
Bab - 27. Tantangan Penjaga.
Egi berhasil keluar dari ruang tak kasat mata tersebut dan juga menangkap bola cahaya tersebut dalam genggamannya. Dengan rawut wajah yang sedikit gembira, Egi kemudian melepas lega dengan berbaring sejenak. Beberapa kali bola cahaya tersebut mencoba untuk melepaskan diri, namun karena genggaman Egi begitu kuat itu tidak akan mudah untuknya.
"Lepaskan aku..!! Dasar manusia kasar, beraninya kau menyentuhku dengan tangan baumu. Aku tidak akan pernah memaafkannya-"
Egi pun tanpa bimbang sedikitpun, saat itu juga langsung membuka genggamannya dan bola cahaya tersebut akhirnya terlepas.
"Hahh.. itu sangat menyenangkan sekali. Aku tidak menyangka bahwa aku berhasil menang."
"Menang!? Aku belum kalah! Sekarang ini juga kau akan kuremukkan dan menjadikannya makanan hewan-"
Tidak terima karena merasa seperti dipermainkan, bola cahaya itu terus mengoceh ingin meremukkan Egi. Hingga sejenak tiba-tiba saja terdiam ketika melihat Egi hanya terbaring diam dengan ekspresi senang di wajahnya. Akhirnya untuk beberapa saat bola cahaya tersebut bisa diam. Seketika itu Egi mulai membuka bicara dengan mengucapkan terimakasih kepada bola cahaya itu, bola cahaya itupun langsung menanggapi ucapan Egi dengan balasan angkuh.
"Hm! Terimakasih? Apa yang kamu bicarakan, itu tidak akan bisa menyelamatkan dirimu dari maut yang ada didepanmu ini."
"Tidak-tidak.. maksudku aku mengucapkan terimakasih untuk waktu yang sebelumnya. Aku sekarang akhirnya tahu bahwa kaulah yang telah menyelamatkanku sebelumnya bukan."
"Aku tidak menyelamatkan siapapun, aku ini ada bukan untuk menjadi juru selamat. Waktu itu ya.. ah aku ingat sekarang, waktu itu kau sungguh benar-benar akan menemui ajal. Aku ingat betapa senangnya rasanya melihat ekspresi wajah manusia yang akan segera mati, haha.. itu sangat menyenangkan sekali. Tapi aku merasa sedikit kesal karena bukan aku yang menjadi pencabut sukma mu. Jadi aku hanya menendang dirimu keluar dari dalam sini karena semakin lama aku pandangi aku jadi merasa sangat jijik." Ujar bola cahaya tersebut.
"Aku mengerti, tapi aku ingin mengucapkan terimakasih. Jika bukan karena itu mungkin aku tidak akan bisa bertemu denganmu."
"Kau ini tidak mengerti!! Apa-apaan dengan manusia ini, berbeda sekali dengan dengan orang jelek itu."
"Orang jelek itu!? Orang jelek itu apa dia memiliki tubuh yang besar, berpakaian hitam yang sangat kusam, dan apakah dia juga memiliki jenggot runcing? Hei! Kasih tahu aku, apa dia ada didalam sana? Hei, tolong kasih tahu aku."
"Aaa..!! Wuoah!? Jangan asal pegang aku!"
"Ah? Maaf."
"Baiklah akan aku kasih tahu tentang orang jelek tersebut. Dengar, manusia seperti kalian sekarang baik seperti ini dan seperti itu sama saja. Kalian tidak akan pernah bisa menjadi seperti dia. Semejak kedatangan si jelek itu, Aijalul Gaib' dunia kami yang sangat sakral sekarang menjadi tidak sakral lagi. Dulu dia kemari hanya meminta untuk berlatih, selanjutnya ini, selanjutnya itu kemudian ini, dan sekarang tempat sakral kami menjadi tempat tidur orang jelek sialan itu. Dia seenaknya tinggal di sana lalu minta diberi makan dan minum. Apa dia pikir itu gratis! Ah.. memuakkan."
__ADS_1
Sedikit mengerti dengan apa yang terjadi selama galena ada di dalam sana, Egi juga merasakan hal yang sama dengan bola cahaya itu. Betapa meropotkannya menjadi pengurus si jenggot runcing itu. Egi perlahan bangkit dan berjalan menuju kearah dua kerangka burung Garuda itu, sejenak Egi memikirkan bahwa galena benar-benar sedang menunggunya di sana. Dirinya tidak boleh berhenti dan harus terus maju, jika tidak orang yang akan menunggu dan menjulurkan tangannya tidak bisa terus-terusan melirik kearahnya. Egi akhirnya semakin membulatkan tekadnya untuk segera menuju ke tempat itu. Ia harus bergerak maju, itulah makna yang diucapkan oleh galena waktu itu. "Jika kau tidak sanggup maka pulanglah." Egi akhirnya jadi bersemangat dan berterimakasih kepada galena dari lubuk hatinya yang paling dalam. Kemudian tiba-tiba saja ia berteriak sekeras mungkin di dalam goa itu hingga membuat bola cahaya tadi jadi sedikit terkejut.
"Mana mungkin aku bisa pulang..!!! Aku belum bisa pulang sebelum menjadi kuat dan mengalahkan semua siluman di dunia ini." Teriaknya lantang.
"Ahh..!! Kenapa kau berteriak seperti itu, apa kamu tuli?"
"Hei? Bola cahaya, apa aku juga boleh memasuki dunia sakral tersebut."
