HATI MALAIKAT

HATI MALAIKAT
Rumah Sakit


__ADS_3

4. 5 menit berlalu dan Lily semakin dingin dan masih meng gosok - gosokkan tangannya agar merasa sedikit hangat. Danish belum juga kembali entah kemana dia pergi. Setelah menunggu beberapa menit kemudian Danish kembali dengan membawa jaket hoodie berwarna hitam yang dia bawa dengan tangan kirinya yang juga sedang memegang payung. Dan tangan kanan nya yang susah membawa secangkir teh hangat untuk Lily. " nih oake dulu , itu punya gw daripada lo kedinginan " ( memberikan jaket yang ada di tangannya dan meletakkan payungnya ) Lily menerima jaket itu dengan canggung namun bagaimana lagi dia sudah tidak punya pilihan karena semakin dingin.


" udah ni juga minum dulu , gw liat lu kedinginan minum teh anget dulu biar mendingan "


Dengan tanpa bicara Lily meminum teh tersebut dan meletakkan di kedua tangannya untuk mendapat kehangatan. Keheningan kembali terjadi di antara mereka berdua. Mereka sama sama bingung mau ngomong apa duluan. Namun karena Lily merasa bersalah dan berterima kasih Lily pun akhirnya memutuskan untuk berbicara terlebih dahulu.


" maaf ..... " ( ucapnya lirih )


Danish yang mendengar itu langsung menoleh kearah Lily


" maaf gw tadi udah bentak lo " lanjutnya dengan canggung dan tangan yang masih gemetar.


" enggak papa " dengan cuek dan tatapan dia hanya mengatakan itu


" dan terima kasih juga udah bawain gw jaket dan ......... " dengan wajah pucet dan seluruh badan gemetaran Lily pun akhirnya terjatuh dan ternyata pingsan.


Danish yang melihat itu sangat khawatir dan kaget.


" eh woy ... woy ... bangunn " ( sambil menepuk nepuk tangannya )


Danish menyentuh kening Lily dan menyadarinya bahwa mungkin Lily demam dan segera menggendong dan segera membawanya ke rumah sakit.



Suasana tegang yang teralihkan oleh air hujan, wajah ke khawatiran yang menyelimuti. Dada bidang yang terlihat nyaman untuk bersandar


Langkak kakibyang berjalan cepat layaknya seekor rusa begitu cepat Danish lari dan menggendong Lily dengan penuh ke khawatiran. Sampai di rumah sakit Danish bingung harus berbuat apa dan suara dering ponsel miliknya langsung memecahkan keheningan itu.


Danish kemudian mengangkatnya dan itu adalah panggilan dari salah satu pengurus rumah tangganya yang memberitahukan bahwa penyakit ayahnya kambuh dan dia harus segera pulang. Karena bingung Danish mengambil ponsel dari tas Lilybyang dibawanya dan memanggil seseorang yang menurut dia sering di panggilnya dalam riwayat panggilan telfon itu. Danish segera memberikan tas tersebut ke suster yang ada di sana untuk menaruh tas itu di kamar rumah sakit yang di tempati Lily. Dengan tergesa - gesa Danish lari dan segera pulang kerumah. Hujan yang masih deras diterjangnya dengan sepeda motornya dia tidak peduli karena ayahnya jauh lebih penting daripada dirinya sendiri.


Setelah sampai Danish langsung lari ke dalam rumah dengan keadaan pakaian dan seluruh badan yang masih basah kuyup untuk segera melihat ayahnya yang kata pembantunya penyakit ayahnya sedang kambuh.


Pembantunya yang sudah menunggu Danish di ruang tengah pun terlihat panik.


" di mana papa bik ..... " ( ucap Danish tergesa - gesa )


" Tuan ada di kamarnya sekarang tuan muda " dengan panik bibik langsung menjawabnya


Danish langsung lari menuju kamar ayahnya dan langsung menggenggam tangan ayahnya tersebut.


" pa .... Papa .... Bangun pa " ( terlihat sedikit meneteskan airmata Danish memegang erat tangan ayahnya )


" kamu kenapa nak kok basah semua , kan bisa nunggu reda dulu. Papa gapapa kok " ( dengan lembut ayahnya Danish berbicara )


" papa kita pergi kerumah sakit yuk , " ( ajak Danish yang langsung di tolak oleh ayahnya )


" papa gapapa nak " ( sambil mengelus rambut anak kesayangannya itu )


" enggak papa tu sakit , sebaiknya kita kerumah sakit sekarang. Gimana keadaan papa sekarang . papa udah minum obat kan " ( dengan nada sedikit memaksa dan cerewet Danish terlihat panik )


Ayah Danish hanya tersenyum melihat anaknya. Betapa perhatiannya anaknya itu. Meski terlihat seperti anak yang bandel dan nakal sebenarnya Danish mempunyai hati yang sangat baik.


