Hati Sedingin Es

Hati Sedingin Es
kenapa aku jadi seperti ini?


__ADS_3

HATI SEDINGIN ES ❤️


#Part12


Abizar masuk kamar,


Lalu Ia ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ia bercermin Seraya berpikir, saat ini ia saja bingung pada dirinya sendiri mengenai Rayna.


"Kenapa aku jadi seperti ini?" Tanya Abizar pada diri sendiri.


"Seharusnya aku bahagia dengan pernikahan ini, padahal aku mencintai Jassy."


"Oh my God? Apa ada yang salah pada ku?" Tanya Abizar kebingungan melihat wajah nya di cermin.


Malam itu Rayna berdiri depan jendela kamar ia melihat bulan dan bintang-bintang yang bersinar menambah keindahan langit, ia layak menggapai bintang dengan tangannya.


"Kalian terlalu bahagia melihat ku menderita" jelas Rayna bicara pada bintang-bintang itu.


"Apa kalian tauh? Hidupku telah mati untuk cahaya, kalian itu pengganggu, seharusnya kalian berhenti bercahaya" jelas Rayna Dingin "tapi kalian seakan-akan menghina ku"


"Drtttt...drrtttt" handphone Rayna bergetar membuat Rayna berhenti memandang bulan dan bintang.


Ia lihat yang menelpon nya "papa" seperti biasa ia reject, hampir 4 kali papa nya menelpon lalu terpaksa ia menjawab.


"Rayna bukan kah papa telah katakan pada mu, kau tak boleh keluar rumah kecuali ke kampus. Kau tau berita kau di rumah sakit itu telah tersebar kemana-mana?" Tanya dan jelas papa.


Tanpa menjawab Rayna menurunkan Air matanya, ia beranggapan papa tak pernah mengerti keadaan nya.


"Jika semua orang dan wartawan tauh tentang keberadaan mu, kau dalam bahaya Rayna" jelas papa lagi


"Ray, kau dengar papa kan!!"


"Papa minta, jangan kau keluar rumah dulu!! Sebelum berita itu musnah. Papa telah atur semuanya!" Pinta papa.


"Peduli apa papa padaku? Hentikan semua ini, aku akan mengatur nya sendiri!!" Jelas Rayna lalu menutup telepon.


"Ray ... Rayna!!!" Teriak papa.


Rayna bersandar di dinding kamarnya dengan memegang kepala bertanda pusing.


"Aaaaa... .aaaaa,.. aku benci dengan kenyataan!!!" Teriak Rayna menangis.


Keesokan harinya.


Abizar turun dari kamar menuju pergi, sedangkan mama dan papa nya sedang makan di meja makan.


"Bizar,, apa kau tak sarapan?" Tanya papa.


"Tidak pa, biar aku makan di kampus aja!!" Jawab Abizar.


"Emang kau masuk jam berapa kok pagi-pagi amat?" Tanya papa Lagi


"Kerumah teman pa!!" Jawab Abizar dari jauh.


"Papa perhatiin udh 4 hari ini, dia pergi pagi sekali ma. Apa dia sedang banyak tugas?" Tanya papa pada mama yang sedang makan.


"Ia pa, ia sedang banyak tugas kan sekarang dia lagi nyusun" jawab mama terpaksa berbohong takutnya Abizar dimarah oleh papa.


"oh iya papa lupa, tapi kan dia baru semester 2 kok udah nyusun?" Tanya papa.


"Maksud Mama bukan nyusun skripsi pa, dia banyak tugas yang mesti disusun untuk praktek" jawab mama terbata-bata.


"Oh papa pikir apa?" Jawab papa melanjutkan makan nya.


Abizar melaju mobil menuju rumah Rayna.


Selang setengah jam tibalah ia dirumah Rayna.


Ia lihat bibi sedang nyapu di teras jadi tak usah ia mengetok pintu.


"BI.. apa Rayna telah bangun?" Tanya Abizar.


"Oh nona masih dikamar tuan, dia belum keluar!!" Jawab bibi "emang tuan mau kemana pagi-pagi gini?"


