Heart Eater

Heart Eater
Tempat Aman Di Selatan


__ADS_3

Bab - 3. Tempat Aman Di Selatan.


Hujan deras yang mengguyur desa Jolok membuat kobaran api yang menyala tidak melahap habis bangunan yang ada. Walau terlihat masih ada beberapa bagian yang tersisa, namun kenyataannya tidak banyak terdapat bangunan yang masih utuh dan layak untuk ditinggali. Semuanya sudah rusak dimana-mana, ada yang tertinggal hanya setengah bangunan gosong, dan ada yang terbakar habis hingga rata dengan tanah. Usai hujan berlalu, yang terlihat hanyalah pemandangan yang memilukan.


Ben merangkul Egi yang terkapar pingsan didepannya lalu membawanya pergi dari tempat yang telah hancur tersebut, seketika itu merekapun kemudian pergi dengan terburu-buru meninggalkan desa itu. Ben dan Gio, mereka berdua merasakan sesuatu yang buruk akan mendatangi tempat itu nantinya. Sebelum sampai masalah baru itu datang mereka berdua pun bersamaan pergi menuju kearah selatan desa tersebut.


Diselatan terdapat sebuah kota besar yang menguasai wilayah selatan tersebut, dan kota tersebut bernama Marabuh. Marabuh adalah satu-satunya kota besar sekaligus menjadi ibu kota di wilayah Selatan. Kota tersebut dipadati popularitas penduduk yang besar, sedikit jauh dari area pemukiman warga tampak deretan dinding tinggi yang menjadi pembatas dunia luar dan dalam kota tersebut. Jauh sebelum dinding tersebut masih belum dibangun kota itu terlihat tidak seperti itu. Dinding penghalang itu dibangun sebagai bentuk pertahanan terakhir umat manusia. Karena di dunia tersebut telah muncul keberadaan ganjil dan itu merupakan berbagai macam bahaya dan bencana yang mengancam punahnya umat manusia. Dari tahun ke tahun, generasi-kegenerasi umat manusia terus dihadapkan dengan sosok ganjil tersebut. Demi kelangsungan hidupnya dan anak-anak mereka, secercah harapan masih dapat terlihat. Demi harapan itu, manusia tidak punya pilihan lain selain melawan untuk kebebasan mereka. Namun itu hanyalah sebuah harapan yang rapuh, pertahanan terakhir itu tidak bisa melindungi mereka setiap saat. Pada akhirnya umat manusia dihadapkan pada hari keputus asaan yang akan memusnahkan mereka.


Saat langit tidak membiarkan matahari menunjukkan secuil sinarnya, hembusan angin akan menunjukkannya. Saat kehancuran umat manusia sudah diujung tanduk, harapan pun muncul. Sesosok pahlawan yang akan membawa umat manusia menuju ke masa depan yang cerah telah lahir. Anak yang diberkahi ilham itu menunjukkan bahwa umat manusia masih bisa terus menunggu datangnya hari esok, hingga kedamaian pun dapat dirasakan kembali. Akan tetapi, ancaman tersebut masih belumlah hilang. Seiring berjalannya waktu, kini manusia telah berevolusi. Setelah beberapa ratusan ribu tahun lamanya umat manusia pun bangkit dan mengembangkan suatu cara untuk memusnahkan ancaman itu.


Mereka menyebutnya sebagai hari perjuangan, dimana umat manusia bersatu dan membentuk sebuah pasukan yang memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menghadapi ancaman tersebut. Pasukan tersebut dinamakan dengan Pasukan Khusus, dimana orang-orang terlahir dengan bakat yang diberikan langit dan ditunjuk sebagai pembebas dunia.


..


Wilayah Selatan, di kota Marabuh.


Kota besar ini dipimpin oleh seorang yang sangat kuat, mereka menyebutnya dengan julukan Datuak [raja]. Kota Marabuh memiliki banyak sekali orang-orang kuat, Ben dan Gio contohnya. Ben dan Gio adalah bagian dari pasukan khusus kota tersebut, namun Ben dan Gio sedikit berbeda dengan para pasukan khusus lainnya karena bakat mereka berdua berada di tingkat S. Pasukan khusus di kota Marabuh memiliki sebuah sistem tingkat, dan tingkat tersebut menjadi penanda kuat dan tidak kuatnya bakat seseorang.


