
Bab - 6. Dibalik Peristiwa Sesungguhnya
Suasana hening sejenak tanpa ada sedikitpun suara yang terdengar di dalam ruangan tersebut. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu tidak ada satupun yang berani berbicara satu kata pun semenjak seseorang pria tua yang mengenakan pakaian hitam pekat dengan corak warna emas di lengannya muncul di tengah-tengah keributan yang terjadi saat itu.
"Kau! Beraninya kau melakukan perbuatan yang sangat keji itu pada ibu, adik, ayah, dan semuanya yang ada di desa. Aku tidak bisa memanfaatkan kekejaman itu!" Sahut Egi yang masih terlihat emosi.
"Egi..! Tenanglah." Ucap Vira dengan suara kecil memperingati Egi."
"Jaga sikapmu bocah! Kamu tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini!" Sahut Rikki merangkul pundak Egi memaksanya untuk duduk.
"Jangan ngoceh-ngoceh yang tidak jelas dasar sampah! Aku bisa saja melepas kepalamu dari lehermu itu saat ini juga. Ucap Utam Barrow menarik sehelai benang yang mengikat sekeliling leher Egi dengan tatapan mata yang haus darah.
"Jangan mengotori lantai tempat yang suci ini dengan darah kotor bocah itu Utam, Rikki!!" Sahut keras dari komandan Amba.
"Huh!! Jangan sok memerintah seperti itu pak tua!" Ucap mereka berdua serentak.
"Utam jangan kasar padanya, dia itu anak yang baik loh seperti Ririn."
"Anak yang baik seperti Ririn! Hoho baiklah karena dia juga anak yang baik seperti Ririn aku hanya akan mengikatnya saja supaya dia tidak melakukan perbuatan konyol seperti itu lagi." Jawab Utam keriangan setelah mendengar ulasan Sinta.
"Wah, terimakasih Komandan Sinta telah menyelamatkan nyawa Egi. Tapi Ririn siapa?" Ucap Vira dalam hatinya melirik kearah Sinta memberi semacam kode.
Egi yang terikat oleh benang dari teknik Utam itu tidak bisa melepaskan dirinya. Egi berusaha mengencangkan otot-otot lengannya untuk membuat benang yang mengikat sekeliling pergelangan tangan dan kakinya supaya putus. Namun tindakan itu sungguh sia-sia.
"Benang itu tidak akan bisa di lepaskan seperti itu, semakin kuat kau melawan ikat benang itu maka semakin kuat ikat benang itu mengikat sekeliling lenganmu hingga menembus bagian kulit dan memotong tulangmu. Jadi walaupun kau menguatkan saraf-saraf ototmu itu, sudah jelas yang kau lakukan itu tindakan yang percuma." Ucap Utam memperingati Egi.
"Walaupun aku kehilangan kedua tanganku, itu tidak akan bisa menghentikan ku-"
"Jika kamu berakhir disini! Maka kehidupan yang orang-orang di desamu, ibu, adik, dan ayahmu inginkan tidak akan terpenuhi." Sanggah oleh seorang lelaki yang sangat tua berjalan kearah Egi.
"Huh!?"
"Cobalah kau mengerti, kamu ini satu satunya yang akan melanjutkan kehidupan mereka sebagai orang terakhir dari desa itu. Jika kamu berakhir seperti itu maka orang dari desa tersebut tidak ada lagi yang tersisa, tidak. Mungkin tidak akan pernah ada di dunia ini."
"Tapi, tapi dia yang sudah telah membantai seluruh penduduk di desa!"
"Terus lalu kenapa?"
"Kenapa, lalu kenapa katamu-"
"Sadarlah bocah!" Sahut Rikki.
"Huh!?"
"Aduh-aduh, ternyata kamu masih belum mengerti apa yang dikatakan oleh Datuak." Ucap Utam.
"Huh? Apa yang kalian bicarakan ini?"
"Jika Kakak Gio membunuh semua orang di desa, lantaran kenapa dia membiarkan hidup satu orang anak sepertimu dan malah membawanya ke tempat ini. Menurutmu kenapa dik Egi." Ucap Sinta tersenyum kecil.
"Membawaku!?"
