Heart Breaker

Heart Breaker
-Mencoba-


__ADS_3

Tok... Tok...


"Ya.. Masuk.." Kata Rallia


Pintu perlahan membuka dan memperlihatkan sosok di baliknya.


"Ada apa.. Bi Des datang ke sini?". Tanya Rallia


"saya tadi di telepon Tuan Muda mengantarkan makanan ke sini takut Tuan kelaparan, kalau begitu saya pamit keluar dulu, jika ada apa-apa langsung hubungi saya saja.. permisi.." Kata Bi Des dan berlalu keluar dari ruangan itu


Rallia nampak tercengang dengan rantang yang di bawakan Bi Des "Dia.. terlalu baik,, aku akan segera keluar dan meninggalkan nya dan membawa Bunda pergi, aku tak ingin berhutang apapun padanya" Ucap Rallia pelan.


"Bunda... bunda cepat sembuh yah, doakan Rallia cepat dapat pekerjaan dan membawa Bunda pergi untuk melupakan semua nya, Bunda ... Rallia sayang Bunda..". Kata Rallia terisak mengelus tangan sang Bunda.


Setelah selesai makan dan merawat sang Bunda dengan penuh cinta, Rallia langsung membuka leptop yang disediakan Raka takut-takut sang bidadari merasa bosan.


"Ok... selamat datang di dunia yang baru Rallia..."


Rallia nampak fokus mencari lowongan pekerjaan yang cocok untuk usia nya, namun tak ada satu pun yang cocok untuk nya.


Di sisi lain....


Raka POV

__ADS_1


"Huft....". Raka nampak menghembuskan nafas nya setelah bergulat dengan tumpukan berkas yang beberapa hari ia tinggalkan.


Selanjutnya ia lebih memilih membuka leptop nya .. hm... yah secara gitu Raka sudah menyiapkan segalanya untuk memantau sang bidadari melakukan apa, ia pun langsung menghubungkan peretas di leptop yang sekarang ada pada Rallia.


Ia nampak terkejut dengan pencarian yang di lakukan Rallia.


"mengapa Rallia mencari pekerjaan, apakah yang kuberikan tak cukup untuknya?" Tanya Raka dalam hati.


Namun, ia lebih memilih diam dan memantau sambil menunggu-nunggu Rallia menceritakan itu dengan sendirinya daripada bertanya langsung, maklum harga dirinya lebih penting dan harus dijunjung tinggi.


Author POV.


Pukul 8 malam, Raka melirik sekilas pada jam yang tergantung di depan nya. Dan berfikir untuk pulang melihat kondisi Rallia.


"Aw...." Rintih Raka


Ia langsung melihat kebelakang siapa yang sangat terburu-buru hingga menyenggolnya,


"Denny...?? untuk apa ia kesini bukankah ia ada di Belanda??" tanya Raka dalam hati.


tapi ia langsung menipis pikiran itu dan memilih melanjutkan menuju ruangan dimana Bunda Rallia di rawat.


"Hei... kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Raka terheran-heran

__ADS_1


"em... gak papa, eee... masuk yok liat Bunda". Ajak Rallia


Selama di dalam suasana nampak canggung dan sepi, Rallia lebih memilih diam karena tak tau mau mulai cerita dari mana dan takut menyinggung perasaan Raka. Sementara Raka, ia juga lebih memilih diam karena gengsi ingin Rallia yang menceritakan semuanya dengan detail dengan nya.


"e...mm.... Raka??" kata Rallia yang berusaha mencairkan suasana


"iya???" tanya Raka


"Sudah malam... apa kamu tak ingin pulang dan istirahat?". Tanya Rallia


"Kamu tak ingin pulang bersamaku?" Tanya Raka intens


"em... aku mau tidur disini menemani Bunda takut Bunda nanti bangun dan mencariku". Kata Rallia


"o...ok ok kalau ada apa-apa langsung hubungi aku saja ".. Kata Raka


"Ok.. " senyum canggung Rallia terhadap Raka


Muacch


deg... lagi-lagi Raka mencium Rallia, tanpa aba-aba. Tanpa ada beban Raka langsung pergi meninggalkan Rallia.


Lain hal dengan Rallia, ia nampak terkujur kaku setelah di cium Raka. Ia bingung harus apa...

__ADS_1


"uuuu.... Raka...." Runtuk Rallia sedikit teriak


__ADS_2