Tingkat itu terdiri dari E [pudar] ini adalah tingkat yang paling bawah, lalu D [jelas], C [kabut], B [bening], A [unik], dan yang paling puncak atau tingkat terkuat adalah S [absolut]. Bermacam tingkat tersebut menandakan nilai dari kemampuan dan kekuatan seseorang.


Disuatu tempat didalam kota Marabuh.


"Hmm.. hah? Uoaaaaa..!!!" Teriak Egi, ia tersentak ketika membuka kedua matanya dan akhirnya terkejut karena terbangun di tempat yang tidak dikenalinya.


"Heh!? Aaaaaah!!!!" Seorang gadis seusianya yang berada disamping Egi juga ikut terkejut saat Egi tiba-tiba bangkit dan berteriak didepannya.


"Kau.. kau siapa?" Ucap Egi.


"Duh... jangan berteriak tiba-tiba begitu! Kau hampir membunuh orang dengan teriakan keras seperti itu." Sahut gadis tersebut sambil meletakkan tangannya ke dada dan menghela nafas panjang.


"Kau siapa? Dimana ini?" Tanya Egi kembali.


"He..!! Kau tidak boleh mengajukan pertanyaan sekaligus seperti itu kepada seorang gadis, kau bisa dibenci loh. Baiklah.. karena hari ini aku lagi berbaik hati, aku akan menjawab pertanyaanmu. Namaku Vira Sidlilin, aku seorang pasukan khusus yang bertugas sebagai perawat disini. Lalu tempat ini, tempat ini adalah Roliklinis milik pasukan khusus perawatan. Kamu tenang saja dan tidak perlu khawatir ada dimana, karena kini kamu sedang berada di tempat paling aman di Selatan yaitu kota Marabuh. Marabuh itu, adalah nama kota besar ini yang menguasai daerah Selatan.


"Marabuh..??" Sahut Egi sendari memegang kepalanya mencoba mengingat nama kota aneh tersebut. Karena tidak ada satupun yang diketahuinya soal kota tersebut, Egi pun hanya mengerutkan keningnya dan terdiam sejenak.


"Ya betul sekali, kau sekarang berada di kota Marabuh."


"Apa yang terjadi pada desa? Apakah semua orang-orang disini? Dimana keluargaku?" Tidak tahu-menahu soal nama kota tersebut dan sambil memegangi bahu Vira, Egi kemudian melontarkan semua pertanyaan dalam benaknya.


"Eh..!!! Karena tiba-tiba begitu Vira pun seketika itu merasakan kepanikan akibat pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan tersebut.


"Semua-"


"Semuanya telah mati!!" Sahut seseorang yang datang dan lalu berjalan kearah mereka berdua.


"Mati..? Itu tidak mungkin.." ucap Egi kemudian melepas pegangannya dari pundak Vira dan seketika itu terdiam sambil menundukkan kepalanya.


Ketika orang itu mulai menampakkan wajahnya Vira pun sedikit terkejut dengan kedatangan seseorang itu. Dibilang terkejut sepertinya bukan mungkin terpukau, karena Vira juga tampak menunjukkan senyumnya kepada seseorang tersebut. Seperti yang tersirat diwajahnya Vira seseorang itu mungkin saja orang penting.


"Komandan Sinta." Ucap Vira.


Setelah Sinta berada tepat didepan Egi, iapun langsung menuturkan semua yang ingin diketahui Egi mengenai keluarga dan orang-orang di desanya dengan mengatakan jelas kepada Egi bahwa hanya dia satu-satunya orang yang selamat dari neraka tersebut. Sekilas masih terbayang-bayang akan rawut wajah keluarganya, akhirnya Egi tak sanggup untuk menahan kesedihannya terlalu lama. Seketika itu kedua mata Egi pun perlahan mulai meneteskan air mata dan diiringi isak tangis yang tersedu-sedu.


