
Setelah kejadian di Club Panahan kemarin, Val menyesali kata-kata yang dia hamburkan di depan Kak Caleb dan Bryan kemarin, bagaimana kalo mereka ga terima semua perkataan Val? Gimana kalo semua ini malah memperparah keadaan Val. Val ga tau kekuatan apa yang membuat Val bisa seberani itu di depan kedua Kakak "MOST WANTED" di sekolah, ragu-ragu Val melangkah ke Club Panahan. Di sampingnya kedua sahabatnya sama tegangnya dengan Val, Val sudah bercerita kejadian kemarin pada kedua sahabatnya, mereka hanya terbengong dan bingung harus berbuat apa. Vina pamit menuju ke kelas bacanya, sehingga hanya tersisa Cindy yang menemani Val ke kelas panahan. Kelas design Cindy belum mulai, jadi dia masih bisa menemani Val, sedangkan nanti saat Vina selesai dia bakal menggantikan Cindy menemani Val.
Mereka berdua membuka pintu ke kelas panahan, sumpah saat ini Val malah berharap kelas ini rame dengan gerombolan sosialita yang ingin melihat Kak Caleb dan Kak Bryan, namun seperti biasa kelas ini sepi sesuai permintaan Kak Caleb pada penjaga sekolah untuk tidak membiarkan siapapun mengganggu jadwal latihannya. Heran juga kenapa senior cewek kemarin bisa dapat foto-foto Val dan Kak Caleb, berarti mereka sembunyi-sembunyi memotret mereka latihan. Sudahlah, Val ga mau ambil pusing mikirin hal itu. Intinya saat ini adalah Val ingin lebih baik dalam panahan, agar pertandingan nanti hasilnya sesuai dengan yang Val harapkan.
"Kamu sudah datang?" Suara Caleb mengagetkan mereka berdua
"Iya Kak"
"Ayo mulai latihan"
"Iya Kak"
Val kemudian bersiap untuk memulai latihannya, memasang semua perlengkapan panahannya. Sementara Cindy memposisikan diri di bangku penonton, Cindy menyapu pandangannya ke seluruh ruang tunggu di dalam Club Panahan ini, namun ada yang berbeda di sini, Kak Bryan yang biasanya selalu ada dimanapun Kak Caleb berada tidak ada di ruangan itu. Val juga menyadari itu, dengan hati-hati Val berusaha mencairkan suasana diantara dia dan Kak Caleb dengan bertanya tentang Kak Bryan
"Kak Bryan ga nemenin kakak?"
"Ga, dia lagi ikut Club Baca"
"Oooohh, pantesan ga ada"
"Iya, hari ini dia lagi pengen ikut Club Baca katanya"
"Oooo..." Val kembali terdiam dengan jawaban Kak Caleb, tidak ada timbal balik yang bisa dijadikan Val sebagai bahan pembicaraan.
Selesai mereka melengkapi peralatannya, Val mulai berlatih bersama Kak Caleb, tak disangka Kak Caleb tiba-tiba mendekati Val dan bertanya padanya.
"Kamu udah baik-baik aja?"
"Iya Kak, maaf ya Kak kemarin aku kelepasan, aku ga bermaksud untuk...." Perkataan Val terhenti saat Kak Caleb menyuruhnya untuk diam dengan mengangkat telunjuknya.
"Aku tau, aku yang harus minta maaf, aku ga tau kalo kamu mengalami semua itu. Awalnya aku seneng-seneng aja liat kamu jadi topik pembicaraan semua orang di sekolah, karena itu mendatangkan kesenangan tersendiri bagi aku, jujur, iya aku sangat terhibur dengan semua itu. Soalnya dari awal aku emang mau ngisengin kamu. Tapi aku ga pernah mempertimbangkan apa yang kamu rasakan. Kalo kamu sampai merasa seperti itu, aku minta maaf"
Val ga sanggup berkata apa-apa demi mendengar semua kata-kata Kak Caleb tadi, Val ga menyangka orang seperti Kak Caleb bisa punya rasa simpati juga. Semua bayangan ketakutan akan semakin sengsaranya Val nanti karena ulahnya kemarin yang memaki maki Kak Caleb sudah menguap entah kemana.
"Kalo kamu ga sanggup, kamu bilang, ga usah kamu paksakan, cukup berikan kemampuan terbaik kamu"
Serius, Val tambah terbungkam mendengar kata-kata Kak Caleb, dia mencubit pipinya sendiri dan terasa sakit berarti ini bukan mimpi.
