
HATI SEDINGIN ES ❤️
#Part27
Rayna melihat remaja yang menentang nya, ia seperti familiar melihat gadis itu.
"Gavina.... Gerakan balet tidak bisa diubah, coba kau lihat!! gerakannya itu-itu saja meskipun turun-temurun!!" Jelas Rayna memandang Gavina gadis itu.
"Kau masih mengenali ku?" Tanya Gavina.
"Yah!!! Ayo latihan lagi!" Pinta Rayna lalu melanjutkan menari.
Setelah latihan Rayna duduk di sudut ruangan untuk istirahat.
"Ini....!" Jelas Gavina memberikan sebotol minuman.
"Terimakasih!!" Jawab Rayna mengambil minuman itu.
"Telah lema tidak melihat ältere Schwester (kakak perempuan)" jelas Gavina
"Iya, aku juga lama tidak melihat kau!" Jawab Rayna tersenyum.
"Wah... ältere sudah banyak perubahan, ältere mampu tersenyum!" Jelas Gavina.
"Heee kau bisa saja!!" Jawab Rayna.
"ältere,,,, kau tidak diidonesia lagi? Apa kau menetap disini?" Tanya Gavina.
"Iya, kakak menetap disini!" Jawab Rayna.
"Apa ältere tauh, Gavino selalu mengantar jemput ku latihan balet!" Jelas Gavina.
"Apa Gavin juga pindah ke Deutsch?" Tanya Rayna tersentak.
"Iya ältere, kami pindah 2 bulan yang lalu, ältere tau sendiri papa kerja apa? Jadi sering pindah!" Jawab Gavina adek Gavin itu.
"Benarkah???" Tanya Rayna.
"Iya apa ältere tau, Gavino sering memikirkan tentang ältere?" Tanya Gavina balik.
"Kau bisa saja, yasudah kakak pergi yah!" Jelas Rayna.
"Laahhh, ältere tidak ingin menunggu Gavino?" Tanya Gavina.
"Tidak perlu, sampai kan salam padanya!!" Jawab Rayna tersenyum beranjak pergi
Tidak lama Rayna pergi, Gavin datang menjemput Gavina adiknya itu.
"Gavino.....!" Panggil Gavina melambaikan tangan pada Gavin.
"Heiii kau dari mana saja, aku cari dimana-mana!" Teriak Gavin menuju Gavina dengan kesal.
"Tadi aku mengobrol pada ältere, sehingga aku lama!" Jelas Gavina.
"Ältere??? Apa itu Rayna??" Tanya Gavin tak percaya.
"Iya, ältere kembali jadi baleter. Apa kau tau? Dia sangat cantik sekarang!" Jelas Gavina.
"Benarkah??" Tanya Gavin terdiam "Rayna kembali ke Deutsch, apa dia masih defresi?" Benak Gavin.
"Oh iya aku lupa, ältere mengirim salam untuk kau!" Jelas Gavina.
"Apa dia terlihat sedih?" Tanya Gavin.
"Tidak .. bahkan ia banyak sekali berubah!" Jawab Gavin.
"Syukurlah, dia berubah" benak Gavin.
"Heiiii kenapa kau masih bengong, ayo kita pulang!!" Pinta Gavina beranjak pergi dengan membawa peralatan baletnya.
___________
Rayna pergi ke lapangan tenis 🎾,
Yah tempat ia bermain di 10 tahun yang lalu.
"Tidak banyak berubah!!" Benak Rayna melihat sekeliling lapangan itu "hanya lapangan pria yang ditambah dekorasi nya!" Jelas Rayna melihat lapangan tenis pria disamping nya.
"Dulu kau adalah teman ku, disaat aku sedih bahkan kau layaknya manusia bisa mengerti aku!" Jelas Rayna memegang Raket.
Rayna mulai bermain tenis seperti dulu, tapi sangat susah baginya bahkan ia lupa bagaimana taktik bermain.
"Aku telah lama tak bermain, sehingga aku sangat sulit menangkap bola!" Jelas Rayna selalu gagal dan lesuh.
