Heart Eater

Heart Eater
Jalan Penghubung Ke Dunia Lain


__ADS_3

Bab - 25. Jalur Penghubung ke Dunia Lain.


Didalam atau belakang air terjun kembar itu terdapat sebuah lorong besar nan panjang. Di dalam sana, sesuatu yang tidak normal mulai terasa dan tampak jelas.


Sesuatu yang tidak pernah Egi ketahui, tempat itu sepertinya adalah jalan menuju ke dunia lain.Β 


Lorong besar tersebut menghubungkan dunia manusia dan alam lain (gaib). Alam yang berada di luar jangkauan manusia, tempat makhluk halus, roh dan banyaknya tenaga luar biasa yang meluap-luap. Setelah memasuki sebuah penghalang yang berbentuk 2 kerangka burung garuda, Galena dan Egi memasuki dunia atau alam yang berbeda dengan manusia.


Awal memasukinya seperti sebuah goa, tetapi setelah melewati batas penghalang tersebut sudah tampak lebih seperti dunia kedua. Namun berbeda.


Atmosfer yang terasa sangat mencengkam, tekanan besarnya sangat jauh berbeda dengan dunia manusia. Belum melangkah jauh dari batas penghalang itu, Egi sudah berkali-kali muntahan karena tidak sanggup menahannya.


"Apa kau akan berhenti dan berakhir disini? Jika kau tidak sanggup melangkah lagi, pulanglah!! Apapun yang ada di depan sana adalah kematian." Ucap galena, iapun kemudian melangkah jauh dan meninggalkan Egi begitu saja.


Uoeekk!!


Egi kembali mengeluarkan isi perutnya dan terlihat begitu kelelahan dan disertai sakit kepala yang hebat, hingga kepalanya ia benturkan berkali-kali di permukaan tempat ia berpijak. Baginya melakukan tindakan seperti itu bisa meredam sedikit rasa sakitnya.


Uoeekk!


Memandang ke depan, terlihat galena sudah tidak tampak lagi. Sepertinya Galena sudah masuk lebih jauh kedalam sana hingga sejauh mata memandang pun tidak menemukannya.


"Setelah kau mengajakku masuk, kau menyuruhku pulang begitu saja. Jangan bercanda!! Akan ku lakukan, aku akan masuk dan menginjakan kaki ditempat yang sama denganmu! Walau kematian yang ada didepan sana." Teriak Egi.


Egi perlahan bangkit dengan kaki yang gemetar dan lalu tiba-tiba tergeletak karena kehilangan keseimbangan, kemudian bangkit lagi dan terjatuh lagi, lagi, dan lagi.


Matanya sudah terasa sangat berat dan kondisi tubuhnya pun perlahan memburuk, terlihat beberapa menit setelah itu hidung Egi mimisan dan kemudian kesulitan untuk bernapas.

__ADS_1


Uoeekk..


"Hah.. hah! Hah.. hah! Hah!" Egi kesulitan mendapatkan udara untuk tubuhnya dan berguling-guling menahan keperihan yang dialaminya saat ini.


Menggerakkan kedua tangan lalu dibantu menumpu dengan kedua kakinya, Egi mencoba bergerak dalam kondisi tersebut dengan merangkak. Bergerak menuju kedalam demi mengejar galena, Egi berjuang dengan sekuat tenaga dan berusaha untuk tetap terus bergerak lebih jauh.


Namun usaha dan perjuangan Egi tidak bertahan lama, menggerakkan tubuh sambil menahan perih disekujur tubuh dan kesulitan untuk bernapas, siapa yang sanggup.


Anak yang berusia 15 tahun ini untuk saat itu sungguh menderita tekanan hidup.


Egi sudah tidak memiliki tenaga untuk merangkak lagi, perlahan pandangannya mulai kabur dan seketika itu Egi tidak sadarkan diri. Sesaat sebelum Egi akan kehilangan kesadarannya, Egi melihat samar-samar sebuah cahaya terang sebesar bola pingpong muncul didekatnya. Seketika itu cahaya terang tersebut tiba-tiba menghempaskan tubuh Egi keluar dari sana, hingga tubuhnya terbanting lalu terbaring ditepi genangan air di luar goa tersebut.


..


3 hari kemudian setelah itu.


Dirinya yang tidak sadarkan diri saat berada di dalam goa itu kenapa saat terbangun tiba-tiba sudah berada di luar goa tersebut. "Sebenarnya apa yang telah terjadi, bagaimana bisa?" Egi sejak saat itu terus memikirkan hal tersebut hingga waktu terus berjalan dan seminggu pun berlalu.


Tidak melewatkan waktu sehari pun sekaligus tanpa arahan dari galena, Egi terus melanjutkan latihannya. Kini semenjak hari itu hingga setiap harinya membuat waktunya penuh hanya untuk latihan, latihan, dan terus meningkatkan latihannya. Tanpa adanya galena, Egi juga mempunyai waktu yang cukup buat istirahat. Sungguh hari yang terasa sangat damai, begitulah ujaran hatinya.


Tetapi batinnya masih penasaran dengan apa yang ada diujung lorong sana, dan apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh galena hingga belum kembali juga kesini (gubuk jelek yang galena bangun di puncak gunung rerao).


