Heart Eater

Heart Eater
Sebelas Tebasan Beruntun


__ADS_3

Bab - 12. Sebelas Tebasan Beruntun.


Goncangan hebat yang terjadi di seluruh kota Marabuh tersebut perlahan meredah dan kembali seperti semula lagi. Namun tidak dengan semua kekacauan yang terjadi.


Kelompok lain dari pasukan perawatan akhirnya tiba di tempat Egi dan sangat terkejut melihat kelompok bagian Vira telah dibantai dengan sadis.


"Apa hanya kau yang selamat?" Ucap seseorang dari kelompok itu.


"Ya, lagi-lagi hanya aku yang selamat dari makhluk sialan itu. Kenapa mereka selalu merenggut orang-orang yang berharga didalam hidupku." Ucap Egi dalam dirinya.


"Hei.. aku bertanya kepadamu. Apa hanya kamu yang tersisa." Sahutnya sekali lagi karena Egi tidak menjawab pertanyaannya.


Tanpa menjawab satupun pertanyaan mereka, Egi merebahkan jasad Vira dan berdiri tegak menunjuk ke arah anak kecil yang tergeletak pingsan tidak jauh dari tempat itu.


"Tolong sembuhkan anak kecil itu, sisahnya aku serahkan kepada kalian." Ucap Egi dengan tatapan mata yang gelap.


"A-a.. ya." Balasnya sedikit takut melihat tatapan dari mata Egi tersebut.


Egi berlari meninggalkan tempat itu dengan cepat tidak tahu kemana tujuannya.


Egi dari kecil mempunyai pandangan mata yang sangat tajam dan bagus, kedua bola matanya dapat melihat suatu objek yang bergerak dari jarak kejauhan dengan jelas.


Dengan kemampuan dari bakat tersebut yang masih ia miliki, Egi melompat ke atas atap-atap rumah untuk melihat dari ketinggian. Ia seperti mencoba mencari sesuatu dengan melirik tajam kesana-kemari kearah jalanan.


Setelah menemukan sesuatu itu, ia kembali melompati atap-atap rumah sambil berlari dengan kecepatan penuh menuju kearah pandangan bola matanya itu.


Sangat cepat, Egi berlari di atas atap-atap rumah itu sambil membawa sebilah pedang di punggungnya. Egi pada saat itu memiliki tatapan mata yang gelap, seperti bukan dirinya saja. Ia saat itu sungguh berekspresi begitu dingin. Tidak lagi banyak berkata dan hanya terdiam dan terpaku pada sesuatu yang ada pada pikirannya.


Sedari berlari dengan cepat, Egi tiba-tiba kemudian melompat dari ketinggian atap rumah tersebut ke arah jalanan lalu dengan sigapnya menarik sebilah pedang di punggungnya, dan melayangkan sebuah tebasan pada sesuatu yang ada tepat di hadapannya itu.


Sesuatu yang ada di hadapannya itu tidak lain adalah makhluk chinaku tipe 4 sebelumnya yang membunuh Vira. Tebasan dari sebilah pedang itu melayang dan memotong bersih salah-satu anggota tubuh chinaku tersebut.


Tangan kiri makhluk itu terlihat tergeletak di permukaan tanah. Dibagian yang terpotong itu mengeluarkan banyak darah berwarna hitam pekat yang terbaur dengan darah merah dari manusia.


Chinaku itu mengeluarkan semacam erangan keras, dan perlahan darah yang mengalir di bagian tangan kiri yang terpotong itu berhenti. Seketika itu muncul lengan baru menggantikan bagian dari lengan yang telah terpotong tersebut. Sekarang anggota tubuhnya kembali lengkap seperti semula.


Itu adalah kemampuan penyembuhan dari kelompok Vira yang ia miliki setelah memakan jantung mereka. Kemampuan seseorang yang telah mereka miliki itu akan menjadi puluhan kali lipat hebatnya.


"Kemampuan itu!? Kemampuan penyembuh yang dimiliki Vira. Akhirnya aku menemukanmu! Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini sebelum kau mati." Sahut Egi penuh kebencian melihatnya.

__ADS_1


Setelah lengan besarnya itu sembuh, chinaku tersebut langsung melayangkan pukulan keras kearah Egi. Egi refleks menghindarinya kekiri, pukulan keras lainnya pun melesat kencang, dan Egi pun langsung cepat berpindah kembali ke kanan chinaku itu, lalu menunduk tajam dan langsung menebas bagian pinggangnya.


Karena sayatan itu tidak terlalu dalam, luka di pinggangnya itu dengan mudah disembuhkannya.


Egi melesat kencang menghunuskan pedangnya kembali menghantam bagian dada, kaki, lengan, dan punggungnya. Namun, semua serangan itu terlihat percuma.


Semua luka di bagian tubuh chinaku yang telah Egi sebabkan itu kembali sembuh seperti sedia kala.


"Groaaaaa!" Teriaknya kesal melihat pergerakan Egi.


"Tubuhnya besar dan lumayan keras, ternyata masih dangkal kah. Aku harus lebih cepat dan dalam lagi." Ucap Egi memikirkan sesuatu.


Egi mengambil langkah mundur lalu berbalik arah dan lari berlawanan arah dari posisi chinaku tersebut. Melihat Egi yang lari dari hadapannya itu, iapun mengambil posisi kuda-kuda dan memusatkan seluruh otot besar di kakinya kemudian melangkah dengan sangat kencang dari belakang Egi.


Dengan kecekatan otot-otot dikakinya itu, ia bisa mengejar Egi dalam kurun waktu 3 detik.


