
Bab - 13. Satu Lawan Satu Di Titik Darah Penghabisan.
Rasa sakit disekujur tubuh sudah tidak tertahankan lagi. Satu pukulan keras itu mengakhiri semua pergerakan Egi, sekarang ia tidak bisa bergerak sedikitpun dari tempat dia terbaring.
Chinaku itu berjalan mendekati Egi dengan tatapan haus darah, disekeliling area makhluk itu saat berjalan diselimuti angin kencang sampai menghempaskan puing-puing bangunan disekitarnya.
Hembusan angin tersebut terasa sangat menyeramkan. Pandangan mata Egi terlihat sudah sayup-sayup, ia kemudian melemaskan tubuhnya dan menerima akhir dari hidupnya tersebut.
Egi perlahan memejamkan matanya dan menunggu kedatangan chinaku itu untuk menghabisi nyawanya. Seketika itu pikiran Egi mulai sangat kosong, ia tidak pernah merasakan sensasi senyaman itu sejak dirinya meninggalkan desa.
Egi perlahan larut dalam kekosongan tersebut, Egi perlahan, perlahan, perlahan, dan perlahan terhanyut ke dasar ruang hampa didalam dirinya.
Sesaat muncul suara bisikan orang-orang dan membuat mata Egi kembali terbuka lebar memandang Chinaku yang tidak beberapa meter berjalan kearahnya.
Suara bisikan tersebut membuat semua gambaran kenangannya terlihat jelas, semua kenangan dan perkataa orang-orang di desa kembali terngiang-ngiang di dalam dirinya.
Bisikan yang mengatakan kepada Egi untuk tetap hidup, adalah kata-kata yang membuat dirinya bangkit kembali. Kata-kata itu juga Egi dengar dari Vira didalam dirinya.
Egi perlahan bangkit dari tempat tidurnya itu yang penuh luka di setiap bagian tubuhnya. Suara derik dari tulang-tulang yang patah terdengar dari dalam tubuhnya.
Egi memejamkan matanya sambil memegangi erat sebilah pedang di tangan kanannya kemudian terlihat menunggu sesuatu.
Chinaku yang melihat Egi kembali berdiri tegak dari serangan kuatnya itu mengeluarkan erangan keras. Dari mula berjalan perlahan menuju kearah Egi, menjadi berlari sekuat tenaga kearahnya.
Gelombang udara membuat angin berhembus dengan dahsyat dan menghempaskan apapun saat chinaku tersebut berlari penuh nafsu ingin membunuh Egi.
Satu detik serangan itu akan menghancurkan tubuh Egi berkeping-keping.
Gambaran dari teknik yang ayahnya pernah tunjukkan kepada Egi terlihat jelas dipikirannya dan mulai memudar sampai ke gambaran wajah Vira di dalam dirinya.
Egi sekejap membuka matanya, terlihat dikedua bola matanya itu menyala terang warna merah darah. Egi kemudian dengan cepat melayangkan sebuah tebasan pedang di genggaman tangan kanannya itu.
..
Angin kencang yang berhembus di sekitar area tersebut tiba-tiba menghilang. Chinaku itu mundur beberapa langkah sambil memegangi dadanya dengan kedua tangannya.
Chinaku tersebut sesaat menunjukkan rawut wajah yang terlihat seperti tercekik lalu kemudian bertekuk lutut di hadapan Egi.
Setelah itu tiba-tiba tubuh chinaku tersebut roboh menghantam permukaan tanah dan terlihat sudah tidak tampak bergerak lagi.
Selang beberapa detik chinaku tersebut roboh, perlahan warna merah darah dalam bola matanya Egi tersebut hilang bersamaan dengan pingsannya Egi di tempat itu.
__ADS_1
..
..
Sebongkah batu es besar muncul dari langit kemudian menghantam permukaan tanah disekitar tempat itu. Dengan mudahnya, chinaku tipe 4 yang menerima serangan tersebut menahan batu es besar itu dengan kedua tangannya.
Sesaat batu es besar itu masih tertahan, Nando dengan cepat melesat kencang kebelakang chinaku tipe 4 itu sambil mengayunkan dua pedang di genggamannya.
Setelah serangan itu dilakukan, kedua tangan chinaku tipe 4 yang memegangi batu es besar tersebut langsung putus, dalam sekejap batu es besar itu kemudian menghantam tubuhnya hingga rata dengan permukaan tanah.
"Ok.. bagian sini sudah kita selesaikan semua capten."
"Heh, aku tidak menyangka makhluk tipe 4 ini begitu mudahnya dikalahkan." Ucap Nando.
Hmm.. aku tidak percaya chinaku ini memiliki kemampuan EL penguat daya kekuatan fisik seperti milik kelompok Agung. "Apa kelompoknya telah dikalahkan?" Tidak, tipe 4 ini tidak lebih kuat dari mereka. Kemukinan mereka menghadapi lawan yang terlalu kuat.
