
Bab - 20. Push Up 1000.
Berkisar 1 hari perjalanan, diarah barat kota Marabuh yang masih dibawah kekuasaan wilayah Selatan. Ada sebuah kota yang tidak terlalu besar.
Kota ini dibangun oleh orang-orang tepat dibawah kaki gunung. Terletak cukup jauh dari kota Marabuh, kota itu masih tetap mendapatkan pengawasan dan perlindungan dari kota Marabuh.
Kota ini bernama Rerao Cupak.
Kota Rerao mayoritas penduduknya adalah seorang petani.
Wilayah penghasil banyak bahan pangan ini dipimpin oleh seorang tuan besar (orang kaya).
Bahan-bahan pangan di kota Marabuh sebagian besar berasal dari kota Rerao Cupak ini, bisa dibilang kota Rerao adalah pusat jalur perdagangan wilayah Selatan.
Tanah yang subur seluas ratusan kilometer dibawah kaki gunung itu, didirikanlah sebuah kota kecil dan dijadikan tempat penghasilan bahan pangan terbesar oleh tuan besar kota Rerao Cupak.
Kaya akan bahan pangan yang dihasilkan oleh para penduduk setempat yang berkerja sebagai petani, kota Rerao Cupak selalu berdiri tegak dalam kejayaan dan kemakmuran.
Gunung Rerao.
Pegunungan ini sangat damai dan banyak dihuni oleh hewan-hewan yang bersahabat. Dari kaki gunung hingga puncak ditumbuhi berbagai macam jenis tumbuhan.
Gunung Rerao sejak dahulu dijadikan tempat keramat oleh para penduduk.
Dipuncak tertinggi gunung Rerao adalah kawasan yang tidak boleh dimasuki oleh orang-orang. Diatas puncak gunung Rerao dibangun 3 buah pilar besar dengan ukiran kalimat bahasa kuno yang berbeda disetiap masing-masing pilar.
Pilar-pilar itu dibangun oleh orang-orang terdahulu. Setelah dibuat tanpa meninggalkan maknanya kepada siapapun, pilar-pilar itu kemudian ditinggalkan dan dibiarkan begitu saja hingga waktu terus berjalan.
Beberapa ratus tahun telah berlalu, hingga kini pilar-pilar itu masih terlihat berdiri kokoh dan utuh.
Tidak jauh dari pilar-pilar itu terletak, ada sebuah gubuk yang dibangun. Gubuk itu terlihat sangat kokoh tapi desainnya sangat parah sekali.
Didalam ruangan gubuk itu, Egi terbaring diatas tempat tidur seseorang. Tempat tidur itu adalah milik seorang pria bernama Galena. Pria yang telah mengalahkan Egi.
Tempat yang dijadikan keramat dan tidak boleh dimasuki oleh orang-orang tersebut sepertinya sudah ditempati oleh Galena.
Beberapa menit kemudian, Egi membuka matanya. Menahan sedikit rasa sakit disekujur tubuhnya, Egi melirik sekeliling ruangan dimana ia terbaring saat ini.
Egi mencoba bangkit dari tempat tidur itu dan berjalan menuju pintu keluar gubuk itu.
Setelah menginjakkan kaki diluar gubuk tersebut, Egi terkesima dengan pemandangan yang ia lihat diluar gubuk tersebut.
"Dimana ini?" Ucap Egi terkesan dengan pemandangan yang ia lihat.
Egi kemudian memejamkan matanya dan perlahan menghirup udara bebas.
Hmmppp huuuuhhh…
"Ini!? Udaranya sangat sejuk, tapi sedikit berat. Ini dipuncak gunung." Ucap Egi menerka.
Egi lalu mencari posisi yang bagus untuk melihat area sekitarnya.
Ia mencari tempat terbuka dengan titik ketinggian yang cukup untuk memantau tempat tersebut.
__ADS_1
Dari atas sebuah batu besar dipuncak gunung itu, Egi dapat melihat pemandangan yang terbuka lebar hingga bisa memandang kearah manapun.
Egi sangat takjub dan sekaligus bingung.
"Indah sekali pemandangan dari atas sini. Semuanya hampir tertutup awan." Ucap Egi sedikit tersenyum menikmati pemandangan yang ada dipuncak gunung Rerao.
"Tapi sebenarnya ini dimana? Kota dibawah kaki gunung ini.. aku belum pernah lihat. Apa aku sekarang berada jauh dari wilayah Selatan!?" Ucap Egi memandangi kota yang dibangun dibawah kaki gunung itu.
"Wilayah ini masih di selatan."
Seketika mendengar ucapan itu, Egi langsung membuat kuda-kuda untuk bertahan. Dari tekanan kuat yang Egi rasakan, sensasi itu membuat ia masuk kedalam mode siaganya untuk bertarung.
"Hahaha. Kau terlalu tegang bocah, aku tidak akan menyerangmu."
"Apa kau yang yang membawa aku ke tempat ini? Lalu, luka-luka ditubuhku. Apa kau juga yang mengobatinya?"
"Hmm, itu benar."
"Setelah kau menyerangku seperti anjing gila lalu merawatku bagai anak burung yang jatuh dari sarangnya. Apa tujuanmu sebenarnya."
"Bukankah perkataan itu sedikit kejam buat penyelamatmu."
"Penyelamat..!? Jangan bergurau. Apa aku terlihat diselamatkan. Dari apa yang telah kau lakukan, kau melukaiku bukan menyelamatkanku.
