Heart Eater

Heart Eater
Bukan Alam Manusia


__ADS_3

Bab - 24. Bukan Alam Manusia.


Beruang raksasa yang terbentuk dari akar-akar tanaman merambat yang galena tunjukkan pada Egi, adalah teknik transformasi tingkat 1.


Teknik transformasi itu disebut penjinak.


Teknik transformasi memiliki 4 tingkatan, penjinak, mode, high mode (mode tertinggi), dan kerasukan.


Sejauh ini yang terlihat menggunakan kemampuan seperti ini hanya sampai pada tingkat 2, yaitu transformasi mode.


Pertama tingkat 1 yang telah galena tunjukkan, dan yang kedua yaitu mode atau tingkat 2 yang Rikki gunakan saat pertempuran satu malam di kota Marabuh.


Berbeda dengan penjinak yang mentransformasikan warna EL mereka pada objek alam, material, objek hidup maupun mati menjadi makhluk sakral yang terpanggil atau tercipta. Mode adalah tahap lanjut, dengan memanfaatkan atau menjadikan seluruh kekuatan dari makhluk tersebut menjadi kekuatan tambahan bagi penggunanya. Dengan kata lain, memiliki kekuatan yang dahsyat dengan wujud setengah makhluk itu.


Menggunakan kekuatan dari teknik transformasi ini resikonya bukan main.


Saat mencapai kemampuan bertingkat A atau lebih, kekuatan tersebut baru bisa dipelajari.


Bahkan walau sudah memenuhi syarat standar untuk memperoleh kekuatan tersebut, tetap ada yang mati dalam pelatihan untuk mempraktekkannya.


Menimbang resiko berat teknik transformasi ini, teknik tersebut tidak diajarkan lagi.


Teknik tersebut akhirnya dimasukkan kedalam kategori teknik tingkat tinggi, dan metode pembelajaran untuk mendapatkan teknik tersebut sudah dihentikan sejak era perjuangan pada masa kekuasaan Datuak ke IX (9).


Sungguh membutuhkan banyak waktu dan usaha keras untuk mendapatkannya.


Untuk seseorang yang bertingkat S saja membutuhkan waktu setidaknya paling cepat 5 tahun baru memperolehnya.


..


Egi yang sedang berhadapan langsung dengan salah satu bentuk tingkat 1 dari teknik transformasi tersebut, terlihat tidak bergerak sedikitpun dan mematung.


Egi mematung bukan lantaran ia takut dengan teknik tersebut, melainkan terpukau.


"Hmm.. dia tidak gemang kah?" Batin galena melirik kearah Egi.


Kedua mata Egi terus menatap tajam kearah binatang raksasa itu dan terus memperhatikannya.


Egi perlahan bangkit dan langsung berdiri tegak menantang binatang raksasa itu.


Galena juga tidak akan diam saja melihat sesuatu yang menarik baginya itu untuk dilewatkan.


Pada akhirnya galena memerintahkan binatang buas tersebut untuk menyerangnya.


"Hahaha..! Sangat terburuk. Ini menarik bocah! Baru kali ini aku memilih lawan yang tepat untuk peliharaanku ini. Kau tahu, tidak ada satupun yang selamat hingga kini jika berhadapan dengannya (beruang raksasa)."


Seketika itu beruang raksasa tersebut mengerang sangat keras dan menggema hingga terdengar nyaring sampai ke kota Rerao Cupak.


Orang-orang di kota Rerao Cupak sekilas merasakan tekanan akan haus darah dan sedikit mengeluarkan ketakutannya.

__ADS_1


Didalam hati mereka, mereka sangat bersyukur karena tidak mencoba mendekati dan menjelajah pegunungan tersebut.


Mendengar erangannya saja sudah membuat perasaan tidak enak, apalagi berhadapan langsung.


Begitulah tuturan kata-kata orang-orang di kota tersebut.


..


Egi juga merasakan sensasi yang sama dengan orang-orang kota Rerao, yaitu tekanan haus darah yang kuat dari binatang raksasa ini.


"Gawat.. aku akan mati jika tidak melakukan sesuatu." Batin Egi sadar akan bahaya didepannya.


Hitungan detik, beruang raksasa itu berlari kearah Egi dan langsung menyerang Egi dengan sekuat tenaga. Dengan ayunan super kuat dari kedua tangan besar beruang itu, tubuh Egi pasti akan hancur seperti bubur ayam.


Seketika serangan kuat tersebut dikerahkan dan dalam sekejap saja, area tempat dimana Egi berpijak remuk hingga membentuk sebuah wadah genangan air baru.


Lubang yang sangat besar, terlihat air terus mengalir ke dalam lubang tersebut dan membanjirinya dalam beberapa menit.


Akibat dari serangan beruang raksasa itu bukan hanya itu saja, sekitar area itu juga terlihat begitu kacau balau dan berantakan.


"Hm.. dimana mereka?" Batin galena sedikit bingung memandang kearah area yang telah diremukkan tersebut.


Karena hantaman kuat dari kedua lengan beruang raksasa tersebut, serangan itu membuat pandangan disekitar area itu jadi terhalang bercakan air yang luar biasa.


Setelah beberapa saat pandangan disekitar area itu dapat kembali terlihat jelas namun, beruang raksasa tadi dan Egi sudah tidak ada. Mereka berdua tiba-tiba menghilang, yang ada hanya pemandangan kacau-balau hasil serangan beruang raksasa tadi.


