HATI MALAIKAT

HATI MALAIKAT
SALAH


__ADS_3

Di rumah Danish,


Danish akhirnya pulang, dia tidak mengatakan sepatah katapun keda siapapun di rumahnya seperti biasa. Danish hanya memakai celana kolor dan handuk yang melingkar di lehernya serta rambutnya yang basah Danish menghadap kaca dan melihat lukanya. Danish terdiam memegang lukanya dan terpikir tentang Lily, Danish merasa ada yang aneh. Danish sangat tidak suka ketika seseorang memegang dirinya apalagi dia adalah seorang perempuan tapi kenapa dia membiarkan Lily memegangnya bahkan mengobati lukanya. Setelah pisah dengan Selli, Danish tidak pernah menyukai orang lain terlebih siapapun itu, rasa sakit yang di deritanya sungguh besar hingga dia tidak bisa melupakannya. Neski masih ada sedikit rasa namun Danish mencoba untuk menghilangkannya.


" Dia ternyata baik " ( ucap Danish masih memegang pipinya )


" siall ... Gw kenapa sih gapenting banget. Cewek kayak dia tuh cuma baik di depan " ( Danish tersadar dan mengumpat dengan dirinya sendiri )


Meski begitu Danish masih memikirkan perkataan Lily yang tadi di katakannya. Apakah Lily sama seperti dirinya yang tidak di terima keadaannya. Apakah benar yang di katakan Lily ? Atau dia hanya mencoba menenangkan dirinya dengan mengatakan itu. Tapi jika iya untuk apa kita bahkan tidak sedekat itu untuk saling bercerita ?


( Danish semakin bingung dengan semua perkataan Lily )




" Ting ..... " ( bunyi ponsel Lily )


( Lily langsung membuka dan membacanya )


" siapa ? " ( tanya Dewi )


" dari Reza , ngajakin ke tempat pemeliharaan kura², dia juga bilang ke gw suruh ngajakin lo besok" ( Sambil memperlihatkan isi pesannya kepada Dewi )


" oh okay "


Keesokan harinya mereka pun pergi ke tempat pemeliharaan kura kura. Danish sangat menyukai kura - kura namun karena dia merasa bosan kalau pergi sendiri jadi dia mengajak Lily dan Dewi.


Mereka terlihat sedang berkwliling untuk melihat kura - kura dari yang terkecil sampai yang sudah besar. Mereka terlihat senang dan menikmati nya. Reza yang sedang berbicara kepada pemilik tempat itu sedangkan Lily dan Dewi bermain dengan kura - kura kecil.


" Reza sangat menyukai kura - kura , mungkin gw bisa bawa pulang satu nanti terus merawatnya. Pasti dia bakal seneng " ( Lily berbicara dalam hati sambil senyum - senyum sendiri )


" kenapa lo meringis aja dari tadi ? " ( tanya Dewi yang melihat Lily senyam senyum )


" nggak kok , lucu aja ngeliat kura - kura ini gw mau bawa pulang nanti sepasang. Kayaknya lucu kalo gw ada hewan piaraan " ucap Lily


" owalah sono, gw si ogah ribet hahaha ntar gw mampir liat punya lo aja hahaha " ( Dewi yang menolak untuk melihara kura - kura )


Reza yang sudah selesai berbicara dengan pemiliknya pun berjalanmendekati mereka berdua.


" udah ? Gimana lucu kan ? " ( tanya Reza kepada mereka berdua )


" gw mau bawa pulang sepasang boleh nggak ? Eee soalnya lucu jadi pengen melihara " ( Lily memintanya )


" eh boleh kok nanti gw bilangin sama pemiliknya "


Akhirnya mereka selesai melihat kura - kura dan kembali berjalan ke sungai untuk naik perahu dayung. Lily masih membawa toples yang berisi kura kura tadi. Reza mendayung perahu menuju ke tengah danau.


" eh gw takut beneran gw nggak bisa berenang " ( ucap Dewi sembari berpegangan pada sisi perahu dengan kuat )


" nggak papa lo tenang aja jangan banyak gerak biar anteng perahunya " ( jawab Reza dengan santai )


" eh gw beneran takut sumpah woy " Dewi semakin menjadi - jadi


" tumben seorang Dewi bisa takut sama ginian. Biasanya lo sama singa laper aja nggak takut " ( Lily yang mengejek Dewi )


" udah nggak papa diem aja liat tu indah banget kan ? " ( Lily memperlihatkan pemandangan hutan dari kejauhan yang terlihat seperti lukisan )


Reza yang melihat mereka berdua pun hanya tersenyum dan merasakan kehangatan yang luar biasa yang sangat dia rindukan. Selama di luar negeri Reza selalu memikirkan bagaimana keadaan mereka berdua karena mereka adalah sahabat yang sangat berharga bagi Reza. Meski mereka berdua terkadang bersikap kekanakan tapi itulah yang membuat dirinya bahagia. Reza yang melihat mereka berdua terlihat bahagia pun langsung mengeluarkan buku gambar dan pensil yang ada di tasnya. ( Reza selalu membawa tas yang berisi buku gambar dan pensil kemanapun dia pergi karena terkadang dia mendapat inspirasi di manapun )


Reza langsung menggambar mereka berdua dengan pelan dan cekatan.