Namun semangatnya tak pudar, ia kembali mencoba agar bisa seperti dulu lagi. Tapi sayang, ia tetap tak bisa bahkan raket yang ia pegang layaknya seberat batu padahal raket itu sama seperti raket yang ia main dulu.
"Kenapa ini begitu sulit?" Tanya Rayna istirahat dengan duduk di lapangan.
Rayna melihat terik cahaya matahari yang menyengat membuat keringat nya bercucuran.
"Haiii..... Boleh aku duduk disamping mu?" Tanya seorang wanita juga bermain tenis di lapangan sebelah.
"Iya Silahkan!!" Jawab Rayna tersenyum.
"Terimakasih!" Jawab wanita itu duduk disampin Rayna.
"kenalkan aku Celena panggil saja Cel!" Jelas Celena menggulurkan tangannya.
"Oh iya, panggil saja kau Ray!" Jawab Rayna menyambut tangan Celena.
"Aku lihat kau sangat sulit untuk bermain! Apa kau baru belajar??" Tanya Celena.
"Tidak.. sebenarnya aku bisa bermain tenis, tapi karena tak aktif Lagi, jadi aku tak bisa!" Jawab Rayna.
"Kau bisa bermain bersama ku, ayo kita bermain!!" Ajak Celena berdiri.
"Apa kau tak keberatan??" Tanya Rayna.
"Tidak.... Ayo kita bermain, aku senang punya teman!" Jawab Celena tersenyum.
"Terimakasih!!" Jawab Rayna berdiri main tenis kembali.
Abizar masih mengedit naskah novelnya, mengedit kata baku ataupun formal serta meletakkan tanda Seru, tanda tanya dengan benar.
"Hampir selesai!!" Jelas Abizar "aku sangat berharap kau bisa membaca apa yang aku tulis saat ini!".
"Ahhhh..... Ini terlalu banyak!" Jelas Abizar seperti mengeluh "oh iya, aku butuh bantuan Celena. Dia pasti ingin membantu ku!" Jelas Abizar mengambil handphone nya di Atas meja.
Celena berhenti sejenak main tenis untuk mengangkat teleponnya,
"Celena, kau dimana?" Tanya Abizar.
"Aku sedang main tenis, kenapa?" Tanya Celena.
"Apa kau sibuk setelah ini?" Tanya Abizar.
"Tidak, ada apa?" Tanya Celena.
"Aku minta bantuan kau untuk mengedit ceritaku!" Pinta Abizar.
"Iya aku akan membantumu, jemput aku yah!!" Pinta Celena.
"Ok, dimana alamat nya?" Tanya Abizar.
"Ok, aku tulis di chat!" Jelas Celena mengirim alamatnya.
"Ok, aku akan segera kesana!" Jelas Abizar bersiap-siap.
"Ok..." Jawab Celena.
"Oh iya Ray, aku minta maaf tidak bisa menemanimu hingga akhir, aku ada urusan!" Jelas Celena merasa bersalah.
"Iya tidak apa-apa, aku bisa main sendiri!!" Jelas Rayna menangkap bola tenis.
Celena ke toilet untuk membersihkan diri, supaya Abizar tiba ia telah siap untuk pergi.
Rayna semakin lincah bermain, meskipun dibawah trik matahari yang panas semangat nya tidak pudar.
"Aku pasti bisa!!" Jelas Rayna dengan lincah "aku pasti bisa bersinar lagi, fighting!!!" Teriak Rayna.
__________
Abizar tiba di lapangan tenis untuk menjemput Celena.
Sedangkan Celena telah menunggu tidak jauh dari Rayna bermain.
"Heiii.... Celena!!!" Panggil Abizar melambaikan tangan seraya menuju Celena.
"Hei, kau telah tiba?" Tanya Celena.
"Iya, aku tepat waktu kali ini" jelas Abizar.
"Benarkah???" Tanya Celena.
"Iya, ayo kita pergi!!" Pinta Abizar tanpa melihat arah Rayna main tenis.
"Ayo!!" Jawab Celena beranjak pergi.
