
Bab - 2. Satu Anak Panah
Syut…!! Swishh!
Sebilah pisau sepanjang 25 sentimeter ditancapkan kejantung dan seketika itu pisau tersebut ditarik kembali dengan cepat sehingga dibagian tusukan itu banyak mengeluarkan darah segar. Setelah meronta-ronta beberapa kali, seekor kijang liar yang terkena jerat itupun seketika langsung tewas di tempat.
"Phuuwh… akhirnya selesai juga. Tapi kenapa seekor kijang liar yang terperangkap disini? Aneh, padahal jerat ini bukan untuk menangkap seekor kijang melainkan kura-kura raksasa hutan ini. Terlebih disaat cuacanya sedang hujan deras begini, kenapa kijang ini berkeliaran?" Ujar Egi kebingungan melihat kejadian aneh tersebut, dan kejadian aneh itu baru ia alami untuk pertama kalinya.
"Ah sudahlah, aku harus segera pulang dan membawa kijang ini kembali ke desa. Aku yakin sekali pasti orang-orang di desa akan kaget melihat apa yang aku bawa malam ini." Ucap Egi sambil menunjukkan senyum kecilnya.
Beberapa menit kemudian, iapun segera berkemas dan lekas kembali menuju ke desanya dengan membawa beberapa daging kijang tersebut yang telah ia potong-potong menjadi beberapa bagian. Diperjalan pulang menuju kearah desa, sekilas mengenai beberapa keanehan barusan kembali membuat Egi memikirkannya. Bagaimana bisa seekor kijang liar tersebut berakhir kedalam jebakan yang ia buat? Kenapa hewan mamalia tersebut bisa berkeliaran dimalam hari, dan apalagi hari ini sedang hujan? Egi tidak mengerti dan mulai dipenuhi oleh rasa penasaran tinggi hingga ia terus-menerus menoleh kearah belakangnya saat berjalan.
Sejenak Egi tiba-tiba berhenti berjalan dan kemudian terdiam untuk beberapa detik sambil melirik tajam kearah belakangnya. Namun, dibelakangnya hanya ada pemandangan malam hari yang penuh dengan warna gelap. Walau di dalam hutan tersebut saat malam hari terlihat begitu sangat gelap, Egi masih bisa melihat area disekitarnya dengan jelas. Dari kecil Egi dijuluki sebagai walk night oleh orang-orang di desanya karena kedua matanya mampu melihat jelas kedalam kegelapan malam. Orang-orang di desa tersebut mayoritas aslinya adalah seorang pemburu. Bukan hanya sekedar Egi saja yang mempunyai penglihatan mata seperti itu, semua orang-orang di desa itu juga memilikinya. Hanya saja, kemampuan seperti walk night tersebut tidak dapat dimiliki oleh setiap orang. Walk night hanya dimiliki oleh satu orang dari setiap generasinya saja, dan generasi tersebut hanya terlahir satu banding seratus ribu setelah seratus tahun. Orang yang terlahir dengan bakat tersebut akan dijuluki sebagai walk night selanjutnya, seseorang yang akan berpotensi menjadi pimpinan regu berburu atau sebagai pemimpin desa.
Saat ini Egi mencoba meletakkan hasil buruannya tersebut dan sambil memandang fokus kearah belakangnya, setelah itu Egi perlahan memejamkan kedua matanya. Terlihat, Egi mulai memfokuskan dirinya dan mencoba untuk melakukan sesuatu.
"Ahhhhh…!!! Aku benar-benar tidak bisa melakukannya seperti yang ayah bilang." Teriaknya kesal karena tidak bisa menggunakan teknik mempertajam pendengaran seperti yang ayahnya pernah tunjukan kepada dirinya. Seketika itu ia kembali merangkul buruannya dan melanjutkan jalannya. Walau terlahir dengan bakat walk night dalam dirinya, Egi masih memiliki batasan. Saat ini kemampuan yang dimilikinya sekarang itu masih jauh dari kata sempurna, untuk saat ini Egi tidak bisa melihat jelas lebih dari 50 meter dari posisinya. Pada dasarnya kemampuan walk night yang dimilikinya sekarang hanya sebatas kemampuan seorang pemburu dewasa tingkat C.
Tidak lama setelah itu rasa cemas mulai timbul dihati, Egi merasakan sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman. "Aku merasa adanya keanehan? Tapi apa, apa jangan-jangan keanehan ini juga ada sangkutannya dengan kijang liar yang terperangkap." Ujar Egi berpendapat dalam hati.
