
Bab - 4. Tidak Ingin Melawannya.
Egi berjalan menuju kearah orang yang mengerumuni Vira dengan tatapan dinginnya.
"Lepaskan tanganmu darinya! Bukankah dia terlihat tidak menyukainya." Ucap Egi berjalan perlahan menuju kearah mereka.
"Egi..!" Ucap Vira.
"Egi?" Sahut orang yang memegangi tangan Vira tersebut.
"Ini bukan urusanmu, jadi jangan ikut campur." Sambung orang berbaju hitam satunya.
"Vira adalah temanku." Sahut Egi jelas.
"Teman!? Hahaha..!!!"
"Haha!"
"Haha!"
"Hoi… Vira! Betulkah dia temanmu? Cecunguk busuk ini temanmu ya. Hm… aku belum pernah melihatmu, siapa kau? Sepertinya kau bukan orang kota Marabuh. Apakah kau datang dari luar?"
"Hah! Dari luar??"
"Orang ini dari luar?"
"Orang dari luar katanya"
Mereka bertiga terlihat sangat terkejut mendengar bahwa Egi berasal dari luar yang tidak lain adalah orang yang bukan merupakan penduduk asli kota Marabuh. Orang-orang yang lalu lalang disekitar tempat itu juga terlihat menjaga jarak setelah mendengar tuturan tersebut. Karena pertanyaan tersebut benar bahwa dirinya bukan merupakan penduduk asli kota ini, Egi pun langsung menjawabnya dengan mengucapkan bahwa itu benar. Apa yang telah dikatakan oleh laki-laki tersebut benar bahwa dirinya bukanlah orang dari kota ini.
Setelah mendengar jelas jawaban Egi tersebut, tiga orang yang berpakaian hitam pekat itu langsung mengintimidasi Egi. Begitu pun dengan orang-orang yang sedang menyaksikannya di tempat itu, mereka semua langsung menunjukkan tatapan mata yang tidak ramah dan itu ditujukan langsung kepada Egi. Sekarang, semua orang disekelilingnya memandang Egi seakan melihat sebuah ancaman.
Nando, nama seorang dari salah satu tiga orang yang berpakaian hitam tersebut yang paling terlihat geram dengan Egi. Seketika itu Nando menarik lengan Vira dengan cukup keras untuk menanyakan indentitas Egi.
Karena ditarik terlalu kuat, Vira pun mengeluarkan suara kesakitan saat lengan kanannya tersebut digenggam terlalu kuat oleh Nando. Egi yang merespon hal tersebut pun tidak suka melihat Vira disakiti didepan matanya dan tiba-tiba mengambil sebuah tindakan, sekejap Egi meraih lengan Nando dan menggenggam erat lengan tersebut seperti Nando lakukan pada Vira. Seketika itu Nando pun melepaskan genggaman tangannya dari lengan Vira. Sontak Nando dan kedua kawannya yang mengelilingi Vira mundur 3 langkah ke belakang. Jumlah orang-orang yang mengkerumuni Vira barusan ada 3 orang, dan sepertinya mereka adalah bagian dari pasukan khusus yang melindungi kota Marabuh. Orang-orang yang bertugas melindungi dan menjadi pembasmi bahaya di kota itu dinamakan sebagai pasukan khusus, dan mereka yang menjadi atau bagian dari pasukan khusus tersebut ditandai dengan seorang yang mengenakan pakaian serba hitam pekat dengan lilitan kain dipinggangnya. Terakhir orang tersebut akan tampak selalu membawa sebilah pedang yang diletakkan disamping lilitan tersebut.
"Cih! Sepertinya dia memiliki lengan yang lumayan kuat." Ucap Nando sedikit merasa kesal.
"Apa orang itu pengguna EL? Wakil capten Nando." Ucap Irpan, salah satu rekan timnya Nando.
"Itu tidak mungkin, dia bukan orang dari pelatihan, kota ini, dan juga bukan bagian dari tim lain." Sahut Bayu, juga salah satu rekan timnya Nando.
"Dari penampilan yang ia kenakan, itu adalah pakaian milik pasukan khusus perawatan." Sahut Irpan menerka.
