Heart Breaker

Heart Breaker
Janji


__ADS_3

Hari semakin sore, kelas pun sudah berakhir. Rallia mulai menanyai satu persatu temannya apakah ada yang bisa mengantarkannya pulang namun hasilnya nihil, tak ada satu pun teman di kelasnya yang bisa mengantarkan Rallia karena tak ada yang satu tujuan dengannya.


"Aih gimana nih pulangnya" Kata Rallia.


"Kamu mau gak kalau boncengan aja sama aku pakai sepeda" Kata Jully.


"Gak usah Jul.. aku berat nanti malah ngerepotin" Kata Rallia.


"Gak juga sih kalaupun aku kerepotan nanti kan kita bisa gantian untuk ngayuh sepedanya" Kata Jully.


"Emm... Gak apa kok, kamu pulang aja duluan. Aku bisa sendiri kok paling nanti naik angkutan umum" Kata Rallia.


"Bener yah? bukan salahku loh yah ninggalin kamu" Kata Jully.


"Ia sayang gak papa kok" Kata Rallia.


Jully pun pergi meninggalkan Rallia seorang diri di dalam kelas, "Ya sudahlah mau gimana lagi, gara-gara tuh makhluk aku jadi bingung gimana pulang" Maki Rallia dalam hati. Ia pun langsung mengemas semua bukunya ke dalam tas lalu meninggalkan tempat duduknya.


Brukk...


"Aw... sakit..." Kata Rallia.


"Makanya jalan itu dibiasakan pakai mata" Kata Dean.


"Hemm kamu ngapain juga tiba-tiba muncul di sini sih" Kata Rallia.

__ADS_1


"Aku mau tanggung jawab antar kamu pulang" Kata Dean singkat. Ia pun langsung merampas tas Rallia dan meninggalkan Rallia yang sedang mematung disana.


"Wei wei... aku ga minta tanggung jawab lo... dan balikin tasku" Teriak Rallia sambil mengejar Dean.


Rallia terus-terusan mengejar Dean hingga ia dapat meraih lengan Dean untuk membuatnya berhenti, "Kamu apa-apaan sih ngambil barang orang semaunya tanpa izin pula" Kata Rallia.


"Heh... aku begini juga karena masih ada hati nuraninya bukan karena kasian sama lo" Kata Dean.


Dean pun berjalan maju hingga menyudutkan Rallia ke ujung tembok lorong yang ada disana, "Aku itu cuman ga mau liat kamu gak bisa sekolah besoknya gara-gara pulang jalan kaki terus besok gak bisa ngerjain kamu, paham?" Kata Dean.


Deg... "Kalau dari dekat kok ganteng banget?" Kata Rallia dalam hati.


"Hello... sudah puas mandanginnya?" Kata Dean.


"Iya iya tapi bisa gak kamu ngomong jangan dekat-dekat, bau tuh mulut" Dorong Rallia pada bahu Dean.


.....


Denny POV


"Tuan, seharusnya nomor polisi yang anda tanyakan semalam itu, anda tahu sendiri siapa pemilik dari mobil itu" Kata orang hang berada di dalam telepon.


"Maksud kamu siapa?" Tanya Denny.


" Yah... pemiliknya itu adalah Tuan Raka sahabat tuan sendiri" Kata orang itu.

__ADS_1


"Hem.... ok terimakasih infonya" Kata Denny dan mengakhiri teleponnya.


Denny pun nampak gusar memikirkan Raka dan Rallia, kini bukanlah masalah kecil yang akan ia hadapi. Bagaimana bisa ia diharuskan memilih antar persahabatannya dengan Raka atau cintanya terhadap Rallia. Bahkan ia sendiripun belum yakin, apakah ia benar-benar mencintai Rallia atau sekedar obsesi belaka yang mengharuskan ia memiliki Rallia seutuhnya.


"Erghhh... aku harus hubungi Raka terlebih dahulu" Kata Denny. Ia pun segera mengirim sebuah pesan untuk Raka, "Hei Raka... lama nih gak ketemu? nongkrong yok di club biasa" pesannya. Namun, tak lama dari itu masuklah sebuah pesan dari Raka seolah ada persetujuan di antara ke duanya.


Denny pun bersiap pergi ke tempat yang telah ia janjikan untuk bertemu dengan Raka sore ini. Sedangkan Raka ia masih memilih berkutik dengan keyboard yang ada di hadapannya.


"Bu Lidia, ku harap nanti kamu memberikan kabar ke saya jika ada perkembangan tentanga Dean dan Rallia. Karena sore ini ada hal penting yang ingin saya lakukan" Kata Denny.


"Siap! tuan" Kata Bu Lidia.


Denny pun langsung keluar dari perusahaannya dan menaiki mobil sport kesayangannya yang baru saja ia beli dengan tujuan sekalian memamerkannya ke Raka. Sesampainya di pertengahan jalan tepatnya dilampu merah ia pun berhenti sejenak sambil mendengarkan musik favoritnya bersama Rallia saat pertama bertemu.


"Eits... bukankah itu motornya Dean? siapa lagi yang kini dibawanya?" Kata Denny.


Denny pun langsung mencoba melihat wajah wanita yang kini sedang ada di belakang Dean, dengan melihat postur tubuh itu nampak seperti seseorang yang seharusnya ia kenal, tapi siapa itu ia masih bertanya-tanya di dalam hati. Baru saja wanita itu nampak membalikkan wajahnya, namun motor sudah melaju begitu cepat meninggalkannya termenung disana.


.....


Raka POV


Ting... Telepon Raka nampak berdering memberikan kode bahwa ada 1 pesan yang baru saja ia terima, "Tumben Denny ngajak ketemuan setelah sekian lama ia balik ke sini" Ucap Raka dalam hati.


"Hmmm... ya ok lah apa salahnya bertemu" Balas Raka pada pesan itu.

__ADS_1


Raka pun terus melanjutkan pekerjaan yang masih menumpuk itu, setidaknya Denny sudah memahami Raka jika ia telat beberapa waktu.


__ADS_2