"Kijang ini lari didalam gelapnya malam karena ia merasa ketakutan sebab akan diburu. Tapi siapa yang sedang berburu hari ini? Orang-orang di desa semuanya sedang melakukan upacara adat, yang sedang mencari tangkapan malam ini hanya aku seorang. Dengan penglihatan binatang ini yang buruk pada malam hari, tanpa kijang ini sadari telah menginjak jerat yang aku buat. Tapi, apa kijang ini benar-benar sedang diburu? Jadi, kalau bukan ulah seorang pemburu lain, berarti hanya ada satu jawaban yang bisa memastikan hal tersebut. Kalau begitu, berarti ada pemangsa di sekitar sana." Ujar Egi melirik tajam kearah belakangnya yang gelap gulita tersebut.
"Aku harus bergegas pergi dari sini, aku merasakan sesuatu yang tidak mengenakan akan terjadi. Sebelum aku benar-benar bertemu dengan pemangsa yang membuat kijang liar ini lari sampai kesini, aku harus segera kembali dan mengabari ini pada orang-orang di desa." Ucap Egi.
Egi pun seketika itu bergegas lari ke arah desanya sambil mencari rute tercepat, dan rute tersebut hanya diketahui oleh Egi bersama ayahnya saja. Rute ini begitu ekstrim dan tidaklah mudah. Jalan untuk menuruni sebuah bukit yang biasa dilewatinya adalah memutar balik melewati titik rendah hinga ke kaki bukit. Tapi rute yang Egi ambil dan lalui kini berkebalikan, memang terbilang sangat cepat sampai tujuan tapi juga dengan bahayanya. Karena rute itu ialah melewati jurang lembah itu langsung.
__ADS_1
Karena telah terbiasa dan sering menggunakan rute itu sebagai latihan fisik bersama ayahnya dulu, melewati rute curam itu kini sangatlah mudah bagi dirinya yang sekarang.
Dari kejauhan diatas tebing tinggi, Egi melihat samar-samar cahaya terang yang menyala redup. Karena tidak bisa melihat dengan cukup jelas dari tempat tersebut, iapun lekas ke titik paling tertinggi bukit tersebut dan mencoba untuk memantau lagi cahaya menyala samar-samar tersebut. Setelah diperhatikan dalam-dalam, cahaya itu ternyata berasal dari desanya.
"Hah..!! apa cahaya yang ada di desa seterang inikah? I-itu.. hah! Terbakar..!! Apa desa sedang terbakar!?!?" Egi spontan kaget dengan pemikirannya tersebut setelah memandang kearah cahaya itu. Tidak yakin dengan pemikirannya tersebut, Egi pun tergesa-gesa menuju ke desanya penuh dengan rasa cemas dalam dirinya.
Warna merah terang menyala ke setiap ruas area gelapnya hutan. Cahaya yang tak begitu terang itu, memberikan nyanyian yang pedih dan diiringi tarian dari bayang-bayangan. Menginginkan semuanya harus jadi satu wujud yang ada, warna merah terang yang menyala itu akan memakan apapun yang berada didekatnya. Tetapi saat itu, warna itu tak sanggup mengunyah seluruh yang ada. Karena dia saling berbagi dengan kawannya.
Lima belas menit pun berlalu, setelah menuruni bukit Egi akhirnya dapat menginjakkan kaki di depan pintu gerbang desa dengan rawut wajah yang begitu pucat. Dengan pikiran yang sedang bercampur aduk dalam kepalanya, Egi menjatuhkan kantong yang berisi seonggok daging kijang liar yang ditangkapnya tadi begitu saja. Seketika itu Egi pun berlarian masuk kedalam kobaran api yang membakar seluruh bangunan di desanya. Dalam kepalanya hanya terpikir keluarganya, adik, ibu, dan ayahnya.
"Farah, ibu, ayah. Semuanya dimana?." teriak Egi terus-terusan sambil berlarian.
Setelah berlari mencari-cari kesana kemari, Egi tidak kunjung juga menemukan keluarganya. Sepanjang ia berjalan dan berlarian yang ia lihat dan temui hanyalah mayat-mayat penduduk desa yang tergeletak di mana-mana. Beberapa kali Egi ulangi berteriak sekeras mungkin sambil memanggil adik, ibu, dan ayahnya hingga ia akhirnya menjumpai seseorang yang tak dikenal.
Darah yang pekat mengalir dan membanjiri tanah sekitar ia berdiri. Egi perlahan berjalan dan mendekat kearah dua orang laki-laki berbaju hitam yang ia lihat di depan rumah kepala desa itu. Dibawah kaki orang itu, dilihatnya tergeletak dua jasad dengan pakaian tak asing di ingatannya.
"Huaaaaa... hiks. Farah! Ibuuuu..!!" Teriak Egi penuh histeris, dirinya sudah tidak dapat membendung rasa sedih setelah melihat kedua jasad tidak bernyawa itu adalah adik dan ibunya.