"Tidak ada satupun orang didalam pasukan perawatan yang memiliki ahli petarung di sana." Bentak Nando sambil melirik lengannya yang sedikit terluka karena Egi.
Karena Nando memiliki harga diri yang tinggi, dia tidak akan melepaskan mereka berdua begitu saja setelah apa yang Egi perbuat pada dirinya. Nando seketika itu mengeluarkan dua buah pedang dari bawah tanah dengan tekniknya. Irpan dan Bayu terkejut melihat Nando yang tidak segan-segan memanggil dua pedang pemenggal binatang buas hanya untuk menghadapi seorang bocah didepannya. Egi pun juga ikutan terkejut melihat teknik yang ditujukan Nando. Setelah melihat teknik yang digunakan Nando, Egi teringat bahwa teknik tersebut terlihat sama seperti teknik ayahnya. Tapi metodenya yang diperlihatkan Nando sedikit berbeda dan sederhana.
"Hei… kau! Bagaimana caranya kau menggunakan teknik itu?" Tanya Egi.
"Huh! Orang luar sepertimu tidak perlu untuk tahu. Kau ini hanyalah orang luar dan jangan sok belagu. Hyiaa!!!" Ucap Nando dan kemudian langsung menerjang Egi.
Swoosh..!! Swoosh..!! Swoosh!
__ADS_1
Dua pedang digenggaman Nando bertubi-tubi ia ayunkan kearah Egi, ayunan demi ayunan terus melesat kencang hingga lesatan dua bilah pedang itu hampir saja memenggal kepala Egi. Untungnya, gerakan berpedangnya Nando bisa dilihat jelas oleh Egi. Saat ayunan pertama memang cukup keras dan cepat. Namun seiring terus-menerus selalu diayunkan, gerakan Nando jadi makin lamban. Dua pedang pemenggal binatang buas digenggamannya tersebut jadi tidak berarti.
"Padahal hanya cecunguk lemah, kenapa aku tidak bisa menebasnya." Batin Nando tidak percaya, Nando terus-meneru dan tidak henti-hentinya melesatkan tebasan kedua pedang itu kesana-kemari hingga menimbulkan beberapa kekacauan ditempat umum tersebut.
Vira, Irpan, Bayu, dan orang-orang yang sedang menyaksikannya tidak bisa berbuat apa-apa terhadap perkelahian mereka berdua yang menghancurkan beberapa properti di tempat tersebut. Setelah beberapa menit, berbagai kerusakan akibat tebasan Nando makin bertambah dan akhirnya berdampak pada orang-orang sekitar tempat tersebut. Akhirnya kepanikan warga pun mulai timbul dan membuat area di tempat tersebut menjadi ricuh.
"Siapapun tolong hentikan mereka..!!" teriak warga.
"Oh tidak, dagangan aku hancur..!!"
"Cepat hentikan pertarungan itu!! Jika tidak, semuanya akan hancur…!"
Egi belum juga tampak melancarkan serangannya pada Nando, Egi hanya menghindari tebasannya Nando dengan melompat dan berlarian kesana-kemari dan itu membuat Nando menghancurkan segalanya. Bangunan sekitar dan sesuatu yang lainnya didalam jangkauan tebasan Nando tidak bisa dihentikan.
"Egi.." Ucap Vira yang mulai cemas dalam hatinya.
Beberapa kali pun Nando ayunkan serangannya tidak pernah sampai. Nando selalu bertanya kepada dirinya, kenapa, kenapa, dan kenapa serangannya tidak ada yang berhasil mengenainya. Menjadi begitu sangat kesal, akhirnya Nando menggunakan siasatnya. Setelah memikirkan sesuatu, Nando akhirnya dapat melihat celah untuk serangan berikutnya.
