Heart Eater

Heart Eater
Tipe 4


__ADS_3

Bab - 8. Tipe 4


Digaris belakang.


Markas pasukan khusus bagian tim perawatan yang dikomandani oleh Sinta tampak memberikan arahan kepada anggota-anggota tim perawatan yang dikumpulkan. Anggota dari tim perawatan berjumlah 138 peringkat C dan 182 peringkat D sedang bersiap mengikuti arahan dari Komandan Sinta.


"Vira! Apa semua orang-orang ini bisa bertarung?" Ucap Egi berbisik pada Vira.


"Kita semua yang berada di pasukan perawatan hanya akan membantu digaris belakang. Semua di pasukan perawatan hanya berperingkat C dan D, tidak ada seorangpun yang ahli dalam pertarungan." Ucap Vira.


"Apa maksudmu?" Tanya Egi masih belum mengerti.


"Setiap kemampuan dari warna kita berbeda namun teknik penguasaannya sama. Setiap warna dari kita akan dinilai dalam sebuah ujian dan diberikan peringkat sesuai keahlian dan tingkat kekuatannya. Jika kamu berperingkat B atau A, kamu akan direkrut oleh tim-tim kuat seperti timnya capten Erdin, Fathan, Rendy, Najwa, Aris, Zolla, JM, Agung, dan Dapidal."


"Lalu di pasukan ini?" Ucap Egi


"Di tim ini hanya ada sekumpulan peringkat C dan D. Aku tidak bilang kalau di dalam pasukan perawatan ada seseorang berperingkat B yang cocok dalam pertarungan."


"Heh! Apa-apaan itu. Kalian tidak bisa ikut bertarung, padahal kalian memiliki warna. Lalu untuk apa sebuah pedang yang ada di ikat pinggang kalian itu?"


"Pedang yang selalu kami bawa ini adalah untuk melindungi diri.


"Apa aku juga memilikinya ya.., itu yang mereka sebut warna?" Ucap Egi melihat telapak tangannya berharap bisa melihat warnanya.


"Aku yakin kamu pasti memiliki warna Egi, kamu harus menunggu misi ini selesai dan mengikuti ujiannya." Sahut Vira menyemangati Egi.


"Kamu benar, aku akan menunggu saat itu datang."


"Egi, sampai saat itu tiba. Kamu akan memilih masuk ke tim mana?"


"Hmm. Entahlah aku tidak terlalu memikirkan itu, hm mungkin aku akan menerima tawaran dari tim Erdin jika dia mengundangku. Dia sangat kuat sekali, aku ingin kuat sepertinya."


"Haha!" Vira tertawa kecil.


"Huh, kenapa kau tertawa. Apa ada yang lucu." Tanya Egi kebingungan.


"Haha, tidak. Aku hanya geli saja mendengar katamu." Jawab Vira sambil memegang perutnya.


"Itu tidak terdengar baik bagiku, kamu mengejekku Vira." Ucap Egi kesal.


"Ah. Maafkan aku, bukan begitu."


"Lalu kenapa?"


"Aku rasa Capten Erdin tidak akan merekrut kamu walau sekaligus kamu berperingkat A."


"Huh! Kenapa bisa begitu?"


"Karena semua orang yang berada di tim itu hanya orang-orang dari keluarga yang terpandang di kota ini. Tim itu sungguh kelas yang berbeda dengan kalangan seperti kita ini." Ucap Vira serius.


"Jadi orang-orang di tim itu bukan orang-orang yang biasa saja ya. Kalau begitu aku tidak akan kalah dari orang-orang seperti mereka." Sahut Egi bersemangat.


Setelah mendengar ulasan dari Egi, Vira tersenyum kecil mendengar hal itu. Sinta yang dari tadi memberikan arahan melirik kearah Egi yang bersuara berisik di dalam barisan kerumunan orang yang berdiri itu dengan ekspresi geram. Orang-orang dari pasukan tersebut melirik Egi dan berbisik-bisik akan kelakuan Egi itu. Berbagai hal tentang pelecehan status, perkataan buruk, dan pembanding dirinya dengan mereka dilontarkan dengan bisikan penghinaan terhadap diri Egi.


"Heh, kenapa dengan anak laki-laki itu." Bisik si (A)


"Kau benar. Lihatlah bagaimana penampilan dirinya." Bisik si (B)


"Aku tidak boleh dekat-dekat dengannya." Bisik si (C)


"Anak baru sementara itu, sok kuat disini." Bisik si (D)


"Aku yakin dia pasti bakal mati cepat karena sifatnya itu." Bisik si (E)


"Beraninya dia berisik saat komandan sedang berbicara, dasar orang pinggiran." Bisik si (F)

__ADS_1


"Haha, orang itu menarik juga." Bisik si (G)


"Gawat. Dia akan dibunuh oleh komandan jika masih berisik begitu." Bisik si (H)


"Cih." Bisik si (I)


Sinta dengan keras menyerukan nama Egi, orang-orang yang berbisik-bisik mengenai diri Egi mulai terdiam. Sinta bersuara lembut mengatakan pada Egi bahwa dirinya akan membunuhnya jika ia membuat suara yang berisik seperti itu lagi. Egi yang mendengar kata itu langsung merinding akan perkataan itu. Vira yang ikut mendengarkan perkataan tersebut jadi tidak kuat menahan tawa kecilnya dan membuat Egi sedikit kesal melihat rawut wajah tertawa kecil Vira itu.


….


….


Didepan pintu masuk kota Marabuh keesokannya di sore hari.


"Rikki, apa kamu merasakannya." Ucap Utam Barrow.