"Kalau begitu aku minta maaf. Sepertinya aku sedikit kasar saat menyapamu. Tapi kau ada benarnya juga. Waktu itu, aku sedikit berpikir ingin membunuhmu."
Mendengar ucapan dengan tatapan mata yang serius dari galena, Egi sedikit tertekan dengan aliran seperti EL yang menyelimuti sekujur tubuh galena.
"Ho.. jadi kau bisa melihatnya. Bocah, siapa namamu?"
"Egi Azzaki? Hmm.. aku tidak pernah mendengar nama itu di kota Marabuh atau di kota Rerao Cupak. Dari keluarga mana itu?"
"Tidak dari keluarga manapun." Sahut singkat Egi.
Galena setelah itu tiba-tiba tidak berbicara sepatah kata lagi setelah melirik kedua tatapan mata Egi.
Galena melihat tatapan yang penuh amarah dan balas dendam yang tersirat didalam matanya. Bagai kobaran api yang siap melelahkan besi, begitulah gambaran galena.
Sedikit menghela nafas, seketika itu galena kemudian berbalik arah dan melangkah pergi dari hadapan Egi.
"Aku ingin menjadi pembasmi siluman! Aku ingin bergabung kedalam pasukan khusus!" Teriak Egi.
"Hmp! Menjadi salah satu pasukan khusus. Percuma, menyeralah Kau tidak akan bisa bergabung."
"Aku tahu!"
Galena tidak berhenti dan terus berjalan.
"Karena itu, karena itu aku ingin minta bantuanmu."
"Bantuan? Dariku. Apa yang dia bicarakan." Batin galena.
"Kau sangat kasar, suka baku hantam, jelek, tidak berseni dan memiliki selera yang buruk."
__ADS_1
"Sialan! Siapa yang kau bilang jelek, tidak berseni, dan.. dan." Sahut galena mencengkam erat kepalan tinjunya kearah Egi.
"Itu benar, lihatlah gubuk yang kau bangun. Apa kau tidak bisa membuat sebuah tempat tinggal yang layak."
"Sialan.. bocah ini-"
Egi seketika langsung sujud dihadapan gelena dengan kedua tangannya mencengkram erat permukaan tanah.
Melihat kondisi seperti itu, galena hanya terdiam dan tidak melanjutkan komplainnya.
"Aku mohon latihlah aku, aku ingin kuat. Aku ingin masuk kedalam pasukan khusus dan menjadi pembasmi para siluman. Aku ingin membalas kematian orang-orang di desaku. Aku mohon.. ajari aku kemampuan mengendalikan EL."
"EL!? Begitu ya, jadi begitu rupanya." Ucap galena lalu beranjak pergi.
Seketika galena kembali berjalan, Egi masih belum bangkit dari sujudnya.
"Aku dulunya merupakan seorang veteran dari pasukan khusus tingkat S, dan ajaranku akan sangat sulit, aku yakin tidak akan lama kau akan cepat mati nantinya, jadi tidak masalah."
Egi perlahan mengangkat wajahnya sambil melirik kearah galena. Matanya berkaca-kaca sedari menahan air matanya agar tidak keluar.
Egi pada saat itu tidak tahu harus berekspresi apa.
Perasaan yang dirasakannya itu entah senang atau sedih, ia hanya tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.
Dengan penuh harapan, sepertinya dia melihat sebuah kesempatan baginya untuk bisa mengikuti ujian tersebut.
..
Lereng kaki gunung Rerao disebelah timur.
Terlihat dilereng kaki gunung Rerao, Egi sedang merangkak dari kaki gunung menuju ke puncak tempat dimana gubuk milik galena berada.
Egi terlihat merangkak seperti buaya hendak menuju kearah gubuk tersebut.
Setelah beberapa lama kemudian, akhirnya Egi berhasil sampai ke puncak gunung itu.
Stamina Egi sudah sangat terkuras setelah merangkak naik menuju ke puncak gunung rerao.
"Hah! Hanya segini kemampuan daya staminamu. Kau sangat lama sekali untuk sampai kesini. Aku saja saat seusiamu dulu hanya butuh 10 menit untuk mencapai kesini. Sekarang aku lihat kau hampir memakan waktu setengah hari untuk sampai ke puncak ini. Mengecewakan sekali." Ucap galena dengan kerasnya.
"Hah.. hah.. ini. Ini, sungguh bikin energiku terkuras habis. Melakukan push up 500 kali lalu tampa meluangkan waktu untuk istirahat langsung merangkak menuju puncak. Apa tujuannya latihan seperti ini! Aku ingin kau mengajariku cara menggunakan kekuatan EL, bukan latihan seperti ini."
"Hahaha, sudah aku bilang bukan. Kau akan segera mati. Dilarang untukmu komplain dan bertanya apapun selama apa yang telah aku perintahkan, selanjutnya tambah 1 kali lipat. Jadi, berikutnya kau harus melakukan push up 1000 kali baru merangkak menuju puncak. Hari ini aku cuma bilang itu saja, sampai kau berhasil menyelesaikan tahap ini baru aku akan memberikan perintah berikutnya. Selesai."
"Hah..!!"
Bersambung….
Note Author : jangan lupa meletakkan beberapa komentar dan pencet tombol Like 👍 dan vote 💓 yah 😁
Sehat selalu buat para reader lalu author2 tamvan dan imut yang telah mampir 🤩😁
Kalau sudah mampir, titip aja pesan di kolom komentar ntar pasti mampir balik deh. 😋
__ADS_1
Sampai jumpa 👋