Heart Eater

Heart Eater
Upacara Pemakaman Raja


__ADS_3

Bab - 14. Upacara Pemakaman Raja.


Paparan emas dari kilauan matahari yang terbit dari arah Timur membuat seisi kota Marabuh terlihat terang. Pertempuran yang berkecamuk di dalam kota Marabuh berlangsung selama satu malam, akhirnya berakhir.


Setelah matahari pagi menunjukkan cahayanya, pertempuran dengan makhluk chinaku tersebut akhirnya berakhir duka dengan kematian sang pemimpin kota Marabuh.


Banyak orang-orang dan anggota pasukan khusus yang gugur dalam penyerangan terhadap kota Marabuh malam itu. Isak tangis pun sudah tak terbendung dari orang-orang yang melihat jasad dari keluarga, teman, dan kerabat mereka yang telah meninggal setelah penyerangan tersebut.


Dalam satu malam keadaan wilayah bagian barat kota Marabuh terlihat begitu parah. Karena area bagian barat kota tersebut telah menjadi medan pertarungan sengit antara gerombolan chinaku tipe 4 dengan para pasukan khusus.


Terlihat jelas bagian area barat kota itu mengalami kerusakan yang amat besar. 


Depan pintu gerbang kota Marabuh terlihat pemandangan yang amat mengerikan pagi itu. Jumlah rombongan chinaku yang lebih dari 500 tipe 2 saat menyerbu masuk dari depan gerbang, tidak ada satupun yang berhasil masuk. 500 lebih rombongan chinaku tersebut berakhir sadis dengan anggota tubuh yang tidak lengkap.


..


..


Gerbang basar yang tertutup rapat perlahan terbuka. Setelah melakukan beberapa persiapan, orang-orang kota Marabuh akan mengebumikan para orang-orang yang telah gugur, termasuk sang Datuak (pemimpin kota Marabuh)


Berjarak 300 meter ke Utara diluar kota Marabuh, terdapat tanah pemakaman tempat peristirahatan terakhir orang-orang dari kota Marabuh yang telah meninggal.


Sinar matahari waktu itu perlahan terlihat memudar. Awan hitam mulai berkumpul dan terlihat merata di seluruh langit sejauh mata memandang.


Tidak ada sinar matahari lagi, semuanya sudah tertutup awan gelap.


Rintik-rintik air hujan pun mulai turun membasahi seluruh area pemakaman tersebut. Keadaan suasana di sekitar pemakaman terlihat sangat memilukan disertai tangis yang sedu saat sang Datuak dimasukkan kedalam liang lahad.


Orang yang paling bersedih atas kepergian sang Datuak Parpatih adalah Rikki. Rikki mengeluarkan tangisan yang begitu pilu di hadapan makam Datuak.


Datuak Parpatih adalah sosok seorang ayah bagi Rikki. Rikki bukanlah anak kandung Parpatih, Datuak Parpatih mengadopsi Rikki saat berumur 8 tahun ketika tragedi senja menimpa kedua orang tua aslinya.


Saat tragedi itu hampir membunuhnya, Rikki diselamatkan oleh Datuak Parpatih. Karena tidak memiliki tempat tinggal dan siapa-siapa lagi, Datuak Parpatih kemudian mengangkatnya sebagai anak.


..


..

__ADS_1


Empat hari telah berlalu dengan cepat. Berkat kerja sama dan saling bergotong royong, melakukan perbaikan dan peningkatan pada area barat kota Marabuh berjalan cepat dan lancar.


Empat hari Egi tertidur pulas di dalam ruangan milik pasukan khusus perawatan. Luka ditubuh Egi perlahan sembuh seiring waktu berjalan. Berkat bantuan dari komandan Sinta, kondisi tubuh Egi kembali seperti sedia kala.


Namun, Empat hari ini Egi belum membuka matanya. Itu membuat seluruh orang-orang di pasukan khusus perawatan mengkerutkan keningnya dan binggung melihat keadaan Egi tersebut.


Egi terlihat terbaring sambil menggenggam erat sebilah pedang di tangannya. Komandan Sinta dan para tetua ahli pengobatan tidak tahu penyebab kenapa Egi masih belum sadarkan diri. Padahal kondisi tubuhnya Egi telah pulih sepenuhnya.


Saat Sinta beranjak pergi setelah melihat keadaan Egi yang masih belum sadar, sesuatu terjadi di dalam ruangan tersebut dan hal itu sangat mengejutkan Sinta.


Genangan air tiba-tiba muncul di ruangan itu. Dalam sekejap mata, ruangan tersebut dipenuhi oleh air yang membanjiri seluruh ruangan tersebut. Semua yang ada dalam ruangan itu terlihat tenggelam ke dalam dasar air itu, termasuk Sinta.


Rasa sesak karena tidak bisa bernafas dan tidak bisa keluar dari sana membuat Sinta hampir kehilangan kesadarannya.


Ketika batas sudah mencapai akhirnya. Perlahan warna mata Sinta terlihat memudar. Seketika itu, seluruh air yang memenuhi ruangan tersebut mendadak hilang tanpa ada setetes pun yang tertinggal.


Sinta kemudian bertekuk lutut karena lemas, ia terlihat lega karena dapat menghirup udara bebas lagi. Namun, hal itu masih belum membuat dirinya tenang setelah melihat sekelilingnya.