"Yeah. Sangat jelas sekali dari tekanannya. Mereka sudah ada didepan sana." Ucap Rikki penuh semangat.



Nama : Rikki Sierman


Kelamin : Laki-laki


Peringkat SS


Salah satu anggota SAPULLUAH


"Mereka datang lebih cepat dari informasi yang diberikan." Ucap Capten Aris dari tim Serigala.



Nama : Aris Kutaik


Kelamin : Laki-laki


Peringkat A


"Tekanan ini sangat berbeda dengan tipe 3 yang kita temui, mungkinkah ini tekanan dari tipe baru itu." Sahut Utam Barrow.


"Hahaha. Entahlah, siapa yang tahu." Sahut Rikki tertawa.


Utam Barrow yang mendengar pernyataan tersebut sedikit khawatir dengan kondisi gabungan kedua tim yang terbentuk tersebut.


"Huh. Kenapa Datuak menyuruhku bersama dengan orang Bar-Bar ini." Sahut Utam Barrow dalam hati melirik ke tim Rikki yang penuh semangat akan pertarungan.


"Orang-orang dari pasukan Ikan Bawung jangan sampai menghalangi jalan kami Utam." Sahut Rikki.


"Yeah!!!" Sahut lantang serentak orang-orang dari pasukan Serigala yang dikomandani Rikki.


"Heh. Bertindak seenaknya sendiri, dasar orang-orang dari serigala rakus itu." Ucap pelan dari Capten tim Ikan Bawung Dapidal.



Nama : Dapidal


Kelamin : Laki-laki


Capten dari tim Ikan Bawung


Peringkat A


"Itu benar, cih orang-orang bar-bar sialan." Ucap bisik-bisik dari pasukan tim Ikan Bawung.


"Huh. Lakukan yang kau suka bersama pasukanmu. Aku tidak akan membiarkan satupun dari mereka masuk melewati jalan ini." Sahut Utam Barrow dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


Ditengah-tengah percakapan antara kedua tim tersebut muncul seseorang berpakaian serba hitam yang menutupi seluruh tubuh dan wajahnya dihadapan mereka. Dia adalah seorang pengantar pesan dari Datuak. Dari rawut wajah dan nada bicaranya sudah dipastikan bahwa itu pesan yang buruk.


"Laporan!! Tim pengintai di bagian barat hutan telah binasa. Gerombolan itu akan segera data-"


Tidak sempat menyampaikan informasi tersebut keseluruhan, tiba-tiba hembusan angin kuat menghempaskan pengantar pesan tadi kedinding tembok pembatas kota. Terlihat jasad seorang pengantar pesan tersebut tewas dengan leher yang patah setelah kepalanya menghantam keras dinding itu.


"Mereka datang!!" sahut semuanya serentak bersiap-siap mengambil posisi kuda-kuda bertarung.


Seseorang yang menghempaskan pengantar pesan itu berjalan perlahan menuju ke arah gerbang pintu masuk kota. Seseorang itu bukanlah manusia, dia mulai keluar menunjukkan sosoknya dari dalam hutan yang lebat dan gelap itu.


 


"Apa itu barusan Komandan? Bukankah barusan itu!" Ucap salah satu dari anggota tim serigala dengan rawut wajah yang cemas kepada Rikki.


"Ya. Itu adalah EL! Yang barusan ia gunakan adalah EL angin." Ucap Rikki.


"Tidak mungkin! Ternyata informasi yang diberitakan itu benar. Sekarang makhluk itu pengguna EL."


"Makhluk itu! Sudah berapa banyak jantung yang ia makan untuk mendapatkan warna itu." Sahut Utam Barrow geram.


"Jadi dia tipe baru yang dimaksud oleh Datuak. Tipe 4, chinaku pengguna EL."


"Rikki ini aneh!"


"Huh? Apa yang kau katakan."


"Jumlah mereka tidak lebih dari 500, dimana sisanya."


"Hah! Mungkinkah!" Sahut Rikki kaget.


….


….


Diluar tembok pembatas kota bagian Barat.


"Grrr! Kami sudah mempersiapkan sesuai dengan apa yang kau minta." Ucap pemimpin rombongan chinaku pada seseorang yang berpakaian hitam berdiri di tepi dinding pembatas kota itu.


"Oh, begitukah. Baiklah mari kita mulai ritual kebangkitannya malam ini." Ucap seseorang yang berpakaian hitam misterius itu.


..


..


"Wahai wujud dari 7 cahaya dunia ini, aku perintahkan turuti keinginanku. Mayalo!"


Sebuah gelombang api besar menghantam dinding pembatas dalam dan luar kota bagian Barat itu lalu menghancurkan dan membakar bangunan yang ada di dalam kota bagian Barat tersebut.


"Huh!" Sahut semua komandan dan capten tim yang mendengar suara lantang ledakan tersebut yang ditandai dengan munculnya api besar yang membakar dalam kota bagian Barat itu.


..


Dikediaman Datuak.


"Jadi dia juga muncul dalam penyerangan ini." Ucap Datuak mengambil dua buah belati aneh di atas dinding kamarnya.


Sisa dari gerombolan itu langsung menyerbu masuk menuju kedalam kota itu setelah tembok besar pembatas tersebut hancur.


Bersambung….


Note author : hallo guys 😆 jumpa lagi. Aye bingung mau ngomong apa! 🤔. Cuman sekedar menyapa saja 👋


Terimakasih telah berkunjung jangan lupa pencet tombol Like 👍 ye dan vote ❤️


Ok sampai jumpa.

__ADS_1


__ADS_2