Beberapa menit kemudian Sinta kembali mengatakan kepada Egi bahwa mereka semua yang sudah tiada tetaplah sudah tiada dan takkan ada lagi. Tak ada gunanya untuk bersedih dan menangisi kepergian mereka saat ini, yang perlu dilihat dan hadapi adalah kehidupan saat ini. Jangan kalah dan lari dari kenyataan, sebab yang kau inginkan bukan berarti yang diinginkannya. Buatlah jalanmu sendiri dan lihat seperti apa kehidupan yang akan kau jalani mulai sekarang. Mulailah membuat halaman baru dengan menumpuk lembaran lama, niscaya lembaran lama akan menjadi topangan untuk menuju puncak. Ingatlah kembali kedalam dasar hati yang paling dalam apa yang yang paling diinginkan mereka untuk dirimu yang sekarang ini.


Setelah mendengar apa yang diucapkan oleh gadis berpangkat komandan itu, seketika itu Egi sekilas mengingat kembali gambaran dan kata-kata yang diucapkan orang-orang di desa padanya dulu.


'Back memories'


"Tangkapan yang hebat bocah." Ucap salah satu warga desa jolok.


"Wah kau hebat sekali." Sahut warga satunya.


"Tangkapan ayahnya lebih besar darinya, haha." Ucap salah seorang warga yang menertawakan Egi.


"Egi.. kau kalah lagi dari ayahmu. Haha."


"Bocah itu tidak akan pernah bisa menang."

__ADS_1


"Bocah ini ternyata sudah sedikit lebih besar, hahaha." Tawa salah seorang warga desa itu.


"Berjuanglah lebih keras lagi bocah." Ucap salah satu warga mencoba menyemangatinya.


"Egi." Sahut ibu Egi tersenyum.


"Kakak." Ucap Farah.


"Berjuanglah lebih baik lagi.. kamu masih bisa lebih, lebih, dan lebih hebat lagi dari ayah, Egi." Ucap Ayahnya.


..


Mengingat bahwa begitu banyak kenangan yang tak terlupakan itu, akhirnya Egi mencapai titik klimaks dari beberapa kenangan tersebut. Kini Egi mendapatkan sebuah motivasi dari kata-kata yang mengingatkan akan dirinya yang sekarang harus merelakan kepergian mereka untuk menjalani kehidupan barunya dari sini. Mulai hari ini Egi akan menulis halaman barunya.


"Terimakasih, sekarang aku menjadi diriku lagi."


"Hm.. mendapatkan ucapan terimakasih dari bocah, apa aku baru saja membuat sesuatu yang baik. Wah-wah… aku tidak mengingat apapun setelah 5 menit berlalu." Ujar Sinta sedikit dugal.


"Aku bukan bocah!! Aku 15 tahun sekarang." Sanggah Egi.


"15 tahun!? Sama, kau seumuran denganku." Ucap Vira sedikit terkejut.


"Hah! Benar juga, maafkan aku karena belum memperkenalkan diri. Namaku Egi Azzaki, umurku sekarang 15 tahun. Sekali lagi aku mengucapkan terimakasih atas sebelumnya, Uni Sinta." Ucap Egi.


"Wah-wah lagi-lagi aku mendapatkan ucapan terimakasih. Tapi, apa itu uni? Egi." Sahut Sinta sedikit melirik tajam Egi.


"Itu adalah bahasa dari desaku yang berarti sebutan atau panggilan hormat untuk yang sedikit  lebih tua." Ujar Egi.


"Oh benarkah, hmm... begitu ya. Hmm… panggilan untuk lebih tua ya." Ucap Sinta dengan nada lembut sambil mengeluarkan sebilah pedang dari sarungnya.


"Dengan izinmu yang memiliki kehendak suci, berikan kemudahan bagi yang tak terselamatkan ini. Matilah."  Ucap Sinta sambil tersenyum riang.


Hantaman sebilah pedang itu membelah dua ranjang tempat Egi sedang terbaring dan juga melubangi separuh dinding kamar tersebut. Untunglah dengan sigapnya Egi melompati serangan itu sebelum mengenainya, dan iapun seketika itu melarikan diri dari tempat perawatan tersebut sambil menggendong Vira. Sebenarnya Vira tidak ada sangkut pautnya dan sama sekali tidak terlibat kedalam kemarahan Sinta. Namun, itu hanyalah kepribadian bawaan Egi saja.


