Heart Eater

Heart Eater
Bab_5. Orang Paling Kuat


__ADS_3

Bab - 5. Orang Paling Kuat.


Wilayah selatan dipenuhi oleh sumber daya alam yang sangat melimpah, kekayaan alam di wilayah tersebut dipegang kendali atas nama kota Marabuh. Kota yang terbilang cukup besar yang dipimpin oleh satu orang kuat yang disebut Datuak (pemimpin).


Datuak menjadi simbol yang sangat penting bagi kota Marabuh yaitu sang pemimpin. Datuak/pemimpin kota biasanya adalah julukan seorang paling kuat (satu-satunya) di kotanya. Seluruh tanah yang ada di wilayah Selatan serta isinya berada dibawah kekuasaan Datuak, dan julukan nama itu diyakini di dunia ini adalah sosok yang berdiri paling puncak dan banyak orang-orang segani dan hormati.


Dikediaman Datuak XXVII (27) depan pintu masuk utama.


"Ah.. hahh! Haahhhh… ak-akhirnya kita sampai juga." Ucap Vira dengan suara yang terengah-engah. 


Egi dan Vira sepertinya mereka berdua berlarian menuju ke tempat kediaman Datuak. Walau jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka sebelumnya, tapi mereka berdua memutuskan untuk berlari menuju ke sana dan berakhirlah dengan kondisi yang terlihat kelelahan begitu.


"Kamu sama sekali tidak kelelahan, begitu juga saat berlarian dari tempat pasukan perawatan. Kamu ini, apa kamu ini sama sekali tidak memiliki batas fisik ya? Egi, kamu tidak terlihat seperti anak laki-laki biasanya." Ucap Vira.


"Aku juga bisa tampak kelelahan seperti yang kamu bayangkan, hanya saja tubuhku mungkin sedikit memiliki ketahanan yang lebih tinggi. Hm.. mungkin karena sejak kecil aku sering membuntuti orang-orang ketika berburu di pegunungan, dan tanpa sadar kemampuan fisikku berkembang seiring waktu dari sana." Ujar Egi.


"Begitu rupanya, tak heran kalau orang biasa seperti kamu bisa mengimbangi wakil capten Nando tadi." Sahut Vira.


"Orang biasa?"


"Kami para pasukan khusus kota ini adalah orang-orang yang terpilih. Tidak seperti orang-orang tanpa bakat (orang biasa), kami semua yang ada didalam pasukan khusus setiap individunya memiliki kemampuan yang lebih dari seratus orang tanpa bakat." Ujar Vira.


Mendengar ujaran Vira tersebut, Egi pun langsung terkagum-kagum. Ia seketika itu juga melontarkan beberapa pertanyaan pada Vira cara untuk menjadi salah satu orang terpilih tersebut. Namun Vira tidak memiliki wawasan dan informasi yang diinginkan Egi tersebut. Dari lahir Vira sudah memiliki kemampuan didalam dirinya, jadi dia tidak tahu harus mengatakannya bagaimana. Vira hanya mengatakan soal mengikuti ujian kelayakan, saat ujian tersebut selesai dia seketika itupun menjadi pasukan khusus kota Marabuh.


Hanya mengetahui sedikit informasi tersebut, walau tidak terlalu paham namun Egi sedikit mengerti. Egi pun seketika itu beranggapan bahwa jika ia mengikuti ujiannya, mungkin saja ia akan menjadi kuat dan memiliki kemampuan seperti ayahnya dan Nando.


"Vira aku akan mengikuti ujian kelayakan itu." Ucap Egi spontan.


"Hah!?" Vira sedikit terkejut mendengarnya.


"Jadi disinikah kediaman pemimpin kota?" Ucap Egi.


"Ah, oh iya. Benar sekali, tempat ini bagus sekali bukan." Sahut Vira.


"Hm.. Dilihat dari segi ukurannya tempat ini tidak terlihat besar dan juga tidak beda jauh dengan kediaman kepala desa di tempatku. Aku pikir tempatnya akan tampak sangat besar, kenapa tempat tinggal pemimpin kota besar ini tidak besar juga." Ujar Egi sedikit kecewa.


