Hello, I Am Bryan

Hello, I Am Bryan
Bertemu Mimpi Buruk Lagi


__ADS_3

Puas dengan liburan mereka Val, Vina dan Cindy akhirnya kembali disibukkan dengan rutinitas sekolah, ditambah lagi dengan kegiatan ekstra kurikuler yang harus mereka ikuti semakin menyita tenaga dan waktu istirahat mereka di rumah. Namun mereka senang menjalani semuanya karena mereka memilih bakat sesuai kesukaan mereka, apalagi Val yang tentu saja sangat girang dapat masuk di kedua kegiatan ekskul favoritnya, fasilitas disini sangat lengkap, luas, bersih dan tertata rapih. Dulu Val sangat suka berlama lama di pool milik grup renang SMP nya, meski pool di SMP tidak seluas di SMA tetapi Val bisa menenangkan diri di sana, setiap Val punya masalah yang ingin diselesaikan, Val pasti berdiam diri dulu di sana, sementara tempat panahan hanya ada di SMA ini, Val bisa masuk belajar memanah kemarin karena Val kenal baik salah satu kakak pengajarnya, Val memanah saat jadwal kelas SMA kosong, dan ditemani kak Fadli, kakak pengajar panahan di club panahan ini. Wajah Val selalu memerah tiap bertemu kak Fadli, entahlah yang lebih Val suka, panahannya atau keberadaan Kak Fadlinya, intinya degup jantung Val selalu tidak bisa diajak kompromi setiap ketemu kak Fadli, seperti saat ini.


"Hai Val, akhirnya di club ini juga ya"


"Eh, ada Kak Fadli, hehehehe... Iya kak, ini udah mau jalan 2 bulan kak, kok kakak baru keliatan?"


"Iya, kemarin ada yang harus kakak selesaikan di kampus, kamu gimana perkembangan manahnya?"


"Lumayan lah kak, kemarin udah mulai sedikit mahir, itu juga kata Kak Stella"


"Oh ya?"


"Iya Kak"


"Bagus kalo gitu Val, oh iya kakak tadi ke sekretariat club panah, lumayan banget ya, pendaftar club tahun ini aku liat lumayan banyak daftarnya lho ya, tapi kok sekarang yang datang cuma sedikit Val, pada kemana semua Val?"


"Ga tau kak, seingat Val dari pertama masuk juga segini gini aja kak, ga ngerti juga kok angka pendaftar sama yang latihan beda jauh drastis pake banget, mungkin karena kakak kemarin ga ada kali kak"


"Bisa aja kamu Val, udah gih latihan lagi, dah bisa tengah target ga? atau minimal di lingkaran 10"


"Belum kak masih seputaran 7 sama 8 aja, syukur syukur sesekali 9 tapi 10 aduh belum kak, masih pemula"


"Hahahaha... Itu sih udah bagus ga mental Val, kalo pemula banyakan mental"


"Iya ya kak" Jawabku sambil tersipu malu dan mencoba membidik kembali papan target di depanku, aku sedikit terkejut ketika Kak Fadli mendekatiku dari arah belakangku


"Gimana mau fokus kamu bidiknya Val, orang kuda kuda kamu kurang lebar dan ga seimbang, jadi mempengaruhi arah bidik kamu, sebelum release kamu perbaiki dulu posisi stance kamu, stance buat pemula itu even stance aja, kaki di sejajarin dan buka kaki selebar bahu" Jawab Kak Fadli sambil sedikit menendang kaki kiriku untuk membuka sedikit sejajar bahu dan memegang pundakku untuk menguatkan kuda kudaku


"Nah ini ga doyong doyong kan" Ujar Kak Fadli lagi.


Wajahku sudah serasa seperti kepiting direbus, panas banget, fiuuhhhtt, ya ampun baru kali ini Kak Fadli sedekat ini sama aku, biasanya ngajarinnya samping sampingan doang, jadi aku bisa belajar dari ngeliat postur dan cara manah dia, baru aku copy ke gerakan aku, ini ga lho... Aku langsung di ajarin by "touching", WOW... Jiwaku bersorak sorai gembira kayak kembang api tahun baru.


"Val, kamu demam, kok pipi kamu merah gitu?" Kak Fadli yang ternyata posisinya sudah ada di depan aku, kembali bersuara.


Oh please kakak, kakak keluar satu huruf aja, aku udah meleleh bagaimana kalau ditatap intens gini.