Seketika itu emosi yang tak terbendung juga keluar dari dalam tubuh Egi. Marah, benci, dan dendam. Semua satu-persatu Egi tunjukkan dengan melirik tajam kearah mata kedua orang yang berdiri dihadapannya. Perasaan sedih yang luar biasa kini dalam sekejap telah diubah menjadi sesuatu yang lain, yaitu sesuatu yang diubah menjadi sentimen yang penuh rasa ingin membalas dengan niat membunuh.
"Ho.. menakutkan sekali tatapanmu bocah." Ucap Gio.
"Kau...!! Kubunuh kau! Kubunuh!" Ucap lantang Egi penuh dengan amarah.
"Membunuhku!? Haha..! Kau ingin membunuh yah! Ayo, cobalah bunuh aku sekarang!" Sahut Gio.
__ADS_1
"Tidak bisa dimanfaatkan!! Aku akan membunuh kalian!" Ucap Egi sambil menunjukkan sebilah pisaunya.
Sebilah pisau tersebut tiba-tiba dilesatkan Egi kearah dada Gio dan Ben, namun dengan gampang kedua pria tersebut menghindari ayunan pisau tersebut dan menjaga jarak dari Egi sekitar 5 meter. Ayunan pisau itu mulai kembali Egi lesatkan bertubi-tubi, namu tetap saja tidak ada yang kena. Ketika sebilah pisau tersebut melesat cukup dekat mengarah ke dadanya Gio, Gio pun seketika menghentikannya dengan menepis ujung pisau tersebut dengan dua jarinya yang mengapit bilah pisau tersebut disela-selanya. Seketika itu juga Gio langsung melesatkan tendangan keras kearah kaki Egi. Setelah terkena tendangan tersebut yang mengenai kedua kakinya, Egi pun kehilangan keseimbangan di udara dan sekejap lagi Gio menghadiahkan Egi sebuah pukalan kearah pipinya.
Egi pun pun langsung terpental 15 meter dari jarak Gio berdiri. Tidak gentar sedikitpun, Egi kembali berdiri dengan kaki yang gemetar dan tatapan kedua matanya juga tampak hampir sepenuhnya buram. Tidak jauh dari posisinya, ia melihat sebuah anak panah jatuh tergeletak di depannya. Sekilas melihat anak panah itu tatapan matanya kembali terasa normal, saat melirik kearah anak panah itu Egi teringat beberapa kenangan disana. Setelah kilas balik itu, aura tekad membunuh kembali bergejolak pada dirinya. Egi mengambil busur di punggungnya dan memungut anak panah tersebut lalu membidikkan tembakan kearah Gio. Egi menarik busurnya sangat erat dan tanpa ragu melesatkan anak panah itu tepat ke arah Gio.
Satu anak panah melesat kearah Gio dengan sangat cepat. Terlihat Gio tak akan bisa menghindar dan menangkis panahan Egi dari jarak sedekat itu. Namun, bidikan Egi sama sekali tidak mengenai target, tembakan Egi meleset tipis disamping leher Gio. Karena gangguan sedikit penglihatan akibat terkena pukulan Gio membuat Egi sedikit sulit mengakurasikan bidikannya.
"Hahaha..!! Bidikanmu kemana bocah? Apa pandangan matamu sudah rusak. Hahaha..!! Kalo begitu berterimakasih lah, karena penderitaanmu akan kuakhiri sekarang juga."
Gio langsung berlari kearah Egi dengan mengarahkan sebuah pukulan keras dan itu tepat diarahkan ke kepala Egi lagi. Sekejap Egi menundukkan badannya dengan posisi jongkok dan dalam waktu bersamaan itu Egi melayangkan pisau ditangan kirinya yang telah disiapkannya.
Pisau tersebut saat itu juga langsung diarahkan tepat kebagian perut Gio. Karena tidak semudah itu, pisau yang Egi lesatkan tersebut juga tidak mengenai apapun selain mengikis hamparan udara kosong tanpa bekas.
Akan tetapi, serangan Egi terlihat bukan hanya sekedar lesatan sebilah pisau biasa saja. Setelah Gio berhasil mengelak dengan melompati Egi hingga mendarat dibelakangnya, tiba-tiba sebilah anak panah meluncur kencang kearah Gio.
"Matilah kauuu…!!" Ucap Egi.
Whoooosh…!!
Suara benda melintas cepat dari atas kepala Gio setelah berhasil mendarat dibelakangnya Egi.
"Apa..!?" Gio pun spontan sangat terkejut ketika melirik keatasnya sudah terlihat jelas bahwa sebuah anak panah tepat mengarah ke kepalanya.
Splash….!!! (bercakan darah segar pun seketika itu tercecer ke tanah).
__ADS_1
Bersambung…