Syut.. plak!


Pukulan kecil tiba-tiba melesat kencang menghantam kepala Egi, dan itu bukan pukulan biasa. Itu karena ujung gagang pedang yang menghantam kepala Egi.


"Jangan lihat dari luarnya." Sahut Vira membentaki Egi setelah melayangkan gagang pedangnya kekepala Egi.


"Hah..! Kenapa kau tiba-tiba memukulku lagi."


"Sudahlah, ayo kita masuk." Sahut Vira sambil menarik lengan Egi sedari mengajaknya masuk kedalam.

__ADS_1


Ketika Vira menarik lengan Egi untuk membawanya masuk, Egi tiba-tiba terhenti di depan gerbang masuk kediaman datuak tersebut.


"Perasaan apa ini, di dalam sana ada tekanan yang begitu kuat. Tidak, lebih kuat dan menakutkan dari orang yang disebut Capten Erdin itu." Ucap Egi sangat cemas dalam hati.


"Kenapa, Egi?" Tanya Vira.


"Tubuhku serasa berat." Balas Egi, iapun seketika itu terlihat sedikit kelelahan.


"Hm.. apa mungkin karena mereka kah." Ucap Vira.


"Mereka?"


"Iya, mereka. Orang-orang di kelompok sapulluah. Mereka adalah orang-orang dengan bakat hebat di kota ini, tingkat S." Ujar Vira.


"Sapulluah!?" Sahut Egi sedikit terkejut.


"Benar, mereka itu sangat kuat sekali loh. Mereka adalah pasukan khusus terkuat di kota Marabuh ini, mereka semua terdiri dari sepuluh komandan dari setiap tim. Terlebih lagi masing-masing dari mereka tidak begitu terlalu akrab sama lain, jadi tekanan berat ini pasti akan keluar jika mereka berkumpul."


"Sepuluh orang!?" Sahut Egi sangat terkejut.


"Tekanan berat ini sungguh menakutkan bukan. Aku sudah terbiasa loh dengan luapan energi ini, jadi tidak terlalu memberatkan. Terlebih buat mereka yang tak kuat menahannya-"


"Hebat, di dalam sana ada orang-orang yang sangat kuat. Bahkan lebih kuat dari orang yang bernama Erdin itu." Ucap Egi dalam hati sambil menunjukkan senyum kecilnya.


Melihat situasi semuanya yang hanya duduk diam berhadapan tanpa bertatap muka langsung, suasana itu tampak seperti ada di kuburan. Namun seketika Egi dan Vira menampakkan diri didalam sana suasana pun jadi berubah.


"Ya ampun! begitu tidak sopan santunnya bocah-bocah sekarang ini yang bertindak sembrono dan asal masuk ke kediaman yang maha suci ini." Ucap seorang lelaki separuh baya yang tampak gusar. Namanya Duan Sab Amba, umur 46 tahun. Ia adalah salah satu anggota dari kelompok sapulluah yang berperingkat SS.


"Diamlah tua bangka! Kau membuat telingaku sakit mendengar ocehan tidak penting itu. Segera cepat pensiun sana! Pak tua." Sahut seorang laki-laki yang lebih mudah darinya. Namanya Nopi Maxnua, umur 29 tahun dan juga salah satu dari anggota kelompok sapulluah. Ia adalah laki-laki dengan bakat yang luar biasa, tingkat kemampuannya hampir setara dengan Duan Sab Amba. Nopi Maxnua berada ditingkat S.


"Aduh… tolong tenanglah, disini bukan tempat umum." Namanya Utam Barraow, umur 25 tahun. Salah satu anggota kelompok sapulluah, peringkat S. Dia seorang pemuda yang memiliki kebanggaan tersendiri didalam masyarakat. Namun laki-laki ini sangat berbahaya, karena dirinya acap kali geregetan.


"Wah-wah.. seperti biasa, setiap kita dikumpulkan selalu bikin meriah. Hahaha." Ujar Sinta sedikit menahan tawanya. Nama gadis ini Sinta Camay, umur 22 tahun. Sinta juga bagian dari kelompok sapulluah, kemampuan Sinta yang luar biasa mengenai obat-obatan menjadikan dirinya berada ditingkat S dengan cepat. Dia seorang jenius.