"Hah..!? Aku bukan bola cahaya, Linda. Namaku Linda, terlebih apa kau berniat untuk bunuh diri lagi. Sebelumnya kau merasakannya sendiri bukan, bahwa dirimu tidak akan sanggup untuk melewati batas penghalang itu. Percuma saja-"
"Untuk sekarang!!! Untuk sekarang ijinkan aku mencobanya lagi. Waktu itu aku memang tidak tahu apa-apa, baik dunia sakral Aijalul Gaib' dan dunia ini. Aku tidak tahu apa-apa, tidak. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa. Tapi! Aku sedikit mulai memahaminya. Karena itu, aku mohon! Izinkan aku mencoba untuk memasuki dunia sakral." Pinta Egi segenap hati.
Linda pun tidak tahu harus menanggapinya bagaimana lagi. Untuk menghentikannya, sepertinya sudah tidak bisa. Terlihat dari kedua tatapan matanya, Egi sangat serius dengan keputusannya tersebut. Pada akhirnya Linda mengizinkan Egi untuk mencobanya lagi.
"Terserah lah kalau kamu berniat untuk cari mati lagi. Akan tetapi! Ah, sudahlah."
"Hm.. aku mengerti. Tapi kali ini, aku merasa sepertinya bisa melakukannya."
"Kenapa..!? Apa aku terlihat mempesona sehingga kau sangat terkejut melihatnya. Haha.. tentu saja bukan, haha-"
"Teknik apa itu!? Apa kamu juga seorang manusia, apa itu teknik berubah? Bagaimana caranya? Bisakah kamu menceritakannya. Ajari aku!"
"Ahh…!! Berisik sekali, kau ini sangat suka sekali banyak bicara. Dengar, jangan terlalu senang dulu walau kau sudah sedikit lebih kuat dari sebelumnya. Saat ini kondisi tubuhmu memang terlihat mulai terbiasa dengan tekanan Energi yang dihasilkan dari dalam duniaku. Tidak tahu akan bertahan berapa lama daya tahan tubuhmu itu, tapi. Akan tetapi rintangan yang sebenarnya bukanlah ini, kau tidak akan tahu betapa susahnya jika sudah berhadapan dengannya."
"Dengannya??"
Linda yang menyerupai sesosok gadis manusia tersebut tiba-tiba melayang kearah Egi dan merangkul pundaknya. Linda memegangi erat pundak Egi sambil bergantungan dan menyandarkan tubuhnya dibelakang punggung Egi.
"Hm… Linda?"
"Sudahlah jangan banyak tanya, cepatlah jalan. Kau tidak ingin si jelek itu menunggumu terlalu lama bukan."
__ADS_1
Setelah mendengar sebutan si jelek tersebut, Egi pun seketika bergerak maju dengan berlari kencang menelusuri kedalam lorong goa itu.
"Linda.. kenapa kamu bersembunyi dibalik pundakku? Dengan melihat langsung ekspresi wajahmu dari jarak sedekat ini, aku sangat yakin bahwa kamu kini sedang khawatir. Kenapa?"
"Hah! kau pikir aku terlihat begitu?"
"Hm.. benar. Sebelumya kamu terlihat sangat rupawan, dari rawut wajah indah seperti itu tentu saja siapapun dapat dengan mudah untuk menebaknya."
"I-indah..!?
Linda yang berukuran 3,45 sentimeter itu tengah menyembunyikan dirinya dibelakang pundak Egi. Linda terlihat begitu khawatir dengan sosok yang tersirat sebelumnya.
"Linda.. jadi kenapa? Kenapa kamu kini terlihat sangat khawatir, apa ada hubungannya dengan dia yang kamu bicarakan tadi?" Ucap Egi.
"Aku memang sedikit terkejut dengan perkembangan pesat dalam dirimu. Tapi, dengarkan ini baik-baik. Jika tidak bisa mengatasi si kakek tua itu, ini akan menjadi masalah besar bagimu. Dia sangat kuat dan ada dimana-mana dalam lorong ini, aku pun tak tahu dan bisa menebak dimana dan kapanpun si kakek tua itu muncul. Dia adalah penjaga utama batas penghalang antara dunia manusia dan dunia Aijalul gaib'. Dengar.. si kakek tua itu suka sekali memberi tantangan, apapun yang dia-"
Sekejap, area tempat Egi berpijak dan seluruh bagian lorong goa itu tiba-tiba berubah. Ditandai dengan hilangnya Linda seketika itu, kini tempat dimana Egi berada sudah tidak lagi ada didalam lorong goa nan besar itu. Sesaat itu dalam sekejap mata, Egi dibawah ke suatu tempat yang tidak diketahui. Tempat tersebut tidak dapat diperkirakan ada di alam manusia atau alam dunia sakral. Tempat tersebut hanya terlihat seperti sebuah hutan berkabut yang mempunyai ujung pendek. Tetapi setelah sampai ke ujung hutan itu, tidak ada apa-apa lagi. Baik ujung di selatan, barat, timur, dan utara. Tidak ada apapun selain jurang besar yang mengililingi hutan tersebut.
"Linda…!!! Linda! Kamu ada dimana?" Teriak Egi mencoba untuk mencari keberadaan Linda.
Setelah beberapa saat kemudian, Egi tidak berhasil menemukan Linda dimapun. Seketika itu juga dihadapan Egi tiba-tiba muncul sesosok makhluk raksasa yang tak berwujud. Sambil mengeluarkan tawanya yang lantang, sosok hitam yang diselimuti banyak kabut itu mulai bicara.
"Hahaha…!!! Laki-laki kah atau, Perempuan kah?" Ucapnya.
Bersambung….
Note Author : jangan lupa meletakkan beberapa komentar dan pencet tombol Like 👍 dan vote 💓 yah 😁
Sehat selalu buat para reader lalu author2 tamvan dan imut yang telah mampir 🤩😁
Kalau sudah mampir, titip aja pesan di kolom komentar ntar pasti mampir balik deh. 😋
__ADS_1
Sampai jumpa 👋