat bersenang - senang melakukan apapun yang mereka inginkan tanpa menghiraukan orang lain. Mereka makan es krim dan becanda saling menumpahkan eskrim ke wajah mereka satu sama lain. Mereka berjalan jalan sambil bergandengan tangan. Betapa indahnya masa masa seperti itu bukan.
Setelah bosan mereka pun memutuskan untuk melihat kincir air seattle yang ada disana. Sangat indah sekali.
" Danish bukankan mereka terlihat indah " ( Salli berguman dan menghadapbkearah kincir itu dengan tatapan yang mengamatai )
Danish lalu berjalan dan memeluk Seli belakang
" Tidak itu tidak indah sama sekali , apa kamu membawa cermin ? " Danish melontarkan pertanyaan yang aneh
" Hah ? " Seli kaget
" jika kamu bercermin keindahan yang kamu lihat saat ini tidaklah sepadan dengan keindahan di cermin itu " Danish dengan tenang mengucapkannya
" yahhh gombal gombal " ( Selli membalikkan badan dan memukul mukul dada Danish )
Mereka bercanda ria dengan sangat senangnya sampai ketika.
" eh eh liattt ada banyak burung, aku mau liatttt "
Seli langsung berlari kearah burung dengan histeris dan yaa dia terjatuh karena tidak hati - hati. Danish yang melihatnya pun menertawakannya karena dia sudah bilang hati - hati tapi tidak di hiraukan oleh Seli. Danish langsung berjalan kearahnya sambil tertawa dan dia jongkok di depannya.
" Ayo naiklah " ( sambil menepuk punggungnya agar Seli naik ke punggungnya )
Seli pun dengan enggan langsung naik ke punggungnya. Kaki Seli terkilir dan karena hari sudah hampir gelap Danish memutuskan untuk mengantarkan Seli pulang. Danish berjalan dengan hati - hati, di tengah perjalanan
" Seli kamu tau, kamu adalah gadis terceroboh yang bisa membuat aku tersenyum kembali. Lain kali kau boleh jatuh lagi karena saat kau jatuh aku akan selalu meminjamkan punggungmu hahahaha " Dengan lembut Danish mengatakannya.
" Sell Selli " ( menoleh kearah belakang untuk melihat )
" cihhh malah tidur "
Danish pun tersenyum dan berjalan lebih cepat agar cepat sampai kerumahnya.
Throwback selesai
Jam pelajaran pun selesai, seketika Danish tersadar dari lamunannya.
Keesokan harinya Lily berangkat kuliah seperti biasa, sesampainya di kampus
" Eh Ly " ( Dewi memanggil dengan keras dan terlihat tergesa - gesa )
Dewi melihat keatas sampai bawah tubuh Lily. Dan Dia melihat luka di kening Lily.
" hah !!!! Jadi beneran ? " Kaget dan menutup kedua mulutnya.
" lo nggak papa kan Ly ? Gw lat tangan Lu sini Lu nggak papa kan ? " ( dengan cepat menarik tangan Lily )
" Kenapa sih ? " ( Tanya Lily yang terlihat bingung )
" Kata temen - temen lo di pukul Danish kemaren ? Jadi beneran ya ? " ( Ucap Dewi )
" Eh enggak kok , lo kata siapa deh " ( Lily menanyakan )
" Udah pada tau kali, bahkan di papan pengumunan juga ada foto lo terluka dan di belakang lo ada Danish. Pokonya liat aja deh sendiri "
Mereka berdua langsung berlari kearah papan dengan cepat,
" minggir - minggir " ( berjalan di kerumunan yang sedang melihat gosip di papan )
Lily yang melihatnya langsung mengambil kertas tersebut dan merobeknya.
" Lo liat Danish nggak ? " tanya Lily
" Katanya sih dia dipanggil ke ruangan Dosen kita " jawab Dewi.
Lily langsung berlari menuju ruangan dosen dan meninggalkan Dewi yang masih ada di situ.
__ADS_1
Sementara itu di ruangan Dosen,
" Danish apa benar kamu memukul Lily sampai terluka ? " ( tanya wali dosen kepada Danish )
Danish hanya menatap acuh tak acuh dan tidak mengatakan apapun.