"Aku akan membiarkan ini, tapi jika ada yang bikin onar. Langsung kubunuh!!" Ucap konstan seorang pemuda. Namanya Rikki Sierman, umur 24 tahun. Salah satu anggota sapulluah yang berperingkat S. Rikki adalah seorang pasukan khusus yang memiliki loyalitas paling tinggi dari semua anggota kelompok sapulluah. Bisa dibilang dia seorang monoloyalitas. Jika diizinkan berpendapat, dia adalah karakter favoritnya author. 😁


"Ben, tempat ini mulai sangat berisik. Ayo kita keluar cari mangsa." Ucap Gio, seorang laki-laki yang pernah ditemui Egi saat berada di desa Jolok. Namanya Gio Frando, umur 26 tahun. Salah satu anggota sapulluah dengan tingkat kemampuan S. Gio sebenarnya seorang yang tidak bisa dikontrol, pemuda ini sangat buta hati kalau berhadapan dengan mangsanya. Karena dirinya yang seperti itu, iapun tidak memiliki kedekatan dengan siapapun selain teman masa kecilnya. Gio dijuluki sebagai pembantai liar yang ditakuti dan diwaspadai, sebab baik itu makhluk chinaku ataupun manusia Gio seringkali belumura darah dari kedua belah pihak tersebut. Baginya sesosok mangsa tidak ada perbedaan.


"Hentikan omong kosong itu Gio, kita sebentar lagi akan menghadap Datuak." Sahut Ben yang duduk disebelahnya. Namanya Bidal Benrik, umur 26 tahun. Sama dengan Gio, Ben salah satu anggota sapulluah yang berperingkat S. Ben adalah orang terdekat Gio, bisa dikatakan teman masa kecilnya.


Dihadapan para kelompok sapulluah yang ada didalam ruangan tersebut Egi pun terdiam kaku. Egi terlihat hanya berdiri dan memandangi setiap wajah mereka yang ada didalam ruangan itu hingga pandangan tertuju kepada satu wajah, dan wajah yang dilihatnya seketika itu membuatnya tiba-tiba bertingkah aneh seperti orang naik darah.


Vira berulang kali mencoba menyuruh Egi untuk ikut duduk di dalam ruangan itu namun, Egi tidak dapat mengikuti perkataan Vira tersebut lantaran tidak bisa memalingkan mukanya saat melirik kearah seseorang itu. Kenapa dua orang laki-laki yang ia lawan waktu di desa Jolok ada disini? Begitulah yang ada didalam pikiranya. Egi mengingat bahwa Ben dan Gio berada disana saat semua orang-orang di desanya sudah terbunuh. Apa lagi mereka berdua telah membunuhnya, orang yang paling disayanginya. Ibu dan adiknya tergeletak tak bernyawa tepat hadapan mereka berdua.


Seketika itu emosi benci yang kuat mulai menguasai hati Egi, dan luapan amarahnya terhadap kedua orang tersebut tidak tertahankan lagi saat gambaran tentang jasad keluarganya teringat-ingat kembali dalam benaknya. Ben dan Gio tampak tidak terlalu memerhatikan Egi didalam ruangan tersebut, saat itu Egi melihat sebuah kesempatan untuk membalasnya. Ketika Egi beranggapan bahwa Gio dan Ben sedang lengah, iapun berniat melakukan serangan kejut. Masih tetap hidup sehat walafiat seakan tidak mempunyai penyesalan sedikitpun tentang perbuatan yang dilakukan mereka pada orang-orang di desa membuat Egi muak.

__ADS_1


Seketika itu Egi dengan sangat cepatnya menyambar sebuah pedang disamping kiri pinggang Vira. Seketika itu juga dalam sekejap Egi mencabut sebilah pedang tajam itu dari sarungnya dan kemudian langsung berlari sekencang mungkin menghantam Gio dengan sebilah pedang tersebut. Vira yang menyaksikan tingkah mendadak Egi tersebut sontak terkejut dan sangat kaget melihat Egi tiba-tiba sudah berlari menuju kearah Gio dengan menghunuskan sebilah pedang.