"Oke, ini bukan mimpi berarti aku harus bisa menunjukkan keahlian aku di panahan ini, mereka semua harus tau, kalo aku bukan hanya bahan gosip jelek tapi juga subjek berita hangat bila menyangkut bakat. Jangan pernah mereka lupa kalo aku adalah salah satu siswi terbaik di sekolah ini dalam hal prestasi akademik" Batin Val dalam hati
Tak disangka semua hasil latihan Val hari ini selama beberapa set, hasilnya sempurna, ini membuat Caleb tersenyum senang, berarti kemenangan ada di depan mata.
__ADS_1
"Kamu bagus, latihan terus dan jaga hasil kamu seperti ini dan kita pasti menang"
"Iya Kak" Jawab Val dengan bangga
"Kamu boleh ga istirahat sebelum tanding, tapi ingat tetap jaga konsistensi latihan kamu"
"Iya Kak, kayaknya aku masih latihan sampe jumat kok, sabtu minggu dan senin bisa aku pake buat istirahat, oh ya untuk selasa sore aku boleh minta tolong kak?"
"Apa?"
"Tolong bilang ke kakak pelatih renang aku kalo aku izin sekali lagi, aku hanya akan datang menemani Vina sambil merefresh ingatan tentang renangku aja tapi ga ikut latihan renang"
"Itu gampang diatur"
"Makasih Kak"
Vina yang sudah menggantikan Cindy menemani Val tengah memperhatikan interaksi antara keduanya, Vina berharap sahabatnya itu bisa bernafas lega saat ini karena apa yang ditakutkan tidak terjadi, ditambah lagi Vina melihat hubungan mereka berdua mulai kompak dan akrab. Vina mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya itu. Di sisi lain, ada sebuah senyum yang juga terukir di bibir seorang pria muda tampan yang juga tengah memperhatikan mereka, dia Bryan, Bryan bersyukur ini semua tidak berlarut-larut, Bryan bahkan berharap lebih dari ini, karena Caleb harus bangkit dari masa lalunya bersama Kak Alisha.
Haripun tak terasa berlalu, Caleb menepati janjinya pada Val untuk memintakan izin pada pelatih renangnya, hasilnya disinilah Val menemani Vina yang tengah berlatih renang. Val berdoa dalam hati semoga hasil pertandingan yang akan mereka jalankan besok sesuai dengan yang diharapkan. Val ga mau hasil kerja kerasnya berakhir sia-sia. Dan lagi Val ingin membuktikan kepada semua orang yang dulu menjatuhkan dirinya agar mereka sadar akan siapa sebenarnya Val. "Besok adalah hari untuk aku" Janji Val dalam hati
Hari yang dinanti tiba, seperti yang sudah Val perkirakan, terjadi hiruk pikuk keramaian di Club Panahan, meski hanya tanding biasa, tapi karena yang bermain adalah salah satu cowok tertampan di sekolah, cewek cewek ini rela berdesak desakan di tempat yang ga terlalu luas ini, sisanya bersedia berpanas-panasan di luar arena yang penting bisa melihat idola sekolahnya. Val sedang melakukan pemanasan sebelum bertanding, sambil mencari cari keberadaan Kak Caleb, sebelum memulai pertandingan ada hal yang harus Val sampaikan. Lama Val mencari akhirnya orang yang ditunggu datang dan langsung menghampiri Val.
"Kamu sudah siap?"
"Apa?"
"Seandainya kita menang, boleh ga Kak Fadli tetap jadi pelatih panahan di sini?"
"Kenapa? Kalo mereka kalah kan berarti dia ga dibutuhkan lagi"
"Tapi aku ga mau begitu Kak, Kakak kan hanya mau memperlihatkan kalo kakak lebih jago dari Kak Fadli, kalo sudah berhasil ya sudah Kak, toh Kakak juga ga akan mengajar anak-anak Club latihan panahan kan? Jadi biarkan Kak Fadli tetap mengajar"
"Oke, tapi kamu harus pastikan kalo kita bakal menang, kalo kita kalah, bukan hanya Fadli yang harus keluar dari Club Panahan"
"Ehh maksudnya Kak?"
"Fokus untuk menang saja" Ucap Caleb sambil berlalu untuk melakukan pemanasan dan menyiapkan semua peralatannya"
Pertandingan sudah berlangsung beberapa set yang dimenangkan tipis oleh pasangan Kak Caleb dan Val, penentu sekarang ada pada orang terakhir di masing-masing pasangan. Pasangan lawan sudah jelas mengutus Kak Fadli untuk melakukan shoot, sementara di tim Val, Kak Caleb justru mengadakan tawar menawar dengan Val.
"Kamu mau? Kamu yang panah atau aku yang panah?"
