Heart Eater

Heart Eater
Waktu Yang Berjalan Lambat


__ADS_3

Bab - 26. Waktu Yang Berjalan Lambat.


Dengan sigap Egi menghindari serangan langsung red jumbo tersebut, Egi bergerak cepat dengan melompat kebelakang beruang kayu merah itu lalu menjaga jarak sejauh mungkin untuk menghindari jangkauan serang dari kuku-kukunya. Beruang ganas yang terlihat seperti mengamuk dihadapannya itu pun tidak membiarkan jaraknya melebar dan berkali-kali membuat Egi kerepotan untuk memilih area berpijak yang bagus setelah mengelak.


Mengingat kembali apa yang telah galena sampaikan mengenai seluruh binatang buas di gunung rerao, Egi tidak bisa mengesampingkan atau menganggap remeh beruang kayu merah itu. Beruang kayu merah memiliki kebiasaan mencakar-cakar batang pohon untuk menandai wilayah berburu atau menunjukkan daya kekuatannya. Terlebih batang pohon yang selalu dicakar olehnya atau dikenal sebagai red jumbo itu adalah batang pohon batuang. Pohon yang paling banyak racun dan beracun di gunung rerao. Racun pada pohon ini terdapat didalam batangnya, racun tersebut berbentuk cairan getah bening seperti lendir ingus. Jika kulit dari batang pohon itu terkupas atau disayat sedikit saja, maka getah bening tersebut akan tampak keluar dan terus mengalir hingga berhenti sampai udara membuatnya jadi beku.


Racun di batang pohon itu tidaklah mematikan seperti membunuh manusia atau melukai makhluk hidup lainnya. Racun pada pohon itu sangat efektif untuk menghentikan operasi seluruh saraf dan otot pada tubuh makhluk hidup. Jika manusia terkena racun tersebut walau hanya sedikit saja, maka dalam sekejap ia akan kehilangan seluruh indranya dan mengalami kelumpuhan total pada tubuhnya untuk beberapa jam.


"Waduh-waduh! Beruang ini benar-benar mengerikan. Tapi jika membandingkan kekuatan, kau bukanlah tandinganku. Terlebih beruang raksasa galena jauh lebih merepotkan darimu. Haduh... pagi-pagi sudah ngajak ribut, kenapa kamu menganggap aku adalah mangsamu? Apa kau tidak bisa melihat tubuhku yang perkasa ini, terlihat enak kah? Sebaiknya lupakan saja keinginan itu, aku tidak ingin kau sakit perut nanti setelah memakanku. Haha-"


Tidak mengerti bahasa dan kata-kata yang keluar dari mulut Egi, beruang itu dengan sekuat tenaga menyerangnya sesaat Egi tengah berceloteh. Beruang itu terus memburu dan mencoba menerkam dengan kekuatan kuku-kuku mengerikannya.


"Hampir saja... aku kira jangkauan serangan itu hanya satu meter, tidak disangka lebih. Hampir tidak mungkin serangan tersebut bisa dihindari, tetapi untung saja ada celah diselangkang binatang ini. Jika sedetik saja aku telat mengambil langkah, sudah dipastikan aku akan terkena cakarannya." Batin Egi terasa lega.


Tidak bermain-main lebih lama lagi, Egi mulai melancarkan beberapa serangan dengan melemparkan sebuah batu mengarahkan kebagian tubuh beruang itu. Egi lalu seketika bergerak dengan cepat memutari beruang itu hingga membuat perhatian beruang tersebut terganggu. Kini beruang tersebut berdiri tegak dengan kedua kakinya dan membuat dirinya jadi terlihat sangat besar. Dalam sekejap, Egi melesatkan sebuah pukulan keras dibagian punggung beruang itu lalu berlanjut ke bawah perut setelah itu menaiki pundaknya dan menendang keras bagian belakang kepalanya. Seketika itu beruang tersebut jadi bergerak tidak menentu karena menahan rasa sakit di setiap bagian tubuh yang Egi serang. Kemudian Egi segera merangkul leher besar beruang itu dan bergantungan seperti kalung, lalu dengan cepat mengayunkan kaki kanannya dan menyikutnya dibagian dagu. Setelah serangan tersebut dilakukan, Egi pun langsung melepas pegangannya pada leher beruang itu.


