Heart Eater

Heart Eater
Latihan Diam-diam Seorang Diri


__ADS_3

Bab - 18. Latihan Diam-diam Seorang Diri.


Embun pagi hari disekitar luar gerbang masuk kota Marabuh membuat pandangan mata tidak bisa melihat jelas sejauh mata memandang.


Para penjaga gerbang yang tertidur pulas sehabis berjaga semalaman terbangun gara-gara suara berisik pintu gerbang yang diketok sangat keras.


Penjaga tersebut keheranan, siapa gerangan yang mencoba mengetok pintu gerbang masuk sebesar itu hingga menimbulkan suara yang sangat berisik.


Pasti tenaganya sangat luar biasa.


Penjaga gerbang itu langsung menaiki tangga menuju puncak gerbang masuk tersebut untuk melihat makhluk apa yang telah mengganggu waktu tidurnya.


Melirik kearah bawah dan mengamati saksama, terlihat seseorang yang sedang malambaikan tangannya kearah penjaga tersebut.


"Hah? Itu orang. Apa dia bisa melihat dengan jelas dari bawah situ kearah sini." Ucap penjaga tersebut keheranan dan masih belum tahu siapa seseorang itu.


Perlahan kabut pagi yang memenuhi sekitar gerbang masuk tersebut menipis, dan tampak jelaslah seseorang yang melambaikan tangan itu.


Penjaga itupun terperanjat dengan mulut terbuka lebar memandang wajah orang yang berdiri di depan pintu gerbang tersebut.


Egi dengan senyum manisnya melambaikan tangannya kearah penjaga itu. Beberapa detik gerbang itu dibukakan untuknya, dan Egi pun melangkah masuk kedalam.


"Hei, kau kenapa? Wajahmu terlihat habis melihat hantu saja." Ucap penjaga satunya.


"Bocah kemarin malam itu telah kembali ke kota ini. Apa dia bermalam di hutan?"


"Haha, mana mungkin dia berani bermalam di dalam hutan. Dia hanya kebetulan saja selamat.. dan pada akhirnya kembali karena tidak kuat lagi berada di luar sana. Haha.."


"Haha, kau benar. Mungkin dia berlarian semalaman karena dikejar oleh para siluman. Hahaha."


Egi berjalan sempoyongan disepanjang jalan kota Marabuh hendak menuju ke tempat pasukan khusus perawatan. 


Namun, tenaganya tidak cukup untuk berjalan ke sana. Perutnya terus-terusan berbunyi hendak menyuruh Egi untuk mengisinya. Egi seketika langsung terjatuh dan merosot ke permukaan tanah.


Egi tidak sanggup lagi menahan rasa laparnya tersebut dan tergeletak tak berdaya.


"Ahh.. aku terlalu bersemangat malam tadi hingga lupa untuk menghemat energiku." Ucap Egi lesu terbaring di atas permukaan tanah.


Seseorang tiba-tiba menghampiri Egi yang tengkurap di atas permukaan tanah itu, perut Egi seketika langsung mengeluarkan suara nyaring hingga terdengar jelas oleh seseorang yang menghampiri Egi tersebut.


Seorang itu kemudian lari dan menjauh dari tempat Egi yang sedang tengkurap itu.


Beberapa detik setelah itu seseorang tersebut kembali dengan membawa semangkuk nasi putih dan sup ayam.


Seketika itu ia kemudian meletakkan mangkuk-mangkuk tersebut didekat Egi.


Aroma dari bau lezat sup ayam tersebut membuat Egi tiba-tiba bangkit dari posisi tengkurapnya.


Egi menoleh kearah mangkuk-mangkuk yang ada didekatnya dan seketika langsung menyantapnya dengan lahap.


"Pelan-pelan.. nanti kakak tersedak kalau makannya seperti itu. Hehe."


"Aa.. awpa kwamu yang membwuawa makawan ini?" Sahut Egi yang masih belum menelan makanan di mulutnya.


Seorang yang membawa makanan tersebut seketika memperkenalkan dirinya, dia adalah seorang gadis kecil berusia 11 tahun.


Nama gadis itu Tika. Ia adalah anak atau putri dari seorang pemilik toko makanan. 


Egi tergeletak tak berdaya tepat di depan toko ayahnya tersebut.


Tika yang hendak pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan saat itu tidak sengaja bertemu dengan Egi. Egi terlihat sangat kelaparan hingga suara perutnya terdengar oleh gadis kecil itu.


Karena kasihan kepada sang kakak tak dikenal itu, Tika kemudian memberikan Egi beberapa makanan sisa pelanggan tadi malam.

__ADS_1


[Wkwkwk.. makanan sisa vangke 😂😂 dasar loli.]


