Heart Breaker

Heart Breaker
Pergi


__ADS_3

Nuing... Nuing... Nuing...


"Ribut banget sih... ganggu tau ga... huft.." histeris Rallia mematikan alarm nya karena ia masih menginginkan berada di dunia yang indah.


Ting... Tong...


"Rallia.. siapa itu? sepertinya kita kedatangan tamu, coba kamu cek dulu yah sebentar" teriak Bunda.


"Bunda aja... Rallia masih ga bisa bangun, nyawa Rallia setengahnya masih ngambang belum menyatu sepenuhnya" kata Rallia. Bunda pun menggeleng heran dengan putrinya itu.


Bruk...


"Bangun... anak cewek kok bangunnya siang" oceh Bunda setelah melempar bantal ke muka Rallia. Namun, Rallia tak menggubriskan itu sama sekali. Bunda pun langsung membukakan pintu setelah mendengar suara bel berkali-kali.


Kreit...


"Ya.. cari siapa nak?" tanya Bunda.


"Ada Rallianya tante?" Tanya orang itu.


Deg..., "itu seperti suara Raka, astaga... aku lupa ada janji dengannya" ucap Rallia dalam hati.


"Gawat... aku harus cepat-cepat mandi nih biar Bunda ga punya banyak waktu buat tanya-tanya" sambung kata Rallia


"Ada... emm.. silahkan masuk biar nanti Rallianya di panggilkan sebentar" Kata Bunda.


"Terimakasih tante" Kata Raka.


Dengan senyum manis dan sopan Raka pun masuk serta duduk menunggu sang empunya janji tiba dihadapannya.


"Rallia... ada..." teriakan Bunda pun terhenti saat melihat kasur yang kosong melompong serta mendengar suara percikan air di kamar mandi.

__ADS_1


"Memang yah anak muda zaman sekarang" geleng Bunda. Bunda pun segera membuatkan teh hangat untuk pemuda yang datang, setelah selesai Bunda langsung memberikannya dan berbincang-bincang. Entah seberapa lama Rallia mandi dan berpakaian hingga membuat Bunda dan Raka larut akan cerita, betapa terkejutnya Bunda setelah tahu bahwa sebelumnya Rakalah yang menyelamatkan dan memberikan pengobatan untuk dirinya dan putrinya. Setelah Bunda mengetahui yang sebenarnya, Bunda pun merasa tak enak dan sungkan akan budi yang telah Raka perbuat.


"Uhuk... pada ngomongin apa nih?" tanya Rallia tiba-tiba.


"Cuman ngomongin basa-basi aja kok" kata Bunda


"Yaudah yuk... sudah makin panas nih" ajak Rallia.


"Oke.. Tante saya pamit dulu yah bawa Rallia keluar" kata Raka dengan senyum andalannya.


"Rallia juga yah Bun" pamit Rallia yang diiringi oleh Raka di belakangnya.


Setengah jam sudah diperjalanan tapi hanya diiringi dengan hampanya ruang dan sesaknya udara yang memenuhi seisi mobil milik Raka. Raka ingin berbicara tapi ragu dan bingung seperti apa iya mengalirkan pembicaraannya nanti. Sementara Rallia ia lebih memilih untuk diam dan acuh tak acuh bahkan enggan untuk menghadap dan melirik Raka di sampingnya.


"Ekhem..." dehem Raka mencairkan suasana di dalamnya.


Rallia pun melirik ke arah Raka dan segera membuang mukanya sebelum Raka meliriknya, "eee... kamu mau bawa aku kemana?" tanya Rallia.


Yaps.. suasana yang mulai mencair tadi pun langsung terhenti dan kembali seperti semula diam tak ada ocehan yang terdengar hanya suara detak jantungnya masing-masing yang mereka dengar sepanjang jalan.


Cyiet....


"Ayok turun" ajak Raka pada Rallia.


"Kamu yakin bawa aku kesini?" tanya Rallia heran.


"Kenapa tidak?" kata Raka acuh dan meninggalkan Rallia di dalam mobil. Rallia yang melihat itupun langsung kesal dan segera keluar dari mobil itu, seketika kemudian Rallia pun tercengang heboh melihat pemandangan yang ada di depan matanya, indah dan sejuk itulah yang di benaknya.



"Aarghhhhhhh...." teriak Rallia melepas penatnya seketika. Raka yang melihat itupun puas dan tersenyum.

__ADS_1


"Gimana? puas?" tanya Raka.


"puas banget. O.. emmm.. apa tujuanmu mengajak ku kesini?" tanya balik Rallia.


"Menurut kamu?" Kata Raka sambil mengeluarkan tumpukan buku yang ada di bagasinya.


"What ... kamu nyuruh aku belajar?" tanya Rallia heran.


"Bukankah ini tempat terbaik untuk belajar?" kata Raka


"Yah.. iya sih.. tapi kan aku capek belajar, lebih nyaman lagi kalau bersantai sekejap dan merenggangkan tulang-tulang ini melihat langit dan pemandangan yang indah" kata Rallia.


"Emm... gini aja gimana kalau kita belajarnya ga usah tegang-tegang banget kita buat sebuah permainan sampai materi itu melekat di pikiranmu" kata Raka.


"Sembarang kamulah, yang penting aku gak mau mikir panjang-panjang" kata Rallia dan langsung memilih untuk duduk diatas rerumputan itu.



"Ok.." Kata Raka.


Raka pun memulai permainan itu satu per satu, ia sudah mempersiapkan segalanya sedemikian rupa agar Rallia mengerti dan merasa tak terbebani akan banyaknya tumpukan materi yang ia siapkan. Rallia pun mulai menikmati setiap permainan yang ada dari yang mudah sampai tersulit, semakin sulit permainan yang di sajikan maka semakin seru dan menarik untuk dilewati satu persatu.


Tawa pun mengikuti setiap gema permainan yang dilakukan, hingga mereka lupa akan waktu dan sekitarnya. Memang tak akan ada yang mengganggu mereka disana, secara itu adalah puncak pribadi Raka yang sudah ia siapkan sejak lama untuk melepaskan segalanya.


"Hey.. balik yuk, cuacanya sudah makin dingin" kata Raka ajak Rallia.


"Aku masih nyaman Raka" kata Rallia sambil berbaring dan memejamkan matanya karena lelah yang menerjangnya selama permainan tadi. Tapi, bukan Raka namanya jika apa yang dikatakannya di bantah orang lain.


"Raka... kamu ngapain gendong aku... turunin ga!!" teriak Rallia karena kaget badannya melayang seketika diangkat Raka.


"Sudah... jangan banyak gerak nanti jatuh gelinding ke jurang baru tau" kata Raka.

__ADS_1


Jleb... Rallia pun terdiam dibuatnya hingga tak bergeming bahkan ia pun berusaha menahan nafas agar Raka tak merasa ada begitu banyak beban yang di bawanya, takut-takut Raka tak bisa menahan keseimbangan dan terjatuh.


__ADS_2