
Raka POV.
"Pagi ini aku harus menyusun cara yang halus untuk mengejar Rallia kembali". Kata Raka
Tok... tok...
"Ya... masuk". Kata Raka
"Maaf tuan mengganggu, ada telepon dari pavilium utama. Katanya Nyonya besar malam ini ingin anda ikut acara makan malam bersama keluarga". Kata Federik
"Tolak aja Federik, aku belum bisa ke sana. Hari ini aku baru ingin menyusun rencana yang lainnya". Kata Raka
"Tapi.. Tuan, jika anda menolak Nyonya besar bilang besok ia akan kesini dan akan membawa 10 gadis pilihan nya ke sini". Kata Federik.
"Arrghhh.. Si tua itu, dia selalu saja bisa membuat alasan yang tidak bisa ku tolak". Kata Raka.
"Ok.. kamu bilang aku akan ke sana". Tambahnya.
"Baik tuan..". Kata Federik. Baru saja Federik ingin membalikkan badan, tiba-tiba...
"..emm.. Federik aku punya tugas buat kamu, jadi gini selama aku di Pavilium Utama, aku minta kamu untuk selalu mengawasi Rallia. Segera kabarin aku jika ada apa-apa dengannya". Kata Raka
"Baik tuan, saya permisi". Kata Federik
Raka pun langsung bergegas pergi ke Pavilium Utama.
.............
Author POV
"Ukh... pegalnya.., akhirnya kerjaanku selesai juga". Kata Rallia sambil memutar pinggang nya ke kanan dan ke kiri.
Tok...tok...
"Ya.. masuk..". Kata Rallia
Kriett...
"Rallia.. kerjaan kamu sudah selesai?". Tanya Denny.
"Sudah, baru aja". Kata Rallia.
"Hari ini kamu pulang aku antar aja yah, soalnya kan kakimu masih bengkak habis terkilir tadi". Kata Denny.
"Sembarang kamu lah, yang penting aku ga bayar kan?" Kata Rallia.
"Ada-ada kamu, ya gak lah". Kata Denny
"Ok.. aku beres-beres duku". Kata Rallia
"aku tunggu di parkiran bawah aja yah". Kata Denny
"em... jangan...!! nanti banyak yang liat, gimana kalau kamu tunggu aku dekat halte seberang kantor aja". Kata Rallia.
__ADS_1
"Ya elah.. itu sama aja kamu jalan kaki juga, kan lagi sakit gimana sih". Kata Denny
"iiih... mau mau gak gak !!". Kata Rallia
" Iya bawel, bye". Kata Denny
Denny pun langsung pergi keluar dari ruangannya, tak lama kemudian Rallia langsung menyusul Denny.
"Aneh banget para karyawan hari ini udah sepi di jam segini?". Heran Rallia.
"Udah ah.. yang penting aku langsung pulang aja". Kata Rallia.
Rallia pun langsung menuju halte yang ia sepakati dengan Denny.
"Mana sih Denny, lama banget mutar doang". Omel Rallia melihat jam tangannya.
Titn...titn...
"Nah.. baru sampe". Rallia pun langsung berjalan menuju mobil Denny dan memasukinya.
"Lama amat Pak... macet apa di kejar fans". Celetuk Rallia
"Ga... ga lama pas kok... lagian tadi kena 2 kali lampu merah". Kata Denny
"ya ya ya... ayok pulang..". Kata Rallia
Sudah beberapa menit di jalan mereka tampak diam tak bersuara. Namun,,,
"Denn..." Panggil Rallia
"Denny .... anaknya Pak Tuyul... aku ngomong sama kamu". Teriak Rallia yang merasa di cuekin Denny
"hahaha.... apa? kenapa?". ketawa Denny
"Aku mau cerita.. jadi gini Bunda aku kan sudah sembuh, Bunda suruh aku berhenti kerja dulu dan suruh aku lanjutkan sekolahku". Kata Rallia.
"Terus yang bayar dan biayain sekolah sama hidupmu nanti siapa?". Tanya Denny
"Kata Bunda, nanti biar Bunda aja yang kerja". Kata Rallia.
Hening seketika menyelimuti mereka berdua, Rallia bingung mau bilang apa lagi ke Denny.
"En... Rallia?". Panggil Denny
"Yah... kapan kamu mulai masuk sekolah?". tambahnya.
