Hello, I Am Bryan

Hello, I Am Bryan
Pengalaman Pertama Bersama Kak Bryan Part 4


__ADS_3

Wajah Kak Bryan semakin mendekat ke wajah Val, Val ragu antara membiarkan ini terjadi atau mundur teratur menolak secara halus, tapi apa Kak Bryan ga bakal tersinggung, dengan waktu yang sempit akhirnya Val memutuskan untuk diam dan menunggu apa yang mau Kak Bryan lakukan. Val menutup mata, terasa basah di bibir Val, sekejap, ini ciuman pertama Val, rasanya lembut dan menenangkan, apa ini rasanya ciuman, setelah Val membuka mata, tampak wajah Kak Bryan yang tengah tersenyum manis sembari meraih dahi Val untuk dia kecup.


"Terima Kasih karena kamu tidak menolak Val"


"Val tersenyum, ini kenangan pertama Val"


Bryan tersenyum manis kepada Val, Bryan tak menyangka gadis yang dihadapannya ini benar-benar murni, Bryan berjanji akan menjaga Val dengan sepenuh hatinya, mereka berdua menikmati malam terang saat itu sembari berpegangan tangan, Val bersandar manja di dada bidang Kak Bryan, semakin lama Val semakin terbiasa dengan keadaan ini, Val merasa nyaman dan hangat bersandar pada Kak Bryan, tak berapa lama Caleb keluar dan memanggil Bryan karena ada telepon dari Mamanya. Bryan pun masuk setelah berpamitan pada Val, meninggalkan Val dan Caleb berdua.


"Jagain cewek gue"


"Jangan kelamaan ntar gue embat"


"Dasar loe" Ucap Bryan sambil berjalan memasuki Villa


"Ga kebayang ya?" Ucap Caleb pada Val


"Ga kebayang apa Kak?"


"Kamu bisa jadi sama Bryan, aku masih penasaran gimana ceritanya kalian bisa jadian begini, padahal dulu kamu yang paling ga mau terlibat sama kami berdua"


"Yahhh, jalan hidup kita ga tau Kak, aku aja sampe sekarang masih belum percaya bisa jadian sama Kak Bryan"


"Kamu bahagia?"


"Maksud kakak?"


"Ya, yang penting kamu bahagia, kalo mau jujur sebenarnya kalo kamu belum jadian sama Bryan, mungkin aku yang bakalan nembak kamu dan minta kamu jadi pacar aku"


"Maksud kakak?"


"Udahlah, ga usah dipikirin, aku doain yang terbaik buat kalian, yang langgeng ya sama sahabatku, dia udah kayak sodara buat aku, jangan pernah nyakitin dia" ujar Caleb sembari kembali masuk ke Villa


Meski bingung dengan pernyataan Kak Caleb barusan, tapi Val mengangguk, Val belum paham maksudnya bagaimana, masa Kak Caleb juga ada rasa sama aku? Yang bener aja, kemarin kan aku selalu bertengkar dengan dia, terus ternyata dia suka aku gitu? Mustahil, ini bukan kenyataan kan? Saat Val masih sibuk dengan kebingungannya, Bryan datang, Val kaget akan keberadaan Bryan


"Kamu kenapa Val? Kok kaget gitu?"


"Ga papa Kak"


"Beneran?"


"Iya Kak..."


"Masuk yuk, diluar berasa dingin, nanti kamu masuk angin"


"Iya Kak" Val masuk bersama Bryan


Tiga hari menjelang kepulangan mereka kembali ke Kota A, mereka berencana mengunjungi sebuah kuil di kaki gunung, kebetulan ada paman Caleb datang dan mengajak mereka mengunjungi situs yang terkenal unik dan juga keramat bagi orang orang di sekitar wilayah tersebut. Paman Caleb adalah seorang penjelajah daerah, dia suka sekali bertualang apalagi yang berbau bau misteri, Caleb aja sampai bingung kenapa pamannya punya hobi yang seaneh itu, tapi karena CIndy dan Radit penasaran, akhirnya Caleb memutuskan untuk ikut, Vina yang tadinya tidak tertarik juga memilih untuk ikut sekalian jalan-jalan. Val dari awal memang tidak ingin melibatkan diri dengan hal-hal seperti itu, ditambah lagi Val merasa sedikit demam, mungkin baru kerasa di badan, padahal Val dari kecil memang anak yang tidak terlalu tahan dengan cuaca dingin, sementara Villa ini terletak di Puncak, entah kenapa menjelang pulang baru Val merasakan pengaruh cuaca ini pada tubuhnya.


"Kamu beneran ga mau ikut Val?"


"Badan aku ga enak Vin, ga papa kalo kalian mau pergi, pergi aja, kapan lagi kita bisa kesini kan, kebetulan ada pamannya Kak Caleb juga jadi pemandu, gih bersenang-senang"

__ADS_1


"Tapi badan kamu agak anget gini, ga papa kami tinggal?"