Sinta yang berada di dalam ruangan tersebut bertukar tempat ke suatu tempat diatas tebing tinggi nan begitu curam. Tidak ada dinding, pintu, maupun barang-barang yang ada di dalam ruangan sebelumnya yang terlihat saat itu.


Didepan mata Sinta terlihat hanya paparan pemandangan luas yang terbentang.


Terlihat di bawah dasar tebing itu penuh dengan lahar gunung berapi.


Perlahan tebing batu tempat Sinta berpijak runtuh sampai tak tersisa, seketika itu Sinta langsung terjatuh kedalam dasar jurang tersebut. Sinta mencoba menggunakan kekuatannya namun, kemampuan EL Sinta tidak bisa digunakan (tidak aktif).


Setelah tubuhnya menghantam kawah gunung berapi, Sinta seperantak kaget dan melihat sekelilingnya sudah kembali normal.


Rawut wajah Sinta sangat tegang setelah merasakan sensasi aneh barusan. Ia bertanya-tanya, "sebenarnya apa barusan itu? Apa sebenarnya yang terjadi? Apa itu hanya ilusi?"


Walau itu hanya ilusi belaka, Sinta merasakannya seperti nyata. Ia kembali berdiri tegak dan memandangi wajah Egi, terlihat disekujur tubuh Egi muncul aliran EL yang belum pernah Sinta lihat selama hidupnya." Apa sebenarnya anak ini?" Ucap Sinta sedikit takut melihat aliran EL yang menyelimuti Egi saat itu.


Sekejap mata aliran EL yang menyelimuti seluruh tubuh Egi menghilang. Sinta kemudian memeriksa kembali kondisi tubuh Egi, terlihat tidak terjadi apa-apa terhadap tubuhnya Egi saat itu. "Sebenarnya apa itu? Aliran EL? Itu tidak terlihat seperti aliran EL." Ucap Sinta yang tidak menemukan jawabannya.


..


Seminggu telah berlalu, hari-hari damai akhirnya kembali menyelimuti seluruh wilayah Selatan. Kerusakan area barat kota telah selesai diperbaiki, dinding yang hancur lebur saat itu sudah kembali kokoh seperti sedia kala bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

__ADS_1


Egi yang terlelap dalam tidur panjangnya selama ini, akhirnya membukakan kedua matanya.


"Huoaaaa…!!" Ucap Egi terbangun dari tidurnya.


Egi memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing karena tidur panjangnya itu. Perlahan Egi melirik sekeliling tempat dia terbaring dan mencoba berjalan menuju keluar.


Berjalan sambil ditopang oleh sebilah pedang yang membantunya untuk berjalan, Egi berhasil melangkah kearah pintu keluar ruangan tersebut.


Hampir pintu keluar tersebut terbuka Egi tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Seketika Egi hampir jatuh, seseorang dengan sigap memegangi kedua pundak Egi untuk menahannya.


"Akhirnya kamu terbangun juga dari mimpi indahmu itu. Egi.." Ucap Sinta sambil menopang tubuh Egi di pangkuan lembutnya.


"Komandan Sinta!? Makhluk itu, makhluk-" ucap Egi terbata-bata.


"Haa.. tidak apa-apa, sekarang sudah tidak apa-apa. Perangnya sudah berakhir." Sahut Sinta.


Setelah itu Sinta melirik ke wajahnya Egi, terlihat di tatapan kedua matanya sangat gelap. Sinta kemudian mengatakan beberapa kata kepadanya untuk tidak menanggung beban yang ia pikul sendirian, cobalah berbagi sedikit dengan diri Sinta.


Egi lalu menyandarkan kepalanya di pangkuannya Sinta itu, dan kemudian melepaskan tangisannya yang seperti bayi sambil menyebut nama Vira berulang kali dalam dekapan hangat Sinta.


"Maafkan aku.. Vira,Vira.. aku tidak bisa menyelamatkannya." Ucap Egi menangis tersedu-sedu.


"Itu bukan kesalahan dirimu. Semua adalah kesalahan diriku yang lemah ini. Kamu tidak perlu merasa bersalah atas kematiannya. Itu semua adalah tanggung jawabku." Sahut Sinta.


..


Seketika itu terdengar suara gemuruh kecil. Suara gemuruh itu berasal dari dalam perutnya Egi. Karena selama tidurnya yang panjang itu, Egi belum memakan sesuatu untuk mengisi perutnya yang kosong itu.


"Walah walah.. sepertinya perutmu ingin mengatakan sesuatu. Egi.." Ucap Sinta mencoba membuat sebuah lelucon.


Rawut wajah Egi kemudian memerah karena sedikit merasa malu, sebab perutnya mengeluarkan suara aneh, ditambah ia menangis seperti bayi dalam pelukan hangat komandan Sinta.


Bersambung….


Note Author : Nando yang mengatakan bahwa chinaku tipe 4 begitu mudah untuk dikalahkan membuatku geli 😅 Egi aja one by one ditambah musuhnya tersebut memiliki regenerasi cepat tidak beranggapan begitu 😁


Teman-teman semua 🖐️tolong berikanlah sebuah masukan atau kritikan baik pedas maupun manis untuk mendukung author supaya penulisan alur ceritanya makin menarik 😅

__ADS_1


Ok terimakasih.


Jangan lupa untuk pencet tombol like 👍 dan vote 💓 ya.. sampai jumpa 👋


__ADS_2