
Bab - 11. Marabuh Berduka. Gugurnya Sang Pemimpin Hebat.
Egi yang menduga bahwa itu adalah Vira langsung lekas berlari dan mendekap tubuh Vira dengan erat. Egi menepuk pipi Vira berulang kali sambil menyebut namanya.
Vira tidak menjawab sepatah katapun dan tidak terdengar suara sekecil apapun dari mulutnya yang bergelimang darah itu. Egi melirik kebawah badan Vira, terlihat darah telah mengalir begitu banyak membasahi permukaan tanah, karena darah yang terus mengalir tersebut berasal dari lubang di punggung Vira.
Egi beberapa menit memandangi wajah Vira dengan mata yang berkaca-kaca, lalu mulai menyadari bahwa Vira sudah tiada. Egi mengelus untaian rambut yang begitu halus dikeningnya Vira saat itu terlihat acak-acakan dan lalu merapikannya.
Diwajahnya Vira terlihat berjatuhan air mata Egi yang membasahi kedua pipi mulusnya Vira. Egi merebahkan tubuhnya Vira kembali diatas permukaan tanah, namun hampir sampai 1 centimeter tubuhnya Vira menyentuh permukaan tanah Egi tidak kuasa melepas Vira, ia dengan cepat kembali memeluk tubuhnya Vira di pangkuannya dengan begitu sangat erat sekali.
Seketika itu Egi mengeluarkan tangisan yang begitu terisak-isak, Egi merasa sangat sedih sekali melihat tubuhnya Vira saat itu sudah tidak bernyawa lagi. Dengan napas yang berat Egi meratapi kepergian Vira tersebut.
..
Sementara itu di kediaman Datuak masih terlihat pertarungan yang sengit sedang berlangsung. Raji seakan segera mencapai tujuannya saat telah menyelesaikan tahap pertama dari rencananya tersebut.
"Raji! Kau tahu sendiri bukan, apa yang akan terjadi pada tubuhmu setelah mengaktifkan teknik terlarang itu."
"Haha!! Apa kau mencoba untuk memberiku sebuah pilihan pak tua!? Tidak! Akulah disini yang memberi pilihan. Aku telah meneliti resiko dari teknik ini, dan lalu aku telah menemukan cara untuk menghindari dampak dari teknik tersebut. Mau aku kasih tau caranya!? Haha."
Raji membuka pakaiannya dan mencoba menunjukkan sesuatu yang ada pada tubuhnya saat itu. Setelah Raji memperlihatkan tubuhnya pada Datuak, seketika itu juga Datuak sangat begitu terkejut melihatnya.
"Dasar biadap!! Aku tidak akan menahan diri lagi. Aku akan benar-benar membunuhmu Raji!!"
"Haha. Jadi maksudmu, kau masih belum serius menghadapiku. Haaa!! Tua bangka! Kalau begitu seranglah!! Kemarilah!! bunuh aku sekarang juga. Haha! Itupun jika kau bisa."
Datuak memusatkan seluruh EL yang ada di seluruh tubuhnya kearah kedua telapak tangannya. Permungkaan tanah disekitar tempat mereka berdua berdiri berguncang hebat hingga getarannya berdampak pada keseluruh bagian kota Marabuh.
Rikki yang sedang bergegas menuju kearah kediaman Datuak tiba-tiba terhenti seketika merasakan sensasi tekanan EL tersebut. Begitupun dengan semua komandan dan seluruh pasukan khusus yang ada di kota tersebut.
Sementara itu di wilayah bagian timur.
__ADS_1
Sebuah kota besar dibagian timur, terlihat seseorang berdiri di anjung bangunan yang cukup besar. Ia terlihat sedang memejamkan matanya seperti sedang merasakan sesuatu.
"Hmmp. Dia benar-benar akan menggunakannya." Ucapnya seseorang itu sambil tersenyum kecil.
..
