
"Erghhh.. Denny apa tadi kamu tidak keterlaluan menyuruhnya mengundurkan diri, bukan nya ingin ikut campur tapi tadi bukankah ia hanya melakukan tugasny". Tanya Rallia heran atas kebijakan Denny yang menurutnya semena-mena, walau resepsionis itu keterlaluan bukankah ia begitu karena ia sangat berhati-hati dan takut akan setiap hal yang akan masuk ke kantornya.
"sudah lah Rallia jangan pikirin, sudah ada yang mikirin". Jitak Denny ke jidat Rallia
"..iih... aw... kamu ini". Rallia pun kesal bukan nya menjawab malah Denny menjitaknya
Rallia pun duluan pergi menuju lift, namun tiba-tiba Denny pun menariknya.
"Apa lagi sih?". Rallia yang masih kesal
"Kamu salah naik lift Rallia... kita naik lift yang sebelahnya". Kata Denny
"Tapi kan itu lift VVIP, mengapa dia boleh masuk?". Tanya Rallia dalam hati ia pun bertanya-tanya, nanti yang ada kalau ia bertanya malah di jitak lagi sama Denny
"Ayo.. masuk ngapain ngelamun". Denny pun menarik lengan Rallia
Selama berada di dalam lift Rallia pun lebih memilih diam dan memperhatikan siapa kah Denny yang pertama dengan gampang nya ia menyuruh resepsionis itu mengundurkan diri yang ke dua ia berani masuk lewat lift VVIP.
"Mungkin saja ia manajer atau atasan semacam nya". Ucap Rallia dalam hati
"Uhuk... aku tahu aku tampan kamu ga usah perhatikan aku sebegitunya nanti malah jatuh cinta gimana". Sindir Denny selidik dan memojokkan Rallia ke pojok lift
"E.... ge-er aja.. ga yah.. aku cuman bingung aja ada pria jelek tapi banyak fans sampai-sampai aku di kira fans mu". Rallia pun mendorong Denny sedikit
Ting....
lift pun terbuka dan Rallia memilih untuk berjalan keluar terlebih dahulu, udara yang amat canggung jika ia harus berlama-lama di sana.
"Hei... hei... aku bercanda... cemberut aja dari tadi kayak nenek lampir tau". Ejek Denny
"Bleeeeee". Rallia malah memelet kan lidahnya dan membentuk muka jelek dengan menarik kelopak bawah matanya
"Hahahahaha kamu benar-benar jelek Rallia". Denny yang melihat itu langsung tertawa tersengal-sengal
"Ketawa aja terus sampai kiamat". Rallia pun berjalan lebih cepat
"hei.. sudah aku minta maaf soalnya tadi lucu banget hahaha... o yh itu ruangan ku". Kata Denny sambil menunjuk ke arah sebuah ruangan yang satu-satunya memilik pintu yang sangat elegan
Rallia pun melirik dan ia terkejut melihat ada sebuah tulisan kalau itu menunjukan ruangan CEO.
__ADS_1
"Astaga... dia.. bagaimana dia bisa jadi CEO". Tanya Rallia dalam hati
Kriet....
Pintu pun terbuka lebar dan memperlihatkan ruangan yang amat besar dan megah, Rallia tercengang melihat semua dekorasi dan barang-barang yang berharga ternilai milyaran.
"Cepat ceritakan pada ku bagaimana kamu bisa menjadi seperti ini!". Tanya Rallia tanpa segan-segan daripada ia terus bertanya-tanya dalam hati dan penasaran
"Ini semua masih harta orang tua ku dan keluarganya, aku hanya meneruskan dan tak berhak bilang ini milik ku apalagi mereka semua masih hidup". Kata Denny
"Oooooo....".
"Jadi.. pekerjaan ku apa?". Tanya Rallia
"Pekerjaan mu adalah menjadi kekasih ku". Kata Denny sambil menahan tawa
"...iiiii... ga lucu... serius humor mu ga receh". Kata Rallia
"*Oke-oke mulai hari ini status pekerjaan mu adalah menjadi asisten pribadiku, dan ruang mu ada di sebrang sana". Kata Denny
"Tapi aku bahkan belum lulus sekolah dan ga ada pengalaman bagaimana bisa langsung jadi asisten pribadi seorang CEO*". Bantah Rallia
"O...oke... jangan nyesal loh yh". Kata Rallia
Rallia pun memasuki ruangan nya yang hanya berbataskan kaca dengan ruangan Denny.
"Maaf,,, aku hanya ingin melihat mu setiap hari". Kata Denny melihat Rallia yang mulai sibuk mempelajari aturan dan dokumen-dokumen perusahaan
.........
"Rallia... hari ini aku ada lembur jadi kamu bisa pulang terlebih dahulu karena bagaimanapun kamu baru belajar dan mengenal perusahaan". Kata Denny
"Ok... makasih banyak yah Den.. kamu sudah kasih aku pekerjaan". Kata Rallia
"Sudah... aku juga begini gak mau melihat sahabat ku kesusahan sudah sana cepat pulang". Kata Denny
"Ya udah aku pulang..yah... bye". Kata Rallia
..............
__ADS_1
Sesampainya di Rumah Sakit.
Kriet....
"Loh... Bunda.. kok Bunda sudah beres-beres Bunda kan masih sakit". Kata Rallia
Rallia pun langsung mengambil pakaian-Nya di tangan Bunda dan merapikan sendiri
"Rallia sayang... tadi pagi Dokter sudah bilang kalau Bunda sore ini bisa pulang.. Bunda juga sudah capek di Rumah Sakit terus-terusan dan Bunda juga harus bekerja buat sekolah dan sehari-hari kita". Bunda nampak sedih melihat Rallia dan mengelus rambut anak kesayangannya.
Deg...
"Tapi.. Bun.. Rallia belum mendapat gajih untuk kita mencari rumah... maafkan Rallia Bunda". Tatap Rallia sedih
"Kalau masalah rumah, jangan dipikirkan. Bunda minta tolong ke teman Bunda meminjam kontrakan nya untuk sementara dan akan membayar saat kita sudah terima gajih". Kata Bunda
"Bener .. Bunda.. Bunda ga becanda kan?". Kata Rallia
"Benar sayang ayo kita beberes". Kata Bunda
"Ok.. Bunda diam di sini saja aku akan beres-beres secepat kilat". Kata Rallia
Bunda pun hanya bisa menggeleng melihat tingkah Rallia
"Ayo Bunda... sudah beres semua".
.............
Raka POV
Tok..tok...
Lama tak ada sahutan Raka pun berinisiatif untuk masuk
"Sore... Ral....". Bunga dan buah yang di bawanya langsung terjatuh berceceran
"Rallia... Rallia.. Rallia....". Teriak Raka mencari ke seluruh ruangan
"Maaf Tuan Muda... Rallia dan Bunda nya sudah keluar barusan saja". Kata salah satu seorang Dokter yang tiba-tiba datang mendengar teriakan Raka
__ADS_1
"Apa...