HATI MALAIKAT

HATI MALAIKAT
Jatuh


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu Lily sudah pulih dan kembali ke rumahnya, lebih tepatnya ke rumah kosannya. Lily tidak mau kejadian kejadian yang tidak dia inginkan terulang lagi dirumah nyokapnya sehingga dia memilih untuk tinggal dikosannya. Meskioun sendirian dan terkadang kesepian namun dia merasa itu lebih baik daripada harus melihat kenangan kenangan buruk yang dia rasakan.


Lily kembali berkuliah seperti biasa. Dia membaba tas kecil yang berisi jaket Danish. Karena sudah beberapa hari tidak masuk jadi Lily bekum sempat untuk mengembalikan jaket Danish yang dia pinjamkan kepada dirinya.


Lily berjalan menuju arah taman dan lain lain namun tidak menemukan adanya Danish sampai dia teringat kadang Danish berada di atap gedung.


Lily langsung berjalan menuju atap dan yang benar saja Danish ada disana dan sedang bermain gitar sendirian. Lily berjalan pelan kearah Danish


" ee permisi " dengan nada lembut dan canggung


Danish yang sedang bermain gitar langsung berhenti lantaran mendengar suara seseorang di dekatnya.


Danish langsung berdiri


" anu ini aku mau ngembaliin jaket punya kamu " ( sambil memberikan tas kecil yang dibawanya itu ).


Danish langsung mengambilnya dan mengucapkan terimakasih dengan nada dingin


" enggak aku yang harusnya terima kasih, makasih ya udah minjemin jaket. Makasih juga udah ngebawa aku kerumah sakit dan nelfon Dewi buat nemenin " lanjut Lily


" gw hanya asal nelfon kok gatau kalau itu temen lo apa bukan. Gimana udah baikan ? " tanya Danish sedikit canggung.


" udah kok sekali lagi mkasih ya, gw mau cabut dulu " Lily langsung berjalan dengan cepat


" eh tunggu !!! " suara Danish mebghentikan langkah kaki Lily.


Danish berjalan mendekat ke arahnya, dia langsung menjulurkan tangannya


" kita belum kenalan, gw Danish " tanya danish yang masih menjulurkan tangannya.


Lily dengan sangat hati - hati pun membalas uluran tangan Danish .


" gw Lily "


Mereka langsung tersenyum satu sama lain dan Lily pun langsung berjalan keluar untuk kembali. Lily berjalan dengan penuh kebahagiaan dan terlihat senyum senyum sendiri.


" woyyy " ( Dewi mengagetkan Lily )


" kenapa lo senyum - senyum sendiri " ( Dewi lanjut bertanya )


" eakkk eakkkk gw tau nih , lo baru ketemu pangeran penolong lo kannnn. Eak eakkk ngaaku dah ngaku " ( Dewi menyenggol nyenggol bahu Lily sambil menggoda nya )


" apaan sih " respon Lily cuek


" minggir ah kelas gw bentar lagi mau mulai, mau masuk ke kelas dulu bay " ( Lily langsung berjalan dan menghiraukan Dewi )



Hari demi hari berlalu, Lily dan yang lainnya beraktifitas seperti biasa, tanpa ada kesedihan, tanpa ada pikiran dan tanpa air mata air mata lainnya. Mereka menikmati masa kuliah mereka. Sampai pada hari rabu pukul 9.00 dimana kelas Lily mendapat kelas siang. Namun karena Lily bosan di kosnya Lily memutuskan untuk berangkat pagi dan seperti biasa Lily selalu menunggu diatap untuk belajar, kadang dia hanya melihat pemandangan dan menikmati semilir angin dan kadang Lily tertidur disitu. Karena sedikit mahasiswa yang datang kesitu karena katanya angker lah banyak hantunya lah dan lain lain.