Seperti yang diperkirakan oleh Erdin, bagian kelompok Agung berhadapan dengan pemimpin chinaku tersebut.
Beberapa anggota bagian dari kelompok Agung atau bisa dikenal sebagai kelompok pasukan khusus dari tim Badak Hutan, telah banyak berguguran akibat serangan dari beberapa chinaku tipe 4 tersebut.
"Grrrrr.. tuanku, ritualnya sudah selesai. Raji telah pergi, selanjutnya kita juga harus beranjak keluar dari dalam tempat ini."
Agung yang terlihat babak-belur karena beberapa kali menerima serangan dari chinaku tersebut, tidak mau membiarkan satupun dari mereka beranjak dari tempat mereka berpijak.
Sebuah kilat cahaya menghantam permukaan tanah tepat di tengah-tengah para pasukan Badak Hutan tersebut berdiri.
"Xerces" ucap seseorang
Sekejap penghalang muncul mengelilingi sekitar area tempat para pasukan khusus tersebut.
Halilintar yang menyambar di tengah-tengah mereka itu tidak berdampak apa-apa terhadap penghalang tersebut.
Seseorang terlihat melangkah dari arah belakang mereka. Dengan janggut yang sedikit tebal di dagunya, wajah itu terlihat tidak asing lagi bagi mereka.
"Komandan Amba."
"Komandan.."
"Tuan Amba."
"Ya ampun.. sampai-sampai membuat capten tim dari pasukanku terlihat sangat kotor begini, ternyata kau bukanlah makhluk jijik yang biasa."
__ADS_1
"Komandan.. chinaku yang berkepala **** berbulu domba itu adalah pimpinannya, dan ia memiliki dua warna."
"Sesosok pimpinan dan juga memiliki dua warna. Cuaca telah berpihak kepada nelayan rupanya, ini adalah tangkapan yang besar." Sahut Komandan Amba.
..
"Manusia!! Kau akan segera mati oleh rajaku-"
Belum selesai berkata, sebuah tepukan tangan raksasa dari tanah menghantam tubuhnya dan langsung hancur seperti menepuk seekor lalat.
"Siapa yang mengizinkan dirimu berbicara di hadapanku.! Dasar makhluk hina." Ucap komandan Amba.
Setelah merasakan tekanan EL yang dikeluarkan Komandan Amba, tatapan takut mulai menyelimuti seluruh chinaku tipe 4 yang ada di sekitar tempat tersebut. Pimpinan chinaku itu terlihat tidak bisa melakukan pergerakan sedikitpun. Ia tidak mau melakukan tindakan yang akan membunuhnya kapan saja.
"Grrrr.. rajaku, dia sangat berbahaya. Anda harus segera pergi dari tempat ini." Ucap chinaku tipe 4 berbadan kodok dan disekujur tubuhnya penuh dengan duri tajam.
Seluruh chinaku yang ada bersama pimpinan mereka tersebut membuat sebuah barisan didepan raja mereka itu.
Komandan Amba menyadari apa yang akan mereka rencanakan, kemudian dengan cepat ia menjatuhkan tamparan sebuah batu berbentuk tangan manusia kearah mereka.
Sekejap semua chinaku tersebut remuk dihadapan Komandan Amba. Tetapi sang pemimpin terlihat telah selesai merapal sebuah mantra.
"Serosis" ucap sang pemimpin chinaku tersebut.
Iapun segera kabur dari tempat tersebut namun, sebuah genggaman tangan dari dalam tanah muncul dan mencengkeram erat tangan kiri pimpinan chinaku itu.
Sang pimpinan itu tanpa ragu membuang waktu sedetikpun, ia langsung memutuskan lengan kirinya tersebut, lalu kemudian perlahan menghilang tertelan kedalam batang tanaman besar yang telah ia panggil.
Pimpinan dari rombongan chinaku yang menyerang wilayah barat kota Marabuh, saat itu telah berhasil melarikan diri dari dalam kota Marabuh.
..
Disuatu tempat nan jauh dari wilayah Selatan kota Marabuh, sang pimpinan chinaku yang melarikan diri itu tiba-tiba muncul keluar dari salah satu batang pohon dalam hutan. Dilihat dari rimbunnya pepohonan di tempat itu, wilayah tersebut adalah bagian perbatasan antara wilayah Selatan dengan wilayah Barat.
Terlihat darah bercucuran keluar dari lengan besarnya itu, chinaku tersebut kemudian memegangi erat bekas luka tersebut dengan satu lengan yang masih utuh. Setelah itu ia berjalan kedalam hutan rimbun tersebut dan perlahan tidak tampak lagi.
Bersambung….
Note Author : mohon bantuannya teman-teman semua, kalau ada penulisan dan penggambaran soal karakter yang salah. Mohon kritikan dan sarannya agar dapat mendukung author. Ok terimakasih.
Jangan lupa pencet tombol like 👍 dan vote 💓 yah. Sampai jumpa 👋
__ADS_1