
Drett... dret ... dret...
"Uuuhgggg... napa sih berisik banget, kepala ku masih pusing". Rintih Rallia pada handphone-nya.
"Astaga... sudah malam. Sejak kapan aku bisa ketiduran sampai tak tau waktu". Rallia pun segera bergegas turun dari kasur yang nyaman itu, yah... terasa nyaman sekali walau bukan milik sendiri.
"Aku harus cepat pergi mencari Bunda". Rallia berkata dalam. Rallia berlari keluar kamar dan menuruni anak tangga, sangking cepatnya ia berlari sampai ia tak melihat ada Raka yang menatap nya dari kejauhan. Tiba-tiba...
Bruukk...
"Aduh... sakit...". Rengek Rallia.
Meaw..meaw ..meaw..
"heh... kalian para kucing-kucing yang terlalu lucu sangking lucunya kalian menertawakan ku yang terjatuh gara-gara kalian... hu... sakit tau" lagi dan lagi Rallia pun kesal kesakitan dan memarahi kucing itu, namanya saja Rallia.
Dari kejauhan Raka yang melihat kejadian itu langsung menggelengkan kepala karena betapa lucunya Rallia baginya "Rallia... Rallia... kau masih seperti dulu.. terlalu ceroboh dan semangat sampai sering terjatuh seperti itu". Tawa Raka dalam hati.
Raka pun berjalan santai namun cepat berada di hadapan Rallia.
__ADS_1
"Sakit??...". Tanya Raka terhadap Rallia.
"Ya.. elah pake tanya lagi, udah liat nanya mulu kek kambing" . Rallia pun menjawab Raka dengan judes.
Raka yang mendengar itu pun langsung tersenyum, tanpa aba-aba Raka langsung membopong Rallia dan mendudukannya ke sofa. Betapa kagetnya Rallia saat ia tiba-tiba dibopong seperti itu. Namun, ia tak memperdulikan itu.
Dengan cepat Raka pun pergi mengambil sebaskom air hangat dan mengompreskan nya pada kaki Rallia yamg terkilir.
"Aw.... du..du.. pelan- pelan coba.. sakit tau. Ini tuh gara-gara kucing kamu yang terlalu lucu itu, jadi ingat untuk tanggung jawab pada kaki ku yang cantik ini" Oceh Rallia.
Raka pun tersenyum kembali mendengar ocehan Rallia yang terdengar sangat cantik di telinga nya...
"O..my god.. bisakah ia tak terus-terusan tersenyum pada ku seperti itu, mimpi apa aku kemaren sampai bertemu sama pria kayak gini". Runtuk Rallia dalam hati.
Cupp...
Raka mencium pipi Rallia dengan santai lalu pergi membawa baskom air hangat itu.
"Akhhhh..... apa-apaan ini bisa-bisa nya dia mencium pipi ku yang cantik ini. Astaga kenapa juga aku harus berkata seperti itu, tidak bisa aku harus segera pergi dan mencari Bunda". Teriak Rallia dalam hati dan panik setelah kejadian tadi.
__ADS_1
Rallia pun menyandarkan kepalanya ke ujung sofa untuk memikirkan caranya peegi dari sini tanpa ketahuan.
Tapi...
"emm... wangi nya, aku lapar sekali... andaikan malaikat yang baik hati mengantarkan ku makanan yang banyak dan pastinya sangat lezat". Gumam Rallia dalam pikiran nya dengan mata terpejam.
"Tuan... makanan nya sudah datang, jika ada yang diperlukan langsung panggil saya saja". Kata Bi Des
Setelah mendengar suara Bi Des, Rallia pun langsung membuka mata dan melihat semua makanan yang ada di hadapan nya...
matanya berbinar-binar menatap Bi Des seperti orang yang tak makan seminggu.
"Wa.... terima kasih Bi Des". Kata Rallia, ia pun langsung mengambil dan menyantap makanan yang ada di hadapan nya dengan lahap tanpa mempeedulikan orang di sekitarnya.
Di sisi lain, Raka hanya tersenyum kecut melihat betapa lahapnya sang bidadari makan tanpa mengingat siapa dirinya. Perih tapi ia akan berusaha mendapatkan Rallia selagi bisa
Raka POV
Raka sedang memasuki ruang pribadi nya kemudian duduk menatap foto Rallia saat kecil.
__ADS_1
Tok..Tok..
"Ya.. masuk". Kata Raka dengan dingin