Heart Eater

Heart Eater
Sikuat Yang Telah Dilupakan


__ADS_3

Bab - 19. Sikuat Yang Telah Dilupakan.


Hutan lebat diluar kota Marabuh penuh dengan makhluk-makhluk pemangsa seperti bintang buas, serangga pemakan daging, tanaman penjebak dan jenis karnivora lainnya yang berkeliaran di dalam hutan tersebut.


Jarak lokasi kota Marabuh dan hutan tersebut 5 mil dari tembok pembatas.


Hutan lebat diluar tembok pembatas kota Marabuh itu tidak ada satupun orang yang berani mendekatinya. Hutan itu penuh dengan bahaya yang kapan saja bisa merenggut nyawa seseorang yang mencoba untuk memasukinya.


Hutan lebat itu kaya akan sumber daya dari tepi hutan hingga kedalaman hutan tersebut.


Hutan tersebut diberi nama hutan kesengsaraan, karena selalu mendatangkan malapetaka bagi para manusia yang berani memasukinya.


Sudah banyak manusia yang mati didalam hutan kesengsaraan ini karena keberanian mereka yang mencoba untuk mengelola sumber daya alam hutan tersebut.


Hutan kesengsaraan ini hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang memiliki kemampuan EL seperti pasukan khusus yang setidaknya ada ditingkatan B atau lebih.


Walau sudah memiliki kemampuan setinggi itu, hutan kesengsaraan masih tetap sulit untuk ditaklukkan. Hutan kesengsaraan ini dijaga oleh seekor binatang buas mengerikan yang berperingkat S.


Meski bintang buas ini sangat berbahaya, tapi makhluk tersebut tidak menjadi ancaman kota Marabuh.


Binatang buas ini tidak pernah sekalipun mencoba menampakkan dirinya diluar hutan kesengsaraan. Sampai saat ini bintang buas tersebut tidak diketahui seperti apa rupanya.


Karena makhluk tersebut tidak mencoba untuk melakukan kontak dengan dunia luar, maka para pasukan khusus kota Marabuh tidak akan mencoba mengusiknya.


Konon menurut cerita para pengembara, seseorang pernah menjumpai makhluk tersebut. Tubuh makhluk itu penuh dengan bulu, giginya besar dan begitu runcing.


Saat makhluk tersebut mengeluarkan sedikit tekanan kuat dari kekuatannya, akan membuat tubuh gemetaran hingga terasa ketulang.


Maka hutan kesengsaraan hingga kini tidak lagi ada yang mencoba untuk mendekatinya.


Sudah ratusan ribu tahun hutan kesengsaraan tidak dijamah oleh manusia bahkan siluman sekalipun.


Makhluk ganas yang menjadi penjaga hutan kesengsaraan ini juga menyerang bangsa siluman yang mencoba merangkak masuk ke wilayah makhluk ini.


Karena kuatnya binatang buas tersebut bukan main, sang penguasa hutan kesengsaraan itu dijuluki Peri Maut.


Tapi hari ini dan beberapa hari sebelumnya Egi telah memasuki wilayah hutan kesengsaraan tersebut.


Entah nasib baik yang selalu berada didekatnya, atau memang Egi sudah terlatih dan terbiasa memasuki hutan yang penuh dengan bahaya.


Soal makhluk mengerikan yang menjaga hutan tersebut kenapa juga tidak muncul sampai hari ini, bisa jadi binatang buas tersebut sudah mati beberapa ratusan tahun belakangan ini.


..


Hari ini disaat sinar fajar pagi hampir menampakkan dirinya, Egi menemui bahaya lain didepannya.


Egi didatangi oleh seseorang yang tidak diketahui, teman atau lawan. Namun, ia terlihat sangat kuat. Dengan sedikit tenaga yang tersisa, Egi mencoba mencari celah untuk mengalahkannya.


Seluruh serangan yang Egi lancarkan selalu dapat ia hindari dengan mudah, seolah orang ini tahu apa yang akan Egi lakukan selanjutnya.


Beberapa menit sinar matahari pagi akhirnya menunjukkan kilauan cahaya emas sempurnanya. Berkat penerangan itu, tampak jelaslah wajah seseorang yang telah mengambil pedang Egi.


Seorang pria berbadan besar dan mengenakan mantel hitam ini, terus-terusan menekan Egi hingga stamina tubuhnya terkuras.

__ADS_1


Karena mantel hitam yang dikenakan olehnya sangat besar, dirinya tidak terlalu tampak jelas. Yang terlihat hanya rawut wajahnya yang selalu tersenyum lebar memandang kearah Egi.


Dari paras muka pria tersebut terlihat bahwa ia telah berumur 38 tahun. Dipipi bagian kiri tepat dibawah matanya, terdapat sebuah tanda berbentuk tulisan kuno dengan pola seperti bintang zodiak taurus.


"Sebenarnya siapa orang ini?" Ucap Egi dalam hatinya mencoba untuk menilai orang tersebut dari penampilannya.


"Siapa kau sebenarnya? Apa maumu?" Tanya Egi.


"Aku.. aku bukan siapa-siapa. Hanya sesosok ingatan yang tak diperlukan." Balas laki-laki itu.


"Ingatan? Tidak diperlukan? Apa maksudnya?" Batin Egi bingung.


Karena Egi tiba-tiba mematung dan tidak bergerak menyerang lagi, pria berbadan besar tersebut langsung menerjang perut Egi dengan kaki kirinya.


Ukh!


Egi merasakan sensasi sakit yang luar biasa saat tendangan keras kaki pria itu menghantam sudut kanan perutnya.


"Sejak kapan dia!? Aku sama sekali tidak bisa melihat pergerakannya." Batin Egi terkejut, karena tidak sempat menganalisa gerakan cepat pria itu.