"Apa kau tau? Kemarin aku hampir selesai mengedit hingga 74 halaman, eh terformat jadi hilang semuanya...sungguh aku membenci itu!" Jelas Abizar masuk angkutan umum.
"Ingat semua butuh proses!" Jelas Celena menyemangati.
__ADS_1
"Proses panjang!!" Jawab Abizar terlihat kesal.
Rayna berhenti untuk minum, cahaya matahari terlalu terik untuk melanjutkan main.
"Perlahan-lahan aku pasti bisa!" Jelas Rayna tersenyum senang lalu berdiri menuju toilet untuk membersihkan diri.
Mama Abizar masih murung karena memikirkan keberadaan Abizar yang tidak tau dimana? Rasanya ia hidup tanpa arti sedikitpun.
"Ma, apa kau tidak masak?" Tanya papa menuju mama yang sedang melamun.
"Ini sudah jam 8 pagi, papa ingin kekantor sarapan belum ada? Istri macam apa kau?" Teriak papa Abizar.
"Papa bisa makan diluar, hari ini mama sedang tak ingin masak!" Jawab mama.
"Oh ya?? Jangan salah kan papa jika papa makan dirumah wanita lain!!" Jelas papa beranjak pergi.
Aku tidak peduli, sejatinya papa memang tidak pernah cinta pada ku. Papa pikir aku tidak tauh bagaimana papa diluar sana!" Teriak mama Abizar.
Papa Abizar berhenti sejenak.
"Sudahlah, kau tidak bisa apa-apa tanpa aku!" Jelas papa Abizar pergi.
Betapa hancurnya hati mama Abizar, padahal selama ini ia bertahan pada papa Abizar hanya demi Abizar semata, ia terbayang akan 20 tahun yang lalu, saat Abizar baru lahir papa Abizar pergi demi wanita lain.
"Dimana kau nak??? Mama tidak bisa seperti ini terus!!" Tanya mama menangis.
"Kenapa kau tega meninggalkan mama sendiri??" Tanya mama.
Rayna tiba dirumah nya, dirumah terlihat sangat rame untuk mempersiapkan acara pernikahan papa nya dan Agera esok.
"Selamat sore nona!!" Sapa seseorang.
"Sore!!" Jawab Rayna dengan Rama menuju kamarnya.
"Rayna,, kau telah pulang??" Tanya Agera.
"Iya Tan, aku kekamar yah mau istirahat!!" Jelas Rayna terlihat lesuh.
"Iya, sepertinya kau begitu lelah. Jangan lupa makan yah sayang!!" Jelas Agera.
"Siap Tan!" Jawab Rayna Menuju kamar.
Ia begitu lelah, tanpa mengganti kan pakaian langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.
Setelah melihat senja Abizar dan Celena makan malam di sebuah cafe untuk menghilangkan penak.
"Oh yah Abizar, tadi siang kan aku bermain tenis. Kau tau aku bertemu pada wanita yang sangat cantik!" Jelas Celena.
"Benarkah??" Tanya Abizar.
"Iya, namanya Ray. Pertama aku melihat nya, aku begitu kagum pada pada mata biru nya!" Jelas Celena.
"Apa kau menyukainya?" Tanya Abizar.
"Bukan begitu!! Maksud ku hanya kagum saja. Mana mungkin aku menyukai wanita!!" Jelas Celena terbata-bata.
"Barang kali kan!" Goda Abizar.
"Heeee.... Bodoh!!" Jelas Celena tersenyum senang dan diikuti Abizar "entah kenapa, aku begitu kagum padamu semenjak pertama kita bertemu!" Benak Celena.
"Apa yang kau lihat ha?, aku memang tampan!" Tanya Abizar.
"Dasar.....!" Jelas Celena tersenyum.
____________
Keesokan harinya, rumah Rayna telah dipenuhi tamu undangan teman papa dari kantor dan stasiun RayTv dari Indonesia pun ada, begitulah pula dengan teman Agera, Rayna di hias dengan secantik mungkin membuat orang-orang yang melihatnya kagum begitu pula Agera dan papanya.
