
Author POV
"hu...hu..apa salah Rallia Bunda.. Rallia cuman ingin bekerja, Rallia gak mau punya musuh apalagi sampai kayak tadi.. hu..hu..". Kata Rallia sambil mengelap-ngelap bajunya gar tidak terlalu basah
Kriet...
"Eeee... Rallia.. ini bajunya cepat ganti". Kata Denny yang mulai speechless melihat gundukan yang tercetak jelas karena bajunya yang sangat amat basah.
"Aku.. pergi dulu". Denny tak ingin basa-basi ia tau kalau ia normal jika berlama-lama menatapnya yang ada akan ada sesuatu yang terjadi.
"Makasih". Kata Rallia.
Rallia nampak kebingungan melihat Denny yang tak seperti biasa itu, alih-alih memikirkan Rallia pun langsung mengambil tas yang berisikan 1 set baju dan membawanya ke kamar mandi.
Setelah selesai mengganti baju, Rallia lagi-lagi nampak merenung memikirkan perkataan Bunda nya untuk berhenti bekerja dan kembali ke sekolah melanjutkan pendidikan. "*Bagaimana caranya aku bilang ke Denn*y?" Ucapnya dalam hati.
"Apa lagi ada kejadian hari ini aku akan menjelaskan apa ke dia". Tambahnya
Krieettt...
"Cantik...". Kata Denny yang memandang Rallia di depan pintu, tak ingin memandang lebih lama ia pun berjalan mendekati Rallia.
"Uhuk... sudah rapi begitu kok masih murung dan melamun? melamunin aku yah....? haha". Kata Denny
"Iiii... Ge-er.. narsis... pede.. sok iya.. haduh kayak gak ada yang lain aja yang di pikirin". Cemberut Rallia
"Waduh.. ga usah gitu juga kali mukanya". Kata Denny
"Kamu sih...". Kata Rallia
"Ya ... udah ayok... ikut aku ke bagian gedung pemasaran". Ajak Denny
"Ngapain?". Kata Rallia penuh selidik
"Udah ah jangan banyak tanya, kan aku bos wajar dong kasih perintah ngajak asisten pribadi". Kata Denny
"Ya Udah". Kata Rallia pasrah
.................
Denny POV
Selagi menunggu Rallia mengganti pakaiannya, Denny pun langsung mengecek file CCTV di flashdisk yang diberikan Bu Lidia. Saat file itu memutar video CCTV Denny pun terkejut melihat apa yang telah mereka lakukan pada Rallia.
"Kurang ajar... menyentuh Ralliaku dan memperlakukan nya seperti itu!". Kata Denny penuh amarah. Rallia memang bukan miliknya tapi baginya Rallia lah segalanya.
"O iya.. Rallia mungkin sudah selesai mengganti pakaiannya, aku akan mengecek keadaannya". Kata Denny
Denny pun ragu-ragu membuka pintu itu, takut-takut melihat sesuatu yang tak seharusnya ia lihat.
"Sudahlah.. tenangkan pikiran.. huft..". Denny pun menghilangkan gugup itu dan membukanya.
__ADS_1
Kriett....
"Cantik....
.................
Author POV
Selama di lift lagi-lagi udara canggung menyerbak ke setiap sudut menyisakan ke dua insan yang sama-sama terdiam mengahadap diri masing-masing.
"Ayo... Rallia cepat bilang...". Gugup Rallia dalam hati
"e... Denny...
Ting ..
"Iya Rallia...?". Tanya Denny
"e... gak papa. cuman misscall". Kata Rallia menghilangkan kegugupan nya
"Ada-ada aja kamu". Usap Denny ke rambut Rallia
"iii.. kan berantakan". cemberut Rallia
"haha". Ketawa Denny. Banyak karyawan yang iri dan cemburu melihat keakraban ke 2 nya, bagi mereka yang notabennya karyawan lama saja sangat susah mendekati CEO nya. Karena itu, banyak pertanyaan yang muncul di benak mereka siapa Rallia?.
"Ketawa aja teros sampai kiamat, o yah.. kita ngapain sih". Tanya Rallia
Brakk...
"Dimana manajer kalian?". Tanya Denny to the point tanpa menyapa.
Banyak karyawan yang terkejut dan terdiam melihat sang CEO dengan kasar membuka pintu dan tatapan yang amat dingin.