" Jawab Danish " ( Danish masih hanya diam )
" Meskipun kamu anak dari kepala Dosen kampus kita dan merupakan cucu dari pemilik pengaruh terbesar di kampus kita, kamu tidak bisa seenaknya memukul seseorang. apa kamu mengerti. Kamu akan di skors selama satu minggu untuk kesalahan ini" ( Danish tidak mengatakan apapun, karena menurutnya meskipun dia mengatakan yang sebenarnya pun tidak akan di percaya oleh semua orang. )
" Permisi pak " ( Lily yang tiba - tiba membuka pintu )
" masuk ....... Eh kebetulan saya berencana mengundang kamu kesini. Danish sebaiknya kamu meminta maaf kepada Lily sekarang " suruh Dosen tersebut
" Maaf pak, saya ingin memberi tahu jika gosip tentang Danish memukul saya itu tidak benar pak " ( Ucap Lily dengan perlahan )
" cih .... " ( Danish terlihat senyum sinis seolah olah Lily melakukan suatu kesalahan )
" sebenarnya kemarin itu saya jatuh pak dan Danish justru yang menolong saya " Penjelasan Lily
" tapi kenapa kemarin Danish terlambat masuk kelas dan kamu tidak masuk kelas lagi setelah seorang siswa melihat bahwa kamu terluka " tanya sang dosen
" eh kemarin saya di uks untuk membersihkan luka saya, dan saya malah ketiduran. Jadi bisakah bapak batalkan rencana bapak untuk memberi skors kepada Danish ? Bukankah saya terlihat baik - baik saja sekarang ? "
" baiklah kalau bergitu. Maafkan bapak sudah mengganggu waktu kalian. Kalian boleh pergi dari ruangan saya "
" Trimakasih pak " ucap Lily
Mereka pun bersamaan meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah katapun. Sampai di depan Pintu,
" maaf ya gara - gara gw lo hampir di skors "
( ucap Lily dengan dmsedikit canggung dan tidak enak hati )
" dan kenapa lo nggak coba ngejelasih yang sebenarnya terjadi " lanjut Lily.
" nggak kok, percuma juga gw jelasin gaada yang bakal percaya " ( Dengan wajah dingin Danish langsung pergi meninggalkan Lily )
Lily yang mendengarnya pun terlihat bingung.
Disisi lain Danish pulang dengan wajah murung dan hanya pulang sebentar untuk mengganti baju dan menaruh tasnya. Danish langsung pergi lagi tidak membawa motor kesayangannya Danish lebih suka membawa mobil sport berwarna merah yang sangat cocok dengannya. Danish memakai jas yang terlihat rapi untuknya. Danish menjalankan mobilnya di sepanjaang jalan Danish hanya diam. Bahkan suara mobil yang melaju kencang pun tidak terdengar di dalam mobilnya yang penuh dengan keheningan. Dengan tatapan tajam Danish hanya menghadap ke arah depan.
Sesampainya Danish di tempat tujuannya Danish terlihat di sambut oleh beberapa orang yang ada disana. Danish berjalan menuju dalam dan bersiap untuk melakukan konsernya. Yaa Danish melakukan konsernya karena itu adalah keinginan ayahnya. Danish tidak suka melakukan itu namun ayahnya sangat bahagia ketika melihat Danish yang sedang bermain biola. Semuanya adalah ayah Danish yang sudah menyiapkannya.
Lily yang sudah berada di kosannya pun mendapat pesan dari ibunya untuk menemaninya datang melihat konser. Lily sebenarnya tahu kalau ibunya hanya beralasan agar Lily mau jalan dengannya. Lily pun memakai dress putih dan rambutnya terurai. Tidak lama kemudian ibu Lily pun menjemputnya.
Di dalam mobil
" kamu udah makan ? " ( tanya ibunya lembut )
" udah kok tadi " ( jawab Lily cuek )
" mama sengaja ngajakin kamu nonton acara musik supaya kamu nggak bosan di kosan. Mama juga tahu kamu suka musik jadi mungkin kamu bisa sambil belajar dengan melihatnya " ( ibu Lily yang mencoba agar Lily berbicara kebih banyak )
" iya ma, terima kasih " ucap Lily
Di sepanjang jalan Lily tidak mengatakan banyak hal dan hanya diam sambil melihat kearah jendela mobil sampai akhirnya sampai ke tempat tersebut.
Lily dan ibunya berjalan ke dalan dan duduk di barisan tengah para penonton. Lily merasa tidak nyaman karena dia sedang bersama ibunya.
Pertunjukan pun akan dimulai.
Seorang pria dengan jas berwarna biru yang berdiri tegak membawa biola, tatapan manis yang ada di matanya meskipun bibirnya seditpun tidak menunjukkan senyuman. Perlahan alunan musik pun terdengar, pelann namun indah. Suara demi suara yang dia hasilkan membius semua penonton yang ada di depannya. Lily pun kaget karena yang di lihatnya sekarang ternyata adalah Danish.
" hah !!!! Bukannya dia Danish " terkejut dan berguman.
" kenapa sayang " ibunya yang melihat anaknya terlihat gelisah pun menanyakannya.
" nggak papa kok ma " ucap Lily dengan hati - hati.
" pantesan di kampus nggak ada ternyata dia disini. Tapi kenapa bisa dia mau melakukan hal seperti itu. Bukankan dia tidak suka ketika ada banyak orang yang melihatnya " ( ucap Lily dalam hati )
Meski begitu Lily sangat menikmati pertunjukan itu sampai selesai.