"Dibilang seorang pembantai tidak buruk juga, dia sudah sering membunuh banyak chinaku. Sepertinya panggilan itu sangat cocok baginya." Ucap Nopi Maxnua.
"Hah, mulai lagi bercerita yang tidak perlu." Sambung Gio.
"Chinaku!?" Ucap Egi terkejut.
"Ya, yang telah membantai seluruh orang-orang di desamu adalah chinaku, termasuk ibu, adik, dan ayahmu." Sahut Rikki melirik Egi dengan tatapan kesal.
Mendengar sebutan itu semua orang yang mendengar ucapan dari Rikki tersebut mulai terdiam. Dilihat dari rawut wajah mereka semua seakan sangat membenci sebutan itu. Kecuali Egi, dia sedikit bingung dengan sebutan tersebut.
"Kamu lihat sendiri bukan seluruh mayat dari orang-orang di desa terlihat sangat tidak normal." Sahut pak tua itu mulai kembali bicara.
"Mayat yang tidak normal! Memang benar seluruh mayat yang saat itu aku lihat memang sangat aneh. Disetiap mayat-mayat yang aku lihat selalu memiliki lubang di dada mereka, Farah, dan ibu juga." Ucap Egi tercengang.
"Itulah perbuatan dari pembantai sebenarnya, tidak. Musuh manusia sesungguhnya. Mereka sangat rakus, biadab, kejam, sungguh makhluk yang harus segera di lenyap kan. Uhuk-uhuk!"
"Datuak!" (Utam Barrow)
"Tuanku!" (Duan Sab Amba)
"Pak tua!" (Rikki)
"Datuak!" (Sinta)
"Datuak!" (Ben)
"Datuak!" (Gio)
''Datuak!" (Nopi)
Semua orang sangat terkejut dengan kondisi Datuak tersebut. Seorang pelayan yang selalu di samping Datuak itu merangkul pundak beliau untuk membawanya duduk. Terlihat pak tua tersebut sangat menderita sebuah penyakit, beliau begitu terlihat menahan sakit itu.
__ADS_1
"Duh, jangan memaksakan kondisi seperti ini lagi Datuak." Ucap Sinta khawatir setelah mengecek kondisi tersebut.
"Haha, ini tidak terlalu besar." Ucap Datuak singkat.
"Apa luka itu mulai kembali bereaksi tuanku." Sahut Amba.
Datuak tersebut menunjukkan bekas luka yang ditanyakan oleh Amba kepada semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
"Tolong jangan memaksakan diri untuk memperlihatkannya Datuak." Sahut Sinta menghentikan Datuak itu."
"Tidak apa-apa, ini hanyalah dapat di ketahui oleh orang-orang yang berada di sini saja."
Datuak pun memperlihatkan bekas luka tersebut kepada seluruh orang yang sedang berada di dalam ruangan itu. Seperantak mereka yang melihatnya sangat begitu terkejut akan sesuatu yang mereka lihat itu. Terlihat bekas luka itu sangat aneh, luka itu terlihat sedikit menjalar kemana-mana.
"Hah.., sepertinya sudah mulai bereaksi tuanku." Ucap Amba menghela nafas panjang.
"Apa-apaan dengan bentuk bekas luka itu!" Sahut Egi.
"Itu adalah luka kutukan." Jawab Amba.
"Luka kutukan?"
"Ya, itu adalah sebuah serangan mematikan dimana jika kamu menerima serangan tersebut dan mengenai titik vital, luka tersebut akan menjadi kutukan. Teknik itu adalah teknik terlarang dengan kekuatan penggunya diatas peringkat SS."
"Kamu lihat simbol di bagian tengah kulit yang luka itu?"
"Iya, itu terlihat seperti bunga yang berakar menjalar kemana-mana.”
"Itu adalah simbol bunga benalu, bunga pengantar kematian."
"Kenapa orang hebat seperti dia itu memiliki luka tersebut."
Setelah menunjukkan bekas luka tersebut, Datuak memulai bicaranya kembali, ia menegaskan bahwa dirinya telah menerima sebuah luka dari pertempurannya yang sebelumnya saat melawan makhluk chinaku.