"Oh tidak bi, ingin ke kampus!" Jawab Abizar tanpa disuruh bibi ia langsung masuk rumah menuju kamar Rayna.


"Ini ni, anak zaman sekarang tanpa diminta ia pun nyelonong masuk...tapi gak papa lah asal nona Rayna bisa kembali seperti dulu!" Gerutu bibi melihat Abizar yang masuk rumah Rayna.


Rayna berdiri depan jendela kamarnya melihat keluar, ia melihat betapa bahagianya orang diluar sana menjalani dan menikmati hidup dengan tenang.


"Cklekkkk" Abizar membuka pintu kamar Rayna, lalu Rayna menoleh.


"Hai Ray, selamat pagi!!" Sapa Abizar.


"Siapa menyuruhmu masuk?" Tanya Rayna dingin.


"Jika aku pamit padamu, mungkin kau tak akan membukanya, jadi aku masuk saja!!"Jelas Abizar enteng.


"Menjijikkan!!!" Jelas Rayna dingin.


"Oh iya Ray, bagaimana hari ini kita masuk kampus?" Tanya Abizar.


"Tidak... " Jawab Rayna dingin.


"Ray, bagaimana kau ingin menguak kematian mama mu. Jika kau tak mampu menguasai rentang hukum?" Tanya Abizar.


"Apa kau ingin aku dalam masalah lagi?" Tanya Rayna.


"Bukannya gitu Ray!! Tapi pendidikan itu perlu!" Jawab Abizar mencoba membujuk Rayna.


"Kau tauh berita tentang aku dirumah sakit itu, telah tersebar kemana-mana. Semua orang telah tahu bahwa aku pembunuh!!!" Jelas Rayna.


"Ray, tapi kau bukan pembunuh nya kan kenapa kau harus takut??" Tanya Abizar

__ADS_1


"Konyol.... Pemikiran mu begitu sempit!!"Jelas Rayna Dingin.


"Maksud mu?" Tanya Abizar.


"Kita berada di negara hukum, dimana bukti lebih kuat dari pada kenyataan" jawab Rayna dingin.


"Tapi iya juga sih!!" Jelas Abizar.


"Kau begitu bodoh!!" Jelas Rayna


"Bagaimana jika kau katakan saja pada orang-orang bahwa kau bukan anak nya Elicya" jelas Abizar menemukan ide nya.


"Orang-orang diluar sana tak sebodoh kau. Apa kau tidak lihat wajahku sangat mirip pada mama!" Jelas Rayna.


"Ayo Ray, kita kekampus aku akan mengatasi semuanya!!" Pinta Abizar.


"Tidak.... Aku tidak mau!" Jawab Rayna.


"Jika kau tak ingin ke kampus akan ku katakan pada stasiun televisi bahwa kau masih disini!!" Tantang Abizar.


"Hee...... Menjijikkan!!! Apa dengan menantang ku membuat mu bahagia?" Tanya Rayna kesal.


"Ayolah Ray!!!" Pinta Rayna lagi.


"Ok...aku akan ke kampus asal jangan kau katakan pada orang-orang dimana alamat ku!!" Jelas Rayna.


"Ok.. aku janji!!" Jelas Abizar tersenyum.


Selang 15 menit Rayna keluar kamar membawa tas nya ingin ke kampus bersama Abizar.


"Nona mau kemana non?" Tanya bibi melihat Rayna keluar rumah menuju mobil Abizar.


"Kampus Bi!" Jawab Rayna.


"Tapi non, tuan tadi nelpon bibi katanya bibi gak boleh keluar rumah dulu sebelum berita di media berhenti!!" Jelas bibi.


Tanpa menjawab Rayna langsung masuk mobil Abizar.


"BI, Rayna baik-baik saja kok Percayalah!!" Jelas Abizar beranjak masuk mobilnya.


Di kampus, Adim dan Erico seperti biasa duduk di lobi tidak jauh dari parkiran.


"Abizar kemana sih sebenarnya? Aneh masa mama nya sendiri tidak tau dia tak masuk kampus?" Tanya Adim.


