
Rallia pun membereskan tempat duduknya dan bersiap menyapa wali kelas barunya. Sementara murid yang lain, masih banyak yang asik mengobrol dan berkenalan bahkan masih ada juga yang berada di luar kelas
“Selamat pagi, anak-anak”
“Kamu?” Rallia terbengong melihat siapa yang akan menjadi wali kelasnya.
Denny tersenyum seketika melihat respon Rallia yang terkejut meliat kehadirannya. Denny sengaja mendaftar menjadi guru di sekolah Rallia dikarenakan ada suatu tujuan yang tidak dapat ia jelaskan kepada beberapa pihak. Tapi, tidak ada yang bisa menahannya atau menidakkan apa kemauannya karena ia merusaan salah satu investor yayasan terbesar di sekolah ini.
“Perkenalkan nama saya adalah Denny, saya yang akan mengajar kelas sastra prancis sekaligus wali kelas baru di kelas kalian mulai saat ini”
Suara riuh yang menggema di antara kalangan gadis menjadikan kelas yang sunyi menjadi kelas yang penuh akan kekaguman para fans atas kharismanya. Terlebih lagi Denny sangat suka tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang terlihat sangat manis, membuat hati para gadis itu semakin tersentuh. Rallia tertawa melihat kegilaan para gadis itu, dia merasa heran mengapa mereka bisa sangat kagum melihatnya? Padahal Rallia sendiri yang sudah mengenal Denny lama ia merasa biasa saja.
“Pagi” Ucap seorang murid laki-laki yang tiba-tiba saja masuk menerobos tanpa izin dan duduk disamping Rallia.
“Hai”
Rallia terkejut bukan main yang duduk disampingnya saat ini adalah Dean. Denny melihat kedekatan yang terjadi pada mereka dan itu membuat darahnya mendidih tinggi. Denny mengepal tangannya tanpa senjaga, “Hei, kamu. Maju kedepan” Teriak Denny menunjuk Dean.
Dean tersenyum senang bahwa ia telah mmancing kemarahan itu keluar dari sarangnya. Dengan santai Dean maju ke depan kelas memperdekat jaraknya dengan Denny, “Bagaimana? Kami cocok bukan?” Bisik Dean pelan.
__ADS_1
Bukkk… Denny melayangkan tangannya yang sudah terkepal sejak tadi. Kelas seakan menjadi gaduh melihat seorang guru yang memberikan kekerasan pada muridnya, terlihat keluar cairan berwarna merah keluar di sudut kiri bibirnya. Suasana semakin kacau terlebih lagi da yang meneriakkan nama Denny dan ada pula yang meneriakkan nama Dean agar mereka semakin menjadi.
Rallia yang melihat itu, ia terkejut bukan main dan maju ke depan kelas, “Stop… Pak Denny” Teriak Rallia lantang.
“Maaf saya kasar, bukankah sama saja tidak perbedaan etika antara anda menjadi seorang guru atau preman.”
“Maaf saya permisi terlebih dahulu membawa teman saya ke UKS” Rallia berbicara dengan penuh tekanan menatap Denny.
Rallia merangkul tubuh Dean ke UKS, meninggalkan Denny yang termenung dan bingung apa yang terlah terjadi saat ini. Ia merasa frustasi melihat sengatan kebencian di mata Rallia saat ini. Tapi, itu tidak membuatnya goyah melanjutkan pelajaran untuk yang lainnya.
***
“Aww.. pelan-pelan. Sakit tau” Rintih Dean.
“Sudah rasakan saja. Siapa suruh kamu mancing amarahnya Pak Denny” Rallia pun terus-terusan mengompres pipi Dean yang bengkak sambil menekan-nekannya.
Dean menepis dan menggenggam tangan Rallia agar tidak melanjutkannya. Rallia bingung dan mencoba menarik tangannya kembali namun tenaga Dean dalam menggenggam memanglah sangat kuat. Dean menatap Rallia, “Kalau dia, guru baru itu terluka karena aku yang memukulnya. Akankah kamu akan perhatian seperti ini juga padanya?” Tanya Dean dengan nada yang serius.
Rallia terdiam mencerna perkataannya, “A…aku?” Rallia gugup bukan main menjawab pertanyaan menjebak seperti itu, terlebih lagi Dean yang menatapnya dengan sangat intens dan dekat. Ia berpura-pura melihat dan mencoba mengalihkan pertanyaan itu, “Sebentar lagi ganti jam pelajaran, aku balik duluan” Ia langsung membalikkan badannya dan meninggalkan Dean.
__ADS_1
Namun, Sesampainya di depan pintu Ralia tersentak kaget saat kedua tangan Dean mencoba menghalangi dengan mengapitnya. Dean memajukan kepalanya ke telinga Rallia, “Aku tidak suka melihat kamu perhatian dengan pria lain terutama dengan guru itu”
Rallia terlihat tidak fous mendengarkan perkataan Dean tetapi ia malah sibuk gelisah dengan hembusan nafas yang ia rasakan dan degupan jantung yang terasa di punggungnya. Ia membalikkan badannya melihat Dean yang sangat dekat menatapnya, dengan spontan Rallia pun mendorong Dean dengan sekuat tenaga dan berlari keluar dari ruangan itu.
Atsmosfer yang terasa semakin sesak membuat perputaran poros otaknya terhenti seketika. Setelah kejadian itu, Rallia menyempatkan diri ke kantin sekolah membeli sebotol air mineral lalu pergi ke kelas mengikuti pelajaran selanjutnya dengan tenang.
Hari semakin sore, pelajaran pun berakhir dengan tenang tanpa kekerasan lanjutan. Banyak murid yang berhamburan keluar kelas menuju destinasi mereka masing-masing. Di sisi lain, hal itu dimanfaatkan Dean untuk bolos seharian tidak mengikuti pelajaran hingga akhir. Rallia memasukkan semua bukunya ke dalam tas lalu meninggalkan kelasnya yang sudah kosong sejak tadi.
Denny melihat Rallia melewati ruangannya melalui jendela kaca besar. Ia berlari membuka pintu ruangan itu, pada saat yang tepat saat Rallia berada di hadapannya. Ia langsung menarik Rallia ke dalam ruangan itu dan menutup pintu dengan rapat.
“Apaan sih Den…” Rallia memutar kedua matanya malas.
“Aku mau minta maaf atas kejadian tadi, aku khilaf, aku gak sengaja” Denny merapatkan kedua tangannya mengisyaratkan ia sungguh-sungguh minta maaf.
“Ia ku maafin. Tapi minta maaflah pada orang yangn kamu pukul tadi setelah ini”
“Ok… ok… nanti aku akan minta maaf. Tapi kamu beneran maafin aku kan?” Tanya Denny lagi demi meyakinkannya.
“Hmmm iya”
__ADS_1
“Ok.. kalau kamu mau maafin aku. Kamu harus temanin aku pergi ke toko donat sekarang juga” Tanpa persetujuan Rallia, Denny langsung menarik tangan Rallia ke luar dari ruangannya dan menuju parkiran.