Tubuh beruang kayu merah besar setinggi lebih dari 5 meter tersebut langsung terjungkal kebelakang dengan benturan tubuhnya menghantam keras permukaan tempat itu.


Akibat menerima serangan kuat Egi, beruang itu merintih kesakitan dan kemudian melarikan diri dengan masuk kedalam semak-semak belukar.


Menyadari perbedaan kekuatan tersebut, sejak saat itu beruang kayu merah itu tidak pernah menunjukkan keberadaannya pada Egi.


Setelah kejadian tersebut Egi tidak perlu mewaspadai beruang itu dan kembali melanjutkan berendamnya setiap pagi.


Menceburkan diri ke dalam genangan air yang lebih dari 100 meter dalamnya di area air terjun kembar itu, Egi terlihat sangat menikmatinya. Sambil menyeimbangkan tubuhnya dan perlahan turun menuju ke dasar, Egi lalu merentangkan tubuhnya dengan mengposisikan punggung yang menghadap ke dasar dan pandangan mata ke permukaan air. Dikedalaman air tersebut tubuh Egi terlihat bagai melayang di udara. Ia juga menikmati berbagai macam pemandangan yang indah dari kejernihan air tersebut, dan perlahan kedalam air itu terus membawanya turun menuju ke dasar terdalam. Egi juga perlahan terhanyut dalam keheningan sambil mengingat wajah orang-orang yang berkesan dalam hidupnya, terdekat maupun tersayang. Dalam keheningan tersebut, Egi perlahan terhanyut semakin dalam kedalam pikiran delusifnya.


Jauh dari dasar dan belum mencapai kedalaman 50 meter, Egi tiba-tiba merasakan rasa sakit dan sesak dalam dadanya lalu seketika itu tiba-tiba tersedak. Hal tersebut seketika langsung mengacaukan delusif dalam pikirannya yang sedang berlangsung. Dengan rawut wajah yang terlihat memerah, Egi bergegas menuju ke permukaan untuk mendapatkan udara.


Tubuhnya yang mulai mencapai batas sanggup menahan nafas di kedalaman air tersebut menyadarkannya untuk segera naik ke permukaan. Terlihat begitu legah karena sudah mendapatkan udara untuk bernafas, Egi kemudian mencoba merebahkan tubuhnya menghadap matahari yang terlihat menyilaukan. Memandang ke arah matahari tersebut, ia kemudian sedikit menunjukkan senyumnya dan kemudian tertawa kecil sambil menghunuskan tinjunya kearah matahari tersebut lalu berkata, "bahwa ia tidak akan membuat galena menunggu lebih lama lagi."


Berendam setiap pagi rupanya Egi mencoba untuk melatih daya menahan nafas. Masih belum tahu apa yang ingin ia capai dengan meningkatkan daya tahan nafasnya, Egi sepertinya tidak melakukan latihan itu dengan setengah hati. Esoknya Egi berhasil meraih rekor terdalam dan terlama dari sebelumnya, dan juga latihan yang telah galena berikan sudah ia tuntaskan.


Tidak terasa waktu sudah berlalu cukup lama, sekarang ini Egi tidak memiliki menu latihan lain yang akan dipelajari selanjutnya. Kini ia harus segera menemui galena di balik air terjun itu dan memintanya memberikan arahan baru untuk latihan selanjutnya. Malam harinya, Egi sudah mempersiapkan diri untuk memasuki dunia lain itu. Jalan satu-satunya cuma ada di dalam goa di area air terjun kembar tersebut, dan dunia yang ada di dalam goa itu memancarkan banyak kekuatan mistis hingga berdampak besar bagi tubuh manusia. Petanda bahwa itu adalah sebuah larangan untuk tidak menginjakkan kaki di sana.


Namun efeknya hanya berdampak besar terhadap orang yang tidak sanggup untuk menahannya, bagi yang bisa maka sebaliknya.