Galena jadi heran dan tidak bisa menerka apa yang telah terjadi sesaat sebelumnya. Didepannya hanya ada lubang besar tersebut, tapi tidak dengan Egi dan beruang raksasa miliknya.


Dari dasar lubang tersebut yang telah dibanjiri air, tampak sesuatu yang bergerak sangat cepat menuju kearah galena.


Dalam sekejap, sesuatu yang bergerak sangat cepat didalam dasar air itu muncul ke permukaan dengan rombakan air yang terhampar di udara.


Setelah melihat jelas apa yang keluar dari sana, galena tidak bisa menahan dirinya untuk tertawa. Melihat yang keluar dari sana adalah Egi dan bahkan bersama dengan beruang raksasa tersebut, galena pun sedikit merasa geli dan akhirnya tertawa.


Beruang raksasa itu terlihat terkekang oleh beberapa akar merambat dibagian matanya sehingga tidak dapat melihat. Akar itu mengikat dan melilit sampai leher dan ditarik secara berulang-ulang oleh Egi dibelakang punggungnya untuk mengendalikannya.


Terlihat beruang raksasa tersebut kehilangan kontrol dan kesusahan untuk bergerak bebas atas kemauannya. Egi kemudian menarik sekuat-kuatnya kedua akar dipegangannya dan menggerakkan beruang raksasa itu mengarah menuju galena.


Tarikan sekuat tenaganya pun Egi lakukan, dan beruang itu seketika melaju kencang menghantam galena.


Dalam hitungan detik beruang raksasa itu akan menghantam galena dan permukaan tempat ia berpijak. Berjarak satu langkah dari galena, beruang raksasa yang digerakkan Egi seketika langsung lenyap menjadi serpihan kayu lapuk.


Kini Egi terjatuh dihadapan galena sambil memegang sisa dua akar merambat ditangannya dengan rawut wajah bingung.


Galena kemudian mengeluarkan senyum lebarnya memandang kearah Egi sambil menunjukkan kepalan tinju yang mengeluarkan uap panas.


Egi pun langsung tahu apa maksud dari tatapan dan senyuman mengerikan tersebut dan seketika itu langsung mengatakan bahwa dirinya menyerah.


Namun, itu tidak menghentikan galena untuk melakukan serangan penutup tersebut.

__ADS_1


Galena langsung melayangkan sebuah pukulan kearah wajah Egi dan mendarat dipipi bagian kanannya.


Egi pun seketika itu terhempas jauh dan kemudian terlihat tidak berdaya.


Kembali bangkit sambil memegangi pipi kanannya, Egi sangat emosi dan terlihat begitu kesal pada galena.


Sedari menahan pilu, Egi meneriaki galena yang tidak manusiawi dan tidak memiliki rasa kasihan itu dengan berbagai ungkapan.


"Manusiawi? Kasihan!? Untuk bocah maling sepertimu, hahaha..!!" Ucap galena sambil tertawa terbahak-bahak.


"Beberapa kali aku harus mengatakannya, aku bukan maling."


"Ya-ya.. penjelasanmu tidak bisa membuatku percaya. Kau harus membuktikannya dengan kekuatanmu."


"Heh, kata-katamu tidak masuk akal."


"Egi!!" Ucap galena dengan tatapan mata yang serius.


Egi pun langsung terdiam sejenak, lalu menjawab panggilan itu dengan mengatakan "apa" seketika itu galena kemudian berjalan menuju kearah bawah air terjun kembar nan besar itu.


Egi yang sedang memerhatikan perilaku galena saat itu menjadi sedikit bingung, dan juga Egi tidak mengerti dengan maksud tatapan serius galena barusan. Tiba-tiba bertingkah aneh seperti itu, apa sebenarnya yang ingin dilakukannya.


Begitu galena berada sangat dekat dengan pusat dimana air akan jatuh itu, galena tiba-tiba menghilang. Seketika galena menghilang dari pandangannya, Egi pun kemudian menjadi panik.


"Ehh..! Kemana dia?" Ucap Egi heran.


"Dasar bocah bodoh! Cepat masuk kedalam sini." Teriak galena yang terdengar menggema.


"Kesini dimana?" Sahut Egi.


"Kedalam air terjunnya!!"


"Maksudmu kedalam air terjunnya? Kedalam air terjun ini." Sahut Egi tidak percaya.


Masih bingung dengan apa yang dimaksud galena, Egi pun mutar-mutar ditempat dengan rawut wajah yang campur aduk memikirkan keadaan tersebut.


Seketika itu sebuah akar muncul lalu menjalar dibawah kaki Egi dan kemudian melilit erat pergelangan kakinya. Dalam sekejap mata, akar tersebut tiba-tiba menariknya sekencang mungkin untuk masuk kedalam air terjun itu.


"AAaaaaAAaaaaa…!!" Teriaknya.


Sesaat teriakan Egi terdengar begitu nyaring, hingga sebelum dirinya menghilang dan tidak terdengar lagi setelah menghantam masuk kedalam air terjun kembar tersebut.


Bersambung….


Note Author : jangan lupa meletakkan beberapa komentar dan pencet tombol Like 👍 dan vote 💓 yah 😁


Sehat selalu buat para reader lalu author2 tamvan dan imut yang telah mampir 🤩😁


Kalau sudah mampir, titip aja pesan di kolom komentar ntar pasti mampir balik deh. 😋

__ADS_1


Sampai jumpa 👋


__ADS_2