Tidak bisa berhenti untuk tidak selalu memikirkannya hingga sampai susah untuk dibawa tidur, Egi akhirnya merasakan sensasi yang tidak nyaman dalam hatinya dan perlahan jadi mulai gelisah. Merasa sudah tidak tahan lagi, pada malam hari itu juga Egi kembali ke lokasi air terjun kembar tersebut sekali lagi. Didepan air yang jatuh dari tempat yang sangat tinggi itu, Egi mencoba mengingat kembali kejadian saat bersama galena di tempat itu sebelumnya. Namun, yang terlintas dipikirannya hanya ingatan buruk terhadap galena saja. Perlahan Egi kemudian kembali mencoba untuk mengingat keseluruhan dari kejadian sebelumnya di tempat tersebut. Beberapa saat kemudian Egi termenung sejenak, dan setelah itu tampak mengerti akan sesuatu. Tidak tahu apa yang ada dipikirannya, namun sepertinya dia menemukan sesuatu yang penting setelah kilas balik itu.


"Aku mengerti sekarang, tunggu aku disana jenggot runcing! Aku akan segera menyusulmu kesana." Ucap Egi penuh semangat.


Mulai hari ini Egi membuat dirinya berlatih dua kali, tidak. Ia meningkatkan latihannya berkali-kali lipat dari sebelumnya. Bahkan Egi juga mencoba metode latihan baru yang ia temukan sendiri.

__ADS_1


Beberapa Minggu kemudian, berlatih dengan segenap hati dan setiap hari akhirnya membuahkan hasil. Jarak waktu merangkak menuju puncak gunung rerao kini berkurang dari sebelumnya, dari sampai pada tengah malam hari kini sudah berubah menjadi tengah hari. Tetapi tetap saja masih jauh dari target. Namun tidak luntur sekecil pun semangatnya, Egi terus mencari cara untuk meningkatkan latihannya. Dengan kemajuan pesat tersebut, Egi memikirkan bahwa dirinya masih bisa dekat dengan hasil yang lebih sempurna lagi.


Berbekal pengalaman dan pengetahuan dalam barbagai soal tanaman dari desanya, terlihat pada suatu pagi hari Egi mencari-cari dan mengumpulkan berbagai macam tanaman yang tumbuh disekitar pegunungan rerao. Bunga-bunga liar, buah semak, kulit dari pohon lelen, dan daun rayo. Ia merebus semua bahan-bahan itu kemudian menumbuknya sampai menghasilkan cairan-cairan kental seperti getah. Setelah itu Egi lalu menyaringnya kedalam sebuah wadah kecil, dan kemudian menjemurnya dibawah terik sinar matahari.


Tidak tahu untuk apa dan apa yang sedang ia kerjakan, sepertinya dia terlihat membuat sesuatu yang berguna.


Disamping itu, metode latihan baru yang Egi coba terlihat tidak bisa dibilang latihan. Ia hanya datang setiap paginya berendam dan berenang di genangan air terdalam di area air terjun kembar itu. Esok harinya di area air terjun kembar tersebut Egi berpapasan dengan sang terkuat di gunung rerao. Makhluk yang ditakutkan dan selalu dihindari penduduk kota reraoa cupak, yaitu beruang kayu merah. Pagi itu beruang tersebut sepertinya sedang meminum air disana. Sama-sama saling beradu pandang, beruang kayu merah itu mengendus-endus sekitarnya kemudian sedikit menunjukkan gertakannya.


Perlahan Egi membungkukkan badannya dan berpose seperti makhluk berkaki empat sambil memperlihatkan tatapan mata yang ingin memburunya. Melakukan tindakan seperti itu konon menurut orang-orang di desanya, agar sederajat atau lebih darinya.


Binatang buas yang berhadapan langsung akan mengkonfirmasi atau menyatakan perang saat ada aroma dan bau asing disekitarnya. Ia akan melirik atau memantau beberapa menit makhluk lain didepannya untuk memastikan makhluk tersebut mangsa atau musuh. Jika beruang itu mengklaim makhluk didepannya musuh, ia cuma akan menggertak dengan mengeluarkan beberapa kali erangan ganasnya lalu kemudian berbalik arah dan pergi. Kalau makhluk tersebut adalah sejenisnya, mungkin akan bertarung sampai ada yang mati atau lari karena takut. Tapi jika ia mengklaim bahwa itu adalah mangsa, maka ia akan mengeluarkan atau menunjukkan senjata apa saja yang dimiliki tubuhnya dan dalam hitungan detik akan segera menyerang.


"Tingginya mencapai lebih dari 5 meter, sepertinya itu adalah red jumbo." Gumam Egi melirik kearah beruang itu.


Beruang kayu merah besar yang tingginya mencapai lebih 5 meter tersebut mengklaim Egi adalah mangsa, dan seketika itu juga menunjukkan kuku-kuku mengerikannya nan besar, runcing dan tajam.


Sambil mengeluarkan erangan terganasnya, red jumbo tersebut dalam hitungan detik saja langsung menyerang Egi.


Bersambung….


Note Author : jangan lupa meletakkan beberapa komentar dan pencet tombol Like πŸ‘ dan vote πŸ’“ yah 😁


Sehat selalu buat para reader lalu author2 tamvan dan imut yang telah mampir 🀩😁


Kalau sudah mampir, titip aja pesan di kolom komentar ntar pasti mampir balik deh. πŸ˜‹


Sampai jumpa πŸ‘‹

__ADS_1


__ADS_2