"Kau cantik!!" Jelas tata rias memuji Rayna.
"Terimakasih!!" Jawab Rayna tersenyum melihat wajahnya di cermin.
"Ini terlihat bagus!" Jelas Rayna menuju jendela melihat para tamu undangan datang.
"Mama.... awalnya aku tidak pernah menganggap kau telah pergi, bahkan aku selalu berpikir kau akan kembali.. tapi hari ini, aku benar-benar yakin bahwa kau telah pergi meninggalkan untuk selamanya. Mama bukan aku tidak mencintaimu, tapi aku harus menjalani hidup dengan baik seperti orang di luar sana..... Mama sekarang aku telah ikhlas atas kepergian mu, semoga kau tenang disana!" Benak Rayna.
Sekitar pukul 9 pagi, ikrar pernikahan telah dimulai dan diawali dengan pendeta dari Gereja Santa 🎅 Cruz.
"Andreanata, apa kau menjadikan Agera Crishtiani istri disaat susah bahagia, sakit sehat, dan muda tua?" Tanya pendeta dalam ikrar pernikahan.
“Siap, Agera Crishtiani aku mengambil engkau menjadi istriku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus." Jelas papa Rayna memandang Agera.
"Agera Crishtiani, apa kau menjadikan Andreanata Suami disaat susah bahagia, sakit sehat, dan muda tua?" Tanya pendeta dalam ikrar pernikahan pada Agera.
"Siap, Andreanata aku menerima engkau menjadi Suamiku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus." Jelas Agera memandang papa Rayna.
"Sah!!" Jelas Pendeta sehingga para tamu undangan berteriak senang.
"1....2....3..." Papa Rayna dan Agera melemparkan bunga itu kebelakang nya, disana terdapat gadis-gadis yang bersiap untuk menangkap bunga itu.
Tak disangka Rayna lah yang mendapatkannya.
"Aku....????" Tanya Rayna tak percaya.
Papa Rayna dan Agera tersenyum.
"Sini sayang!!" Pinta Agera.
Rayna mendekat papa dan Agera.
"Berarti sebentar lagi kau akan menikah!!" Goda Agera.
"Tidak Tan, ini tidak mungkin!" Jelas Rayna tak percaya.
"Mama.....!" Pinta Agera tersenyum pada Rayna.
"Iya.... Mama!!" Jawab Agera tererbata-bata dan canggung.
"Sekarang mama akan jadi seseorang yang begitu berarti dihidup Rayna!!" Jelas Agera memeluk Rayna dan diikuti papa serta dilanjutkan foto bersama baik dari teman papa Rayna maupun teman Agera.
Rayna tersenyum senang melihat semua ini.
"Mama..... Bukan aku melupakan mu, tapi aku harus hidup dengan semestinya seperti yang kau minta, berbahagia dengan keadaan dan bersahabat pada keadaan dan suatu saat keadaan pasti bersahabat padaku" benak Rayna.
Siang itu Abizar dan Celena pergi ke Germany's Pustaka, tempat dimana penulis menerbitkan karya-karyanya.
"Kau pasti bisa!" Jelas Celena menyemangati Abizar.
"Doakan saja!" Pinta Abizar langsung mengetok pintu ruangan Kepalah Pustaka.
"Masuk!!!" Pinta nya berlagak formal.
"Fighting!!" Jelas Celena menyemangati Abizar Kembali.
"Selalu!!" Jawab Abizar masuk ruangan Kepalah Pustaka.
"Selamat siang pak!" Sapa Abizar hormat.
"Silahkan duduk!" Pinta nya.
Abizar duduk depan Kepalah Pustaka itu yang hanya meja sebagai jarak.
"Perlu apa anda kesini?" Tanya Kepalah Pustaka dengan bahasa Jerman formal (sopan).
"Maaf mengganggu waktunya sebentar pak, perkenalkan saya Abizar Pramana. Disini saya ingin mengantarkan naskah novel kepada bapak, saya harap sekiranya bapak menerima dan menerbitkan nya!" Jawab dan pinta Abizar dengan sopan.