"Ada apa dengannya? Kenapa kepribadiannya langsung tampak berbeda dari sebelumnya, mendadak sekali. Dia menjadi orang lain dengan nafsu ingin membunuhku." Ucap Egi berlarian dengan rawut muka yang bingung.


"Eh!? Tu-tunggu, tenanglah." Sahut Egi.


"Bagaimana aku bisa merasa tenang!? Cepat turunkan aku..!! Ucap Vira meneriaki Egi dengan muka yang sedikit memerah.


Egi pun seketika itu menurunkan Vira dari pangkuannya seperti yang Vira pinta. Setelah itu Egi melihat-lihat kesekelilingnya untuk memastikan tempat dimana mereka berhenti aman dan tidak ada tanda-tanda kejaran dari Sinta.


"Kamu ini..!! Seenaknya saja menggendong seorang wanita di pangkuanmu." Bentak Vira dengan ekspresi wajah yang masih memerah.


"Hah… kenapa kau begitu marah!?" Sahut Egi bingung.


"Pokoknya kamu tidak boleh bertindak seperti itu lagi."


"Kenapa!?"


"Yah yang jelas tidak boleh..!"


"Baiklah-baiklah, huh! Dasar aneh." Ucap Egi singkat, dan dia masih tidak mengerti dengan perkataan yang dimaksud Vira tersebut.


Karena adanya sedikit debatan antara Egi dan Vira, suasana pun menjadi sedikit canggung. Setelah beberapa saat yang mereka berdua lakukan hanya terdiam saja, suasana canggung diantara mereka berdua akhirnya perlahan sirna, dan suasana yang sebenarnya pun kembali terasa seperti sebelumnya. Setelah menghela nafas panjang, Vira pun mulai membuka bicara.


"Baiklah, coba aku lihat dimana kita sekarang ini." Ucap Vira.


Setelah Vira melirik ke segala arah tempat dimana mereka kini berdiri, seketika itu ekspresi cemas pun mulai timbul diwajah Vira. 


"Egi..!?" Ucap Vira.


"Kenapa?" Sahut Egi sambil menatap mata Vira dengan serius, sepertinya Vira akan membentaknya lagi. Begitulah terkaan Egi.


"Kita berada sangat jauh dari tempat pasukan perawatan. Bagaimana ini?" Ucap Vira tidak percaya.


"Kalau begitu tinggal mengikuti arah dari mana kita datang tadi untuk kembali bukan, tenang saja aku bisa mengingat jelas arah yang sudah aku lalui walau hanya pertama kali melewatinya." Sahut Egi yakin.


"Kau ini, tempat kita berada saat ini terlalu jauh. Bukan masalah arah kembalinya. Maksudku itu kita akan kembali melewati jalan tadi dengan berjalan kaki, dan itu sungguh melelahkan." Ujar Vira sedikit merasa culas.

__ADS_1


"Aku bisa menggendongmu lagi." Ucap Egi singkat.


Setelah Egi menuturkan pendapatnya barusan, tiba-tiba sebuah pukulan kecil melekat ke pipinya.


"Sudah aku bilang untuk tidak bertindak seperti itu lagi bukan." Sahut Vira, pipinya kembali memerah setelah mendengar tuturan tersebut.


"Katakan saja, apa kau tidak mau digendong olehku?" Ucap Egi.


"Ahh.. duhh, baiklah. Kita tidak akan kembali melewati jalan yang kau lalui barusan. Karena sudah disini, aku akan menemanimu berkeliling kota ini sedari menuju kembali ke Roliklinis." Sahut Vira, iapun seketika itu langsung memalingkan wajahnya menghindari tatapan langsung mata Egi yang sedikit membuatnya merasa canggung.


Karena usulan tersebut sangat menarik bagi Egi, iapun menyetujuinya. Sepertinya Egi juga tampak ingin tahu banyak hal mengenai kota ini. Kini mereka berdua pun memutuskan untuk berkeliling kota Marabuh. Berbagai hal-hal baru yang belum pernah dilihatnya banyak dijumpai Egi di jalanan kota, pakaiannya, budayanya, orang-orangnya, dan bahkan bangunannya. Semua yang ia lihat sangat beragam dan berbeda dengan apa yang ada di desanya, dan Egi pun terkagum-kagum melihat hal tersebut sepanjang jalan.