..


"Woahh.. ini sangat lezat sekali, terimakasih adik kecil." Ucap Egi menunjukkan senyumnya.


"Benarkah.. masih ada lagi di dapur. Kalau kakak sangat lapar, kakak bisa memakan semuanya." Sahut Tika membalas senyum Egi.


Senyum kecil polos Tika membuat Egi terlihat lebih bersemangat. Saat melihat senyum kecil diwajah Tika, Egi teringat kembali saat-saat bersama dengan adik kecilnya.


"Kakak kenapa?" Ucap Tika.


"Ah.. tidak, kakak hanya teringat sama adiknya kakak ketika melihatmu."


"Adik kakak sekarang ada dimana?"


"Dia sudah meninggal, desa kakak telah diserang oleh para siluman dan dia terbunuh saat itu. Jika dia ada disini mungkin dia sekarang seumuran denganmu." Sahut Egi.


"Kakak maafkan aku, aku tidak bermaksud-"


"Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan untuk menceritakannya padamu. Karena kamu telah memberikan kakak makanan enak, kakak akan membalas kebaikanmu. Katakan, apa yang bisa kakak lakukan untuk membalasnya."


Melihat fisik kuat Egi, Tika terlihat memikirkan sesuatu dengan senyuman manisnya. Seketika itu Tika meminta Egi untuk menjadi pengawalnya.


Setelah mendengar permintaan tersebut, Egi mengkerutkan keningnya dan merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan dari gadis kecil itu.


"Jadi pengawalnya? Apa dia ingin aku menemaninya bermain." Batin Egi.


Tidak seperti yang diduga Egi, gadis kecil itu membuat repot Egi dengan menyuruhnya membawa semua bahan belanjaan.


Namun mereka berdua juga tampak bersenang-senang, dan sangat menikmati berkeliling pasar sambil mencari-cari bahan makanan yang telah dituliskan ayah Tika.


Setelah berkeliling kesana-kemari di pasar kecil itu, bahan-bahan yang mereka beli akhirnya telah terkumpul kedalam satu kantong besar. Isi kantong itu terlihat cukup berat dalam bentuk ukuran tersebut.


Egi tidak menyangka gadis kecil ini disuruh belanja barang sebanyak itu.


Namun karena ada Egi, Tika jadi tidak menggunakan jasa kuli tersebut.


"Kakak ini kuat sekali yah.." ucap Tika senyum sambil berjalan didepannya.


"Ah, kakak tidak sekuat yang kamu bayangkan."


"Tidak, itu benar. Habis kakak bisa mengangkat barang sebanyak ini seorang diri. Biasanya.. aku mengirimkan dulu satu-satu ke toko pake jasa kuli pengantar barang." Ujar Tika.


"Jadi karena aku bisa membawa semua barang ini, dia tidak jadi memakai jasa tersebut. Gadis kecil ini.." batin Egi merinding.


Diatas selembar kertas yang dipeganginya, Tika mencoret nama-nama bahan yang telah berhasil dibeli dengan tanda silang.


Ada satu nama bahan yang belum disilangkan. Menurut penjual bahan tersebut, barang dagangan itu belum juga masuk kedalam kota ini sejak 3 hari yang lalu.


Menurut informasi atau gosip yang dibicarakan oleh para pedagang, kemungkinan rombongan pengangkut barang tersebut telah dimakan siluman diperjalanan.


Tanpa mencoret satu nama bahan tersebut, mereka berdua segera kembali ke toko untuk melaporkannya.


Di toko makanan milik ayahnya Tika.


Ayah Tika terkejut melihat sang putri kecil imutnya itu bersama dengan seorang yang tidak dikenal. Ayahnya seketika langsung menarik paksa lengan Tika menjauh dari Egi.


Ayah Tika juga tidak segan-segan mengeluarkan perkataan bengis kepada Egi. Tak dapat kesempatan untuk bicara, Tika kemudian melepaskan genggaman tangan ayahnya dan lari kearah Egi sambil memegangi erat lengan Egi.


Air mata perlahan jatuh membasahi pipi mungil gadis itu, Tika mulai menuturkan perkataa kepada ayahnya, "kenapa ayah berkata buruk pada Egi."


Seketika itu ayahnya kemudian menunjukkan tatapan mata yang penuh kemurkaan melihat putrinya berpaling kearah Egi.

__ADS_1


Egi tidak habis pikir melihat kemarahan didalam hati ayah Tika itu begitu besar kepadanya, walau dia sebenarnya tidak melakukan apa-apa.