Lily berjalan menuju atap sendirian dengan membawa tas punggung berwarna biru itu dia berjalan satu persatu menginjak anak tangga. Lily dengan tidak sabar membuka pintu dan


" brak !!!!! " ( suara pintu yang terdengar keras )


Danish yang ada disitu sedang bermain gitar pun langsung kaget dan refleks menghadap ke pintu.


" eh ma ... maaf " Lily juga terlihat kaget karena dia tidak tahu disitu ada orang.


" sepertinya gw lebih baik pergi aja " ( dalam batin Lily ingin pergi dari situ namun ..... )


" eh nggak papa kok , Lo mau kesini ya ? " Danish langsung bertanya karena sedikit tidak enak karena melihat Lily terlihat malu.


" kalo gitu gw aja yang cabut " ( sambil membereskan tas dan gitarnya )


" nggak nggak usah gw aja ngakpapa kok. Lagian lo dulu yang ada disini " ( Lily dengan gugup mengucapkannya )


" lo mau latihan ? Mau latihan bareng aja nggak ? "

__ADS_1


Lily yang mendengar Danish mengajak latihan bareng pun langsung kaget.


" ah maksudnya kalo kamu latihan disini nggak papa. Gw nggak keganggu kok "


Lily pun berjalan menuju pinggiran atap, yang mana itu sedang di duduki oleh Danish.


Mereka hanya duduk diam tidak berbicara sepatah katapun.


" Lo sering datang ke sini ya ? " Tanya Danish memecahkan keheningan dan kecanggungan


" eh iya, itu sebenernya sih gw nggak suka keramaian atau lebih tepatnya gw nggak suka ada yang ganggu gw aja sih " ( jawab Lily )


" Rasanya kita jadi sering ketemuan ya akhir - akhir ini " Ucap Danish seketika .


" hah " ( Lily terlihat bingung )


" maksudku pertama Disini lalu jembatan lalu kita ketemu lagi disini " ( sambil menggaruk kepalanya )


" ah iya hahaha " ( Lily terlihat malu )


" oh ya aku mau nanya boleh nggak "


" wakto lo pertama masuk kenapa nggak mau main musik , padahal kemaren lo pas ujian katanya lo bagus main biolanya ? " ( tanya Lily )


" eh bukaannya lo nggak ada pas gw main " tanya Danish bingung


" udah jadi berita aja sih , jadi gw denger dari temen temen " jawab Lily


" nggak kok, oh ya lo juga kenapa nggak masuk ? , katanya lo sakit " lanjutnya


" eh iya cuma demam biasa kok hehe " jawab Lily


Mereka saling berbicara satu - sama lain meski mereka hanya berbicara tentang hal - hal kampus mereka terlihat mulai akrab satu sama lain.


Mereka banyak berbicara sampai pada akhirnya kelas mereka pun akan segera di mulai. Mereka pun turun bersama. Mereka dilihat banyak mahasiswa dan mahasiswi yang ada disana karena mereka berjalan bersama. Lily yang terlihat mulai tidak nyaman pun akhirnya memutuskan untuk berjalan dahulu.


Daniah hanya mengangguk, Danish kembali berjalan dengan tenang dan ekspresi wajah yang dingin. Dia tidak mempedulikan apa yang orang lain katakan tentangnya. Dia hanya akan melakukan yang menurutnya penting dan mendengarkan apa yang penting baginya.



LM.


Berbicara ?


Akankah kau berbicara dengan kelemahanmu itu


Atau kau hanya akan diam tanpa mengetahui apapun.


Berbicaralah ......


Lihatlah wajah mereka, akankah berubah ketika kau berbicara.


Mereka yang terlihat munafik akan terlihat dengan wajah memerah mereka


Dan mereka yang tulus akan menunjukkan senyuman terindahnya.


Sesungguhnya berbicara dapat meluruskan banyak hal




Kelas akhirnya selesai, Lily pun pergi meninggalkan kelas dan menjuku ke depan kampus untuk menunggu Dewi. Beberapa menit kemudian ponsel Lily bergetar.