"Apa anda telah janji?" Tanya Kepalah Pustaka.
"Tidak pak, tapi saya kesini bersama teman saya yang kebetulan penulis!" Jawab Abizar.
"Apa sinopsis naskah yang ingin kau publikasikan?" Tanya Kepalah Pustaka.
Abizar menarik nafasnya panjang "Disini saya menceritakan kisah cinta seorang gadis defresi dan frustasi karena kasus kematian Mamanya yang belum diketahui siapa pembunuh nya. Wanita itu mencintai seorang pria dan mereka saling mencintai. Suatu ketika wanita itu tahu bahwa pria yang ia anggap mencintai nya itu berbohong akan mencintai nya dan pria itu telah punya tunangan. Karena terlalu sering bersama dan seiring berjalannya waktu pria itu mencintai wanita defresi yang ia bohongi hingga akhirnya ia melupakan tunangannya, karena merasa terabaikan tunangan pria yang berada diluar negeri pergi ke negara sang tunangan untuk menikah, namun ekspetasi tak sesuai dengan kenyataan pria itu benar-benar tidak mencintai tunangan nya dan mencintai wanita defresi itu!" Jelas Abizar.
"Sepertinya menarik!!" Jelas Kepalah Pustaka.
"Iya pak, naskah ini saya buat diangkat dari kisah nyata!" Jawab Abizar.
"Baik, saya cek dulu. Jika saya menerima nya nanti akan saya hubungi Anda!" Jelas kepalah pustaka.
"Siap pak, nomor saya telah tertera di bawah foot halaman!" Jelas Abizar memberi naskah yang tertulis di kertas A4 itu.
"Baik!" Jawab Kepalah Pustaka.
"Yasudah pak, saya izin permisi.... Selamat siang!" Jelas Abizar hormat.
"Siang kembali!!" Jawab Kepalah Pustaka.
Abizar Keluar dari ruangan Kepalah Pustaka dengan girang.
"Bagaimana??" Tanya Celena.
"Dia menerima naskah ku, tapi ia mengeceknya terlebih dahulu!" Jelas Abizar.
"Benarkah??? Beruntung sekali kau, apa kau tau banyak penulis diluar sana ingin menerbitkan karya-karya nya disini tapi gagal. Jangankan dicek dilihat saja tidak!" Jelas Celena.
"Benarkah??? Wah beruntung sekali aku!" Jelas Abizar.
"Setelah ini kita kemana?" Tanya Celena.
"Ehhhh bagaimana kita makan siang bersama, sebagai tanda terimakasih ku karena kau telah mengajak ku kesini!" Jelas Abizar.
__ADS_1
"Benarkah??? Ayo kita makan!" Jawab Celena.
"Let's go!!" Jelas Abizar beranjak pergi dan diikuti Celena.
__________
Sepergian papa dan Agera honeymoon Rayna tinggal sendiri dirumah, Agera sempat mengajaknya untuk acara honeymoon mereka tapi Rayna menolak dengan alasan tidak ingin mengganggu dan juga ia ingin latihan balet.
Rayna tiba di ruang latihan baletnya dengan memakai peralatan balet. Rayna ditemani senior, menari serta belajar gerakan baru yang belum sempat Rayna pelajari dulu,
"Rayna, tubuhmu lentur sekali... Kau cocok jadi penari utama!" Jelas senior melihat Rayna seplit dengan santai serta meluruskan tangan kebelakang sedangkan tubuhnya ke depan.
"Terimakasih ka!" Jawab Rayna.
"Kau bisa menari berpasangan?" Tanya senior.
"Bisa ka, tapi dengan nada klasik!" Jawab Rayna.
"Baiklah nanti kau bisa belajar, untuk tari modern. Baik itu berpasangan ataupun tunggal!" Jelas Senior.
"Baik ka!!" Jawab Rayna.
Tanpa Rayna sadari dari jauh ada sepasang mata yang memperhatikan Rayna.
"Dia benar-benar berubah!" Benak Gavin melihat Rayna.
