
Denny POV
"Tut... tut... nomor yang anda tuju..." .
Lagi dan lagi panggilan seperti itulah yang memenuhi pendengarannya selama beberapa jam lamanya. Perasaan tak nyaman pun mengiringinya, hingga membuatnya memutuskan pergi ke tempat tinggal Rallia.
"Kamu kemana Rallia..." Kata Denny.
Ting... Tong ...
"Loh.. Denny, ada apa?" tanya orang yang membuka pintu itu.
"Sore Bunda... Rallianya ada?" Tanya Denny.
"Rallianya lagi keluar sama temannya" Kata Bunda.
"Kalau boleh tau siapa yah Bun?" Tanya Denny.
"Itu si Raka teman lama Rallia" Kata Bunda.
Deg..., "Raka siapa? setau ku Rallia tak pernah berteman dengan orang yang bernama Raka" Kata Denny dalam hati.
"Ok.. Bun makasih yah Bun, nanti kasih tau aja Rallia kalau saya datang, Denny pamit Bun... permisi" Kata Denny.
"Yh nanti Bunda sampaikan" Kata Bunda yang kemudian menutup pintu itu kembali. Sedangkan Denny ia pun kembali menunggu Rallia di dalam mobil dan memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari rumah Rallia agar tahu kapan Rallia kembali.
Author POV
Sepanjang jalan tanpa Rallia sadari ia nampak tidur pulas disamping Raka setelah aktifitas belajar bermain bersama Raka. Awal untuk menghindar pun telah dielakkan Rallia, tanpa ragu dan menjalani hari ini dengan penuh semangat.
Raka yang menyetir pun sembari tadi sesering mungkin ia melirik Rallia yang sedang tertidur pulas, bahkan sempat mengambil beberapa foto untuk disimpannya menjadi kenangan yang indah. Hari ini adalah hari pertama kalinya ia bisa melihat Rallia tertawa puas dan riang berada disampingnya seharian penuh. Obsesi dan cinta pun berkumpul menjadi satu dalam pikirannya, ia akan berusaha membuat Rallia akan selalu ada disisinya.
"Hey... Rallia... bangun yuk" Kata Raka yang membangunkan Rallia dari dunia mimpinya. Raka pun memandangi Rallia secara intens dan semakin dekat dengan jari jemari yang menyisihkan untaian demi untaian rambut yang mengganggu wajah cantik Rallia.
__ADS_1
Rallia yang merasa terganggu dan risih akan sesuatu yang menyentuh bagian wajahnya pun terbangun, "Ukh... hoam... Raka kita sudah sampai yh..." Tanya Rallia yang mulai perlahan membuka matanya dan mengumpul kesadarannya.
Raka pun langsung sadar dan kembali ke posisi awalnya, "Ehm... kita mampir dulu yah makan, kamu juga sudah lapar kan?" Kata Raka.
"Gimana kalau kita makan di rumah masing...." Kata Rallia yang terhenti.
Kruyuk....
"Hahaha tuh ayam sudah bunyi, ayok kita makan dulu" Tawa Raka pun pecah mendengar itu dan meninggalkan Rallia di dalam mobilnya.
Rallia pun keluar dari mobil dan berjalan perlahan mengiringi Raka dari belakang untuk menahan malu barusan.
"Ayok cepat.. nanti ayammu ngamuk lagi" Kata Raka yang menarik Rallia tiba-tiba dan membuat Rallia semakin malu. Semua orang di Restoran itu memandang mereka dengan pandangan iri, bisik demi bisik terdengar ke telinga Rallia ada yang memujinya bahkan ada juga yang menghina Rallia tapi ia lebih memilih untuk menunduk dan menhiraukan segalanya.
"Pelayan...." Panggil Raka dan seorang pelayan pun datang mengahampiri mereka.
"Tuan Raka, apa ada yang bisa saya bantu" Kata pelayan itu.
"Saya pesan seperti biasa yah" Kata Raka.
"Emm.. gimana sekolah mu sekarang?" Tanya Raka pada Rallia.
"Yah begitu... untuk sekarang masih penyesuaian" Kata Rallia.
"Kamu... mata-mata yah atau detektif ? kok kamu tau semuanya sampai ke nomor telepon ku" Tambahnya.
"Emm mungkin semua itu cuman kebetulan aja aku tebak-tebak, sudahlah jangan berfikir berlebihan mending tunggu makanannya datang terus kasih makan itu ayammu baru kita pulang" Sarkah Raka.
Rallia yang malas mendebati Raka karena perutnya yang sudah tak kuat lagi, ia pun lebih memilih diam dan terlamun dalam pikirannya terhadap apa yang terjadi hari ini. Makanan yang disajikan sudah datang, mereka makan tanpa suara dan memilih fokus pada makanan mereka. Setelah itu Rallia dan Raka pun melanjutkan perjalanannya untuk pulang dan sampai pada di depan tempat tinggal Rallia.
"Makasih yah Rak semuanya, untuk makan nanti aku janji bakal gantiin uangnya" Kata Rallia.
"Dipersilahkan ku tunggu itu balasannya" Kata Raka.
__ADS_1
Jleb... secara tidak langsung bukankah sama saja ia telah berjanji akan makan bersama lagi. Daripada menjawab ia pun langsung keluar dari mobil Raka dan pergi. Sepeninggalan Raka, tiba-tiba....
Puk...
Sebuah tangan memegang bahu Rallia dan membuat Rallia ketakutan, "Rallia kamu dari mana aja?" Kata orang itu.
"Wait.. wait... kok aku kayak kenal sama suaranya yah?" Kata Rallia dalam hati dan ia pun membalikkan badannya.
"Astaga... Denny... huft ku kira siapa" Kata Rallia lega.
"Ouh.. aku tadi habis keluar belajar sama temanku, kenapa?" Tanya Rallia.
"Syukur deh kalau gak kenapa-kenapa soalnya kamu ga ngangkat-ngangkat teleponku, ku kira kamu ada apa-apa" Kata Denny.
"Maaf hp ku disilent soalnya maaf yah" Kata Rallia.
"Iya.. gak apa. Ya sudah kamu masuk sana aku juga mau pulang, tadi cuman mau pastikan aja kamu gak terjadi apa-apa" Kata Denny.
"Ya sudah aku masuk yah.. maaf yh Den" Kata Rallia
Denny pun langsung pergi setelah bertemu dengan Rallia dan Rallia langsung pergi masuk untuk beristirahat dan membersihkan diri.
"Denny telepon aku... emmm coba cek deh nanti dia malah tipu-tipu lagi kan tuh manusia tukang isengin orang terus" Kata Rallia yang mulai ngecek handphone nya.
"what... banyak banget nih manusia telepon tumben biasa ga pernah kayak gini" Kata Rallia mengoceh melihat semua rentetan telepon dan sms dari Denny.
.......
Denny POV
"Itu mobil siapa yang stop? kok aku kayak ga asing yah sama itu mobil" Kata Denny. Denny pun memperhatikan mobil yang berhenti sedikit lebih jauh dari mobilnya.
"Itu Rallia..." Kata Denny yang melihat Rallia keluar dari mobil itu.
__ADS_1
"Emmm kayaknya aku perlu cari tau mobil itu milik siapa" Kata Denny dalam hati. Ia pun mengambil Handpone nya dan menelepon seseorang.
"Hallo.. saya butuh laporan tentang pemilik mobil dengan nomor polisi Xxxx". Kata Denny yang berbicara dengan orang diseberang sana.