Di suatu tempat ditengah hutan lebat, hutan tersebut penuh sekali dengan berbagai macam gerombolan binatang-binatang buas dengan ukuran yang sangat besar serta auman yang keras.
Terlihat didalam tengah hutan tersebut tiga orang sedang terkepung oleh sekawanan binatang buas yang sangat besar. Binatang buas tersebut mengepung mereka bertiga sehingga tidak ada satupun ada jalan untuk kabur bagi mereka bertiga.
"Ah, kita telah terkepung.. Bagaimana ini." Ucapnya dengan nada seperti bernyanyi.
"Apakah kamu membuatku tertawa, segera bereskan itu. Ya ampun benar-benar hari ini bikin menyusahkan saja."
"Eh! Kenapa harus aku!?"
"Bukankah sudah jelas! Kamu yang telah membawa mereka semua kesini! Jadi bereskan sendiri kekacauan yang telah kau buat itu. Mengerti!"
"Hah!?"
Ditengah perdebatan antara kedua orang itu, seseorang berpakaian hitam pekat berjalan kearah mereka berdua dan mulai menyampaikan beberapa kata dengan nada bicara yang elegan. Mereka berdua pun terdiam dan mengikutinya.
"Baiklah. Kita akan kembali hari ini, sepertinya misi ini kita hentikan disini dulu. Kita akan menuju kembali ke kota sekarang ini juga." Ucap seorang itu sambil menyarungkan pedangnya kembali, setelah itu semua binatang buas yang telah mengepung mereka tersebut roboh dan tergeletak mati begitu saja.
"Huh, si kakek tua itu yah." Sahut mereka berdua dengan rawut wajah serius.
..
Wilayah Selatan di kota Marabuh area bagian barat kota.
EL yang sangat besar itu terkumpul di kedua sisi telapak tangannya Datuak. Dengan EL sebesar itu, seluruh chinaku yang merasakan tekanan tersebut membuat ekspresi wajah yang sangat ketakutan. EL sebesar itu bisa saja menghancurkan dan meratakan seluruh dan seisi kota Marabuh saat itu.
__ADS_1
Darah bercucuran keluar dari mulut dan tubuhnya Datuak, sepertinya ia tidak cukup sanggup menahan tekanan EL besar yang ia kumpulkan. Karena bekas luka yang ada pada tubuhnya itu sungguh sangat memberatkan kondisinya saat itu.
"Marasaian!" Sahut Datuak dengan suara yang begitu pelan hampir sama sekali tidak terdengar.
Setelah Datuak mengatakan kalimat tersebut, Raji tidak bisa bergerak sedikitpun dari tempat ia berdiri. Ia dengan heran dan takutnya bertanya-tanya pada dirinya, apa sebenarnya yang telah terjadi pada tubuhnya saat itu. Kenapa ia bisa terkena teknik tersebut sedangkan jaraknya dengan Datuak terlihat masih cukup jauh dari teknik sebelumnya, dan disekelilingnya ada api yang tak bisa di hancurkan oleh apapun jenis teknik EL dan serangannya.
"Sialan kau tua bangka! Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan!?" Ucap Raji dalam hatinya karena tidak bisa menggerakkan mulutnya untuk bicara.
Datuak parpatih kemudian menepuk 3 kali dengan tangan kanannya permukaan tanah tempat ia berpijak. Setelah itu permukaan tanah tersebut tiba-tiba retak hingga radius 10 meter dari tempat posisi Raji berdiri. Permungkaan tanah yang retak tersebut perlahan runtuh hingga terbentuk sebuah lubang yang lumayan dalam, dari dalam lubang tersebut muncul sebuah tangan yang mencoba merangkak naik ke atas.