"Ga papa Vin, ini sih biasa aja"


"Ya udah deh, kami berangkat ya" Ujar Vina dan Cindy meninggalkan Val di kamarnya


"Val beneran ga ikut?" Tanya Caleb saat Vina dan Cindy turun


"Iya Kak, badannya agak demam"


"Kita ga papa nih pergi?"


"Ga papa Cal, ada gue, kalo ada apa-apa gue langsung bawa Val ke rumah sakit terdekat"


"Loe bisa Lex?"


"Tenang aja, bisa...."


"Ya udah deh, gue tinggal ya"


"Oke, have fun ya, paman maaf ya, aku ga ikut dulu"


"Iya Lex, ga papa"


Mereka pun berangkat menuju kuil tersebut dengan menggunakan kendaraan yang dibawa paman Caleb.


Setelah rombongan mereka berangkat, Bryan meminta pelayan Villanya untuk menyiapkan bubur dan sup hangat serta susu yang akan dia bawakan untuk Val nanti, Bryan pun menuju kamarnya, mandi dan berganti pakaian.


"Udah siap Bik?"


"Udah den, mau langsung bibi bawakan ke atas?"


"Boleh, sini susunya biar aku yang bawain"


"Baik Den"


Sesampainya di depan kamar Val, Bryan mengetuk


"Val, kamu dah bangun?"


"Udah Kak"


"Kakak bawain sarapan buat kamu, kakak masuk ya"


"Iya Kak, makasih" Bryan pun masuk bersama pelayan yang membawakan sarapan untuk Val


"Apa ini kak? Kok sampe buatin bubur dan sup segala Kak?"


"Ga papa biar demam kamu cepat turun"


Setelah meletakkan semua makanan, pelayan itupun pamit turun

__ADS_1


"Makasih Bik"


"Sama sama den, bibi pamit den"


"Iya Bik"


"Makan dulu gih, mau aku suapin?"


"Ga usah kak, makasih, aku bisa sendiri" Ucap Val sambil berusaha bangun


"Aku suapin aja Val"


"Tapi Kak..."


"Jangan nolak ya... Ini cuma perhatian kecil kok"


Val akhirnya membiarkan Bryan menyuapinya dan menerima semua perhatian perhatian kecil yang diberikan Bryan padanya, sebenarnya saat ini Val merasa sedikit malu karena ditatap terus menerus oleh Kak Bryan, tapi Val berusaha menepis perasaaan apapun yang saat ini sedang menggelitiknya.


Setelah semua sarapan habis, Kak Bryan membereskan meja di samping tempat tidur Val dan meletakkannya di meja samping pintu, lalu kembali menemui Val, mengusap lembut kepalanya dan mengecup dahinya, hati Val merasa hangat dengan perlakuan Kak Bryan ini. Perlakuan yang belum pernah Val rasakan dari lawan jenisnya, tidak terhitung Papa dan Rhino ya, karena mereka adalah keluarga Val. Sebenarnya berdua dengan Kak Bryan di kamar ini saja sudah cukup membuat jantung Val berdegup tak beraturan, ditambah lagi mereka duduk di tempat tidur yang sama, tempat tidur Val, tapi berusaha Val tahan, Val tidak ingin Kak Bryan tahu apa yang saat ini ada di pikirannya.


"Kamu masih demam?" Tanya Kak Bryan sembari meletakkan tangannya di dahi Val untuk membandingkan suhu Val saat ini dengan suhu tubuhnya


"Udah agak enakan Kak, makasih"


"Val, sebenarnya sejak kemarin ada yang mau aku bicarain ke kamu"


"Tentang apa Kak?"


"Setelah lulus nanti aku berencana melanjutkan kuliah di Luar Negeri sambil mengatur cabang perusahaan papa aku yang ada di sana. Aku juga akan menjalani operasi lanjutan di sana"


"Operasi lanjutan? Maksudnya Kak?"


"Ya, aku mau cangkok disana kalo ada yang cocok, di sana sistem operasinya lebih canggih dan katanya bisa menyambung saraf saraf yang kemarin dimatikan sementara"


"Oh ya, bagus dong Kak, selamat ya Kak"


"Makasih Val, tapi aku mau kamu ikut aku ke sana"


"Apa kak? ikut ke sana? gimana caranya? aku kan masih harus selesain sekolah aku"


"Ga papa kamu tinggal setahun dulu di sini, sambil aku siapin segala sesuatunya di sana, nanti kalo kamu sudah selesai, aku jemput kamu ke sini, gimana?"


"Tapi kak, aku belum bilang Mama Papa aku, mereka pasti kaget dengar berita mendadak ini, dan lagi aku punya cita-cita yang pengen aku wujudin Kak"


"Kamu bisa wujudin apapun yang kamu mau sama aku di sana Val, mau ya..."


Val terdiam sejenak dan akhirnya menjawab "Aku pikirin dulu ya Kak..."


"Jangan lama lama ya..."


"Kayak udah besok aja Kak berangkatnya, masih lama juga..." Jawab Val tertawa yang membuat Bryan juga ikut tertawa bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2