Heart Breaker

Heart Breaker
-Musuh-


__ADS_3

Nuing...Nuing...Nuing....


"Arghhh... Sumpah ini suara alarm terburuk yang pernah ku dengar". Omel Rallia pada jam beker yang ada di samping bantalnya. Akhirnya Ralli pun harus tetap terbangun dan berjalan kesal ke arah kamar mandi.


Bunda yang melihat tingkah laku Rallia yang tidak pernah berubah hanya bisa menggelengkan kepala. "Rallia... Rallia...". Kata Bunda terheran-heran.


Tak lama dari itu Rallia nampak keluar dari kamar mandi dengan menggigil "Bunda... hari apa sih ini air nya kok dingin banget". Kata Rallia


"Ga dingin kok ga... malah Bunda mandi pagi banget jam 5 biasa aja tuh". Kata Bunda


"Rallia kedinginan Bunda...Brrrttttt". Kata Rallia sambil mengambil pengering rambut. Namun, bukannya mengeringkan rambut malah dipakainya mengeringkan telapak tangan nya. "Ahhhh... enak... anget..". Kata Rallia yang mulai terbuai dengan pengering rambutnya.


"Sudah-sudah keringkan rambut mu aja baru sarapan ini Bunda buatkan jahe hangat buat kamu". Kata Bunda.


"Ayay Kapten... ". Rallia pun langsung mengeringkan rambutnya dengan cepat tapi tetap tidak lupa untuk merapikan nya.


Setelah itu, Rallia pun menyesap aroma jahe yang begitu kental berlawanan dengan aroma ramuan yang lainnya.


"Itu jahe diminum apa di hirup aja Rallia". Kata Bunda


"Hehe... diminum lah Bunda.. tapi Rallia mau merasakan aroma nya dulu". Kata Rallia


"O yh.. sayang kamu bulan depan harusnya sudah mulai tahun ajaran baru, kamu kan baru kelas 2 SMA. Sayang kalau sekolah mu kamu lepaskan begitu saja. Biar nanti Bunda yang kerja, Bunda bisa kerja dimana aja apalagi Bunda juga sudah mulai sehat yah sayang". Kata Bunda.


"Emm... Rallia pikir-pikir dulu yah Bun". Kata Rallia


"Sayang... ingat hidup mu masih panjang, banyak pekerjaan yang lebih baik menantimu nak jika kamu lulus pada jenjang yang telat. Bukan seperti sekarang seperti karyawan magang". Kata Bunda


"Baiklah Bun. Nanti aku bicarakan sama atasannya Rallia yah..". Kata Rallia.


"emm... Bunda.. tapi bolehkan kalau aku masih bekerja sampai H-1 masuk ajaran baru hitung-hitung Rallia cari uang buat tambahan masuk sekolah nanti, apalagi walau Bunda bisa kerja dimana saja dengan relasi teman Bunda, tapi kan tetap saja itu tak secepat yang kita bayangkan". Tambah Rallia


"Kamu makin dewasa sayang ... Bunda yakin kamu akan bisa melewati semua ini". Senyum Bunda menatap Rallia yang mulai berfikir terbuka terhadap dunia.


"O yh Bunda nanti Rallia masuk sekolah dimana yah..? Tau begini Rallia gak akan keluar dari sekolah yang dulu toh ujung-ujungnya Ayah juga gak akan biayain aku sekolah, itukan siasat nya saja supaya dia berhenti dari tanggung jawabnya". Kata Rallia yang mulai memunculkan ekspresi sedih dicampur dengan amarah dan dendam


"Sudah... sayang.. kan Rallia ada Bunda". Peluk Bunda


"Sudah ah.. jangan cengeng. Malu diliat orang kantor kalau matanya yang cantik bengkak nanti gak ada yang suka loh". Tambah Bunda


"Iiii... Bunda ah". Cemberut Rallia

__ADS_1


"Dah ah Bun.. Rallia mau pamit pergi dulu".


"Dah... Bunda". Kata Rallia


"Dah... Hati-hati". Kata Bunda.


......................


Sesampainya Rallia di kantor, Rallia langsung mengerjakan semua tugasnya dengan teliti. Yah... memang ini tidak ada Denny di sebelah ruangannya dikarenakan hari ini Denny ada meeting yang sangat penting.