" Ly maaf ya lo pulang sendiri nggak papa kan ? Gw ada tugas nih. Kelompok lagi jadi mesti berangkat semua. Lo pulang sendiri ya hati - hati di jalan sayang " ( begitulah isi pesan dari Dewi yang di kirim untuk Lily lewat ponselnya )


Dewi pun sedikit menghela nafas dan akhirnya memutuskan untuk pulang sendirian.

__ADS_1


Sampai di kosnya Lily pun menulis sesuatu di buku hariannya, entah ada angin dari mana namun dia menuliskan tentang pertemuannya dengan Danish secara tidak sadar dan Mencoret - coret tulisan tersebut.


Lily lalu merebahkan dirinya ke tempat tidur sambil membaca beberapa buku yang dia sukai.



Catatan.


(Lily adalah gadis berumur 20tahun yang masih kuliah di semester ke empat. Lily mempunyaibrambut hitam panjang dengan tinggi badannya 165 cm. Lily termasuk gadis yang cantik , lembut , dan juga pintar.


Danish adalah pria berumur 21 tahun dia lebih tua setahun dari Lily. Dengan tinggi badan 180cm


Rambut hitam dan badannya yang termasuk ideal. Mempunyai wajah yang tampan dan bmpernah bersekolah di luar negeri. Danish sebenarnya adalah pria yang sangat cerdas dan pintar namun karena dia nakal jadi hanya sedikit siswa yang mengetahuinya.


Dewi adalah sahabat Lily dari kecil. Dewi sudah seperti saudara bagi Lily. Dewi mempunyai rambut pendek sebahu, Dewi adalah gadis yang cerewet dan blak blakan. Dia mempunyai tinggi yang sama dengan Lily . Dewi juga suka bergosip dan suka berita berita terkini xixixixi


Yoga adalah pria bertatto sahabat Danish. Yoga tidak berkuliah karena keadaan yang tidak memungkinkan karena Yoga sudah tidak mempunyai orangtua. Danish bersekolah hanya sampai SMA sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk menjadi tukang tatto. )


Terimakasih yang masih membaca HATI MALAIKAT karena author lupa diawal oleh karena itu baru author sampaikan. Maafkan author ya chinguuu :'(



Disisi lain ada Danish yang sudah sampai rumah dan sedang melamun di depan jendela. Danish sedang berfikir dan mengenang sesuatu. Berbicara dengan Lily Danish merasa dia mengingatkan seseorang yang pernah menyakitinya. Mulai dari berbicara , rambut yang panjang dan entahlah. Dia berfikir gadis tersebut adalah wanita satu satunya yang seperti itu Danish tidak menyangka bahwa akan ada lagi wanita yang sepertinya. Siapa wanita yang oernah menyakitinya ? Ya benar sali. Sali dulunya adalah kekasih Danish waktu Danish berada di luar negeri.


Berbeda dengan Lily sampai dirumah Lily langsung membersihkan diri dan berbaring diatas tempat tidur. Dia tidur dengan guling sebagai sandaran untuk dagunya. Tiba - tiba dia memikirkan Danish.


" Aku dan Danish tidak pernah bicara sebelumnya, semua orang selalu menjauhinya begitu pula denganku. Dia pernah bermain biola dengan sangat bagus semuanya mengetahui itu dan mereka hanya senang ketika saat itu. Dan mereka mulai menjauhi Danish lagi. Aku hanya mengenalna dari apa yang teman teman gosipkan dan bahkan aku ikut menjauhinya " ( dalam hati Lily mengatakan itu dan bingung )


" Danish itu mungkin tidak seburuk apa yang orang lain pikirkan, lagipula dia terlihat sangat ganteng ...... Astagaaaaa apa yang aku pikirkan dia sangat dingin bagaimana mungkin dia ganteng " ( sambil mengacak - acak rambutnya )



Mereka berdua saling memikirkan satu sama lain. Namun tidak aha hal istimewa diantara mereka / mereka mempunyai rasa untuk kedepannya (mungkin lebih teatnya mereka berdua belum merasakannya ).