Raji yang melihatnya langsung membuat seluruh tubuhnya menggigil ketakutan karena merasakan sensasi EL besar yang tak ada ujungnya itu. EL itu sangat pekat dan juga begitu berat untuk dirasakan, Raji menggerakkan seluruh tenaga pada tubuhnya untuk melepaskan diri dari kekangan teknik tersebut. Namun tetap tidak bisa, ia tidak bisa bergerak sedikitpun dari tempatnya dan terlihat rawut di wajahnya itu seperti kelinci yang akan diterkam oleh rubah.
Tangan pertama yang merangkak keluar dari dalam lubang itu tidak normal, tangan tersebut bukan merupakan milik baik manusia, binatang, serangga ataupun jenis makhluk di dunianya menurut pikiran Raji tersebut. Bentuk tangan kedua pun segera muncul, sekarang Raji benar-benar dalam keadaan diujung maut. Setelah makhluk aneh tersebut keluar, Raji berpikir bahwa dirinya benar-benar akan tamat seketika itu.
Suara batuk terdengar dan darah pun bermuncratan keluar dari mulut. Datuak sepertinya mengalami sedikit dampak pada tubuhnya. Dampak tersebut berasal dari bekas luka di tubuhnya tersebut. Sesaat itu Raji menyadari sesuatu, seketika itu ia menyadari teknik yang Datuak keluarkan untuk memanggil makhluk aneh yang akan keluar dari lubang tersebut terhubung dengan kondisinya Datuak.
Raji mulai memikirkan sesuatu, jika bisa melancarkan serangan fisik kejutan pada Datuak, mungkin teknik yang Datuak keluarkan itu akan gagal dan makhluk yang memiliki tekanan aneh tersebut tak akan pernah keluar dari dalam lubang itu.
Raji tidak bisa bergerak karena terkekang oleh teknik itu dan mempunyai sebuah ide untuk melakukannya. Raji melirik kearah satu chinaku yang masih belum terbunuh oleh Datuak. Chinaku yang terkena hempasan dari pukulan Datuak sebelumnya terlihat terbaring pingsan di bawah puing-puing bangunan yang hancur.
Raji menggunakan teknik temuan buatannya sendiri yang ia beri nama "Tasappo" tasappo membuat ia bisa memiliki tubuh lain atau bisa dikatakan tubuh yang sehat dan masih hidup milik inang lain dengan syarat tubuh tersebut tidak sadarkan diri atau pingsan lalu mengambilnya dan menukarnya dengan tubuhnya sendiri.
Sipengguna dengan leluasa melakukan apa saja dengan tubuh baru telah yang dimilikinya tersebut, namun memiliki sebuah dampak. Dampak tersebut membuat EL baru ditubuh si korban tidak sinkron dan beberapa menit akan berakhir dalam kematian. Begitupun juga dengan pengguna, namun karena Raji memiliki sesuatu untuk mengatasinya, jadi baginya dampak tersebut tidak pernah ada.
Setelah mengambil alih tubuh chinaku tersebut, Raji melesat kencang bagaikan kilatan cahaya sehingga tidak bisa diikuti dengan mata telanjang. Raji muncul tiba-tiba di belakang Datuak, Datuak seketika itu tidak menyadarinya dan kaget saat telah melihat bahwa Raji sudah berdiri tepat di belakangnya.
Raji pun menghantam belakang punggungnya Datuak dengan sebilah pedang yang ia pungut dari bawahannya Datuak yang telah mati. Secara tiba-tiba, sebilah pedang itu menembus dari punggung hingga bagian depan perutnya Datuak.
Darah segar kemudian keluar mengalir dari dalam mulut dan dari luka tusukan tersebut. Setelah menerima serangan tersebut, Datuak terlihat begitu lelah di wajahnya dan seketika itu tubuhnya langsung roboh menghantam permukaan tanah. Tanah yang retak sebelumnya dan berlubang tersebut, perlahan bergerak lalu menyatuh seperti semula. Makhluk tersebut itupun tidak jadi berhasil merangkak keluar dari dalam lubang tersebut.
Bersambung….
__ADS_1