"Dengar baik-baik semua yang ada disini, jangan meremehkan kekuatan chinaku. Beberapa tahun terakhir ini mereka sudah menunjukkan perkembangan mereka. Mereka sekarang bisa menggunakan teknik yang sama seperti kita manusia yaitu penguasaan penggunaan teknik EL."
….
EL ialah suatu teknik yang berpotensi penuh menggunakan tenaga dalam di dalam tubuh manusia, EL didalam tubuh manusia didasari oleh 4 unsur alam. Tanah, Air, Angin, dan Api. Keempat unsur itu mereka sebut dengan istilah warna, warna itu kuning, biru, putih, dan merah. Di tiap diri manusia tidak menonjolkan sekaligus keempat warna tersebut. Setiap orang didalam tubuhnya hanya menonjolkan satu warna saja di setiap kelahirannya, namun ada juga yang tidak memiliki warna yang jelas dan mereka itu disebut sebagai tidak berbakat (manusia biasa saja).
Mereka yang memiliki warna yang jelas adalah orang-orang yang berbakat, mereka semua yang memiliki bakat akan mengembangkan kemampuannya dan akan bergabung kedalam pasukan khusus.
"Itu benar, itu tidak mungkin bisa dilakukan selain dari manusia." Sambung Sinta.
"Itu kenyataannya, luka ini aku terima karena tidak menyadari hal tersebut. Aku terlalu naif akan kekuatan yang aku miliki, dan meremehkan mereka."
"Jangan bilang kalau makhluk itu juga manusia!" Ucap Gio.
"Mereka bukan manusia!!! Bukanlah manusia, mereka adalah iblis keserakahan dunia ini." Bentak keras komandan Amba.
"Lalu, bagaimana bisa mereka menggunakan EL pak tua?" Sanggah Nopi.
"Jantung!" Sahut Ben.
"Huh!?" Semuanya serentak terkejut.
"Didalam tubuh manusia dipenuhi oleh EL, terutama di bagian jantung."
"Maksudmu! Mereka memakan jantung manusia." Ucap Utam Barrow.
"Begitu rupanya, itu menjelaskan kenapa mayat orang-orang di desa tersebut memiliki lubang di bagian dadanya." Ucap Gio.
"Aku juga menemukan keanehan yang sama tersebut di daerah dataran tanah datar di bagian wilayah hutan di barat kota Marabuh. Tapi korbannya hanya petani biasa dan tidak memiliki warna apapun di dalam tubuh mereka." Sahut Rikki.
"Mereka tidak bisa melihat aliran EL tersebut, jadi mereka memangsa secara acak." Ucap Datuak.
"Ternyata begitu!" Semuanya serentak mengerti akan hal tersebut.
"Lalu bagaimana dengan orang-orang di desa jolok, apa semua penduduk disana memiliki warna?" Tanya Sinta.
"Sayangnya ada sebagian disana yang memiliki warna, mereka adalah kepala suku tersebut dan 9 suku yang ia pimpin." Jawab Datuak menghela nafasnya.
"Tidak mungkin! Sekarang mereka semua telah berakhir." Ucap Utam Barrow sedikit sedih.
"Maafkan aku karena terlambatnya mengirimkan bantuan ke desamu nak." Ucap Datuak menundukkan kepalanya.
"Aku tidak menyalahkan anda atas serangan tak terduga tersebut, tolong angkat kepalamu kembali Datuak."
"Aku minta maaf tidak bisa menyelamatkan keluargamu, padahal aku ada disana." Ucap Ben juga menundukkan kepalanya.
"Tidak-tidak, seharusnya aku yang minta maaf. Aku juga minta maaf atas kesalahpahaman itu, karena aku tidak bisa melihat kebenaran tersebut." Sahut Egi.
__ADS_1
Akhirnya suasana mulai bisa terkendalikan, kebenaran tentang kejadian yang menimpa Egi juga sudah diluruskan. Egi kemudian dilepaskan dari ikatan benang yang membelenggu dirinya. Egi kembali berdiri dengan bebas kembali dan berjalan menuju ke arah Gio. Egi menundukkan kepalanya dan meminta maaf kepadanya.
"Maafkan aku yang telah berniat ingin membunuhmu, padahal kamu sudah menyelamatkan diriku. Maafkan aku." Sahut Egi meminta maaf.