Keesokan harinya Lily dan Danish kembali berada di satu atap yang sama. Meski canggung dan banyak diam mereka berdua berlatih di atap yang sama namun tempat yang berbeda. Lily berada di pojokan karena menurutnya pemandangannya sangat indah dan Lily bisa belajar dengan melihat pemandangan yang indah. Sedangkan Danish berada di dekat pintu masuk atap gedung itu.


Mereka belajar dengan sangat konsen disana. Namun Danish terlihat tertidur entah dia mendengarkan musik dan sangat menikmatinya atau dia sudah tertidur. Lily melihat jam dan betapa kagetnya dia melihat sudah waktunya untuk kelas dimulai dan bahkan sudah telat 5 menit. Dosen mereka kali ini adalah dosen seni tertulis yang sangat ketat dan sangat tepat waktu bahkan dia tidak segan menghukum muridnya yang telat meskipun hanya satu detik, dia adalah Pak Yohanes. Lily berlari dengan terburu buru dan


" brak !!!!!!! "


Lily terjatuh karena tersandung, Danish yang mendengar langsung kaget dan berlari kearah Lily untuk menolongnya.


Kening Lily membentur atap karena kasar terluka dan sedikit berdarah begitu juga dengan lututnya. Danish lalu membantu lili berdiri


" au " ( suara Lily terlihat kesakitan )


" lo nggak apa - apa ? " tanya Danish sedikit khawatir karena melihat luka Lily.


" gw bantu jalan ya " tawar Danish


" eh nggak usah gw bisa sendiri kok " Lily laru berjalan dengan terbata - bata karena lututnya juga terluka.


Lily berjalan ke bawah diikuti Danish yang ada di dalamnya. Seorang mahasiswa yang melihat dari jauh melihat Lily turun dari tangga dengan penuh luka dan melihat di belakangnya ada Danish yang berjalan pelan seolah tidak peduli dengan Lily, mahasiswa itu langsung menyimpulkan beberapa hal.


Lily yang akhirnya sampaindi uks pun mengambil kotak p3k dan mengobati lukanya. Meski sedikit namun terasa perih.


" siall apes banget gw , udah jatoh di depan orang pula. Masih mending cuma si Danish yang ada di situ coba kalo banyak di ketawain pasti gw " Lily mengumpat sendiri.


Danish yang langsung menuju ke ruang kelas untuk memulai pelajaran pun sudah sampai. Dan kelas sudah di mulai. Namun tidak ada yang menanyakan kenapa Danish telat bahkan dosen paling disiplin pun tidak menanyakan dan hanya menyuruh Danish untuk duduk. ( mungkin mereka semua takut menanyakannya karena secara Danish adalah putra dari ketua Dosen dan merupakan cucu yang mempunyai pengaruh paling banyak di kampusnya ).


Danish berjalan dengan santai dan duduk, dia tidak mendengarkan dosen menjelaskan karena tidak konsen. Dia justru memikirkan bagaimana keadaan Lily karena tadi terjatuh dan sampai terluka, lagi - lagi Lily menginggatkan Danish kepada Selli karena mereka terlihat sama - sama memiliki sifat yang sangat ceroboh. Sesering apapun Danish mencoba untuk melupakan Selli itu tidaklah mudah seperti perkiraannya. Selli adalah gadis periang yang lembut namun ceroboh. Ketika dia melihat Lily terjatuh dan terluka tadi mengingatkannya akan sosok gadis yang sudah tidak bersamanya lagi yaitu Selli.


Danish melamun dan dia teringat akan kenangan - kenangannya waktu bersama Selli di luar negeri itu.



__ADS_1


__ADS_2