LM.


Mengarungi laut , mendaki gunung ?

__ADS_1


Mencari apa ? Kebahagiaan ?


Bodohhh mau sampai jauh pun jika kamu tidak menginginkannya untuk apa ....


Berfirlqh dengan jernih


Pandanglah dirimu sendiri, kau tidak harua menghabiskan banyak tenaga bahkan hartamu hanya untuk suatu kebahagiaan.


Lihatlah ke depan rumah yang jarang kau lakukan


Buatlah dirimu senyaman mungkin


Sungguh sesuatu kebagiaan yang sederhana



Keesokan harinya, mereka melakukan tugas mereka masing - masing. Seperti Danish Lily dan Dewi yang harus kuliah. Yoga yang sudah di tunggu oleh pelanggan tattonya dan Reza yang sedang menyiapkan beberapa file untuk pekerjaannya. Sungguh haribyang indah jika saja setiap hari berjalan mulus seperti itu bukankan sangat menyenangkan ?


Namun bukan kehidupan namanya jika tidak ada yang harus di lewatinya. Semua orang harus berjalan mengikuti takdir maupun mengubah takdir. Ketika pelajaran dimulai Danish mencuri curi pandang untuk melirik Lily. Danish masih berfikiran tentang kejadian kemarin. Danish penasaran dengan siapa sebenarnya Lily itu. Entah apa yang membuat Danish seperti itu.


" Dan kelas hari ini sampai disini, jangan lupa untuk tugas yang saya berikan di kumpulkan kinggu depan tidak ada yang boleh ketinggalan. Mengerti " ( ucap dosen mengakhiri pelajarannya )


" Mengerti pak " ( seluruh kelas dengan kompak mengatakannya )


Dewi yang sudah menunggu Lily untuk pulang bareng pun sudah ada di depan kelas Lily.


" woyy yok pulang bareng " ( sambil merangkul pundak Lily )


" gw mau ke perpustakaan dulu, mau nyari bahan referensi untuk tugas . lo balik duluan aja gapapa Wi " ( Lily yang menolak untuk pulang )


" yaelaahh rajin amat neng. Yaudah deh gw balik duluan aja mau maen bosen gw hahaha "


( Dewi pun akhirnya berjalan untuk pulang sendirian )


Seluruh siswa sudah keluar dari kelas terkecuali Danish yang ternyata masih di kelas. Melihat Lily juga masih di depan kelas Danish berjalan mendekatinya.


" eh iya, kenapa ? Mau ikut " ( jawab Lily )


" eh boleh " ( dengan Lirih Danish mengatakannya )


Meski dingin dengan semua orang di kampus Danish masih mencoba untuk berbicara santai pada Lily.


Sampai di perpus mereka mencari buku masing - masing, namun Danish lebih memilih untuk duduk dan membaca buku entah apa itu. Lily yang masih berkeliling untuk mencari bukunya akhirnya menemukannya.


" heikk .... Heikk .... " ( sambil melompat karena bukunya berada di susunan paling atas dan Lily tidak sampai )


" ini ? " ( Danish yang mengambilkan bukunya dan memberikannya ke Lily )


" eh makasih " ucap Lily


Mereka berdua hanya membaca buku tanpa ada satu patah kata pun yang keluar. Karena sudah sedikit sore di perpus tidak banyak siswa yang datang karena mereka udah ada pulang. Kecuali mereka yang masih ada tugas. Karena sedang musim hujan, akhirnya hujan pun turun dengan derasnya.


" eh hujan ya ..... , deras banget lagi " ( Lily yang melihat kearah jendela )


" terpaksa nunggu reda pulangnya " ( Lily menggerutu sendiri )


Lily kemudian meligat kearah Danish yang sedang fokus membaca buku, dia melihat luka Danish


" eh gimana lukanya udah baikan ? " ( tanya Lily )


" eh ini , udah kok " ( sambil menunjuk kearah pipi )


" syukur deh "


Danish yang masih merasa canggung dengan Lily akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


" eeeee lo gimana ? " ( Tanya Danish canggung )

__ADS_1


" gw ? Maksudnya ? " ( Lily terlihat bingung )


" enggak maksudnya lo udah baikan sama nyokap lo ? " ( tanya Danish seketika )


" eh ..... " ( Lily kaget karena seorang Danish, pria dingin yang seluruh kampus juga udah tau ternyata bisa nanya keadaan juga )


Lily yang terlihat bingung mau menjawab apa pun akhirnya mengalihkan pembicaraan dan membahas tugas. Akhirnya mereka pun mengerjakan tugas mereka bersama. Mereka terlihat fokus namun juga kadang becanda - becanda. Beberapa saat kemudian Danish pun tertidur diatas meja perpustakaan. Lily akhirnya selesai dengan tugasnya. Hujan sudah reda, melihat Danish yang sedang tertidur Lily terlihat sangatt tajam memandangnya.