Rayna menari dengan lincah, sehingga tubuh lentur nya terlihat jelas.
"Baik semua, latihan hari ini kita akhiri dan dilanjutkan untuk besok!" Jelas pelatih.
"Siap pak!!" Jawab baleter dalam ruangan itu menuju peralatan masing-masing.
Rayna duduk menjulurkan kaki agar tercegah penyakit Parisiens di urat.
"Ini...." Jelas Gavin memberi sebotol minuman pada Rayna.
Rayna terdiam sejenak, ia sangat mengenali suara itu.
"Hai...masih ingat aku kan?" Tanya Gavin duduk disamping Rayna.
"Gavin... Kau disini?" Tanya Rayna balik.
"Ia, aku mendengar tentang kau dari Gavina!" Jawab Gavin.
"Benarkah??" Tanya Rayna.
"Iya, Kau apa kabar?" Tanya Abizar.
"Aku baik-baik saja,!" Jawab Rayna meminum air soda yang diberikan Gavin.
"Kau telah banyak berubah sekarang. Om Rean apa kabar?" Tanya Abizar lagi.
"Benarkah??? Papa baik-baik saja!" Jawab Rayna.
"Aku minta maaf selama aku di Amerika tak bisa menghubungi mu, karena handphone ku hilang!" Jelas Gavin.
"Benarkah??" Tanya Rayna seperti kecewa "lalu bagaimana dengan wanita yang kau unggah?" Tanya Rayna.
"Oh dia Janser, Teman kampusku di Amerika!" Jawab Gavin.
"Ohhh.... aku pikir kau telah menikah!" Jelas Rayna.
"Rayna...... Hahaha kau aneh, kan kau tau sendiri aku bagaimana. Mana mungkin aku secepat itu menikah!" Jelas Gavin tersenyum.
"Tidak ada yang tidak mungkin, bila takdir berkata lain!" Jawab Rayna.
"Jujur, aku senang melihat kau seperti ini. Bisa tersenyum dan bisa menerima kenyataan!" Jelas Gavin.
"Benarkah??" Tanya Rayna.
"Iya, oh yah kau tinggal dimana sekarang?" Tanya Gavin.
"Ditempat yang pernah aku katakan dulu!" Jawab Rayna menghabiskan minuman soda itu.
"Nanti malam aku kerumah kau!" Jelas Gavin.
"Untuk apa?" Tanya Rayna.
"Heiii,,, kita itu sahabat lama, kau seperti tidak tau aku saja!" Jelas Gavin.
"Sahabat!!" Ulang Rayna tersenyum tak percaya.
"Gavino.......!!" Teriak Gavina menuju Rayna dan Gavin dengan raut wajah kesal.
"Telah aku cari dimana-mana, ternyata kau disini bersama ältere!" Jelas Gavina.
"Oh yasudah Ray, aku pulang dulu yah!" Pinta Gavin berdiri.
"Selamat bertemu besok Ältere!!"jelas Gavina hormat.
"Iya!" Jawab Rayna tersenyum melihat langkah dua bersaudara itu.
"Untung saja aku tidak mencintai mu terlalu dalam dahulu, jika aku mencintaimu maka aku akan terluka dari sekarang. Kau hanya menganggap ku sahabat bukan kekasih!!" Benak Rayna tersenyum lalu menuju peralatan baletnya.
Abizar gelisah menunggu telepon dari kepalah pustaka, ia mondar-mandir depan tempat tidur berharap Kepalah Pustaka menelpon nya.
"Drtttttt......drttttt...." Getar handphone Abizar, dengan cepat Abizar menuju handphone nya. Ia lihat orang yang menelpon "Mama❤️" .
Abizar terdiam sejenak, sebenarnya ia sangat ingin memberi tahu mama bahwa ia baik-baik saja. Ia pikir selama ini ia dicari oleh papanya, namun tidak. Jangankan dicari, di telpon saja tidak. Abizar menghembus nafas panjang dan menjawab telepon mama.
"Syukurlah Abizar, kau menjawab telepon mama. Kau dimana sayang? Mama sangat khawatir!" Jelas dan tanya mama.
