
Raka POV
“Raka… stop!” Teriak Fellis. Raka tak menggubris teriakannya sedikit pun dan terus-terusan menarik tangannya sampai masuk ke dalam rumah.
Brak…
Raka mendorong Fellis kasar ke sofa, “Aw… sakit Rak. Kamu bisa gak sih gak usah kasar begitu ke aku” Rintih Fellis.
“Udah stop! Aku capek sama kamu, tunggu disini!” Teriak Raka tak kalah nyaring.
Belum sempat Raka meninggalkan Fellis, Ibunya tiba-tiba muncul diahadapan Raka.
“Ada apa ini?” Tanya Ibu Raka dengan penuh tekanan.
“Pas sekali, Raka mau bicara sama Ibu” Raka dan ibu pun meninggalkan Felis yang terduduk kesakitan d sofa. Ibu mengajak Raka masuk kedalam ruang pribadinya yang selama ini tidak pernah bisa Raka telesuri.
“Duduklah ! Jelaskan !”
“Ok. Ibu, Raka mohon tolong hentikan perjodohan ini. Raka capek jalaninnya, semuanya mendakati keluarga kita hanya mengincar harta dan menjadi famous bukanlah benar-benar mencintai Raka” Jawab Raka menatap Ibunya dengan penuh harap.
“Cinta? Cinta itu gak ada Raka, semua berhubungan pasti memiliki tujuan dan maksud tertentu” Bunda berjalan ke arah sebuah meja yang terletak di ujung ruangan itu, “Bahkan kamu saja tak pernah mengerti apa itu cinta yang sebenarnya” Sambungnya.
“Raka tau, bu. Raka punya itu, Raka bahkan sangat mencintainya” Jawab Raka dengan tegas.
“Dari keluarga mana dia?” Tanya Ibu yang mulai penasaran dengan anaknya.
“Bukan dari keluarga mana atau keluarga apa. Dia wanita sederhana yang menjalani hidup dengan sederhana tanpa memandang materi”
“Itu yang kamu namakan cinta? Kamu lihatlah Fellis, ia cantik calon supermodel dan berasal dari salah satu mitra pesaing perusahaan kita. Jika bersatu, saham kita akan terus menaik dan akan dipandang oleh banyak orang” Bantah ibu atas jawaban Raka yang tak memuskannya. Bahkan ibu menunjukkan profil tentang Fellis dan perjalanan saham keluarganya.
“Materi… materi.. materi… Aku lelah mendengarnya. Kalau Ibu mau, Ibu saja yang menikah dengan Fellis. Aku pamit” Raka pergi menutup pintu dengan kasar. Tanpa ia tau, Ibunya nampak tersenyum mendengar penuturannya.
__ADS_1
***
Rallia POV
Liburan kenaikan kelas sudah selesai, saatnya bagi anak-anak untuk kembali bersekolah. Sama seperti Rallia yang kini sudah bersiap untuk masuk sekolah dengan tingkat yang baru. Tak terasa kelulusan sudah ada di depan matanya, sisa menunggu beberapa bulan lagi. Kelas 3 SMA adalah tahun ajaran terpendek di antara semua tingkatan.
Tok… tok…
“Yah… sebentar” Teriak Rallia dengan makanan yang masih memenuhi mulut.
“Loh… Raka? Kenapa?” Tanya Rallia yang bingung dengan kedatangan Raka di pagi hari.
“Mau ngantarin bidadari pergi ke sekolah, katanya sih bidadarinya terlalu pintar sampai masuk kelas favorit”
“Dasar Stalker, yok masuk” Rallia pun membalikkan badannya masuk ke dalam untuk melanjutkan makannya yang tertunda. Tapi, Jalan Rallia terhenti setelah ia melihat sebuah bingkisan berupa tas punggung berwarna pink pitch tergantung didahapannya.
“Pakai ini, jangan pakai yang lama. Anggap saja hadiah kenaikan kelas dariku” Raka melepaskan tas itu dan memberikannya ke tangan Rallia yang masih yang terbengong kagum.
Rallia langsung berlari mengambil tas sekolahnya yang lama dan mengeluarkan seisinya untuk dimasukkan ke dalam tas yang baru saja Raka berikan, “Lohh… kok ada ini?” Rallia terheran setelah ia membuka tas baruya, ia malah menemukan boneka berbulu lembut dengan warna serupa yang sedang memegang coklat berbentuk love ditangannya.
“Bonus” Jawab Raka singkat.
“Wow… lucu banget, makasih. O iya, kamu gak lagi kesambet kan ngasih kado banyak banget soalnya kan aku ga lagi ulang tahun” Rallia menatap Raka dengan penuh selidik dan intimidasi.
“Liat aja nih muka, ada muka kesambetnya?” Senyum Raka merekah melihat tingkah Ralllia yang terus berubah-rubah.
“Iiihh… sok keren” Rallia memutar bola matanya kesal dan melanjutkan kegiatannya.
Setelah selesai, Rallia langsung melanjutkan makannya yang tertunda dan berangkat ke sekolah. Dikarenakan Raka berada di rumahnya, Rallia pun meminta Raka untuk mengantarkannya agar tidak terlambat dii hari pertama. Sebenarnya tujuan Raka memanglah itu, tapi ia tak mau mengatakannya.
Sesampainya di sekolah, Raka langsung keluar dari mobil dan membukakan mobil untuk Rallia. Banyak siswi yang melihat dengan tatapan cemburu dan iri, “Seharusnya kamu di dalam aja, gak usah kayak gini. Aku kan malu” Rallia berbisik pelan.
__ADS_1
“Sudahlah sana belajar!”
Rallia langsung berlari memasuki kelasnya dikarenakan malu dengan tindakan yang Raka lakukan. Sesampainya di dalam kelas, Rallia langsung menenggelamkan wajahnya ke bawah meja.
“Woy… Rallia” Teriak July menghampirinya.
“Ada apa sih, teriak-teriak sakit tau” Teriaknya tak kalah nyaring sambil mengusap telinganya.
“Hehe…”
“Kenapa sih?”
“Astoge Rallia, kamu belum tau. Coba kamu lihat weibo sekolah, kamu jadi berita paling teratas dan semua orang lagi gosipin kamu” July teriak heboh dan menunjukkan ponselnya kehadapan Rallia.
“Ouh…” Jawab Rallia singkat.
“Tolong perhatikan komentar orang dong” July mulai kebingungan melihat respon Rallia yang begitu saja melihat berita buruk tentangnya.
“Yah.. terus? July ku sayang… namanya aja kita itu hidup bersosial, kita yang menjalani, tuhan yang menentukan, dan orang lain yang sibuk berkomentar. Kalau gak mau dikomentarin yah gak usah hidup” Rallia menerangkan kelapangannya menerima semua komentar yang diberikan orang lain.
“Ya sudahlah, nanti kalau nangis datang ke mama yah” Ejek July.
“Iya.. iya”
Teng… teng… teng…
“Sudah masuk, aku pergi yah. Bye” Pamit July
Rallia pun membereskan tempat duduknya dan bersiap menyapa wali kelas barunya. Sementara murid yang lain, masih banyak yang asik mengobrol dan berkenalan bahkan masih ada juga yang berada di luar kelas.
“Selamat pagi, anak-anak” Sapa seseorang yang masuk kedalam kelas dan berjalan ke arah meja guru.
__ADS_1
“Kamu?” Rallia terbengong melihat siapa yang akan menjadi wali kelasnya.