Dengan penglihatan tajam yang dimilikinya, Egi bisa melihat jelas satu pijakan langkah kaki berat dalam kecepatan itu. "Ia terpancing" seperti yang Egi pikirkan. Lalu kemudian dengan tajam Egi kembali berbalik arah lagi dan melesat kencang kearah chinaku itu. Egi berlari sangat cepat sekali kemudian mengayunkan sebilah pedang itu sekuat tenaga kearahnya.


Dalam waktu 2 detik mereka berdua saling beradu arah dan akan segera bertubrukan dengan kecepatan yang sama.


Dalam sekejap mata hal tersebut berlangsung begitu singkat. Terlihat Egi masih berdiri kokoh di belakangnya sambil memegangi sebilah pedang di genggamannya. Dari atas langit terlihat jatuh sesuatu berbentuk seperti bola karet dan kemudian menghantam permukaan tanah. Tubuh chinaku tersebut seketika itu kemudian roboh, yang jatuh tersebut bukanlah sebuah bola karet melainkan adalah kepala dari chinaku tersebut yang telah di tebas Egi.


Egi berjalan mendekati tubuh chinaku tersebut kemudian tiba-tiba ia refleks melompat ke belakang untuk menghindari sesuatu. Egi terkejut melihat tubuhnya kembali berdiri tegak lurus lagi dan menghadap kearahnya.


Tubuh chinaku itu memungut kembali kepala yang tergeletak itu dan memasangkan ke lehernya. Perlahan kepala yang telah terpisah dari lehernya itu kembali menyatu dengan raganya.


"Grrrrr"


Terdengar lantang erangan chinaku itu yang ingin membalas Egi puluhan kali lipat.


Sekejap sebuah pukulan melesat di hadapan Egi. Egi yang bisa melihat dengan jelas kecepatan serangan itu, tidak sempat menghindar dan menangkisnya dengan kedua tangan yang menyilang di bagian dadanya.


Karena serangan dari chinaku itu yang unggul akan kekuatan EL, Egi tidak bisa menangkisnya dengan sempurna dan terhempas oleh serangan tersebut.


Disekujur bagian lengan chinaku tersebut, terlihat EL angin membaluti lengan besarnya itu. Karena tambahan dari EL angin itu, kecepatan serangan chinaku itu bertambah 2 kali lipat dari sebelumnya.


Sepertinya Egi tidak bisa bertahan lama menghadapi chinaku tipe 4 yang sekarang itu. Ia lebih kuat dari Egi dan bahkan sekarang lebih kuat lagi.


Tidak lama lagi kematian akan segera menjemput Egi.

__ADS_1


..


..


Ditempat kediaman Datuak.


Rikki yang sedang bergerak menuju kearah kediaman Datuak sudah terlihat berdiri di depan pintu masuk halaman kediaman Datuak.


Ia berteriak kencang memanggil nama Raji sambil menerobos masuk menuju ke halaman tersebut. Namun penghalang yang telah di buat oleh Raji membuat Rikki tidak bisa menerobosnya, dan setiap mencoba menerobosnya malah terpental ke belakang berkali-kali.


Ia memanggil nama Datuak dengan sebutan pak tua berkali-kali, namun pak tua yang tergeletak bersimbah darah itu tidak mengeluarkan jawabannya. Rawut wajah Rikki tersebut kemudian berubah menjadi rawut akan memburu.


EL api bergejolak sangat dahsyat menyelimuti seluruh tubuhnya Rikki, hingga panasnya terasa sampai kedalaman penghalang tersebut.


Tekanan EL api yang menyelimuti Rikki tersebut perlahan memudar dan hanya menyisakan kobaran api yang membakar lengan, kaki, dan leher Rikki. Rikki saat itu telah bertransformasi menjadi mode setengah serigala berbulu api.


"Wah-wah, kalau aku sampai terkena satu luka saja dari cakarannya itu bisa gawat. Kemukinan buruknya kondisiku untuk pulih kembali sangat lama." Ucap Raji berdiri santai memandangi amukan Rikki tersebut.


Rikki mencengkeram erat dinding penghalang itu sehingga menimbulkan beberapa retakan disekitar dinding penghalang itu.


"Xerces" sahut Raji.


Penghalang tersebut kemudian bertambah banyak hingga ke arah Raji.


"Zoetrop" ucap Rikki lantang.


Sekejap ayunan cengkraman yang bergejolak api melesat kearah dinding penghalang tersebut dengan bertubi-tubi. Satu lapisan penghalang itu hancur seketika, begitupun dengan penghalang selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya.


Tch, gerakan cepat dan daya kekuatan dari cengkeraman itu sekarang benar-benar luar biasa. Satu ayunan cengkraman tangan itu bagaikan sebelas tebasan beruntun pedang keramat saja. Itu telah membuktikan bahwa penghalang Xerces tidak bisa apa-apa. Ternyata kau sudah bisa menguasai tahap mode teknik itu, aku tidak menyangka bahwa kau sudah semakin bertambah kuat. "Ikki." Tapi sayang sekali, aku tidak bisa bermain denganmu hari ini. Semoga kita bisa bertemu dikesempatan berikutnya. "Tentu dengan saling membunuh."


Raji membuat sebuah tulisan di atas permukaan tanah dengan tinta dari darah Datuak yang berceceran.


"Serosis" ucap Raji dalam hatinya.


Sebuah tanaman yang aneh dan begitu besar muncul dari dalam permukaan tanah tersebut. Raji perlahan masuk ke dalam batang tanaman tersebut kemudian menghilang.


"Raji..!" Sahut Rikki yang telah berhasil menghancurkan seluruh lapisan penghalang tersebut dan berdiri di samping jasad Datuak.


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2