Melihat ekspresi tidak suka dengan dirinya itu, membuat Egi memikirkan sesuatu. "Apa orang-orang di dalam kota ini juga merasakan hal yang sama dengan ayah Tika jika melihatnya." Rasa benci dan tidak ingin menerima keberadaan dirinya.


Egi kemudian perlahan melepaskan pegangan erat tangan Tika dilengannya dan meminta maaf karena tanpa permisi telah pergi bersama putrinya.


Untuk meredakan emosi panas ayah Tika tersebut, Egi kemudian pergi dari hadapan mereka dengan suasana hati yang sedikit terluka. Egi untuk pertama kalinya merasakan hatinya sakit, dan dirinya juga tidak diterima di sana.


..


Malam harinya Egi kembali berniat untuk pergi jalan-jalan ke luar. Kedua orang penjaga pintu gerbang itupun terlihat bingung karena Egi berniat ingin keluar lagi.


Didalam hutan.


Terdengar keras suara berisik dari ayunan pedang yang menghantam bagian batang pohon hingga tumbang. Sebilah pedang itu terlihat sudah membuat beberapa batang pohon terpotong rapi.


Egi setiap malam pergi ke luar ternyata diam-diam berlatih sendiri di dalam hutan tersebut. Karena tidak ada satupun tempat pelatihan yang menerimanya, maka Egi memilih area luar kota Marabuh.


Ditemani oleh sinar rembulan malam, ia melatih teknik berpedangnya seorang diri.


Ayunan demi ayunan sebilah pedang di genggamannya membuat pohon-pohon rimbun roboh setelah menerima tebasan pedang itu.


Ekspresi wajah Egi saat mengayunkan pedangnya terlihat berbeda dari biasanya. Rawut wajahnya saat ini terlihat kesal, dan ayunan pedangnya juga tidak beraturan.


Egi tidak sadar bahwa ia telah mengayunkan pedangnya secara berlebihan, hingga area disekitarnya tidak lagi ia pedulikan.


"Aaaaaaa..!!" Teriak Egi melepaskan pegangan pedang setelah ia melayangkan lurus pedangnya dan menghunjam batang pohon yang ditargetkan.


Nafas Egi terlihat terengah-engah karena lima jam lamanya ia mengayunkan sebilah pedang itu.


"Sial…. Lagi-lagi hanya segini batas kemampuanku." Ucap Egi yang terkapar di atas permukaan tanah dengan satu lengan menutupi wajahnya.


Seperti biasa, Egi kembali menghabiskan energinya untuk berlatih mengayunkan sebilah pedang itu sampai fajar pagi datang.


Egi kemudian bangkit dan mengambil kembali pedang yang telah tertancap pada pohon tadi.


Seseorang tiba-tiba muncul keluar dari atas pohon dan mengambil pedang Egi yang tertancap pada batang pohon itu. Egi pun terkejut dan langsung melompat mundur beberapa langkah seketika orang tersebut muncul.


Dengan senyum lebarnya, seseorang itu menghunuskan ujung pandang tersebut kearah Egi dan kemudian menantangnya berduel.


"Oi.. bocah! Pedang ini bukannya milik pasukan khusus kota Marabuh. Jika dipikir-pikir, kau ini terlihat bukanlah anggota pasukan atau orang dari kota ini bukan. Lalu sebenarnya kau ini siapa, kenapa pedang ini bisa ada padamu?"


"Kembalikan pedang itu! Itu adalah milik temanku." sahut Egi.


"Ohh.. begitu rupanya. Jadi kau telah mencurinya dari temanmu itu."


"Aku bukan pencuri!" bantah Egi.


"Untuk seukuran bocah pencuri, ternyata kau terlihat cukup kuat juga untuk bisa mengambil pedang ini dari tangan temanmu."


"Sudah aku bilang! Aku tidak mencurinya."


Jika Egi ingin pedang itu kembali padanya, Egi harus mengambilnya sendiri dari tangan seseorang itu. "Jika ingin pedang ini kembali, ambil sendiri seperti kau mengambilnya dari temanmu."


"Aku tidak mencurinya..!!" Sahut Egi lantang dan melesat kencang menghantam seseorang tersebut dengan seluruh kekuatannya.


Egi memusatkan tenaga pada seluruh otot-otot kakinya hingga pijakan langkah kakinya menghantam permukaan tanah. 


Seseorang itu tertawa terbahak-bahak dengan santai menghindari serangan cepat Egi.


"Hahaha…. gerakanmu cepat juga bocah! Pantas sekali kau menjadi seorang pencuri!!" ucapnya mengolok-olok Egi.


Bersambung….

__ADS_1


Jangan lupa untuk pencet tombol Like 👍 dan vote 💓 yah 😁 sampai jumpa 👋


Sehat selalu buat semuanya.. 


__ADS_2