"Kenapa diam.. kalian tuli atau tidak mendengar ucapan -ku?". Kata Denny
"Dimana manajer kalian". Tambahnya.
Tak lama dari itu ada 1 karyawan wanita berkacamata yang menjawabnya.
"Manajer Cecil lagi di ruangannya pak... di.. di sebelah sana". Katanya gugup
"Ok". Kata Denny
Denny pun langsung berjalan menuju ke sana dan diekori Rallia dari belakang.
"Galak amat pak". tegur Rallia
Bukan nya mendapatkan jawaban malah ia mendapat kacang yang sangat pedas. Rallia pun menjadi diam tak berkutik.
Brakk...
Cecil bukan nya terkejut dengan suara itu, ia malah tertegun melihat sang CEO tepat berada di hadapannya.
__ADS_1
"Hy.. pak, ada angin apa sampai bapak datang kesini?". Katanya genit menopang dagu menatap Denny
Tak lama kemudian Rallia muncul di samping Denny, "Kamu...!". Betapa terkejutnya Rallia melihat wanita yang tadi pagi menyiramnya dan memaki habis-habisan.
Cecil pun langsung melotot dan berdiri melihat keberadaan Rallia.
"Hey... kamu.. cepat menjauh dan menyingkir dari Pak Denny, kau hanya akan membawa sial! Dasar penggoda bau kencur!" Kata Cecil kasar.
"Cukup...!". Teriak Denny
"Apakah kamu tidak puas sudah menyiram Rallia dengan kopi panas!? dan sekarang kamu malah masih memakinya!?"
"Cecil... awalnya saya kesini hanya ingin minta penjelasan, tapi melihat kamu seperti ini secara langsung membuat saya muak". Kata Denny
"Tapi.. pak.. dia sudah menggoda anda!". Teriak Cecil
"Kenapa anda malah membelanya bukan saya?". Tambahnya
"Cukup Cecil cukup!!. mulai hari ini segera kemasi barang kamu dan pergi dari hadapan saya". Teriak Denny yang tampak muak dan ingin mengakhirinya
"ok... kita lupakan sopan santun.. ". Kata Cecil
"Kamu tidak bisa menghentikan aku begitu saja, apa kamu lupa Ayah ku termasuk investor di perusahaan sini". Tambahnya
"Aku tidak peduli itu..! mau kamu anak Presiden atau menteri atau apapun itu saya tidak peduli....!!.". Kata Denny
"Cepat kemasin barang kamu". Teriak Denny
"Kamu...!!! Lihat aja nanti siapa yang akan tunduk siapa yang akan berkuasa, kamu akan menyesalinya". Kata Cecil menunjuk Denny
"Silahkan... aku tidak akan menyesal !!". Kata Denny
"O yh.. dan kamu wanita murahan bau kencur.. kamu liat dong wajah kamu itu!! wajah kamu itu gak pantas mendapatkan dia". Kata Cecil menunjuk Denny dan mendorong Rallia hingga terjatuh.
"Cecil... cukup ...!! kamu pergi atau aku panggil kan satpam!!.". Kata Denny
"Uuu... makasih sayang perhatian nya, aku bisa jalan sendiri". Kata Cecil menatap Denny dengan tatapan genitnya. Denny pun hanya bisa mendelik melihatnya, jijik!! itulah yang ia rasakan
"Ayo.. Rallia kita pergi". Kata Denny sambil mengulurkan tangan ke Rallia
"Aw...". Rintih Rallia saat ingin mencoba berdiri. Denny pun melihat kaki Rallia yang terkilir akibat Cecil, tanpa aba-aba Rallia pun langsung di gendong Denny.
"Iii... Denny turunin.. malu tau diliat karyawan kamu!!". Kata Rallia sambil memukul Denny
"I...iya juga sih.. kan ga lucu image ku menggendong karyawan.. lagian kok kamu berat sih? makan apa aja kamu?". Canda Denny
"Wah... sembarangan... turunin aku makanya". Kata Rallia. Denny pun menurunkan Rallia secara perlahan.
"Ku papah aja gak apa kan?". Khawatir Denny
"Sudah gak papa. aku kan strong". Kata Rallia
"Iya aja iya..". Kata Denny
__ADS_1