" dia sebenarnya lembut juga, dan tetap masih tampan meskipun sedang tidur " ( memandangnya )


" aishh apaan sih gw "


" Danishh bangun ..... " ( membangunkan Danish dengan hati - hati karena takut Danish akan kaget )


" emhhh ..... Eh " ( Danish kaget )


" maaf gw ketiduran , hujannya udah reda ? " ( Danish seketika melihat jendela )


" udah kok, udah sore juga gw harus balik " ( Ucap Lily )


" lo balik naik apa ? " ( tanya Danish )


" gw paling jalan kaki kalo nggak naik angkot aja " ( Jawab Lily )


" gw anterin aja udah sore juga " ( Danish menawarkan tumpangan kepada Lily )


Meski awalnya ditolak oleh Lily karena merasa tidak enak namun akhirnya Lily diantar oleh Danish untuk pulang. De sepanjang jalan mereka tidak mengatakan apapun ( mungkin masih canggung xixixixi ) mereka hanya terdiam. Ketika Danish melaju dengan motornya dengan cepat Lily yang kaget pun memeluk Danish dengan erat karena merasa takut. Danish juga kaget namun mereka hanya diam tidak mengatakan apapun.



Disisi lain dirumah Danish, ayah Danish dan neneknyabyang sedang beradu argumen.


Mereka beargumen lantaran neneknya menyuruhnya ke luar negeri lagi namun ayahnya akan mengikuti apapun keputusan Danish.


Mereka tidak pernah akur semenjak ibunya Danish meninggal. Karena hampir seluruh kekayaan adalah milik mendiang istrinya , Ayah Danish hanya bisa diam namun akan melakukan apapun demi anak kesayangannya.


" Danish sebaiknya kita bawa ke luar negeri lagi. Daripada disini hanya membuat sial keluarga kita saja " ( ucap nenek Danish dengan lantang )


" tidak ma , saya akan tetap mengikuti apa yang Danish inginkan " ( Ayah Danish dengan lembut mengstakannya )


" kamu masih saja memanjakan anak sial itu " ( dengan nada yang menyinggung )


" ma, Danish itu cucu mama, anak Irish. Irish yang melahirkannya " ( dengan lembut )


" iyaaa dia juga yang udah nge bunuh Irish anak mama satu - satunya . gara - gara dia lahirr Irish jadi meninggal " ( dengan ngotot dan menunjuk nunjuk ayah Danish, menantunya tersebut )


Mereka masih berargumen panjang kali lebar, namun ayah Danish masih membangkang untuk mengikuti keinginan Danish untuk kuliah di sini daripada keluar negeri. Mereka saling adu argumen sampai akhirnya Danish datang dan melihat ayahnya yang sedang sakit itu di marahi oleh neneknya.


" nenek cukup " ( teriak Danish yang kemudian berlari kearah mereka berdua )


" Danish akan tetap disini ngejagain papa "


" ngejagain diri sendiri aja nggak bisa kok pake sok sokan mau ngejagain ayahnya. Dasar cucu nggak tau diri " ( ucap nenek Danish dengan sinis )


" meski Danish nggak bisa apa - apa sekarang tapi Danish bakal berusaha untuk ngebahagian papa dan juga almarhum mama " ( menjelaskan ke neneknya )


" gausah sebut sebut mama. Mama kamu meninggal juga gara - gara kamu " ( nenek Danish membentaknya )


Danish yang mendengar perkataan neneknya tersebut hanya terdiam dan kemudian keluar lagi.


" Danish .... Nakk " ( ayah Danish yang mencoba menghentikan langkahnya )


Namun Danish hanya menghiraukannya dan berjalan menuju motor kesayangannya dan dengan kecepatannya langsung pergi. Danish hanya berjalan tanpa tujuan dia hanya memikirkan perkataan neneknya terhadapnya. Semakin kencang Danish mengegas motornya, bayangan bayangan yang tidak mengenakkan. Kata - kata yang tidak seharusnya di katakan semua berkeliaran di fikiran Danish pada saat itu. Danish hanya mengucapkan kata " sial " itu yang dia ucapkan terus menerus sepanjang jalan.



Bagaimana bisa seorang nenek menyalahkan cucunya atas kematian anaknya, bagaimana bisa semua di salahkan kepada dirinya ( Danish ) ketika dia tidak melakukan kesalahan apapun. Dia merasa kalau dirinya tidak berguna untuk siapapun. dia hanya menginginkan kasih sayang dari orang tuanya, terutama dari ayah dan neneknya yang masih ada di depannya. jika dia menginginkan kasih sayang ibunya bagaimana ? bagaimana caranya ? bahkan wajah cantik ibunya pun tidak pernah dia lihat, senyuman indah ibunya tidak pernah ia lihat, bahkan pelukan hangat dari seorang ibu juga tidak pernah ia rasakan. Danish merasa seolah dia adalah masalah dari keluarganya. salah satu kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan adalah " DILAHIRKAN "

__ADS_1


__ADS_2