Heart Breaker

Heart Breaker
Minta Maaf


__ADS_3

“Ok.. kalau kamu mau maafin aku. Kamu harus temanin aku pergi ke toko donat sekarang juga” Tanpa persetujuan Rallia, Denny langsung menarik tangan Rallia ke luar dari ruangannya dan menuju parkiran.


Sepanjang perjalanan Rallia hanya menundukkan kepalanya. Perasaan malu terus mengikuti jejaknya, ditambah lagi tatapan orang-orang yang menganggapnya rendah. Rallia berhenti seketika, ia menahan gengaman tangan itu agar tidak terus menariknya.


“Kenapa Rallia?”


“Ehm… maaf aku lupa. Aku baru ingat kalau hari ini aku ada janji kerja kelompok dengan temanku”


“Kok dadakan?”


“Maaf. Aku yang lupa”


“Ya sudah. Maaf ya ganggu”


“Iya gak apa. Nanti malam telepon aku yah, ada yang mau aku bicarain”


Rallia berdiri termenung di sana, kini perasaan bersalah yang terus akan menghantuinya. Tapi, Rallia berfikir untuk membicarakan masalah ini dengan Denny nanti malamnya. Satu jam sudah berlalu, Rallia memberanikan diri untuk keluar dari gerbang sekolah menuju halte angkutan umum. Jalan semakin sepi, tidak ada lagi siswa yang menunggu jemputan atau angkutan umum. Angin pun bertiup kencang yang diiringi dengan langit gelap yang seakan ingin menumpahkan beban yang ia bawa.


Rallia mulai bingung ingin berteduh dimana, sementara ia harus menunggu angkutan umum yang lewat. Rintik hujan mulai membasahi jalanan dan tubuh Rallia, ia memeluk tasnya erat-erat agar buku yang dibawanya tidak basah.


Tinnt… tint…


“Rallia cepat naik!”


Dean berteriak kencang agar Rallia mendengarnya. Sudah beberapa kali Dean berteriak, akhirnya Rallia mendengarnya dan langsung berlari ke arahnya. Dean tertegun melihat baju putih Rallia yang mencetak jelas bagian tubuhnya, akibat basah. Hal itu, membuatnya harus turun tangan dengan melepaskan jaketny dan diberikan pada Rallia untuk menutupi bagian itu.

__ADS_1


Hujan yang deras membuat jalan mereka terasa licin. Tapi, itu tidak mematahkan semangat Dean untuk mengantar Rallia pulang ke rumahnya dengan cepat. Sesampainya di halaman rumah saat Rallia turun dari motornya, Dean langsung menlajukan motornya dengan kecepatan yang tidak dapat dideskripsikan.


“Aneh. Belum juga bilang terima kasih, sudah ditinggal aja”


Tiba-tiba saja air hujan udah menetesi tubuhnya, Rallia mengerinyit heran dan membalikkan tubuhnya.


“Loh Bunda?”


“Iya kenapa? Ayok cepat masuk! Malah hujan-hujanan disini”


Bunda mengiringi Rallia dengan payung pelangi ditanganya hingga ke depan pintu. Sesampainya di sana, Rallia berlari ke kamar mandi untuk melepaskan bajunya yang sudah basah terkena hujan dan membersihkan tubuhnya. Sementara Bunda, langsung menuju arah dapur membuatkan sup panas dan susu putih hangat untuk Rallia.


“Rallia… bajunya langsung masukkin mesin cuci aja” Teriak Bunda.


“Ia Bun..”


Dengan gerakan malas, Rallia melepaskan sendoknya dan berjalan gontay mengambil minyak hangat yang diperintahkan sang Bunda. Rallia menahan penciumannya dengan sangat kuat, ia tidak suka dengan aroma minyak itu. Sedari kecil Rallia selalu paling menghindari yang namanya minyak hangat atau semacamnya. Kalau bukan dipaksa Bundanya, ia tidak mungkin mau untuk memakainya walau sedikit apalagi mengusapkannya ke seluruh tubuh seperti sekarang ini.


“Ukh… Bunda… bau banget” Rallia setengah berteriak menuju wastafel untuk mencuci tangannya dengnan raut wajah yang tidak bisa dibaca.


“Dibiasakan Rallia. Itu baik untuk tubuhmu”


Rallia memutarkan bola matanya malas. Daripada mendengarkan ocehan Bundanya, ia langsung melanjutkan makannya yang tertunda sejenak.


***

__ADS_1


Langit malam yang indah mulai memperlihatkan bintangnya setelah hujan yang sangat lebat. Rallia nampak sedang duduk di kursi halaman rumahnya, menunggu seseorang untuk meneleponnya. Namun, sudah setengah jam ia menunggu, panggilan pun belum kunjung hadir di layar ponselnya yang tipis. Membuat ia memilih untuk menghubungi orang itu terlebih dahulu.


Tutt… tuttt…


“Ehm.. Hallo Rallia”


“Hallo Denny. Maaf ganggu malammu”


“Aku yang minta maaf sudah lupa buat hubungin kamu”


“Ia, gak apa”


“Jadi kamu mau ngomong apa?”


“Emm… maaf banget. Kan kamu sekarang sudah jadi guru sekaligus wali kelas ku di sekolah. Aku minta, aku minta buat kamu jauhin aku selama kita berada di lingkungan sekolah agar mereka tidak memandang aneh terhadap aku dan kamu. Status kamu yang sekarang membuatku semakin sulit untuk membedakan saat dimana aku harus memperioritaskan kapan aku harus formal atau tidak. Terlebih lagi banyak siswi yang sangat menyukaimu, terlalu banyak netizen yang membicarakan hal aneh dibelakang melihat kedekatan kita”


“Aku minta maaf Ral.. Gara-gara aku, kamu sekarang menjadi pembicaraan orang-orang. Kamu gak perlu khawatir, mulai besok aku akan membuat jarak diantara kita saat di sekolah dan menghhilangkan rumor tidak baik itu. Tapi, apakah kamu masih ingin bertemu denganku jika di luar lingkungan sekolah?”


“Tentu saja. Kenapa tidak?”


“Bagus deh, makasih Rallia”


“Iya, sama-sama. Santai aja kali, ya sudah aku tidur dulu yah Den”


“Iya tidur aja. Selamat malam Rallia"

__ADS_1


“Malam juga Den”


__ADS_2