
Raka POV
"Astaga... Rallia...".
Raka nampak kaget dan panik setelah tahu itu adalah bidadari kecil yang sangat di rindukan nya, ia sangat rindu namun ia lebih panik saat melihat keadaan Rallia yang sekarang.
Raka pun langsung dengan sigap menelepon ambulans, sambil menunggu ambulans datang secepat mungkin langsung membopong Rallia memasukin mobil Ferrarinya. Tak lama kemudia ambulans datang dan sesuai instruksi langsung membawa Ibu yang sedari tadi pingsan bersama Rallia. Notaben nya Raka tidak tau itu siapanya Rallia.
Setelah Ambulans pergi, Raka pun membawa pulang Rallia ke mansion-nya. Selama perjalanan Raka selalu melirik keadaan Rallia dan banyak pertanyaan yang menumpuk sedari tadi dalam benak pikiran nya.
"Bagaimana bisa aku melihat mu menderita Rallia, ini salah ku yang meninggalkan mu karena egoku memilih mereka". Rutuk Raka dalam hati dan bersedih.
__ADS_1
Sesampainya di mansion, Raka langsung melemparkan kunci ke salah satu boddyguard yang ada di sana untuk di parkiran. Sementara Raka??? yah.. Raka langsung membopong Rallia pergi ke dalam mansionnya sendirian dan meletakkan Rallia di kamar salah satu mansion yang tepat berada di sebelah kamar Raka, agar dengan mudah ia melihat Rallia setiap saat.
"Hallo Bi Des... cepat kesini, bawa sebaskom air hangat dan handuk". Kata Raka pada sebuah alat yang tergeletak di atas meja.
Tak lama kemudian, Bi Des datang dengan sedikit berlari tergopoh-gopoh membawa sebaskom air hangat serta handuk yang diminta sang majikan.
Tok.. Tok..Tok..
Bi Des pun langsung masuk, dan betapa kagetnya ia melihat sang majikan bisa langsung menyentuh seorang wanita tanpa rasa jijik, bahkan bisa dilihat sang majikan nya amat sangat menyayangi wanita tersebut.
"Ini.. Tuan air hangat dan handuknya", kata Bi Des sambil menaruh air hangat ke atas meja kecil di sebelah tempat Rallia berbaring.
__ADS_1
"emm... begini saja Bi Des, karena berhubung saya masih ada kerjaan jadi saya harus menghubungi orang kantor dulu untuk menunda semua meeting hari ini. Bi Des bisa bantu saya gantikan semua pakaian Rallia dan bersihkan semuanya". Kata Raka sembari menatap sang wanita dengan kesedihan.
Raka pun pergi keluar dari ruangan itu dan Bi Des langsung melakukan tugas nya dengan baik dan berhati-hati.
"wanita yang sangat cantik, semoga hatinya sebaik rupany. Kasian tuan muda, baru kali ini saya melihatnya bisa meninggalkan semua nya begitu saja". Tutur kecil Bi Des agar tak membangunkan orang lain. Setelah semua selesai Bi Des langsung pergi dan menyiapkan makanan setelah ingat bahwa tuan ny akan seharian berada di mansion.
Sesaat Raka sedang menelepon, ia mendengar suara teriakan dari kamar Rallia, saat itu juga ia mematikan telepon dan langsung berlari ke kamar Rallia yang berada di lantai 2 itu. Sesampainnya di depan pintu kamar Rallia, Raka malah menjadi gugup dan tak percaya diri tapi ia memastikan itu hanyalah perasaan nya saja.
Akhirnya, ia pun membuka pintu kamar tersebut. Wow.. mata indah itu sudah terbuka lebar dan ia sangat merindukan nya, siapa sangka raka malah tersenyum dan menghiraukan sederet pertanyaan Rallia. Alih-alih merindukan ia pun langsung memeluk Rallia dengan sangat erat namun tak menyakiti Rallia sedikit pun.
Hangat.. Rindu.. itulah yang ia rasa saat ini.
__ADS_1