Kini Egi sudah berdiri tegap sambil memandang kearah air yang terus mengalir kebawah dan menghantam permukaan tempat ia berpijak, dan itu sedikit terasa bergetar bagai ada di pusat gempa. Air yang terus mengalir bak bagaikan jatuh dari langit itu, memandanginya dari tempat sedekat itu sungguh bikin jatung berdegup kenjang dan di iringi rasa gugup antara senang dan takut. Egi untuk sesaat sebelum akhirnya kini sudah terbiasa juga merasakan hal tersebut.

__ADS_1


Di depan air terjun kembar nan besar tersebut sambil menunjukkan senyum kecil diwajahnya, Egi sedikit merinding karena merasakan sensasi akan segera memulai petualangan barunya di dunia lain itu.


Beberapa saat kemudian Egi berlari sekencang-kencangnya menghantam dinding air tersebut hingga terdengar nyaring dan lantang suara dari mulutnya yang lumayan amat berisik.


Sebut saja bahwa ia berteriak sekeras mungkin sambil berlari sekuat tenaga.


Dalam goa di dalam air terjun kembar itu tampak sama seperti sebelumnya saat Egi kemari dengan galena beberapa waktu yang lalu, yaitu sejauh 150 meter berjalan dari mulut goa terdapat dua kerangka besar berbentuk burung Garuda yang menjadi penghalang atau pembatas dunia lain tersebut. Saat ini energi atau kekuatan yang meluap-luap tersebut sudah terasa sangat pekat ketika mencapai titik tersebut. Sekarang inilah bagian awalnya, yaitu memasuki area di bagian dalam penghalang itu. Apakah Egi akan merasakan efek itu kembali, atau tubuhnya hanya akan menerima sedikit dampak saja. Egi pun langsung mencari tahunya dengan mencoba langsung seketika itu juga.


"Aku sudah siap untuk ini, saat ini daya tubuhku juga sudah lebih kuat dari sebelumnya. Pasti bisa bertahan, dan aku yakin sekali bahwa aku akan bisa mencapai ujung lorong ini dan bertemu lagi dengan galena." Ucap Egi sangat optimis dan mempersiapkan diri.


Seketika Egi melangkah masuk kedalam penghalang tersebut dirinya tiba-tiba diserang oleh sesosok makhluk yang tidak diketahui. Serangan itu seperti dorongan sebuah dinding keras yang datang tiba-tiba. Tidak mengetahui darimana datangnya, serangan tersebut tampak seperti muncul dari segala sisi.


Sebelum sesaat serangan tersebut akan menghantam Egi, di dalam lorong goa itu tidak terlihat tanda-tanda adanya seseorang. Namun serangan tersebut seketika sudah terjadi, teknik itu terlihat belum dikeluarkan tapi ternyata sudah dikeluarkan. Anehnya, Egi tidak melihat adanya semacam bentuk dari serangan itu disekitarnya. Itupun juga tidak tampak seperti seseorang yang bergerak sangat cepat lalu menyerang Egi. Serangannya itu seketika memang sudah terjadi dari awal. Egi melirik ke segala arah dalam lorong goa besar tersebut tetap masih tidak tahu siapa pelaku yang telah menyerangnya.


Terlihat rawut diwajah Egi sangat bingung dan bercampur waspada terhadap area disekitarnya. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, kemudian tubuhnya kembali tiba-tiba terhempas seketika itu juga.


"Ouch! Sebenarnya apa itu? Apa yang telah terjadi, aku tidak mengerti!" Ucap Egi bingung.


Bangkit kembali dan dalam sekejap mata saat itu juga Egi kembali dihempaskan untuk yang ketiga kalinya menjauh dari hadapan dua kerangka burung garuda itu. Kini Egi sudah tidak tahan lagi dan mulai muak dengan keanehan tersebut, Egi seketika itu mulai meneriaki sipengguna teknik tersebut. Egi berceloteh pada si tidak terlihat tersebut dengan berbagai celaan yang bikin hati terlonjak jengkel.


Kata-kata mutiara terus keluar dari mulutnya hingga si tidak terlihat tersebut mulai muncul dihadapan Egi. Sepertinya celaan itu berhasil membuatnya keluar, tapi sekaligus membuatnya menjadi sangat marah dan meningkatkan daya serang sebelumnya menjadi lebih kuat.