Setelah Egi berada pada posisi yang diinginkan, Nando seketika itu langsung menyentuh permukaan tanah tempat ia berpijak lalu merapal semacam mantra. Dalam sekejap setelah rapalan itu selesai diucapkan, sesuatu yang tidak normal bertubi-tubi keluar dari dalam tanah. Sesaat sebelum ada yang muncul dari dalam tanah tersebut, permukaan tanah disekitar Egi terasa sedikit bergetar dan tiba-tiba saja tempat dimana Egi berpijak menimbulkan tanah runcing keluar dari sana. Namun serangkaian serangan tersebut tidak melukai Egi, karena merasakan ada sesuatu yang aneh akan segera muncul iapun menghindarinya. Egi dapat menghindarinya dengan melompat ke udara sebelum tanah runcing itu mengenainya. Akan tetapi, itulah incaran yang sedang ditunggu Nando sebenarnya. Egi terpancing rencana Nando yang membuat Egi memiliki celah di udara. Dalam sekejap Nando melompat kearah Egi lalu melesatkan tebasan beruntun kedua pedang pemenggalnya tepat kearah kepala Egi.
"Egi..!! Dibawahmu." Teriak Vira.
"Hah..!!" Egi pun sontak terkejut melirik kebawahnya sudah ada Nando yang siap menyerangnya, dan serangan tersebut sudah jelas tidak bisa Egi hindari.
"Akhirnya kau terjangkau, bersiaplah!" Ucap Nando sedari melesatkan tebasan pedangnya.
Wusshh…! Freeze..!!!
Sesaat Nando akan melayangkan serangannya, tiba-tiba muncul seseorang yang menggagalkan usahanya tersebut.
Sebuah hantaman es besar memisahkan diri mereka berdua. Dengan munculnya tiba-tiba serangan tersebut diantara mereka, pertarungan Nando dan Egi akhirnya terhenti. Mereka semua kemudian serentak melirik kearah asal dari serangan tersebut.
Terlihat, seseorang berpakaian hitam pekat berjalan mendekat dengan sebilah pedang digenggaman lengan kirinya. Pedang itu seperi setengah beku yang mengeluarkan banyak uap dingin. Ia kemudian menyarungkan pedangnya kembali lalu menghampiri mereka berdua, seketika aura mencekam mulai menyelimuti area tersebut. Egi merasakan tekanan kuat disekeliling pria itu, Egi bahkan mengeluarkan beberapa tetes keringat dingin diwajahnya karena gemang. Egi merasa ia takkan bisa menang jika melawannya, tidak. Lebih baik tidak melawannya.
"Ca-capten." Ucap Nando tegak sambil memberi hormat.
"Lihatlah semua keributan di sini karena perbuatan kalian." Ucap laki-laki tersebut.
"Capten, orang ini yang menyerang kita duluan." Sahut Irpan.
"Itu benar, dia telah ikut campur kedalam urusan kami dan tiba-tiba menyerang duluan." Ujar Bayu memperjelas.
"Capten aku bisa mengalahkan orang luar-"
"Diammm!!!" Bentaknya keras, yah.. maunya bilang begitu sih. Tapi itu tidak terlihat keras, laki-laki itu hanya berkata bengis dengan nada rendah.
"Siapp..!?!?" Ucap Nando, Irpan, dan Bayu serentak.
"Kembali ketugas kalian dan laporkan semua kerusakan yang terjadi di tempat ini secepatnya. Tentu saja kalian bertiga yang akan menjadi donasinya." Sahutnya menegaskan kearah mereka bertiga.
Seketika itu Nando, Irpan, dan Bayu serentak beranjak pergi dari tempat tersebut. Namun tatapan mata Nando yang ditujukan pada Egi terlihat mengatakan bahwa ini semua belum berakhir.
Nando yang menunjukkan tatapan mata mangkelnya tersebut menyiratkan makna bahwa ia akan membalas Egi saat berjumpa nanti.
__ADS_1
Laki-laki yang berpakaian hitam pekat itu kemudian berjalan dan mendekat kearah Egi. Karena tidak tahu siapa laki-laki itu sebenarnya, Egi hanya bisa terdiam sejenak saat laki-laki tersebut datang dan menghampirinya.