"Entahlah, aku juga bingung. apa mungkin dia bersama Rayna?" Jawab dan tanya Erico.


"Entahlah!!!" Jelas Adim.


Tak berapa lama tibalah Raisa dan ke 3 temannya menuju Adim dan Erico.


"Udah 4 hari ini kok aku gak liat kak Bizar? Kak Bizar mana kok Kalian ber 2 aja?" Tanya Raisa


"Kami juga gak tau" jawab Adim.


"Banyak tanya kau yah!!" Jelas Erico berdiri Menuju pergi.


"What????? Dia kenapa? Apa aku salah?"Tanya Raisa tak percaya ada orang yang mengabaikan nya.


"Makanya sa, kalau kita bilang gak tau yah gak tauh!" Jelas Adim melihat dari kejauhan "bukannya itu mobil Abizar?!!" Tanya Adim seraya Menunjuk.


"Oh my God,,, itu benar kak Bizar!!" Jelas Raisa bahagia.


"Tapi kayaknya dia sama cewek, itu siapa yah?" Tanya Crisa


"Iya, kayanya dia sama cewek!!" Sambung Riana.


Abizar turun dan diikuti Rayna membuat orang di sekeliling parkir terkejut melihat Abizar bersama wanita yang kini orang ketahui seorang pembunuh.


"Ayo Ray, kita ke kelas!!" Pinta Abizar lalu memegang tangan Rayna.


"Oh my God??? Aku gak salah liat kan kak Bizar sama tu cewek?" Tanya Raisa tak percaya.


"Bukannya tu cewek tidak normal, yang membunuh mama nya kan?" Tanya Echa juga.


Diam-diam Adim pergi dari tempat itu menuju Abizar.


"Kok bisa yah, kak Bizar bersama dia? Apa jangan-jangan mereka pacaran?" Tanya Riana.


"Kak Bizar gak mungkin suka sama dia, kau tau kan dia wanita tidak normal!" Jelas Raisa.


"Barangkali kan Sa!" Jawab Riana.


"Diam gak!!" Bentak Raisa.


Abizar diikuti Rayna berjalan dibelakang nya.


"Bukannya tu cewek yang dalam televisi itu kan?" Tanya seorang pada temannya.


"Iya, yang membunuh mama nya itu loh!"


"Manusia seperti apa dia? Sebaiknya dia dihukum dengan setimpal nya"


"Iya ku harap juga begitu!"


Itulah yang Rayna dengar orang yang membicarakan tentang nya.


"Ayo Ray!!!!" Jelas Abizar menarik Rayna menuju kelas.


"Lepaskan!" Pinta Rayna melepaskan tangan nya dari genggaman Abizar.


"Sudah cukup kau membuat ku menderita!, Sekarang kau puas kan!" Jelas Rayna.


"Ray, aku tau itu salah ku. tapi kau harus percaya aku akan buat semuanya seperti semula" jelas Abizar.

__ADS_1


"Kaca yang retak tak mungkin bisa kembali! Semuanya akan hancur seiring berjalannya waktu" Jawab Rayna dingin.


"Ray, kau harus percaya padaku!!" Pinta Abizar.


"Abizar....." Panggil Adim dari jauh lalu mendekati Abizar dan Rayna.


"Kau dari mana ajah sih baru masuk kampus?" Tanya Adim


Melihat itu Rayna pergi menuju kelas.


"Emmmm....aku Nemani Rayna, dia sakit." Jawab Abizar.


"Ingat bro, itu cuma taruhan!!"jelas Adim.


"Jangan kencang-kencang Napa?" Jelas Abizar mengecilkan suaranya.


"Ok..ok..maaf dah!!" Jawab Adim


"Erico mana?" Tanya Abizar.


"Dia udah dikelas,, yaudh kita ke kantin yuk?!" Pinta Adim.


"Yasudah aku ajak Rayna dulu!" Pinta Abizar.


"Loh kok ajak Rayna, kau udah gila ya???" Tanya Adim.


"Bukannya gitu... Kasian dia, dia pasti belum makan!" Jawab Abizar terbata-bata.