__ADS_1
"Lho Kak? Ga takut kita kalah? Kalo aku salah kita bisa aja kalah lho kak, skor kita menang tipis"
"Semuanya tergantung keputusan kamu, kalo kamu pede kita bakal menang, panahlah, tapi kalo tidak aku yang akan maju. Tapi aku ingatkan sekarang semua mata tertuju ke kamu, kalo mau menunjukkan taringmu sekarang adalah saat yang baik" Ucap Kak Caleb seolah mampu membaca apa yang ada di pikiran Val.
Val bergelut dengan pikirannya sendiri, Val sebenarnya pede bakal bisa menaklukkan putaran terakhir, tapi bagaimana kalo ternyata rasa pede terlalu tingginya ini justru malah membalikkan keadaan dan timnya akan kalah, tapi disisi lain, kata-kata Kak Caleb kembali terngiang, benar apa kata Kak Caleb, saat ini adalah momen yang tepat untuk memperlihatkan kepada orang-orang yang dulu mengejek dan memandangnya rendah mulai menerima kelebihannya. Setelah agak lama tenggelam dalam pertengkaran batinnya, Val dikagetkan oleh Kak Caleb
"Bagaimana? Sudah ada keputusan?"
"Iya Kak"
"Jadi??"
"Aku coba, meski ga yakin apa hasilnya tapi aku yakin aku pasti bisa ngasih yang terbaik"
"Kamu pasti bisa"
Setelah berkata seperti itu Kak Caleb melangkah mundur, semua orang di sana terheran-heran dengan yang dilakukan Kak Caleb, ini artinya shoot penentu akan dilakukan oleh Val. Suara dengung bergema di mana-mana menandakan mereka tidak ingin Val yang jadi penentu, tapi saat ini Val sudah bertekad, Val ingin kembali merasakan bahagianya bersekolah di sekolah favorit nomor 1 di Kota A ini, Val tidak ingin lagi menerima makian dan ejekan yang mengatainya tak pantas sekolah di sini karena hasil beasiswa. Val ingin memperlihatkan bahwa sekolah ini juga punya seorang anak berbakat yang bukan dari kalangan atas. Dengan langkah pasti Val menuju posisi bidik, dan mereka mulai membidik saat dirasa momen sudah pas, Val mulai melepaskan satu persatu arrownya menuju papan target, setelah 3 anak mata panah terlepas, Val benar-benar merasa ketakutan sendiri, Val berharap hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Tak berapa lama mesin penghitung mengeluarkan suara pengumuman.
"Lajur 3, 10 10 9" Itu lajur Kak Fadli, Kak Fadli memang hebat, hampir sempurna, Val harap harap cemas menunggu hasilnya, tak lama mesin penghitung bersuara kembali
"Lajur 5..." Itu lajur aku" Ucap Val dalam hati... Tak terbayangkan bagaimana detak jantungnya saat ini
"10 10 10" "Apaaaaa???" Val memekik, diiringi teriak kemenangan para pendukung Kak Caleb, Val tak percaya dengan yang didengarnya, Kak Caleb tertawa sembari berjalan mendatanginya
"Selamat ya Val, angka yang sempurna"
"Seumur hidup baru ini kak, aku dapat nilai sempurna ini"
"Selamat Val, kamu banyak kemajuan" ujar Kak Fadli sportif mendatangi Val dan mengucapkan selamat, begitu juga Cyntia "Kamu banyak berubah ya Val, ini benar-benar angka yang sempurna, kamu maju pesat Val" Ucap Cyntia tulus sambil menjabat tangan Val
"Iya nih Cyn... akhirnya bisa liat angka 10 berturut turut di lajurku"
"Sesuai dengan perjanjian, aku akui kamu memang jago soal panahan Cal, permainan kamu juga bagus banget tadi"
"Kamu juga"
"Jadi apa konsekuensi dari kekalahan aku kali ini"
"Aku mau kamu lebih konsentrasi lagi melatih semua anak Club Panahan ini, dan sewaktu waktu aku akan minta tanding, aku harap saat itu, siapapun yang aku pilih bisa menjawab tantangan aku"
Kak Fadli kaget mendengar kata-kata Caleb, dia berpikir waktunya di Club ini pasti akan berakhir dan dia harus kembali mencari kerja sambilan, namun kenyataannya tidak buruk dan bahkan jauh lebih baik dari bayangannya.
__ADS_1
"Pasti, aku jamin kapanpun kamu butuh lawan tanding, kami akan siap" Jawab Fadli menjawab tantangan Caleb, mereka berdua kemudian tersenyum penuh arti. Usai pertandingan, Val kemudian pulang bersama kedua sahabatnya dengan rasa bangga dan bahagia yang tiada terkira. Val berharap ke depannya tidak ada lagi kejadian aneh yang harus dia jalani di sekolah favoritnya itu.