"Ehh... Ga kak, mungkin cuaca aja kak, aku istirahat bentar kak, tadi sudah lumayan 3 anak panah soalnya kak" Sahutku sambil mengibas ngibaskan tangan ke arah wajahku, seolah olah memang kepanasan


"Oh kamu harus pemanasan dulu dan biasain terus panasin otot kamu, biar nanti terbiasa"


"Baik kak, makasih Kak"


"Kamu mau istirahat dulu? Kamu istirahatin lengan kamu, belajar panahan ga semudah liatnya, banyak yang masih harus kamu pelajari baru kamu praktekkan"


"Iya kak, tapi praktek sambil belajar teori lebih enak kan ya kak" Jawabku sambil meminta dukungan dari Kak Stella, yang kemudian dijawab dengan anggukan Kak Stella, Ahaa satu lagi pendukung aku. Hah , bahagia rasanya, sedikit langkah lagi menuju Kak Fadli, eh salah menuju atlit panahan.


"Tuh kan, Kak Stella aja dukung"


"Hahahaha, iya iya... Ya udah kalian semua istirahat dulu nih, aku bawa sedikit cemilan, silahkan dinikmati, maaf ya baru bisa gabung sekarang"


"Ga papa kak, makasih banget Kak Fadli" Jawab anggota club yang lainnya sambil menuju ke tempat istirahat di Club Panahan yang bentuknya mirip lesehan di warung warung ala Sunda.


Mereka pun menikmati cemilan yang dibawakan oleh Kak Fadli, sambil bercengkrama dan sesekali saling bercanda. Maklumlah, meski pendaftar club panah mendekati angka fantastis dari semua tahun tahun sejarah pendaftaran club panahan, tapi yang hadir ga pernah lebih dari 10 orang, ga tau pendaftar yang lain kemana semua, apa cuma numpang nama, terserahlah apa alasannya, aku senang berarti aku bisa puas berlatih panahan sekaligus menikmati pesona Kak Fadli buat aku sendiri. Eitss, tapi jangan kemana mana dulu pikirannya, ini hanya sebatas melihat dan mengagumi, bukan posesif sampai psikopat lho ya... hehehehe...

__ADS_1


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku mereka, sosok itu tak ingin memperlihatkan dirinya dan hanya memperhatikan dari celah kecil tempat dia terbiasa memposisikan diri saat berkunjung ke Club Panahan, tempat yang tidak diketahui siapapun kecuali sahabatnya yang saat ini sudah berdiri di belakangnya.


"Lex, loe disini lagi?"


"Iya Cal, loe dah ga ada kegiatan?"


"Ga, dah kelar, cuma meeting sebentar tadi bareng anak anak, loe sendiri?"


"Udah, gue bru kelar di club baca buku"


"Bisa loe baca buku di club?"


"Loe pikir? Ya ga lah, gue baca di ruangan lain, kakaknya cuma ngabarin gue tentang tema apa aja, baru gue baca sendiri"


"Lagian loe ngapain masuk club itu sih?"


"Menurut loe? Gue bisa masuk club mana lagi?"


Caleb terpaksa menarik kembali rencana menjahili Alex, dia hanya bisa terdiam dan mulai memasang wajah serius tatkala sahabatnya itu sudah mulai teringat kepahitan dalam dirinya.


"Ga usah lebay loe, gue baik aja"


"Terus loe ngapain disini?"


"Gue seneng aja, ngeliat orang lain bisa berlatih panahan"


Caleb kembali tersenyum getir karena Caleb tau, Alex dulu sangat ingin mendalami panahan, katanya keliatan keren, karena itu pula, setahun kemarin Caleb mendaftarkan dirinya di club panahan, agar Caleb dapat menjalankan keinginan Alex yang ga bisa Alex lakuin. Selagi matanya menyapu pemandangan yang sedari tadi dilihat oleh Alex, Caleb menangkap satu sosok yang familiar baginya, sulit terlupakan memang bila ada orang yang mencari masalah sama kamu, ya kan?


"Siapa?"


"Loe ga ingat? Anak yang waktu itu nyampurin urusan kita pas lagi berhadapan sama si Hanza, terus anak yang sama yang aku panggil ke ruangan kita waktu MOS"


"Oh, anak itu, itu dia?"


"Iya, yang kucir kuda itu, anak perempuan itu, gue ga nyangka hobinya sama kayak elo, aneh, zaman gini kan ada pistol, buat apa panahan?"


"Loe sih emang ga ngerti dan ga hobby jangan nyalahin orang dan hobbynya lah"


"Gue goda dikit ah"


"Eh loe mau kemana, ga usah loe ganggu Cal"


Seolah tertelan angin, bujukan Alex ga didengerin Caleb, Caleb malah sudah melangkah menuju sekelompok orang yang tengah berhaha hihi di sudut istirahat ruang panahan ini.