Setelah kakinya tepat menghantam perut Egi, pria tersebut kemudian langsung memberi serangan keduanya dengan tendangan melengkung kearah kepala Egi.


Egi pun terpental beberapa meter setelah serangan kedua itu mengenainya.


"Arrggg!! Cepat sekali. Uhk!" Ucap Egi sempoyongan mencoba bangkit.


"Ho.. masih bisa bergerak. Oh! Aku lupa memberi tahumu, hutan ini adalah hutan kesengsaraan. Jika kau tidak segera pergi dari sini, bos sebenarnya yang tertidur didalam hutan ini akan memakanmu."


Dengan tatapan satu mata yang merem, Egi mengeluarkan senyum kecilnya lantaran bingung dengan keadaan dan setiap perkataan yang keluar dari mulut pria itu. Bos? Dimakan? Egi tidak mengerti apa yang dibicarakannya.


Egi sudah sangat lelah, saat ini ia sangat ingin sekali berbaring dan memejamkan kedua matanya.


Memandang kearah pria itu dengan tatapan matanya yang mulai muram. Egi perlahan bangkit kembali dengan topangan kedua tangannya yang terlihat sudah gemetar.


Egi sudah diambang batas, ia sudah terlihat tidak bertenaga lagi.


Satu serangan ringan saja sudah cukup untuk menjatuhkannya.


Apa yang ingin Egi lakukan? Mengapa ia mencoba kembali berdiri. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi untuk melawan pria itu dengan kondisi seperti ini.


Ini sangat mustahil baginya, perbedaannya terlalu jauh.


Melihat Egi bangkit kembali pria berbadan besar itu tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha.. menarik! Akhirnya kau bersiap untuk mati." Ucap pria berbadan besar tersebut.


Pria berbadan besar itu mencengkam tangan kanannya sekuat tenaga hingga membuat kepalan tinjunya mengeluarkan uap panas di sela-sela jari.


Sedikit goyangan tubuh yang miring ke kanan, dengan hanya hitungan detik pria itu sudah ada didepan Egi dan siap menghantamnya.


Egi yang sudah terlihat keloyoan untuk berdiri itu, sudah dipastikan hidupnya akan berakhir.


Pukulan kuat dilayangkan tepat kebagian perut Egi. Namun seketika itu Egi memutar balik tubuhnya dengan refleks gerak tubuh yang cepat dan lentur, lalu berhasil mengelak dari pukulan fatal itu.

__ADS_1


Egi berhasil menghindar hingga kini posisinya berdiri tepat 0,1 sentimeter dari lengan berotot pria itu.


"Bocah ini!? Ia bisa menghindari pukulan langsung penghancur beruang dari jarak sedekat ini." Batin pria berbadan besar tersebut terkesan.


Egi kemudian memusatkan seluruh sisa tenaganya dan melancarkan serangan balasan pada satu pukulan yang ia kerahkan.


Pukulan telah dilayangkan tepat mengenai bagian perut pria berbadan besar itu.


Namun, pukulan Egi tidak berdampak apa-apa terhadap pria berbadan besar itu.


Bahkan tidak bisa membuat pria berbadan besar itu mundur satu langkah darinya.


"Hee.." batin pria berbadan besar itu tersenyum lebar.


Pria berbadan besar itu langsung menggenggam erat leher Egi, kini leher Egi ia cekik dengan sangat kuat sehingga Egi kesulitan untuk mengambil nafas.


Seketika itu pria tersebut kemudian menghempaskannya hingga menghantam batang pohon besar.


Tubuh Egi membentur cukup keras menghantam pohon besar didalam hutan itu, hingga batang pohon tersebut bergetar sangat kuat seperti digoncang gempa.


Egi seketika itu tidak lagi sadarkan diri setelah tubuhnya menyentuh permukaan tanah.


Tinggi 192 sentimeter, berbadan besar dan berotot. Umur 39 tahun, terlihat sangat kuat dan juga sadis. Orang ini telah membuat Egi babak-belur.


Alasan. Karena diduga mencuri senjata salah satu dari anggota pasukan khusus Marabuh.


Namanya Galena Syaqhu.


Digerbang pintu masuk kota Marabuh.


"Apa kau merasakan sesuatu?" Ucap seorang penjaga gerbang masuk kota Marabuh dari atas tembok.


"Iyah, asalnya dari hutan kesengsaraan. Mungkinkah peri maut yang menjadi penjaga hutan itu telah terbangun dari tidurnya." Sahut penjaga satunya lagi memandang kearah hutan dengan rawut wajah cemas.


"Ehh..! Peri maut?"


"Hah! Kau tidak pernah mendengarnya? Makhluk ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu, dan selalu diceritakan oleh para tetua dari generasi ke generasi mengenai kisah kengerian peri maut itu."


"Semenakutkan itukah peri maut itu hingga kisahnya terus dibicarakan."


"Makhluk itu sangatlah kuat dan mengerikan, bahkan sang Datuak sangat sulit mengalahkannya."


"Wah aku jadi merinding mengetahuinya, syukurlah kalau makhluk itu tidak menyerang kota Marabuh."


"Makhluk itu tidak akan menyerang kota Marabuh jika kita tidak menyerang duluan. Tapi sebenarnya apa yang telah terjadi didalam hutan itu sekarang."


Bersambung….


Note Author : jangan lupa meletakkan beberapa komentar dan pencet tombol Like πŸ‘ dan vote πŸ’“ yah 😁


Sehat selalu buat para reader lalu author2 tamvan dan imut yang telah mampir 🀩😁


Kalau sudah mampir, titip aja pesan di kolom komentar ntar pasti mampir balik deh. πŸ˜‹

__ADS_1


Sampai jumpa πŸ‘‹


__ADS_2