" udah udah papa nggak kenapa² kok , tadi papa hanya gak liat ada tangga makannya papa jatuh " ( dia pun mengatakan kebohongan agar anaknya tidaak khawatir lagi )


" Kamu itu udah dewasa ya sekarang , kok kamu bisa pulang bukannya kamu sekarang lagi kuliah ya? " ( tanyanya bingung )

__ADS_1


" udah kok pa tadi Danish udah selesai kuliah makannya Danish bisa langsung pulang setelah di telfon bibik " ( karena tidak mau mengecewakan ayahnya Danish pun mengucapkan kebohongan )


" Karena papa baik - baik saja Danish mandi dulu ya pa. Nanti Danish suruh bibik bawain makanan untuk papa " Lanjut nya


Suara air yang mengucur deras membasahi mengalir menembus rambut hingga ke dadanya. dengan tatapan kebencian dan kesediah danish membersihkan diri. Kenangan demi kenangan yang pahit mulai datang ke dalam pikirannya. Dia mulai menggunakan sampo dan menjambak rambutnya seolah semua mmyang terjadi adalah karenanya.



Sementara itu dirumah sakit yang sedang berbaring seorang perempuan cantik yang sedang bermimpi dengan infus yang menggantung mengalir tepat ke nadi tangan kirinya. Bau aneshtesi yang sudah menjadi ciri khas rumah sakit tentunya. Perlahan Lily membuka matanya dan betapa terkejutnya karena dia sudah berada di rumah sakit.


" Ly ... Ly ... Lu udah bangun " suara temannya yang terdengar sangat familiar. Ya, siapa lagi kalau bukan Dewi


" gw dimana Wi " tanya Lily karena bingung


" Lo nggak inget ? Lu pingsan makannya dibawa kerumah sakit " jawab Dewi


" ini minum dulu " ( memberikan Lily air putih yang ada dimeja untuk diminumnya )


" kok lo bisa disini , lo yang ngebawa gw kesini ya " Lily kembali bertanya


" tadi gw di telfon sama cowok tapi pake ponsel lo , gw tadi sempet tanya suster juga kok tapi katanya dia udah pulang setelah nyuruh suster itu ngasih tas lo " jawab Dewi yang merasa sedikit penasaran


" udah lah gausah dipikirin juga yang penting lo gapapa , itu juga ada jaket cowok di situ basah lagi. Lu tadi kencan ya " ( Dewi pun sedikit bercanda untuk mencairkan suasana)


Lily hanya terdiam dan mengingat kejadian tadi , yang mana tadi dia sedang bersama dengan Danish. Mungkinkah Danish yang membawanya ke rumah sakit ? Pikirnya


" hey .... Hey .... " Lily langsung tersentak mendengar Dewi


" mikirin apa ly " tanya Dewi


Mereka pun akhirnya ber bicara tentang bagaimana tadi di kampus dan lain lain


" oh ya Wi jangan bilang sama nyokap gw ya kalau gw di rumah sakit sekarang " pinta Lily kepada Dewi


" iya Ly lo tenang aja gw tau kok jadi gw belum bilang sama nyokap lo " ( akhirnya mereka berpelukan layaknya seorang sahabat yang sangat dekat )


" makasih ya Wi lu emang sahabat terbaik gw " ucap Lily dalam pelukan itu.


Suasana hangat dalam ruangan yang di penuhi bau anestesi. Sepasang sahabat yang rela melakukan apapun untuk sahabatnya. Pelukan yang selalu di berikan untuk mereka yang lemah. Semangat yang mereka ucapkan agar terlihat bahagia. Bersenang - senang bersama seperti putik dan benang sari yang membutuhkan satu sama lainnya.



Hujan pun mulai reda , Danish yang sudah selesai mandi dan ganti baju bergegas untuk pergi melihat wanita yang di bawanya kerumah sakit tadi. Dia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5 sore . Dia langsung mengambil motor memakai jaket dan helm dan segera berangkat ke rumah sakit.


Sampai di rumah sakit Danish langsung menuju kamar yang tempat Lily berada. Dengan terburu buru dia langsung lari karena penasaran dengan keadaan gadis tersebut.


Sebelum dia membuka pintu dia berhenti karena melihat Lily dan Dewi yang sedang tertawa tawa entah apa yang mereka bicarakan dan bahkan mereka tidk melihat kalau disitu ada Danish yang sedang memandangi mereka.


" Syukurlah " ucap danis lirig dan merasa lega


" gadis itu terlihat sangat cantik ketika tersenyum, tapi kenapa dia bisa mencoba hal gila seperti tadi ya " ( dalam hati danish mengatakan itu )


" ah sudahlah bukan urusan gw juga " ( lanjutnya )


Danish langsung pergi keluar dan pergi ke parkiran motor tempat dia meletakkan motornya tersebut.

__ADS_1


Danish bingung mau pergi kemana , akhirnya dia memutuskan untuk pergi kerumah temannya di salah satu kota kota tersebut. Danish menelfon temen nya dan menanyakan apakah temannya tersebut berada di rumah apa tidak.


" Hallo .... Lo di rumaah nggak ? Oke gw langsung kesitu ya sekarang " dia meletakkan ponselnya dan langsung berangkat kerumah temannya.


Sesampa di rumah temannya tepatnya di kosan temannya tersebut dia langsung duduk bersama sembari berbincang.