"Wah enak nih, kalo ekskulnya seru kayak gini, aku harus masuk club ini juga kali ya"


"Kamu ngapain disini Caleb? Mau ikut latihan panah?" Tanya Kak Fadli ramah


"Aku ga usah diajarin kakak yang baik, setahun terakhir angka aku melampaui pengajarku sendiri, karena aku cepat belajar" jawab Caleb dengan angkuhnya dan nada mencibir


"Ohh gitu, bagus dong ya..."


Dalam hati Val "Ya ampun suombong amat yaa jadi orang, berasa dia di awan tertinggi, yang lain harus ikut semua kata katanya, ampun deh kenapa makhluk ini mengganggu kekhusukan hari aku bersama Kak Fadli sih, dasar perusak suasana, awas aja kalo tujuannya hanya untuk bersombong ria.

__ADS_1


"Ya Baguslah, kalo kamu sendiri gimana, atlit panahan?" Tanya kak Caleb ke Kak Fadli, haduuhh ga sopan banget sama yang tua, Kak Fadli hanya menjawab santai.


"Aku bukan atlit, tapi kalo untuk mengajarkan pemula rasanya aku masih sanggup"


"Ooohhh, oke deh kalo gitu boleh dong kita uji siapa yang paling tangguh, aku yang baru setahun belajar atau kamu yang notabene udah ngajar disini?"


"Ooo, boleh aja, sekarang?"


"Eitss tunggu dulu, bukan sekarang, kita harus memilih waktu dan pasangan yang tepat, kamu siap?"


"Pasangan? Oh beregu?? Boleh aja, kita ambil pasangan dimana? Ada kriterianya?"


"Ga ada kriterianya, yang penting kita menang, cukup ambil yang saat ini sedang ada di club Panahan ini, berani?"


"Oke, kapan?"


"Untuk waktunya nanti aku kabarin, sekarang pilih pasangan dulu aja"


Val berharap dalam hati dipilih Kak Fadli, tapi ternyata Kak Fadli memilih Cyntia yang memang kemampuannya di atas aku, karena dia sudah berlatih mulai masuk esde, dibandingkan aku, kalah jauhlah, sedangkan tamu tak di undang ini tiba tiba sudah berhenti di samping aku.


"Kamu pasangan aku"


"Apa??? Maaf aku ga bisa kak, aku belum mahir betul kak"


"Jadi kamu nolak?"


Val gemetar demi melihat tatapan intens dari Caleb, akhirnya mau tidak mau, Val mengikuti permainan kakak itu.


"Oke karena pasangan sudah ada, aku minta kita kesini lagi dan bertanding setelah 4 minggu, kita lihat bagaimana perkembangannya"


"Oke" Jawab Kak Fadli


Manusia rese' itu kemudian mendekat ke arah aku, ini apaan sih maksudnya, kok main tancap gitu aja, ga pake pertanyaan lagi, Val ga mau berpasangan sama Caleb, beda kalo sama Kak Fadli, Val ga usah ditanya, pasti jawab iya. Tapi ini si manusia rese' yang bawa petaka di awal masuk sekolah Val. Huffttt... Val membuang napas sangat berat, seolah ada yang menindih dadanya.


"Sebaiknya kamu berlatih dengan baik, karena aku milih kamu bukan tanpa alasan, aku minta kamu berlatih betul betul untuk pertandingan nanti, jangan jadi beban buat aku, karena aku ga mau cuma aku aja yang capek cetak angka"


"Tapi Kak, aku kan udah bilang aku ini pemula, yang lebih pengalaman dan jago banyak kak"


"Aku mau kamu, udah ga usah bahas apa apa lagi, intinya besok sore kamu harus di sini untuk latihan, kalo kamu ga datang, jangan harap bisa tenang sekolah di sini"


"Tapi besok bukan jadwal aku kak"


"Jadwal kamu atau bukan, kalo aku suruh datang ya kamu datang"


"Iya Kak"


"Bagus, kamu cuma bisa bilang iya terus kamu laksanain... Kamu ga punya hak untuk nolak, paham?"


"Iya Kak"


Setelah berkata seperti itu, Caleb kemudian berlalu dengan santainya seolah tidak terjadi apa apa disana. Val hanya bisa terdiam di tempat, besok sore jadwal mereka kumpul di rumah Cindy, Val bingung kenapa kakak itu seneng banget cari masalah sama Val, masa sih segitu dendamnya sama kejadian yang entah berapa periode sudah berlalu.


Aaarrrggghhhh... Kepala Val rasanya mendadak puyeng...

__ADS_1


__ADS_2