
Kini Denny sudah berada di Club Chez Mizou, club yang sudah ia janjikan bersama Raka sebelumnya. Namun,sudah setengah jam berlalu ia juga belum melihat batang hidung Raka sedikitpun. Ia langsung memesan beberapa makanan dan minuman terlebih dahulu dan menghubungi Rallia untuk mendengarkan kabarnya hari ini.
Denny – Ping!
Rallia – iya ka?
Denny – Gimana hari ini?
Rallia – Buruk
Buruk? Sesaat kemudian ia langsung terdiam membaca pesan Rallia itu lalu memkirkan hal-hal yang berlebihan telah terjadi pada Rallia hingga menyebabkan hal-hal buruk terjadi pada Rallia.
“Kayaknya nanti malam aku ke rumahnya aja” Gumam Denny dalam hati.
“Ehem” Dehem seseorang yang membuyarkan lamunannya.
“Eh.. hai bro… maaf-maaf, udah lama yah?” Tanya Denny.
“Gak kok, santai aja” Kata Raka.
“Pesan sendiri yah.. soalnya tadi aku gak tau pesanin apaan jadi yah cuman pesanin kopi aja” Kata Denny.
“Ok.. ok… aku masih kenyang kok” Senyum Raka.
Denny dan Raka pun mulai membicarakan tentang kesehariannya dan bisnis-bisnis yang kini mereka jalani saat ini, dari yang serius hingga candaan ataupun hal-hal lucu yang menarik bagi keduanya.
“O yah Rak… kamu sekarang mulai ngejar siapa nih, secara kan setauku kamu masih setia sama bidadari kecilmu” Celetuk Denny di tengah-tengah pembicaraannya karena inilah tujuannya.
“Aku? Emmm tentu saja masih setia padanya” Kata Raka.
“Kamu belum move on dari dia? Lagipula kan kamu belum tahu dia dimana” Denny pun semakin penasaran pada Raka.
“Siapa bilang? Haha… aku sudah menemukannya kok” Kata Raka.
“Bahkan kami sekarang semakin mengenal satu sama lain” Tambahnya.
__ADS_1
“Lalu untuk apa Raka mendekati Rallia? Apa hubungan mereka?” Gumam Denny dalam hati.
“Syukur deh… jangan pernah tinggal dia lagi” Nasehat Denny pada Raka.
“Yoi… Lah kamu sekarang sama siapa?” Tanya Raka.
“Sama seseorang yang selalu ada dipikiranku, masih proses kok” Kata Denny.
“Bagus deh” Jawab Raka.
Mereka pun saling bertanya, berkonsultasi, dan memberikan saran satu sama lain. Tanpa mereka sadar wanita yang kini menjadi hot news mereka adalah wanita yang sama tapi dalam sifat yang sedikit berbeda dalam berhadapan dengan mereka, perbedaan kecil itu mampu membuat mereka percaya bahwa itu adalah wanita yang berbeda. Setelah berbincang dengan Raka, Denny pun langsung pergi ke rumah rallia untuk memastikan kabarnya lebih detail.
Dipersimpangan jalan ia melihat Toko Coklat kesukaan Rallia lalu memutuskan untuk mampir membelinya sebentar. Dengan sekotak coklat manis sudah berada di tangannya, ia pun langsung membawanya dengan rasa hangat penuh kasih sayang mengiringi langkahnya untuk mengetuk pintu putih yang ada dihadapannya.
Tok… Tok…
“Loh… ada Denny tumben kamu mampir, kenapa yah?” Tanya Bunda.
“Eeehmm…. Iya Bunda. Ada Rallianya?” Tanya Denny.
“HOI…!” Teriak Rallia tepat di telinga Denny.
“Aduh… kamu cewek spesies jenis apa sih? Gak ada kalem-kalemnya sumpah” Cubit Denny ke pipi Rallia.
“Hehehe… spesies bidadari berselendang warna ungu yang turun dari kayangan untuk mencari cinta sejati” Kata Rallia.
“ Kamu sehat?” Sentuh Denny ke dahi Rallia.
“Dahi ku mah sehat-sehat aja, kalau ga sehat sudah penuh jerawat kali” Sahut Rallia.
“Siapa tau kan sudah mulai miring” Kata Denny.
“Enak aja ngatain miring, o iyah kenapa kesini jam segini” Tanya Rallia.
“Tadi kebetulan lewat terus nemu ini di jalan” Angkat Denny pada sekotak coklat yang sedari tadi ia bawa.
__ADS_1
“Wow… mau.. ayo-ayo makan” Tarik Rallia pada kotak coklat itu dan langsung berjalan menuju kursi yang ada di depan rumahnya.
“Jyah…bisa ga sih kalau liat coklat jangan langsung kayak monyet liat pisang” Kata Denny.
“Udah-udah… diam.. jangan ganggu” Kata Rallia.
Rallia pun langsung membuka kotak coklat itu dan melahapnya tanpa memikirkan seseorang yang kini sudah duduk disampingnya. Tak ada suara atau apapun yang menghias diantara ke duanya, hanya ada fokus yang mewarnai mata dua insan. Denny menatap Rallia secara intens dan tak mengaihkan pandangannya sedikit pun, ia merasa puas dapat melihat Rallia sesenang ini dan tak memikirkan hal-hal buruk yang terjadi padanya hari ini.
Semakin lama ia terfokus pada coklat itu ia merasakan hal-hal yang aneh di sekitarnya, kemudian ia mencoba melirik sekitarnya sesekali dan yah ia pun menemukan Denny yang menatapnya dengan serius, tatapan yang aneh menurutnya.
“Ehem…” Dehem Rallia untuk menghentikan tatapan itu dan berpura-pura tak tahu apa yang terjadi dengan fokus melahap coklat itu.
“Eh… emmm” Denny pun menggaruk tengkuknya, seperti orang salah tingkah saat kepergok oleh orang lain.
“Kenapa?” Tanya Rallia.
“Mau?” Tambahnya.
“Eng… enggak kok” Kata Denny.
“Emm… sebentar” Tangan Denny langsung menyentuh sudut bibir mungil itu dengan mata yang terfokus menatap mata indah yang ada dihadapannya dengan sesekali mengarah pada bibir itu. Canggung itulah yang kini Rallia rasakan, perasaan aneh yang kini menggebu memenuhi hatinya, terlebih lagi mata itu terasa semakin dekat dan terus mendekat secara perlahan.
“Ehm…anu..” Rallia pun mencodongkan tubuhnya kebelakang.
“Maaf-maaf tadi cuman mau membersihkan sisa coklat yang belepotan kok” Tunjuk Denny pada jarinya.
“Eh.. iya-iya makasih” Usap Rallia pada mulutnya sendiri.
“Em… ka.. aku izin masuk yah, soalnya sudah malam nanti di marahin Bunda” Pamit Rallia gugup.
“Iya… gak apa masuk aja, aku juga mau pulang” Pamit Denny dan meninggalkan Rallia termenung disana.
Denny langsung pergi masuk ke dalam mobilnya dan mentakkan tangannya ada stir mobil untuk menghilangkan kekesalannya setelah apa yang terjadi.
“Oh… baby .. aku tadi hamper aja kebablasan, untung aku cepat sadar. Ahhh…” Teriaknya.
__ADS_1