Laki-laki tersebut membuat Egi sedikit bingung. Energi kuat yang terus bergejolak keluar dan menyelimuti sekujur tubuhnya itu tidak bisa Egi hiraukan. Namun, Egi tidak merasakan adanya aura membunuh dari laki-laki tersebut. Egi kemudian mencoba mencari tahu dengan menerka apa yang sedang dipikirkan laki-laki tersebut, pada akhirnya Egi tidak bisa menebak pemikiran pria tersebut hingga pria itu berhenti di depannya.
"Aku mendengar ada satu orang yang selamat dari penyerangan, kaukah orang selamat yang dibawa itu?" Ucap laki-laki tersebut.
"Itu benar, aku adalah satu-satunya orang yang tersisa dari desa Jolok. Namaku adalah Egi Azzaki. Tapi siapa kamu? Apa kamu tahu siapa yang telah menyebabkan kehancuran di desaku?"
"Huh… hari ini cuacanya panas sekali. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan kedua, tapi untuk pertanyaan pertama aku akan menjawabnya. Namaku Erdin Ericman, aku salah satu bagian dari pasukan khusus kota ini. Sama seperti mereka bertiga tadi. Terlebih, untuk informasi yang sangat kau inginkan mungkin bisa kau tanyakan pada orang tua itu."
"Orang tua itu?" Sahut Egi bingung.
"Egi Azzaki. Seseorang ingin memanggil kamu ke kediamannya. Aku mewakili pembawa pesan ini menyampaikan kepadamu, bahwa kau harus menemui orang tua tersebut."
Beberapa orang yang melihat dan mendengar percakapan itu menjadi sedikit terkejut, dan perlahan suasana disekitar tempat tersebut mulai terasa ramai. Diiringi dengan suara-suara yang terdengar lumayan ricuh, semua orang-orang yang menyaksikannya mulai mendekat dan berkerubung disekitar Erdin.
"Wahh.. itu Erdin..!!" Ucap salah seorang warga yang menyebutkan nama tersebut dengan lantang.
"Heh!? Capten Erdin." Sahut warga satunya.
"Wah benar, itu Capten Erdin." Ucap warga lainnya.
"Wuuoaa.. benar asli. Itu benar-benar capten Erdin." Ucap warga satunya lagi.
"Capten Erdin sudah datang..!!!"
"Capten Erdin!!." Sorak salah satu warga di tempat tersebut.
"Wuoaaah..!!!"
"Wuoaaah..!!"
Orang-orang menyoraki kedatangan Capten Erdin tersebut sepertinya sudah banyak mengenali dan juga mengaguminya. Erdin Ericman sepertinya adalah sosok pahlawan yang menjaga dan melindungi tempat tersebut, hingga kini namanya masih terukir jelas di ingatan warga.
"Sebenarnya aku adalah orang yang akan mengantarkan kamu kesana. Tapi karena ulah anggota timku, aku harus mengurus kerusakan di tempat ini dulu. Jadi bisakah kau menggantikan peranku, seseorang anggota dari pasukan perawatan disana. Hm..?" Lirik Erdin kearah mata Vira.
"Vira, panggil saja aku begitu capten." Sahut Vira.
"Baiklah kalau begitu. Vira, aku minta bantuanmu."
"Siap!! Capten Erdin." Jawab Vira tegas.
"Tapi.. tempat itu ada dimana?" Tanya Vira.
"Benar juga, aku lupa memberitahukannya. Tempat yang akan kalian tuju ialah Kediaman Datuak XXVII(27)." Sahut Erdin spontan.
"Heh…? Apa… kediaman Datuak!?" Ucap Vira kaget.
..
Setelah beberapa menit kemudian, Vira pun lekas mengantar Egi ketempat yang dipinta Capten Erdin. Kediaman datuak ada disebelah barat kota, dan jarak kesana dari posisi mereka berdua sekarang tidaklah terlalu jauh. Sepertinya mereka berdua mengalami semacam fenomena yang namanya kebetulan.
Bersambung….
__ADS_1
Note author : terimakasih telah berkunjung ke Heart Eater sampai episode 4 ini. Jangan lupa pencet like dan vote ya buat suport, biar terus semangat. Tapi kalo nggak juga kagak apa-apa yang penting sudah mau baca. Wkwk..