__ADS_1
Keesokan harinya seperti biasa Lily pergi ke kampus pagi meskipun dia hanya ada kelas siang. Lily pun menuju ke atap. Disana dia tidak belajar sama sekali melainkan hanya melihat pemandangan dan menikmatinya.
" hati - hati nanti jatuh lagi " ucap seorang pria yang mengagetkan Lily.
" Eh .... Ah .... Danish sejak kapan kamu disini ? " tanya Lily gugup
Danish tidak menjawab pertanyaan Lily dan berjalan mendekat sedikit kearah Lily dan mereka bersama sama melihat pemandangan dari atap gedung.
" Apakah kamu sering kesini ? " tanya Danish seketika
" eh iyaa , aku hanya suka menikmati angin yang sejuk ini. " jawab Lily seketika juga
" kenapa waktu itu kamu langsung pergi ketika sudah membawaku ke rumah sakit. Maksudku bukannya aku tidak tau terika kasih hanya saja kata suster kamu terlihat cepat cepat " tanya Lily
" yahhh sebenarnya waktu itu bokap gw sakit, jadi gw harus segera pulang untuk melihatnya "
Jawab Danish dengan wajah dingin
" Oh , iya semoga cepet sembuh ya bokap lo " (Lily)
Mereka terlihat julai akrab, mereka menceritakan kampus dan juga kehidupan pribadi mereka berdua.
Namun Lily tidak memberitahu Danish bahwa dia mempunyai penyakit depresi yang kadaang kambuh seketika dan juga sembuh seketika karena Lily takut dia akan menganggapnya gila seperti teman temannya dulu. Yah memang di kampus tidak ada yang tahu kalau Lily mempunyai penyakit itu kecuali Dewi. Teman temannya selalu menganggap Lily adalah gadis baik yang polos pendiam cantik dan juga pintar. Begitu juga dengan Danish yang tidak menceritakan tentang keadaannya yang sebenarnya dia adalah pria baik namun dia berlagak menjadi pria yang dingin dan jahat di depan semua orang. Entah apa yang membuatnya seperti itu.
Mereka banyak berbincang sembari menikmati semilir angin yang ada di atap gedung itu.
Sore hari setelah pulang dari kampus Lily melihat lihat harga tanaman ( bunga Lily ) dia ingin sekali menanamnya di kebun miliknya lagi namun dia enggan meminta uang kepada ibunya. Lily akhirnya hanya menghela nafas karena tidak mungkin baginya untuk melakukan pekerjaan sampingan karena jika ibunya tahu pasti beliau akan merasa tidak senang. Lily hanya diam dan terlihat kesal sendiri sampai akhirnya Lily mengambil biolaanya. Seyelah dia mengambil biola tidak memainkan biola tersebut Lily justru malah teringat tentang pertunjukan Danish waktu itu. Daniah sangat tampan dan canggih bermain banyak jenis alat musik hanya saja perilaku dia tidak terlalu baik bahkaan tidak baik sama sekali. Namun wanita mana yang tidak menyukai seorang pria yang tampan. Bukankah wajah menjadi prioritas nomor satu jaman sekarang ? Namun tetap saja bagi Lily seorang pria yang menerima dia apa adanya adalah yang selalu di inginkannya. Lily sedang berandai - andai jikasaja Danish adalah seorang pria yang baik.
" ting ..... " suara ponsel yang membangunkan lamunan Lily.
" Aku sudah pulang. Pergi ke tempat biasa satu jam lagi. aku ada disana " bunyi pesan tsb
Lily langsung mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirimkannya pesan. Setelah membaca pesan tersebut Lily terlihat sangat bahagia dan langsung cepat cepat untuk bersiap - siap. Entah siapa yang mengirmkannya pesan namun Lily dangat senang ketika membacanya.
Lily terlihat memilih milih pakaian yang menurutnya bagus untuk di pakainya hari ini.
Dengan cepat - cepat Lily pun berjalan dan menunggu taksi di jalan. setelah beberapa menit menunggu akhirnya ada taksi yang berhenti di depannya dan Lily langsung masuk dengan cepatnya. di dalam taksi pun Lily terlihat senyum senyum sendiri.
" mau kencan neng sumpringah amat ? " ( tanya sopir taksi yang melihat Lily senyum kegirangan itu )
" enggak kok pak cuma mau ketemu temen aja " ( jawab Lily yang masih senyam senyum nggak jelas itu )
LM.
Menyakitkan....
sebuah darah yang mengalir tidak terlihat namun menyakitkan.
yaa darah yang mengalir membentuk benda yang namanya " hati "
tidakkah cukup untuk bertahan
ucapan bukanlah ssuatu yang menjanjikan
langkah kaki bahkan terkadang tidak sampai pada tujuannya
menyakitkan..... sungguh
aku hanya mengharap pertemuan
tanpa sebuah ukiran kisah
tanpa sebongkah makna di baliknya
lanjutkan saja
__ADS_1