"Sejak kapan Abizar Pramana yang angkuh,sombong punya rasa simpati pada orang lain" jelas Adim tak percaya."ayolah Bi, kita makan!!" Tarik Adim menuju kantin.


"Ok²...." Jawab Abizar mengikuti Adim.


Rayna masuk kelas, seisi kelas hukum memandang Rayna benci dan ada juga yang mengumpat keburukan tentang nya. Tak ia pedulikan langsung saja ia menuju bangku, namun ia lihat bangku nya tidak kosong telah dihuni Raisa dan ke 3 temannya.


"Awas..." pinta Rayna dingin.


"Kau tau tidak mama ku meninggal?" Tanya Echa bernada becanda.


"Iya, aku lah yang membunuh nya" jawab Riana bercanda.


"Dan aku tidak tau malu, padahal aku lah yang membunuh mama ku!" Jelas Echa lagi berdiri depan Rayna.


Hati Rayna semakin geram mendengar olokan teman-teman Raisa tentang nya.


"Seharusnya pembunuh itu tidak disini, tapi di penjara!" Jelas Raisa tersenyum.


"Dasar pembunuh!!!!!" Teriak seisi kelas hukum membuat Rayna frustasi dan menutup telinganya.


"Diammm........" Teriak Erico menepuk mejanya "kalian tidak tau apa yang telah terjadi dan kau Raisa apa tak puas kah kau melihat Rayna menderita!!"


"Erico kau kenapa? Apa kau sakit? Apa kau tak lihat di media bahwa dia pembunuh!" Jawab Raisa lancang.


"Jika emang dia pembunuh, lalu apa urusan kalian? Apa Kalina bisa mengatasi semuanya? Tidak..." Jawab Erico lalu membawa Rayna pergi dari kelas.


"Hu......"Teriak se isi kelas melihat kepergian Rayna ditarik Erico.


Mata Rayna telah sembab karena menangis bola matanya pun telah merah,


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Erico membawa Rayna duduk disebuah taman tidak jauh dari kelasnya.


"Ya" jawab Rayna dengan pandangan kosong.


"Apa yang terjadi Rayna sehingga kau dikatakan pembunuh mama mu?" Tanya Erico.


"Tidak, tidak ada yang terjadi. Hanya saja takdirku yang buruk" jawab Rayna dingin.


"Iya aku maklumi mungkin kau belum ingin cerita padaku" jelas Erico.


Setelah makan Abizar menuju kelas dan ditemani Adim, ia berharap Rayna baik-baik saja.


Ketika masuk kelas ia lihat bangku Rayna tak ada orangnya melainkan Raisa.


"Pagi Kak Bizar!!" Sapa Raisa.


Abizar dan Adim saling pandang ketika melihat bangku Rayna dan Erico kosong.


"Rayna mana?" Tanya Abizar.


Seisi kelas pun diam tak berkutik mendengar pertanyaan Abizar.


"Raisa, Rayna mana?" Tanya Abizar lagi.


"Gak tau kak, tadi dia bersama kak Erico" jawab Raisa.


"Erico??" Ulang Abizar tak percaya bernada emosi lalu ia berlari keluar kelas dan diikuti Adim.


"kenapa Rayna dan Erico bersama?" Benak Abizar "apa Erico ingin bermasalah pada ku?"


"Kau kenapa Bi, kok muka kau kayak gak suka gitu mendengar Erico dan Rayna bersama?" Tanya Adim.


"Gak usah banyak tanya. Kita harus temukan Rayna sama Erico"


"Ingat Bi, kau dan Rayna cuma taruhan" ingat Adim.


"Kau bisa diam tidak sih!!" Bentak Abizar berlari mencari Rayna dimana-mana.


"Oh iya Ray, apa kau telah makan?" Tanya Erico.


"Bukan urusanmu" jawab Rayna "oh iya terimakasih yah kau telah membawa ku pergi dari kelas!"


"Oh... Iya Ray sama-sama!" Jelas Erico.


Next?

__ADS_1


__ADS_2