Heart Eater

Heart Eater
Pelatihan Menuju Kelayakan.


__ADS_3

Bab - 16. Pelatihan Menuju Kelayakan.


Setelah berziarah ke makam Vira, Egi segera mencari Sinta untuk meminta bantuan darinya. Egi sudah tidak sabar untuk segera bergabung dengan pasukan khusus, dan meminta Sinta untuk melatihnya beberapa persiapan.


Didepan pintu gerbang masuk, Egi terperangah melihat sekumpulan orang memadati gerbang masuk kota tersebut. Terlihat banyaknya penduduk berbaris memberikan salam dan jalan masuk untuk sekumpulan orang-orang yang berpakaian hitam seperti milik pasukan khusus kota Marabuh.


Para capten tim pun juga ikut menyambut kedatangan sekumpulan pasukan itu. Seluruh warga dan capten tim beserta anggotanya terlihat sangat kagum dan menghormati kedatangan mereka tersebut menuju ke dalam kota.


Egi sangat bingung melihat pemandangan tersebut dan bertanya-tanya, "siapa sebenarnya orang-orang yang datang ke kota tersebut."


Orang-orang itu terlihat sangat penting dan dihormati, juga terlihat sangat kuat. Begitulah insting yang dirasakan oleh Egi terhadap orang-orang tersebut.


Setelah pasukan tersebut memasuki kota, Egi pun segera menuju masuk kedalam lalu mencari komandan Sinta dan meminta ia untuk melatihnya.


Namun, waktunya kurang tepat. Para komandan terlihat sedang melakukan rapat setelah kedatangan para pasukan dari luar kota tersebut. Egi kemudian mengurungkan niatnya untuk sementara waktu dan mencobanya di kesempatan berikutnya.


Didalam ruangan rapat para komandan di area Timur kota.


Suasana yang terasa dalam ruangan tersebut sungguh berat. Para pasukan khusus yang datang dari luar kota Marabuh ini, adalah pasukan khusus terbaik Marabuh yang kembali dari misi mulianya.


Mereka adalah pasukan khusus yang terpilih dalam sebuah misi menghalau musuh di luar kota. Pasukan khusus ini terkenal dengan sebutan namanya yang menggema di seluruh wilayah negara ini, yaitu pasukan Coga. Para pasukan khusus ini bukan terdiri dari orang-orang lemah satupun.


Mereka yang terpilih masuk kedalam regu, ialah orang-orang yang mempunyai kemampuan bertarung hebat dan warna EL pekat di atas para pasukan khusus tingkat A.


Jumlah yang kembali dari misi tersebut kurang dari setengah jumlah pasukan yang pergi sebelumnya. Walau pasukan khusus itu memiliki 3 orang komandan yang pergi bersama mereka, mereka tidak bisa merubah kenyataan bahwa setengah pasukan mereka telah gugur dalam tugas itu.


Mereka kembali dari misi tersebut karena mendapat kabar bahwa, sang Datuak Parpatih telah gugur dalam penyerangan tak terduga dari chinaku tipe baru yang belum diketahui kemampuan uniknya.


Rikki membantah kalau itu ulah chinaku tersebut. Ia menyimpulkan bahwa serangan tersebut terjadi akibat adanya pengkhianat. Si pengkhianat membantu para rombongan chinaku tipe baru itu untuk memasuki kota Marabuh dengan mudah.


Si pengkhianat adalah Raji, putra sulung dari sang Datuak Parpatih. Raji juga yang telah membunuh sang Datuak.


Raji terlihat melakukan sesuatu yang sangat berbahaya, itu disimpulkan bahwa ia telah mengambil benda keramat dari tempat tabuh didalam kota Marabuh.


Setelah mengetahui apa yang terjadi selama pasukan khusus Coga pergi meninggalkan kota, itu membuat mereka menyimpulkan bahwa sesuatu berkaitan dengan apa yang mereka lihat selama misi, ada hubungannya sama penyerangan terhadap kota Marabuh.


Pemimpin dari pasukan khusus Coga, Indra Syamsuddin. Indra adalah seorang komandan tim dan juga orang yang memimpin pasukan khusus terbaik Marabuh , ialah yang memimpin selama ini dalam misi pembasmian di luar kota.


Indra Syamsuddin seorang komandan pasukan khusus berperingkat setara dengan Datuak (pemimpin kota). 

__ADS_1


Pemimpin kota selanjutnya atau disebut the next Datuak ke XXVIII (28) akan segera dilantik, dan orang yang ditunjuk sebagai kandidatnya adalah Indra Syamsuddin.


Indra menghargai keputusan tetua untuk memilihnya sebagai pemimpin kota selanjutnya. Namun, Indra menolak untuk menjadi kandidat tersebut. Indra kemudian menawarkan satu orang yang cocok dengan tugas tersebut, dan orang tersebut juga sama kuatnya dengan Indra.


Indra menyebutkan nama Galena, tetapi semua terlihat tidak suka dengan sebutan nama itu. Sepertinya tetua dan para komandan sangat takut dan khawatir dengan nama yang di usulkan oleh Indra tersebut.


"Indra! Jangan sampai si racun itu yang memimpin kota ini." Ucap Komandan Amba.


"Apa kamu sudah gila mengusulkan nama itu untuk menjadi kandidat pemimpin kota Marabuh!" Sahut Rikki.


"Tolong dipikirkan lagi. Siapa lagi yang memiliki kemahiran dan kekuatan sepertinya untuk menjadi kandidat." Ucap Indra yang menyakinkan.


