
"Rallia Anastasya Jyanarta", nama yang indah itu nampak tertulis menyakitkan pada surat pindah sekolah. Tepat setelah pembagian hasil Ujian Kenaikan menuju kelas 2 SMA. Rallia dan Keluarga nampak pasrah akan kacau dan hancurnya Keluarga Jyanarta.
Bagaimana tidak!!! setelah resmi di umumkan bangkrut nya Perusahaan Jyanarta Group tanpa ada sisa sedikit pun. Bahkan, rumah yang selama ini menjadi tempat naungan yang hangat penuh kenangan tawa yang indah harus terpaksa di jual demi menutupi keuangan perusahaan untuk membayar sisa gaji para karyawan saat ini.
**********
"Yah, Bun, ha..bis ini kita mau tinggal dimana??. Kata Ralia sambil melihat keadaan rumahnya yang sudah tertutup rapat.
Bunda Ralia nampak bingung menjawab perkataan Rallia. "iya.. Ayah, kita mau kemana setelah ini??"...
"Kita..?? kalian saja yang pergi, terserah kalian mau pergi kemana. Mau hidup atau mati aku tak peduli". Kata sang Ayah dengan lantang dan penuh amarah.
Ralia dan Bunda nampak kebingungan dengan perkataan sang Ayah. "Maksud dari perkataan Ayah apa? Rallia tak mengerti sama sekali. Bukankah Ayah akan selalu bersama Rallia dan Bunda?". Kata Ralia sambil berkaca-kaca menatap sang Ayah.
"Begitu saja tidak mengerti, tentu saja Aku akan pergi dan meninggalkan kalian. Aku tak ingin menjadi orang susah seperti kalian. Aku akan pergi dengan wanitaku tersayang, Felisya yang sangat cantik setiap saat tidak seperti Bunda mu yang sudah keriput itu". Kata sang Ayah yang nampak dingin namun tegas dan jelas yang ia katakan.
__ADS_1
Bunda dan Rallia terkejut setelah mendengar perkataan sang Ayah barusan.
"Apa yang terjadi dengan Ayahku, mengapa ia berubah". Tangis Rallia dalam hati. Namun, ia segera menutupinya takut-takut menggoyahkan sang Bunda.
PLLAAAKKKK...!!!!
Keras dan menyakitkan, sebuah tamparan melayang dari Bunda Rallia. Ia tak menyangka jika suami yang selama ini ia cinta dan kasihi telah menghianatinya.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah kata yang pas untuk mereka.
"Sudah puas kamu bicara?? aku sudah lelah mendengar semua ocehan mu, sungguh aku tak berbohong pada mu". Kata sang Ayah.
"Kamu...."
Brukkk.....
__ADS_1
Bunda pun pingsan, jatuh ke samping Rallia setelah asma nya kambuh.
"Bunda... Bunda bangun Bunda.. hu.. hu.. hu.. Ayah.. Bunda pingsan Ayah.. tolong Bunda.. Ayo bawa ke Rumah Sakit Ayah.. tolong...". Kata Rallia sambil menangis sejadi-jadinya.
Namun, Ayah Rallia nampak mengacuhkan panggilan dan tangisan Rallia, ia bahkan nampak sibuk dengan telepon genggam nya sambil tersenyum sipu.
Rallia menangis dan mencoba menyadarkan Bunda nya namun tak berhasil.
Setelah beberapa menit datang sebuah mobil yang nampak sangat mewah parkir di seberang mereka. Kaca Mobil terbuka, terlihat wanita yang amat cantik di sana.
Baru tersadar Rallia pun melihat sang Ayah pergi tanpa pamit berjalan ke arah mobil tersebut.
"Ayah... Ayah... Ayah... jangan tinggalkan Rallia Ayah... hu..hu.. hu.. tolong Bunda Ralia".
Tangis Ralia semakin menjadi-jadi setelah ditinggalkan sang Ayah.
Pengelihatan Rallia nampak memburam berkunang-kunang.
__ADS_1
Brukkkk....
Rallia pun terjatuh pingsan di atas pelukan sang Bunda...