Bagi Egi tidaklah masalah selama wujudnya dapat terlihat dan segera menyerang balik. Namun itu tetap percuma, walau sekarang sudah dapat melihat sosoknya tetap saja Egi tidak bisa menyerang. Kini Egi dihempaskan tidak hentinya kesana-kemari menghantam setiap sudut dan langit-langit dalam lorong besar tersebut.


Si tidak terlihat itu sekarang sudah tidak bersembunyi lagi, kini wujudnya sudah terlihat jelas. Dibilang sudah terlihat tetapi tidak bisa dikatakan bahwa itu adalah sesosok tubuh, mungkin lebih tepatnya dibilang bahwa itu adalah sebuah bola cahaya. Tidak, mungkin semacam jiwa.


Karena itulah Egi tidak bisa menyerangnya, Egi lantaran bertambah bingung dengan apa yang dijumpainya tersebut hingga kehilangan fokus dan kemudian terkena tekniknya.


"Kenapa? Tidak berani berceloteh lagi hah, ternyata hanya omong besar saja rupanya. Kamu pikir ejekan murahan itu mempan padaku? Sekarang mari lihat apa yang dapat kamu lakukan jika sudah bisa melihat sosok jelekku ini, tidak ada bukan. Kau tidak akan bisa lepas dari teknik ini sampai kau menjumpai ajalmu." Ujar bola cahaya itu.


"Bicara? Bola cahaya itu bisa bicara! Tidak-tidak, mari perhatikan lagi." Batin Egi tidak percaya, namun disaat seperti itu Egi juga mendapati dirinya kena hajar.


"Hahaha… rasakan itu. Gimana? Masih bisa untuk membual lagi."


"Tu.. kan! Bisa bicara!?" Batin Egi sangat terkejut.


Meski sempat-sempatnya untuk merasa terpukau, Egi terlihat sangat kesulitan untuk bertahan dari serangan aneh itu.

__ADS_1


"Aku pernah mendengar sebuah kisah lama waktu kecil. Dulu ada sesosok makhluk tanpa tubuh yang menghuni sebuah hutan belantara, dan hutan itu hanya tampak pada saat bulan sudah berada pada puncaknya. Hutan tersebut dapat dilihat tapi tidak bisa ditelusuri. Kononnya mereka yang menghuni hutan tersebut terlihat kecil seperti sebuah cahaya dan itu adalah wujud kematian. Sekarang makhluk misterius yang ada dihadapanku saat ini, wujudnya terlihat sama dengan yang ada dikisah tersebut. Jadi itu adalah rupa kematian dari penghuni hutan tidak terlihat itu." Ujar Egi, dirinya tidak percaya bahwa makhluk yang ada pada kisah tersebut nyata. Kini dirinya bisa melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri seperti apa sosok makhluk dalam legenda tersebut namun, keadaan tidak terlihat baik.


Egi sudah membuat makhluk itu marah dan berimbas buruk kepadanya, yah walau yang menyerang duluan adalah makhluk tersebut. Mungkin ada sesuatu atau alasan mengapa makhluk itu tiba-tiba menyerangnya, dan hal tersebut ingin dicari tahu Egi.


"Ouch..!! Dari mana datangnya serangan-serangannya itu? Kenapa aku masih tetap tidak bisa melihat arah datangnya teknik tersebut walau dia sudah menunjukkan wujudnya dihadapanku. Apa yang telah dia lakukan? Teknik macam apa ini." Ucap Egi, dirinya masih terhempas kesana-kemari dan tidak dapat mengelak sekali saja. Egi mulai menggunakan otaknya dan memikirkan sesuatu yang bisa membuat dirinya dapat mengelak dari teknik itu. Hingga beberapa saat kemudian ia kemudian menemukan sesuatu.


Egi untuk kesekian kalinya dirinya dibuat tidak berdaya oleh bola cahaya itu berhasil mengelak satu serangan dari tiga serangan beruntun yang membuat tubuhnya menghantam sudut dan langit-langit dalam goa tersebut. Egi akhirnya tahu teknik apa yang telah digunakan oleh bola cahaya itu.