Vira saat itu tidak menyadari bahwa pedang yang digunakan oleh Egi tersebut adalah pedang miliknya. Vira menyadarinya sedikit lambat, ketika Vira melihat sarung pedang itu tergeletak dihadapannya iapun baru menyadarinya kalau pedangnya telah dicuri Egi tepat disebelahnya.


"Heh!? Sejak kapan pedang itu ada ditangannya?" Ucap Vira terkejut.


Dengan kecekatan otot-otot kaki yang kuat, Egi berlari sangat cepat dan langsung melompat ketengah-tengah orang yang sedang duduk bersila itu. Seketika itu Egi langsung mengayunkan pedang digenggaman tangannya itu dengan tenaga penuh.


Bruk…!!


Egi seketika itu tiba-tiba saja terjatuh dan tersungkur begitu keras setelah ada seseorang yang menyergapnya, dan serangan Egi pun gagal mengenai Gio.


Serangan Egi tersebut digagalkan dengan mudahnya oleh Rikki Sierman, saat ini Egi tampak tidak bisa melepaskan diri dari kuncian Rikki. Posisi kepala yang menyentuh permukaan lantai dan kedua lengan dipegangi erat kebelakang punggungnya membuat Egi kesulitan untuk bergerak.


"Oi.. bocah! Bukankah aku sudah katakan. Jika berbuat onar akan kubunuh!" Ucap Rikki kesal sambil menginjak punggung Egi berulang-ulang.


"Huh.. begitukah, kalau begitu maaf saja. Suaramu terlalu kecil seperti seorang wanita jadi aku kurang mendengarnya." Sahut Egi mangkel.


"Hahaha!?!?"


Semua orang di ruangan tersebut seketika itu tertawa setelah mendengar jelas tuturan Egi.


"Sialan..!!! Kau benar-benar akan kubunuh bocah!" Ucap Rikki sedari mengambil sebilah pedang tergeletak disebelahnya saat dipakai Egi berusan.


"Hentikan itu, Ikki!" Sahut seseorang yang berpakaian hitam pekat seperti milik pasukan khusus yang datang seketika itu. Pakaian hitam pekat yang laki-laki itu kenakan memang tampak seperti milik pasukan khusus kota Marabuh namun sedikit berbeda, dibagian kiri dan kanan lengan bajunya memiliki dua garis tebal dengan corak warna emas. Sudah tampak jelas bahwa orang itu adalah seorang yang berkedudukan sangat penting.


Setelah mendengar suara itu mereka semua serentak kembali duduk bersila. Rikki yang sedang meringkus tubuh Egi kelantai seketika itu melepaskannya dan ikut kembali duduk didalam ruangan tersebut.


"Ini milikmu kan, Vira." Ucap Sinta sedari mengulurkan sebilah pedang. Vira pun seketika itu langsung meraih dan menyarungkan pedang itu kembali.


"Terimakasih Komandan Sinta." Balas Vira sambil merangkul pedangnya.


Setelah semuanya tampak telah kembali duduk tenang dan saling berhadapan, orang yang mengenakan pakaian hitam pekat dengan corak warna emas dilengannya itupun segera duduk menghadap kearah dua deretan orang-orang yang duduk saling berhadapan tersebut. Ialah sang Datuak, sosok orang yang memimpin kota Marabuh ini.


Datuak/pemimpin ini adalah sebutan tingkatan paling tertinggi [satu-satunya] di kota itu. Datuak memiliki banyak penduduk yang menghormati dan menuruti perintahnya. Hanya ada 4 wilayah yang menyandang Nama Datuak di Negara ini. Wilayah itu adalah wilayah Barat, Timur, Utara, dan Selatan. 


Bersambung….


Note author : jangan lupa meletakkan beberapa komentar dan pencet tombol Like 👍 dan vote 💓 yah 😁


Sehat selalu buat para reader lalu author2 tamvan dan imut yang telah mampir 🤩😁


Kalau sudah mampir, titip aja pesan di kolom komentar ntar pasti mampir balik deh. 😋


Sampai jumpa 👋

__ADS_1


__ADS_2