Heart Eater

Heart Eater
Bab_1. AROMA DARAH


__ADS_3

Bab.1 - AROMA DARAH


Hantaman deras dari tetesan air hujan ke tanah membuat kesenyapan malam menjadi bising. Diikuti ayunan logam yang saling berbenturan berulang-ulang kali, malam itu terasa sangat ribut.


"Makan..! Makan..! Makan..!" sorak serentak yang terdengar dari balik pepohonan yang rindang.


Sorakan suara-suara tidak jelas dari balik-balik pohon nan gelap tanpa penerangan sedikitpun itu, membuat suasana semakin ricuh.


"Keras sekali..! Kenapa makhluk besar ini tidak tergores sedikitpun?" Ucap seorang lelaki memberikan kritikan pada makhluk besar dihadapan mereka.


"Tulang di sekitar tubuh makhluk ini keras seperti logam, apa-apaan dengan wujud makhluk ini..!?" Balas pria satunya lagi yang mulai bergeming, karena ketakutan melihat kekuatan dari makhluk misterius yang berukuran besar itu.


Mereka adalah sekelompok manusia yang berpakaian serba hitam, dan terlihat sangat kesulitan menghadapi sesosok makhluk yang belum pernah mereka lihat itu.


"Gahahaha..! Oii.. manusia! Berhentilah melawan, menyerah dan jadilah santapan kami." Ucap makhluk besar itu dengan nada tinggi.


Makhluk besar itu setinggi 4 meter. Disekeliling kaki, lengan, leher dan sekujur badannya mengeluarkan tulang belulang tajam yang amat keras.


Tiba-tiba ayunan lengan kuat menerjang mereka hingga terpental sejauh 30 meter menghantam tebing gunung.


Dengan pukulan keras tersebut, sekelompok orang yang berpakaian hitam itu menerima luka yang serius.


Nafas terengah-engah, tubuh gemetar, mulut dan beberapa bagian tubuh yang putus mengeluarkan banyak darah hingga berceceran di tanah tempat mereka terpental.


Sepertinya yang selamat setelah menerima serangan tersebut hanya tersisa beberapa orang, dan itupun tubuh mereka dipenuhi luka yang serius.


"Oii..! Kalian para anak-anak bodoh, saatnya untuk makan. Gahahaha..!" Sorak spontan makhluk besar itu sambil mengeluarkan tawanya yang lantang.


Makhluk besar ini adalah ketua para makhluk-makhluk yang menyoraki dari dibalik pohon-pohon rindang tersebut. Mereka berukuran sebesar anak manusia yang berumur 8 tahun namun sangat banyak.


Dalam kegelapan, suara kerumuman yang bersembunyi dibalik pohon-pohon yang tengah menyoraki tadi, tiba - tiba hening.


Dengan tatapan mata hijau yang bersinar terang, semuanya serentak melompat keluar penuh hawa nafsu lapar setelah mendengar tuturan dari ketua mereka.


Dengan gerakan cepat mereka, gerombolan makhluk-makhluk kecil itu langsung mengincar orang-orang yang tergeletak sekarat tersebut.


 "Wahai wujud abadi yang tersentuh berikanlah sebagian dari kuasamu,


KAMA.."


Kama, jurus pusaran air kuat seperti tornado yang terbentuk dari memanfaatkan tetesan air hujan.


Pusaran itu bagai tembok air raksasa yang mengelilingi segerombolan makhluk-makhluk kecil itu. Kini mereka semua terkurung dan tidak bisa keluar dari tekanan kuat dari arus air seperti tornado tersebut.


Didalam pusaran air tersebut, suara-suara cemas dan ketakutan dari gerombolan makhluk kecil itu mulai terdengar ricuh.


Salah satu dari mereka mencoba untuk keluar namun, seketika itu tubuhnya langsung bercerai-berai.


"Sialan.. siapa kau? Apa yang kau lakukan!!" Ucap makhluk besar itu geram.



Nama: Bidal Benrik


Umur : 26th


Kelamin: Laki - laki


  


"Kama. KAMAN.." ucap seorang pria yang seketika itu muncul.


Dengan mengulurkan satu telapak tangan terus membuat genggaman yang sangat kuat, ruang didalam pusaran air itu mulai menyempit hingga tak ada lagi ruang yang dapat ditempati.


Sekejap semua tubuh gerombolan tadi hancur berceceran ke tanah. Orang yang membuat pusaran tornado air itu, dalam sekejap telah menghabisi semua gerombolan yang tengah terkurung tadi.


"Woi-woi.. jangan dihabisin semua, sisakan buatku dong." Ucap seorang pria satunya lagi berjalan dibelakangnya pria yang telah membantai gerombolan itu.


"Iyakan, Ben.." Ucapnya dengan rawut wajah bosan.