"Jangan khawatir kan aku ma, aku baik-baik saja!" Jawab Abizar.
"Sayang, mama minta kau pulang. Mama tidak bisa lama-lama tanpa kau nak!" Pinta mama menangis.
"Mama.... Mama harus terbiasa tanpa aku, tidak selamanya aku selalu bersama mama!!! Mama aku baik-baik saja disini, aku harap mama baik-baik saja disana!" Jelas Abizar.
"Mama tidak bisa hidup tenang tanpa kau sayang! Apa lagi, mama tidak tau kau berada dimana?" Tanya mama.
"Aku di Deutsch ma, aku sengaja kesini. Mencari jati diri serta cintaku!" Jawab Abizar.
"Abizar, Apa kau tau tentang Rayna?" Tanya Mama.
"Iya aku telah mengetahui semuanya dari pembantu Rayna dan sekarang dia juga ada di kota Deutsch tapi aku belum menemuinya!" Jawab Abizar.
"Apa kau tau?? papa Rayna adalah atasan papa kau!?" Tanya mama.
"Aku sudah mengetahui nya dari awal ma, Bahkan aku pernah pergi ke RayTv yang bekerja sama pada Pramana Grub" jawab Abizar "yasudah ma, aku sedang sibuk. Mama baik-baik saja yah disana, jangan lupa makan!" Pinta Abizar langsung menonaktifkan teleponnya.
"He......." Abizar terlihat lesuh lalu menumpas tubuhnya ke tempat tidur.
"sekarang, aku benar-benar tidak tau apa yang membuat ku seperti ini?" Benak Abizar mencoba memejamkan matanya.
_______
Malam itu Rayna masak sendiri, ia memasak Ramyeon disertai kimchi timun.
"Aku harus bisa masak!" Jelas Rayna meracik Ramyeon nya.
"Emmmmmmm..... Sepertinya enak!" Jelas Rayna mencium kuah Ramyeon.
"Ting.......Ting....Ting...." Suara bel rumah Rayna.
"Siapa yah?? Malam-malam?" Tanya Rayna pada diri sendiri lalu mematikan kompor dan beranjak membuka pintu.
"Siapa?" Tanya Rayna karena lelaki yang datang membelakangi Rayna.
"Selamat malam Ray!!!" Jelas Gavin menoleh pada Rayna dan memberi setangkai bunga melatih, bunga favorit Rayna.
"Gavin!!!" Panggil Rayna mencoba tersenyum dan mengambil bunga yang Gavin beri.
"Kau sedang apa?" Tanya Gavin "apa aku boleh masuk?"
"Aku sedang masak! Silahkan masuk!" Jawab dan pinta Rayna.
"Wah.... Kau bisa masak Sekarang???" Jelas Gavin masuk mengikuti Rayna "Om Rean mana?" Tanya Gavin.
"Sedang keluar negeri!" Jawab Rayna.
"Kau bisa duduk disana, aku ingin melanjutkan masak!" Pinta Rayna.
"Aku akan melihat kau masak!" Jawab Gavin mengikuti Rayna kedapur.
"Selama kita berteman, baru kali ini aku lihat kau masak!" Jelas Gavin.
"Benarkah???" Tanya Rayna menghidupkan kompor kembali.
"Oh yah Ray! Kau kenapa pindah ke Deutsch? Bukankah kau ingin mencari siapa yang membunuh mama kau?" Tanya Gavin membuat Rayna berhenti sejenak mencincang bawang.
"Aku telah merelakan kepergian mama ku, jadi aku tidak perlulah lama-lama mencari siapa pelakunya. Biar Tuhan saja yang membalas semuanya" jawab Rayna.
"Wah.... Kau semakin dewasa sekarang!" Jelas Gavin kagum.
"Heee... Memang seharusnya begitu!" Jawab Rayna kembali fokus ke masakannya.
Next????
Jangan lupa tinggalkan jejak yah ka❤️
Besok ending yah❤️
__ADS_1
Selamat Malam, Rena Andesta ❤️