Heart Breaker

Heart Breaker
Restoran


__ADS_3

Tak terasa sudah setahun Rallia menjalani hari-harinya di sekolah barunya bersama July sahabatnya dan tentu saja diiringi keisengan dari Dean dkk yang tak pernah bosan mengerjainya. Bahkan tanpa sadar Dean mulai menaruh rasa terhadap Rallia, perasaan itu tumbuh saat ia sedang jatuh sakit dan hanya Rallia lah peduli menjenguknya. Sementara Rallia, ia tak pernah menaruh perasaan pada Dean melainkan hanya teman yang penuhh kejahilan mewarnai harinya selama bersekolah. Sewaktu Dean sakit, ia menjenguk hanya bertujuan ingin mengetahui keadaannya saja.


Hasil ujian kenaikan kelas sudah keluar, banyak siswa yang berkumpul di depan pengumuman majalah dinding sekolah untuk mengetahui hasilnya.


“Jul… kok aku deg-degan yah?” Rallia nampak meremas ujung seragamya dengan wajah yang sangat gelisah.


“Udah ah santai aja, lagian kan semester lalu kamu juara 1” July nampak santai mengatakannya.


“Apa coba yang kamu takutkan?” Tanya July terheran.


“Aku takut, kalau nanti kita gak sekelas gimana dong?” Tatap Rallia pada Jully.


“Yaelah gak apa juga, selama kita masih satu sekolah kan enak aja masih bisa ketemu pas jam istirahat atau pulang sekolah” Kata July.


“Yah iya… tapi aku gak mau” Tatap Rallia melas.


“Ih… udah ah kita liat aja dulu hasilnya” July langsung menarik Rallia agar berdiri dari tempat duduknya, “Iya… iya sabar” Rallia mulai kesal melihat ekspresi sahabatnya yang terbilang sangat santai apabila terpisah dengannya.


Rallia dan July pun mulai menerobos gerombolan murid yang berlkumpul di depan majalah dinding sekolah, megingat tinggi mereka yang terbilang lebih pendek dari yang lainnya jadi mereka harus menerobos sampai kedepan barulah mereka dapat melihat hasilnya. Sesampainya disana Rallia nampak semakin gusar karena belum menemukan namanya di barisan lembar kertas yang tertera nama July sahabatnya.


“Namaku mana yah…” Kata Rallia.


“Kita gak sekelas Jul… kayaknya” Sambungnya.


“Sudah… tenang aja yang penting kan naik kelas, sebentar ku bantu dulu cari namamu” Kata July.


“Nah… itu namamu Rallia” Tunjuk July pada selembar kertas yag berada di paling ujung.


“Yah… kamu kan…” Rallia pun kecewa seketika melihat namanya tertera di tempat yang berbeda.

__ADS_1


“Udah jangan sedih…” Bujuk July.


“Makanya kamu jangan kepintaran Rallia, hahaha… tuh kan kamu malah masuk kelas unggulan” Ejek july.


“Mana ku tau kalau sekolah ini punya system begini, tau begitu kan aku gak usah belajar aja” Sesal Rallia.


“Hahaha… sudah-sudah kamu harus bersyukur, lagian kita kelasnya masih samppingan kok” Kata July.


“Yang bener?” Tanya Rallia untuk meyakinkan dan July pun memberikan anggukan untuk meyakinkannya.


Seusai itu, Rallia dan July langsung pulang dari sekolahnya, mengingat Rallia pernah berjanji untuk mentraktir July makan seafood yang paling disukainya. Sesampainya disana July pun lansung memesan apa yang ia mau karena Rallia tidak terlalu menyukai seafood, tapi kalau disuruh makan yah ia tetap akan memakannya.


“Jul.. aku nitip tas yah, aku mau ke toilet dulu” Rallia pun langsung pergi saat mendapatkan anggukan dari July.


Bruk…


“Aw… bisa hati-hati gak sih?” Tanpa Rallia sadari ia telah menabrak orang lain yang kebetulan sedang berpapasan dengannya.


“Raka… kamu ngapain disini?” Tanya Rallia.


“Emmm… itu... aku lagi ada pertemuan sama orang” Raka pun mulai gelisah saat Rallia mempertanyakan itu.


“Ouh… pertemuan apa?” Tanya Rallia lagi.


“Eh… emmm ada pertemuan bisnis, biasa…” Gugup Raka.


“Ouh.. ya sudah kalau begitu ku tinggal yah..” Rallia pun pergi meninggalkan Raka termenung disana.


Sesampainya disana, Rallia langsung melihat sekelilingnya untuk memastikan pertemuan bisins seperti apa yang dihadiri Raka di tempat seperti ini. Tentu saja ia heran, Restoran Seafood kelas bawah seperti ini telah menjadi tempat pertemuan bisnis orang-orang berkelas seperti Raka.

__ADS_1


“Kenapa Ral..? Baru sampai sudah ngeliatin kemana-mana, ada apa sih?” Tanya July terheran melihat Rallia yang sibuk memutar-mutar kepalanya.


“Gak apa kok” Sahut Rallia.


“Aneh” Kata July.


“Gak kok, udah ah kita makan aja” Rallia pun langsung memakan makanannya yang di pesankan untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan lainnya. Tapi, sesekali pula ia menengokkan kepalanya untuk melihat sekitarnya.


“Hey… makan yah makan aja” Tegur July.


“Emm.. hehe.. jadi gini, tadi aku ketemu temanku di toilet” Kata Rallia.


“Terus?” Tanya July.


“Dia bilang tadi, dia itu kesini gara-gara ada pertemuan bisnis. Kira-kira pertemuan seperti apa yah yang diadakan di tempat kayak gini?” Kata Rallia.


“Uh… mulai kepo urusannya orang yah...” July pun mengetuk dahi Rallia menggunakan sendok.


“Aduh… sakit tau, iya-iya aku gak kepo lagi. Udah yuk makan” Kesal Rallia.


Raka POV


“Aduh… gawat nih. Kenapa juga kebetulan ada Rallia disini” Gumam Raka dalam hati. Ia langsung ketakutan setengah mati saat melihat Rallia di tempat yang sama dengan tempat pertemuannya dengan wanita yang sudah di pilihkan Bundanya.


Raka pun langsung mengirimkan pesan kepada orang yang datang bersamanya ke tempat ini, “Kita pindah tempat saja, ku tunggu di parkiran”. Seusai itu Raka langsung berjalan ke parkiran menggunakan pintu belakang agar tak terlihat Rallia.


“Kok pindah sih, Rak?” Tanya Fellis kesal.


“Gak suka aja” Jawab Raka dingin.

__ADS_1


“Kamu bisa gak sih, gak usah dingin begitu” Fellis pun menatap Raka memohon agar Raka bisa menganggapnya ada ataupun semacamnya. Namun, ia sama sekali tak mendapatkan jawaban dari Raka melainkan tatapan dingin yang ia terima.


“Ingat! Hatiku cuman untuk Rallia, aku harus menghentikan semuanya sebelum terlambat” Gumam Raka dalam hati.


__ADS_2