__ADS_1



Nama: Gio Frando


Umur : 26th


Kelamin: Laki - laki


"Hm, cih. Lakukan sesukamu Gi, aku akan mengejar gerombolan lainnya. Berhati-hatilah, yang satu itu sepertinya berbeda." Sahut Ben memperingati Gio.


"Iya-iya.. aku mengerti. Serahkan saja yang satu ini padaku." Balas Gio santai.


Ben dalam sekejap melewati makhluk besar itu dan sudah berada dibelakangnya.


"Cepat sekali..! Sejak kapan dia berada di belakangku." Batin makhluk besar itu sedikit terkejut.


Ben kemudian melesat dengan kecepatan tingginya masuk kedalam kegelapan hutan malam dan meninggalkan sisanya pada Gio.


"Oii.. kecoak busuk, kau melihat kemana?" Ucap Gio tiba-tiba melayangkan sebuah tendangan keras tepat kewajah makhluk besar itu.


Makhluk besar itu dengan sigap dapat menahannya dengan kekuatan keras dari tulang belulang yang ada pada tubuhnya.


Setelah serangan kejutnya dapat ditahan, Gio melompat mundur beberapa langkah dari makhluk besar itu.


"He.. kulitmu ternyata cukup keras juga. Apa kau ini bossnya ya? Kenapa bentukmu sangat aneh? Tipe baru kah." Ucap Gio menerka.


"Diam kau manusia! Kau ini tak lebih dari sekedar makanan bagi kami. Aku tidak punya jawaban yang bisa diberikan padamu-"


Seketika itu sebuah serangan keras melesat kearah Gio, serangan itu mengarah tepat kekepala.


Gio pun terkena serangan telak tersebut, dan tidak bisa bergerak sedikitpun ketika serangan itu tepat mengenai sasarannya.


"Heh! Makanan tetaplah makanan, manu-" ucapan makhluk besar itu tidak sampai karena saking terkejut melihat serangan terkuatnya tidak melukai Gio sedikitpun.


"Ha.. a.. ini saja, seginikah." Sahut Gio terlihat baik-baik saja walau serangan tersebut mengenainya.


"Tidak mungkin!? Mustahil, bagaimana bisa kau tidak terluka sedikitpun." Ucap terkejut makhluk besar itu dan perlahan mengambil beberapa langkah mundur.


Gio memutar balik cepat badannya lalu melayangkan tendangan keras tepat di bagian perut makhluk besar itu.


Makhluk besar tersebut seketika terhempas kencang dari hadapannya.


"Ukh..!! tendangannya lebih kuat dari sebelumnya. Mustahil tulang-tulang yang menjadi pelindung tubuhku hancur hanya satu serangan darinya." Ucap dalam hati makhluk besar tersebut menahan sakit setelah tersungkur karena menerima langsung serangan dari Gio.


"He.. menghabisihmu sepertinya tidak perlu menggunakan EL." Ucap Gio tersenyum kecil sambil menginjak kepala makhluk besar itu dengan kakinya.


Makhluk besar itu seketika langsung bangkit dan mengerang sangat keras.


Gio pun mundur beberapa meter dari makhluk besar yang mulai bertingkah aneh itu.


"Tidak mungkin.. ini tidak mungkin! Aku Rang si CHINAKU kalah dari makanan busuk ini." Ucap Rang tidak terima.


Rang adalah nama makhluk besar yang penuh tulang-belulang tajam disekitar tubuhnya tadi. Makhluk itu bertampang ganas dan menakutkan, ditambah ukuran tubuhnya yang tidak normal.


Setelah mendengar pengakuan dari Rang, nafsu ingin membunuh mulai bergejolak keluar dari tubuh Gio.


Gio mengumpulkan segumpalan angin pada telepak tangannya, dan memadatkannya menjadi segumpalan angin berukuran sebesar biji kedelai.


Gio lalu menggenggam erat gumpalan angin itu dalam kepalan tinjunya.


Gio kemudian mendekatkan kepalan tinjunya kearah mulut dan merapal beberapa mantra.


"Wahai wujud tak tersentuh tunduklah atas keinginanku. ABAIK."


Gio melesat secepat mungkin dan melayangkan pukulan ringan kearah dada rang si chinaku.


"Ghahaha.. serangan apa ini, tak berpengaruh sedikitpun. Oi..! Manusia, sepertinya kau suda.. a-apa ini? Dalam tubuhku! Kurang ajar! Apa yang kau lakukan pada-"


Duarrr..

__ADS_1


Suara ledakan menggema di tepi tebing bukit pada malam yang dingin itu. Setelah itu suasana malam yang senyap kembali terasa, kini yang tersisa hanyalah suara tetes air hujan.


Tubuh Rang meledak setelah beberapa detik menerima serangan Gio.


Tak ada satupun yang tersisa dari tubuh Rang selain darah berwarna hitam pekat yang mengalir tersapu arus hujan.