"Huh! Aku masih belum memaafkanmu bocah."
"Gio!" Sahut Ben.
"Ya, habis aku masih tidak terima karena dia telah melukai tanganku ini." Jawab Gio menunjukkan lengannya yang dibalut dengan kain putih.
"Luka? Aku tidak ingat apa-apa tentang itu."
"Bocah sialan, kau tidak mengingat kejadian itu!"
'Back memories.'
"Matilah kauuu…hyaaa!!." whoooosh! Suara benda melintas cepat dari atas kepala Gio tersebut.
"Apa..!!?" Gio terkejut melirik keatas, sebuah anak panah tepat mengarah kearah kepalanya.
"Sial bagaimana bisa panah itu tiba-tiba muncul dari arah atas itu."
Splash..
Gio menangkis serangan panah itu dengan tangannya. Darah segar mulai berceceran ke tanah, Gio mengalirkan EL angin kebagian ujung kakinya dan melompat ke udara lalu melayangkan sebuah tendangan keras kearah kepalanya Egi. Egi langsung sigap mengambil kuda-kuda dan menangkis tendangan itu dengan kedua tangannya menghindari dampak keras terhadap kepalanya.
"Enyalah dari pandanganku bocah!! Wahai wujud yang tak terjamah kibaskanlah amarah di hadapanmu. Babaik."
"Akh! Tendangannya terlalu kuat, aku tidak bisa menahannya."
Egi tidak dapat menahan tekanan tendangan tersebut hingga membuatnya terhempas ke dalam bangunan yang ada di belakangnya. Bangunan tersebut hancur seketika karena benturan keras dari tubuh Egi yang terhempas ke arah bangunan itu.
Egi pun langsung pingsan setelah menerima serangan keras tersebut.
"Kamu tidak perlu seserius itu menghadapi bocah sepertinya Gio." Sahut Ben sedikit kecewa.
"Diamlah kau Ben, anak itu terlalu meremehkan diriku. Dia harus diberi pelajaran yang keras." Ucap Gio kesal.
….
….
Begitulah sekilas kejadian saat itu, Egi kemudian kembali ingat dengan sensasi dari tendangan tersebut dan mengeluarkan ekspresi wajah yang pucat.
"Sial, apakah dia akan menggunakan teknik seperti itu lagi untuk membalas ku." Ucap Egi dalam hati dengan rawut wajah yang pucat.
"Apa kamu sekarang mengingatnya! Huh!"
Sahut Gio mendesak Egi."
"Haha..! Maaf aku benar-benar tidak mengingat kembali kejadian itu. Haha." Jawab Egi gerogi berbohong.
"Huh!?!?"
"Haha, tidak bisa di sangka bocah itu bisa melukaimu Gio. Haha." Sahut Utam Barrow.
"Apa rupanya ternyata, bocah itu bisa melukaimu." Ucap Rikki mengejeknya.
"Gio Frando, sepertinya julukan pedang tajam tidak terlihat sudah tumpul. Haha." Sahut keras dari Amba.
"Huh!?!? Apa maksud kalian! Mau mencoba bertarung denganku." Sahut Gio tidak terima perkataan tersebut.
"Egi, dia anak yang sangat misterius. Dia bisa mengimbangi Nando, dia juga bahkan bisa membuat salah satu komandan sapulluah tersebut terluka. Anak itu masih memiliki banyak potensi." Ucap Vira tersenyum dalam hati.
Bersambung….
Note author : makasih banyak telah mampir ke heart eater. Ngomong-ngomong apakah judul dari novel ini cocok ya, aku sedikit bimbang ngasih judul kayak apa. Karena aku tidak memiliki teman untuk saling bertukar pendapat! Maukah kalian bertukar pendapat denganku hehe. Ok trims karena sudah mau baca, jangan lupa pencet like 👍 dan vote 💓 ye. Arrigatou 😋😋
Nama : Erdin Ericman
Kelamin : Laki-laki
Peringkat A+
Murid jenius dari kelompok wilayah Timur kota Marabuh.
Memimpin sebagai Capten sebuah tim di bagian Timur kota tersebut.
Panggilan dekat EE
Suka sekali dengan wanita yang pandai merawatnya. 😆
__ADS_1