Dia tidak bergerak sangat cepat, tidak mengeluarkan kekuatan yang besar, dan juga tidak beranjak dari tempatnya. Bola cahaya itu menggunakan kemampuan unik, dia membuat area disekitarnya berjalan lambat. Teknik dari kemampuan itu membuat semacam area bagai sebuah ruang lingkup, dan Egi kini berada dalam ruang tak terlihat dimana itu adalah area kuasanya yang bisa melambatkan waktu. Egi menyadari hal tersebut setelah dirinya berhasil mengelak satu serangan dari beberapa serangan yang dilakukan.


Teknik tersebut sangat kuat namun memiliki kelemahan. Teknik tersebut tidak akan berguna jika target tidak ada didalamnya, dan juga pengguna harus mencari posisi yang sedikit dekat dan tepat untuk melakukannya. Tentunya harus berada diluar ruang atau lingkaran tersebut, karena teknik itu adalah sebuah ruangan yang tak terlihat seperti setengah lingkaran dengan diameter luas dan lebar hanya 5 meter. Jika target sudah berada dalam ruang tersebut, maka teknik tersebut tidak akan pernah bisa dihentikan. Tidak hanya itu, ruang tersebut bagai membuat si korban terhipnotis. Ia merasa semua yang ada disekitarnya tidak ada yang terlihat berbeda, namun yang sebenarnya berbeda adalah waktu. Waktu dalam ruangan itu berjalan sangat lamban, mengayunkan satu pukulan kearah target dalam jarak 1 meter saja bak bagai sampai dalam sebulan. 


Bagi si korban itu tidak terlihat bak sedemikian, dirinya hanya merasa terlihat bergerak cepat selayaknya. Akan tetapi dirinya yang terlihat sebenarnya tidak bergerak secepat itu. Si korban akan terlihat menyerang dengan sangat agresif menghantam si pengguna namun itu seakan tak pernah terjadi atau sampai.


Ketika sudah tercebak kedalam ruang tersebut, si pengguna akan segera menyerang si korban dengan berbagai serangannya dari luar. Setelah itu si korban akan berakhir dengan luka-luka dan jadi bingung dengan apa yang telah terjadi sesaat kejadian.


..


Egi akhirnya mulai curiga dengan kemampuan aneh itu karena sempat satu kali terhindar dari benturan keras ke sudut-sudut goa itu. Seketika itu Egi beranggapan bahwa kemampuan tersebut ada sebuah celah, dan celah itu adalah jarak.


Walau sudah sedikit mengerti dengan kemampuan aneh itu, Egi tetap belum menyadarinya. Bahwa kemampuan itu seperti sebuah ruangan yang tidak kasat mata, dan memiliki batas jangkauan. Itu semacam kemampuan yang terlihat sama dengan yang dimiliki Datuak Parpatih namun berbeda.


Sambil menunggu datangnya kesempatan, Egi mencoba menahan rasa sakit saat tubuhnya dihempaskan kesana-kemari dan segera untuk menyerang balik. Saat yang ditunggu pun tiba, sebuah hempasan kearah sudut yang memiliki celah tadi muncul. Seketika Egi akan dibenturkan kearah sudut tersebut, ia memanfaatkan peluang sudut goa itu sebagai pijakan untuk mendorong tubuhnya sekuat tenaga kearah bola cahaya tersebut. Dengan kecepatan dan memanfaatkan celah tersebut, Egi akhirnya dapat kesempatan untuk keluar dari dalam ruang itu.


"Heh!?" Terkejut sekilas bahwa Egi tiba-tiba sudah berada di hadapannya.


Alhasil Egi pun dapat memperoleh jarak yang sangat dekat dan seketika itu langsung menangkap bola cahaya itu dengan kedua tangannya.


Bersambung….


Note Author : jangan lupa meletakkan beberapa komentar dan pencet tombol Like 👍 dan vote 💓 yah 😁


Sehat selalu buat para reader lalu author2 tamvan dan imut yang telah mampir 🤩😁


Kalau sudah mampir, titip aja pesan di kolom komentar ntar pasti mampir balik deh. 😋


Sampai jumpa 👋

__ADS_1


__ADS_2