" Howeeee udah dateng aja lo tumben , sejak pulang dari Amerika lo belum pernah kesini " sapa temannya Danish yang sedang bermain gitar dan tersentak langsung mengucapkan hal candaan .


Danish hanya tersenyum getir dan langsung duduk.


" eh kenapa muka lu di tekuk mulu , senyum napa biar ganteng dikit kayak gw ni " lanjut candaannya.


" apaan dah lo gaje ah , minggir ah gw mau rebahan bentar " langsung melompat ke tempat tidur temennya.


" eh Ga ...... Gajadi ding " panggil Danish terlihat mau mengatakan sesuatu tapi tidak jadi.


( nama temen Danish tersebut adalah Yoga ) dia salah satu tukang tatto. Yoga merupakan sahabat Danish sejak mereka masuk Smp yang sama dulum meski Danish diluar negeri Danish masih selalu kontak dengan Yoga walaupun jarang tapi sesekali mereka mengirim teks hanya untuk memastikan keadaan. Namun sati tahun terakhir Danish jarang bahkan hampir sama sekali nggak nge kontak Yoga.


" eh lo kemana aja setaun ini woy , kirain lo udah lupa sama ge elahhhh " tanya Yoga karena penasaran.


" enggak gw males aja mau kontak lo " dengan cuek Danish hanya mengatakan itu namun Yoga sama sekali tidak tersinggung karena menurutnya Danish sudah biasa seperti itu. Itu hanya candaan namun Danish melakukannya dengan wajah serius. Yoga tahu Danish menyembunyikan sesuatu darinya dan mencoba untuk bertanya.


" masalah Seli lagi ? " Yoga memberanikan diri bertanya


" udah jangan bahas itu lagi pusing gw " pangkasnya


" Dia udah lupa sama gw , gw juga harus lupain dia kan ? " lanjutnya


" its okay , yang terbaik buat lo aja " ( Jawab Yoga menyerah )


Mereka berdua hanya sedikit bicara karena Danish terlihat lelah dan malas untuk berbicara.


Danish hanya tengkurap di kamar tidur Yoga dan memikirkan banyak hal. Danish memikirkan Seli dan ia mwrasa sangat frustasi olehnya. Dia hanya bertanya kepada diri sendiri kenapa Seli tega melakukan hal tersebut kepadanya padahal dia tulus mencintainya. Namun sekarang bukan saatnya untuk bersedih melainkan untuk bahagia demi kesembuhan ayahnya.


Malam semakin larut Danish masih tidak bisa tidur melihat Yoga yang sudah tertidur pulas di sampingnya Danish mengambil gitar punya Yoga dan mulai memainkannya. Dia memainkan lagu dimana dulu lagu tersebut sangat di sukai oleh seli dan bahkan mereka sering bernyanyi bersama waktu SMA. Meski di SMA yang sama di salah satu SMA di Amerika Danish dan Seli tidak pernah bosan untuk melakukan banyak hal bersama sampai tiba waktunya mereka masuk universitas yang berbeda dan keadaan juga menjadi berbeda.


Yang dulunya perhatian dan saling mengerti satu sama lain menjadi jauh selangkah demi selangkah sampai akhirnya sesuatu terjadi diantara mereka sampai Danish merasakan kekecewaan yang sangat amat dalam.



Petikan demi petikan sentuhan senar gitar yang mulai membentuk sebuah irama. Suara yang senada bergabung di dalamnya. Menyisakan luka dan berat hatinya untuk melepaskannya. Dengan kesedihan yang mendalam Danish menyanyikan lagu kenangannya dulu. Siapa yang di kenangnya ? Seli ? Kenapa ? Hanya Danish yang tau dan merasakannya. Dengan lega dan sedikit linglung Danish melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Danish harus segera pulang karena takut ayahnya akan khawatir karena mengetahui bahwa dirinya belum pulang.


Danish akhirnya pulang dan langsung menuju kamarnya yang kemudian mandi dan tidur.


Disisi lain Lily sudah tertidur lelap dan Dewi juga sudah tertidur kekap di sofa yang ada di kamar rumah sakit Lily.


Malam begitu cepat berlalu sampai akhirnya pagi pun tiba. Lily sudah terbangun dan sarapan dan segera bersiap untuk pulang karena dia sudah baikan ( (karena dia hanya pingsan karena kedinginan ). Dewi mengantar Lily ke kosnya untuk istirahat namun Lily menolak untuk istirahat karena harus masuk kuliah. karena bagi Lily sudah cukup kuat dan sehat untuk masuk kelas nanti.


" beneran lo mau masuk kuliah nanti. lo istirahat aja ya gw temenin juga enggak papa kok beneran " Dewi yang terlihat sangat khawatir dengan keadaan Lily.


" engga kok gw udah gapapa , udah ya gw mau masuk dulu mau mandi gw udah bau banget " jawab Lily dengan semangat dan langsung pergi masuk.


" eh iya ini jaket yang lu pake kemarin , punya sang pangeran hahahaa " ucapnya sambil menggoda Lily


__ADS_1



__ADS_2