"Cih, jangan menyebut nama menjijikkan itu di hadapanku." Ucap datar Gio sambil mengangkat wajahnya melirik keatas langit malam yang sedang hujan.


"Pheaw, aroma darah yang menjijikkan." Ucap Gio meludah ke bangkai-bangkai yang berhamburan di tempat itu."


Disaat yang bersamaan, Ben lekas berlari dengan kecepatan tinggi dan melompati cabang-cabang pohon sendari membuat jalan pintas tercepat agar segera lekas mengejar rombongan chinaku lainnya.


..


Di sebuah desa yang beralokasi di bawah lereng dua bukit yang tinggi, bukit tersebut diberi nama Bukit Lintang.


Dari atas bukit itu tampak samar-samar sebuah desa kecil yang hampir tak terlihat karena lebatnya hutan yang mengelilingi desa itu.


Desa tersebut benama desa Jolok.


Malam itu semua penduduk desa seharusnya melaksanakan dan merayakan upara kegiatan adat desa.


Upacara itu dilaksanakan diluar rumah dengan api unggun yang sangat besar disertai dentuman gendang kecil dan tarian seperti berkelahi.


Upacara tersebut dilakukan oleh 32 orang dari setiap kepala keluarga.


Upacara adat itu masuk waktunya yang jatuh pada tanggal 9 kalender bumi malam ini.


Tapi, malam ini upacara tersebut untuk pertama kalinya dilaksanakan sedikit berbeda.


Karena menyadari akan ada hujan yang begitu lebat, kepala desa telah lebih dulu menyarankan usulan paginya untuk melaksanakan upacara tersebut malam ini di kediamannya.


Padahal pagi itu cuacanya sangat cerah dan tidak berawan. Siapapun yang melihat langit pagi yang sangat cerah itu, pasti beranggapan tak akan percaya bahwa cuaca sebagus itu malamnya akan ada hujan yang sangat lebat.


Sesuai prediksinya kepala desa, malamnya hujan deras turun sangat hebat.


Seluruh penduduk desa sangat mempercayai ramalan dari kepala desa itu yang telah turun-temurun diwariskan dari keluarga BARIANG.


Kepala desa yang sekarang adalah keturunan bariang ke 48 dari 9 suku yang ia pimpin saat ini di desa.


Perayaan upacara adat saat ini diadakan di aula besar keluarga kepala desa. Aula itu bisa menampung keseluruhan dari semua penduduk dan kesembilan kepala suku serta keluarga besar lainnya.


Suasana upacara dan perayaan tersebut malam ini berjalan lancar dan sesuai rencana, ya.. sesuai rencana dari Gerombolan keji, rakus, dan tanpa perasaan dari makhluk buas yang dikenal dengan sebutan Chinaku.


Kepala desa tidak menyadari bahwa malam yang penuh kegembiraan dan kehormatannya akan tradisi adat itu, akan menjadi malam yang penuh dengan warna merah pekat dari Pembantaian yang tragis.


"Ibu aku ingin melihat jebakan buruanku sebentar di atas bukit, mungkin saja ada yang kena. Dan aku ingin ayah memujiku kali ini." Ucap seorang anak yang bernama Egi.


"Kakak jangan lama-lama ya, aku ingin kakak disini bersamaku." Kata sang adik perempuan sambil memegang erat seuntai baju kakaknya.


Gadis mungil itu bernama Farah, Farah adalah adik kandung Egi.


"Baiklah, ibu mengizinkanmu. Dan bawalah ini." sahut ibunya Egi sembari mengulurkan satu anak panah padanya.


"Wah ini bagus sekali ibu. Ujung runcing anak panah ini terbuat dari batu abu-abu gelap dari hutan kapur. Jika anak panah ini mengenai targetnya, aku cukup perlu satu tembakan kebagian kaki beruang kayu merah untuk membuatnya terjatuh. Ini bahan yang sangat sulit didapat. Ibu yang membuatnya?" Tertawa riang sambil mengangkat tinggi anak panah yang diberikan oleh ibunya.


"Ayahmu yang membuatkan anak panah itu, dan ayahmu bilang untuk memberikannya kepadamu malam ini. Malam ini anak panah itu adalah hadiah dari ayahmu." Ucap ibunya tersenyum.


"Hmp.. aku juga mau hadiah ibu. Seperti hadiahnya kakak." Sahut Farah


"Kamu masih kecil, belum boleh memegang benda yang seperti ini." Ujar sang kakak mencubit pipi kiri adiknya.


"Kalo begitu bagaimana jika besar nanti, anak panah itu akan jadi milikku."


"Hmm.. boleh." Balas Egi senyum.


"Hehe.. yey, janji ya." Ucap Farah tersenyum keriangan.


"Baiklah aku pergi dulu ibu." Sahut Egi melambaikan tangannya.

__ADS_1


Ibunya dan Farah pun melambaikan tangannya.


Bersambung….


__ADS_2