"Kemungkinan awal bulan depan". Tunduk Rallia takut dimarahin.
"Berarti satu minggu lagi yah?". Kata Denny
"Iya...". Kata Rallia
Keheningan pun terjadi lagi dan lagi. Dan Rallia pun mulai kelelahan dan tertidur sepanjang jalan. Denny yang melihat Rallia tertidur ia pun memanfaatkan kesempatan itu untuk membawanya ke suatu tempat.
"Rallia...rallia... bangun". Kata Denny sambil mengguncang tubuh Rallia sesekali.
__ADS_1
"Ukh... kamu ini ganggu banget sih". Omel Rallia dengan mata terpejam dan tanpa sadar ia mengusap air liurnya ke lengan Denny.
"Iiii... Rallia kamu jorok banget sih.. itu air liur bau banget banyak kumannya". Omel Denny. Denny pun langsung menemprot Rallia dengan kispray anti septiknya ke seluruh wajah Rallia.
Cusss...
"Iiii... Denny kamu itu iseng banget sih orang lagi asik tidur juga malah kamu semprot Huh....". Rallia pun langsung cemberut dan memarahi Denny.
"Woi... yang harusnya marah itu aku kali, kamu itu yang jadi cewek jorok banget". Kata Denny
Brakkk...
Denny pun langsung keluar mobil dan meninggalkan Rallia sendirian di dalam sana. Tak lama dari itu Rallia pun langsung ikut keluar dan mengejar Denny.
"Denny... kok aku ditinggal sih?". Oceh Rallia.
"O iya.. kok kita ke sini bukan nya antar aku pulang ke rumah?". Tambahnya.
"Aku... Lapar tadi di mobil sepanjang jalan kenangan malah ngeliatin kebo lagi tidur ngeluarin ilernya". Ejek Denny.
"Yah... Bilang aja kamu lapar apa susahnya sih, malah pake alasan aku lagi". Ocehnya Rallia.
"Susah...". Sarkah Denny.
"Uuuuu....". Seru Rallia.
Mereka pun memasuki Restoran Sushi yang sudah menjadi tempat favorit mereka pada zamannya. Banyak pengunjung yang menatap ke arah mereka, bagaimana tidak pesona Denny bak pangeran dan pengusaha muda pun banyak dilirik dan di incar kaum hawa yang haus akan pasangan sempurna, sementara Rallia? Walaupun umurnya belum cukup umur, namun dengan body dan wajahnya yang sekarang saja sudah membuat mereka terkagum-kagum dan cemburu.
"Pelayan... ". Panggil Denny
"Loh.. ada Tuan Denny dan Rallia yah?".
"Kalian sudah sangat lama tidak kesini, walau banyak yang berubah pada kalian tapi tidak akan ada yang mengubah pengelihatan saya". Kata kepala restoran.
"Iya... Pak Ce.. sangking lamanya Restoran Pak Ce makin terkenal dan membesar". Puji Denny
"Ayou... kalian mau pesan apa? banyak menu baru yang belum kalian coba". Tawar kepala Restoran
"Apa yah... emm... kita pesan seperti menu yang dulu aja Pak Ce. Kira-kira masih ada ga?". Tanya Rallia.
"Sebenarnya menu itu itu sudah kami hapus dari daftar menu, karena kalian yang minta biar aku saja yang akan buat kan. OK.." Kata Kepala Restoran itu.
Kepala Restoran pun langsung membuatkan dan menghidangkan pesanan mereka. Tak ingin berlarut-larut, mereka pun langsung menyentapnya sampai habis tak bersisa.
"Uuuuwu... enak banget, masih dengan citra rasa yang sama". Puji Rallia.
"Hahaha... bisa saja". Tawa kepala Restoran itu.
Setelah menyelesaikan perbincangan dan pembayaran, mereka langsung pamit pulang. Apalagi kalau bukan malam sudah semakin larut dan Bunda Rallia terus-terusan menelepon menanyakan keadaannya. Denny pun merasa tak nyaman membawa anak gadis orang sampai larut seperti ini, mau tak mau ia pun membelikan Bundanya Rallia sebungkus makanan yang sama dengan apa yang mereka makan.
"Malam ini, makasih ya Den...". Kata Rallia lalu langsung keluar dari mobil Denny.
"Sama-sama, sampaikan maafku ke Bundamu yah". Kata Denny
"Ok..". Kata Rallia.
__ADS_1