Terlebih ada suatu masalah yang sangat penting untuk dibicarakan. Dalam observasi ke Barat, "aku merasakan tekanan dari EL yang tidak biasa." Sepertinya bencana yang sesungguhnya telah lahir. "Seperti yang telah aku simpulkan, ini berkaitan dengan serangan terhadap kota Marabuh tempo hari."


Semua orang yang mengadakan pertemuan tersebut membuat ekspresi wajah yang sedikit tegang setelah mendengar tuturan informasi yang disampaikan oleh Indra.


Jika Indra berkata seperti itu, berarti itu adalah sesuatu yang sangat gawat sekali. Indra merasakan kekuatan hebat tersebut akan menghancurkan wilayah Selatan ini hingga rata dengan tanah.


"Benda keramat apa yang telah diambil oleh Raji?" Ucap Indra.


"Si kembar, celurit kecil dari sisa perang Engka."


Indra sangat cemas bahwa salah satu dari 7 senjata keramat itu telah jatuh ke tangan orang yang tidak cocok (salah).


Setelah beberapa jam, rapat dadakan tersebut akhirnya selesai. Semua orang yang menghadiri rapat penting tersebut beranjak kembali ke divisi masing-masing.


..


Ditempat divisi pasukan khusus perawatan.


Egi tampak terkejut mendengar permintaannya ditolak oleh Sinta. Sinta tidak bisa mengabulkan keinginan Egi untuk melatihnya.


Bukan hanya Sinta yang menolak permintaan itu, semua orang yang dimintai Egi tidak bisa mengabulkannya dan malah melontarkan perkataa jelek terhadapnya. 


Itu dikarenakan peraturan di kota itu sendiri.


Dilarang bagi para anggota pasukan khusus atau Komandan, mengajarkan seseorang yang bukan merupakan bagian dari anggota pelatihan.


Mereka hanya bisa mendapat dukungan penuh dari komandan atau pembimbing latihan jika dia (yang telah lolos dari ujian kelayakan) bagian dari anggota pelatihan.

__ADS_1


Egi tidak menyangka kalau ada peraturan seperti itu di kota ini. "Bukankah itu sungguh tidak adil." pikir Egi. Kenapa orang-orang kuat di kota ini tidak ingin mengajarkan apapun bagi mereka yang belum lolos ujian kelayakan.


Kenapa harus ujian kelayakan? Sebenarnya ada apa dengan ujian kelayakan. Begitulah yang terus-terusan yang Egi pikirkan sambil menelusuri jalanan kota tanpa sadar kemana arah tujuan yang ingin dituju Egi.


Seketika sadar Egi sudah berada di depan gerbang pintu keluar kota Marabuh. Penjaga pintu gerbang tersebut menghampirinya dan menghina Egi yang berasal dari luar kota Marabuh itu dengan perkataan buruk.


Egi tidak terbawa arus dari tuturan kata-kata yang menghina tentang dirinya itu. Egi bahkan mencoba meminta penjaga tersebut untuk mengajarkannya cara menggunakan kemampuan EL. Tentu saja penjaga tersebut menolaknya mentah-mentah seperti orang-orang yang telah Egi pintai.


Egi mengkerutkan keningnya, kalau seperti ini terus dia benar-benar tidak akan bisa lolos dalam ujian kelayakan itu. Egi berpikir dan terus berpikir siapa yang bisa melatihnya dalam waktu kurang dari 3 bulan ini.


Seorang anggota pasukan khusus baik capten, Komandan, atau orang biasa pun, tidak mau mendengarkan permintaan Egi yang dari luar kota tersebut. Siapa saja yang penting dia benar-benar tahu cara menggunakan kemampuan EL, Egi berharap sekali ada orang seperti itu yang bisa mengajarkannya sedikit mengenai kemampuan tersebut.


Orang-orang di Kota Marabuh terlihat tidak begitu menerima Egi ada di kota ini. Entah itu alasan khusus atau pribadi tidak ada yang tahu. Kenapa orang-orang kota Marabuh tidak ingin menerima orang dari luar, mungkin telah terjadi sesuatu di masa lalu.


Setelah kepergian Vira, sekarang Egi sendirian di tempat ini. Tidak ada satupun orang yang memihak kepada dirinya di kota ini. Mungkin komandan Sinta juga. 


Walau ia telah berbaik hati untuk mentraktir Egi makan, tetap saja tidak bisa dihindari kenyataannya bahwa Sinta tidak ingin terlibat dengan orang luar seperti Egi.


Egi tidak ingin memikirkan hal seperti itu lagi. Jika Egi mengingat semua perkataan dan perlakuan buruk orang-orang padanya, Egi akan berakhir membenci mereka, dan Egi tidak ingin membenci siapapun di kota Marabuh ini.


Egi dengan senyum polosnya meminta para penjaga gerbang tersebut untuk membukakan pintu gerbang dan mengizinkannya keluar jalan-jalan.


Para penjaga tersebut tertawa terbahak-bahak setelah mendengar permintaan itu.


Pintu gerbang kemudian dibukakan, Egi pun melangkah menuju keluar dari kota Marabuh.


"Hei, apa tidak apa-apa membiarkan bocah itu keluar kota malam-malam begini."


"Cih, biarkan saja. Palingan bocah itu tidak akan kembali ke sini lagi."


"He.. kenapa!?"


"Karena dia akan segera mati disantap oleh makhluk buas yang kelaparan di luar sana. Hahaha..!"


"Haha."


Bersambung….


Note Author : ahh…. Akhirnya selesai juga menulis satu bab ini. 😁 Padahal hari ini malam Minggu 😳 ah, bodoh amat. Lagi asyik bikin cerita 😋😋

__ADS_1


Jangan lupa pencet tombol Like 👍 dan vote 💓 yah. Sampai jumpa 👋


__ADS_2