"Kayaknya aku butuh kopi deh". Kata Rallia,


Rallia pun berjalan kedapur karyawan yang berada di paling ujung kantor jauh dari ruangannya.


Brak....


"Wi... ada anak baru gede yang masih bau kencur udah bisa godain CEO kita nih". Kata seseorang


"Ka...kalian siapa? Aku...aku salah apa sama kalian". Kata Rallia yang mulai ketakutan


"Kamu... ga perlu tau aku siapa.. hah!! yang perlu kamu tau disini adalah kamu harus menjauh dari CEO kita". Kata seseorang


"Aw..... jangan ditarik... aw... aku ga kenal kalian siapa. Aku ga punya masalah dengan kalian.. Aw...huhu". Jerit Rallia kesakitan. Namun, Rallia tak mau kalah ia pun langsung menarik rambut orang itu juga.


"Aw... berani nya kamu menarik rambutku". Kata orang itu


Cuss....


"Hu... Panas... panas....". Tangis Rallia semakin terdengar, panas dan perih ia rasa menembus kemejanya karena disiram kopi panas yang baru dipanaskan nya.


"Hahahah... ini baru permulaan, kalau kamu berani genit lagi sama CEO kita. Liat aja apa yang akan kulakukan". Kata orang itu.


Rallia pun langsung berlari ke ruangannya, tak peduli lagi dengan tatapan orang-orang terhadapnya. Sesampainya di sana Rallia lebih memilih terus menangis di wastafel dalam ruangan nya sambil membersihkan kemejanya yang sudah kotor.


,.................


Denny POV


Kriettt...


Denny pun datang memasuki ruangannya. Tapi, entah mengapa lama-kelamaan ia mendengar suara tangisan dari ruangan di sebelahnya.

__ADS_1


Denny pun langsung pergi dan mengeceknya. Denny yang baru saja menyadari mengapa ia tak melihat Rallia, ternyata Rallia sedang mengaktifkan mode tak terlihat di kaca pembatas.


Tok...tok...


Tak ada sahutan atau apapun itu dari seempunya ruangan. Denny lebih memilih untuk membuka sendiri pintunya dengan kunci cadangannya.


"Astaga... Rallia... Ada apa dengan kamu kenapa... ? Ada dengan bajumu". Kata Denny


"A...aku... aku gak papa Den..". Kata Rallia tersedu-sedu


"Ok.. kalau kamu ga mau cerita, kamu ganti dulu baju mu". Kata Denny


"Nanti aku suruh orang antarkan baju ke ruangan mu yah". Tambahnya


"I...iya... makasih Den". Kata Rallia


"Kamu tenangkan diri dulu, aku mau telepon orang dulu yah". Kata Denny. Denny pun langsung keluar dari ruangan Rallia dan menelepon seseorang.


"Hallo.. Bu Lidia. Tolong antarkan 1 set baju untuk Rallia sekarang dan segera di antar ke ruangannya". Kata Denny


"Dan... satu lagi.. tolong bawakan rekaman CCTV hari ini dari pagi sampai sekarang apapun itu yang berhubungan dengan Rallia". Kata Denny


"Baik Tuan". Kata Bu Lidia


Tok...tok...


"Ya... masuk". Kata Denny


"Ini Tuan rekamannya, dan ini 1 set baju Rallia. Tadi saya sudah beberapa kali mengetuknya tapi tak ada sahutan jadi saya bawa saja kesini". Kata Bu Lidia sambil menyerahkan flashdisk dan 1 tas yang berisikan baju Rallia.


"Ok.. makasih Bu Lidia, nanti saya yang akan memberikannya". Kata Denny


"Saya permisi tuan". Kata Bu Lidia


Setelah kepergian Bu Lidia, Denny pun langsung pergi ke ruangan Rallia memberikan bajunya.


"Eeee... Rallia.. ini bajunya cepat ganti". Kata Denny yang mulai speechless melihat gundukan yang tercetak jelas karena bajunya yang sangat amat basah.


"Aku.. pergi dulu". Denny tak ingin basa-basi ia tau kalau ia normal jika berlama-lama menatapnya yang ada akan ada sesuatu yang terjadi.


"Makasih". Kata Rallia

__ADS_1


__ADS_2