"Wah..!! Aku tidak pernah melihat orang-orang berkerumunan sebanyak itu dijalanan sempit seperti ini." Ucap Egi.


"Kelihatannya kamu senang sekali." Sahut Vira juga menikmatinya.


"Tentu saja aku sangat senang, ada begitu banyak hal yang tidak aku ketahui. Seperti tempat ini. Jadi, apa yang mereka lakukan beramai-ramai disatu tempat itu?"


"Itu disebut pasar." Sahut Vira.


"Pasar?"


"Iya.. mereka menjual berbagai macam jenis barang berharga, langka, keramat, dan makanan yang mereka punya. Lalu menggunakan ini sebagai bayarannya." Ucap Vira sambil mengeluarkan sebuah koin perak mengkilap dari dalam sebuah kantong kecil yang ditunjukkannya seketika itu.


"Apa itu?" Tanya Egi.


"Ini dompetku."


"Bukan itu! Tapi, benda bulat yang baru saja kau keluarkan dari dalam situ."


"Haha.. aku hanya sedikit bercanda. Ini adalah koin perak, koin inilah yang menjadi alat tukar untuk mendapatkan barang atau makanan yang kau inginkan dari mereka."


"Hanya dengan benda kecil seperti ini." Ucap Egi tidak sedikit tidak percaya.


"Apa kamu belum pernah melihat atau memiliki koin tukar ini?"


"Tidak, semua orang yang ada di desa tidak memiliki benda itu."


"Heh!? Lalu bagaimana kalian menentukan nilai tukar untuk mendapatkan makanan ataupun barang yang diinginkan."


"Orang-orang di desa akan saling memberi apa yang mereka punya. Makanan, peralatan, bibit, dan kebutuhan lainnya."


"He..!! Seperti itukah yang dilakukan disana. Sepertinya aku juga masih belum mengetahui berbagai hal di dunia ini."


"Vira." 


"Apa?" Sahut Vira.


"Boleh aku meminjamnya, koin itu."


"Tentu, tapi apa kamu sudah mengerti cara menggunakannya?"


"Dari beberapa penjelasan yang kamu bicarakan barusan, begitulah."


"Sepertinya kamu cepat sekali mengertinya. Baiklah, aku akan meminjamkannya."


Setelah meminjam satu koin perak tersebut, Egi pun pergi ke salah satu penjual di pasar itu. Jalanan yang begitu sempit dan dipadati para pengunjung membuat Egi bertumpuk-tumpuk untuk melewatinya, berjalan terus penuh desakan akhirnya ia sampai juga di depan tokoh yang menarik perhatiannya tersebut. Setelah itu Egi kemudian menunjukkan koin tersebut untuk ditukar dengan barang yang ia tunjuk. Namun, penjual itu mengatakan bahwa harga barang tersebut tidak cukup dengan jumlah koin yang Egi bawa.


Akhirnya dengan perasaan sedikit kecewa Egi pun lekas kembali ke tempat Vira yang sedang menantinya. Saat jarak dengan Vira mulai terlihat, Egi tiba-tiba terhenti 5 meter dari posisi Vira berdiri. Egi terlihat terdiam sejenak karena melihat beberapa orang berpakaian hitam sedang mengerumuni Vira, dan seseorang juga tampak sedang memegangi tangannya. Orang-orang itu terlihat memakai pakaian yang sama dengan Vira tapi ada sedikit perbedaan. Saat Egi memerhatikan ekspresi wajah Vira, Egi pun dapat mengetahuinya. Terlihat jelas bahwa Vira merasa tidak nyaman dengan perlakuan mereka. Orang-orang tersebut sudah dipastikan ingin mengganggunya dan Egi pun memutuskan untuk segera menghampiri mereka.


Bersambung….


Note Author : jangan lupa meletakkan beberapa komentar dan pencet tombol Like 👍 dan vote 💓 yah 😁


Sehat selalu buat para reader lalu author2 tamvan dan imut yang telah mampir 🤩😁


Kalau sudah mampir, titip aja pesan di kolom komentar ntar pasti mampir balik deh. 😋


Sampai jumpa 👋

__ADS_1


__ADS_2