
Saat tiba di kelas, Val mendapat berbagai pertanyaan dari kedua sahabatnya
"Kak Caleb kenapa Val?"
"Iya Val, Kak Caleb manggil kamu ada perlu apa? Tentang surprisenya Kak Bryan ya?"
"Bukan, ga ada apa-apa cuma menyelesaikan sedikit kesalah pahaman yang kemarin, terus dia minta maaf"
"Ooohh... kirain ada apa, kalian udah akrab, masih perlu ya minta maaf gitu?"
Val hanya mengangkat bahunya, jam menunjukkan jam 1 siang. Val dan kedua sahabatnya menepati janji menuju loteng tempat yang disampaikan oleh Kak Bryan tadi, di sana ada sebuah meja dan 2 buah kursi, serta balon berbentuk hati, di meja ada sebuah kue dan kotak kecil, Val terkejut dengan kejutan ini, dia mencari keberadaan Kak Bryan tapi tidak dia temukan, tak lama Radit datang
"Kak Radit"
"Val, Cin, Vina"
"Kak Bryan mana kak?"
"Aku ke sini mau ngasih tau kamu Val, tadi Bryan ke tempat aku minta tolong ke sini nyampein kalo dia ada keperluan mendadak, kalian boleh makan aja kuenya dan kotak kecil itu, hadiah buat kamu Val, Bryan minta nanti malam tolong dipake, sampai ketemu nanti malam katanya, kalo gitu aku pamit ya, mau ngumpul bareng anak-anak"
"Iya Kak, makasih"
"Eh iya, Vin, nanti malam kamu datang?"
"Sepertinya iya, kenapa Kak?"
"Ga papa, aku pamit ya semua"
"Iya Kak"
Val mengambil kotak kecil di sebelah kue, isinya sebuah cincin bertahtahkan permata biru, cantik sekali, Val menyematkannya di jari manis kiri Val, pas ukurannya, Val benar-benar merasa dimanjakan dengan kemewahan oleh Kak Bryan, Val sedikit merasa bersalah pada Kak Bryan tentang kelakuannya bersama Kak Caleb tadi. Tapi Val berjanji itu yang terakhir, Val tidak akan pernah mengkhianati Kak Bryan lagi. Val akan berusaha menata hatinya hanya untuk Kak Bryan seorang, mereka bertiga akhirnya membawa kue dan bunga ke kelas, lalu membagi kue ke teman kelasnya yang belum pulang.
Pukul 19.00 Val sudah selesai mempercantik dirinya, dia mematut matut dandanannya di depan kaca
"Wahhh, cantik banget anak mama"
"Makasih Mah..."
"Berangkat ama siapa? Mau Mama anter?"
"Ga usah Mah, nanti Cindy dan Vina ke sini jemput Val"
"Kak Vallll.... Temennya datang"
"Itu udah dateng Mah"
__ADS_1
"Ya udah berangkat gih, pulangnya jangan malam malam ya, dan ingat jaga diri di sana"
"Siap Mah"
"Tante kami pamit ya..."
"Iya, hati-hati dijalan, titip Val"
"Iya tante"
Mobil yang mereka tumpangi bertolak ke arah pelabuhan, acara perpisahan kali ini diadakan di sebuah kapal pesiar mewah milik keluarga Kak Bryan, semuanya disetting langsung oleh Kak Bryan sendiri. Tak berapa lama mereka bertiga sampai, mereka berjalan menuju kapal kecil yang disiapkan untuk mencapai Kapal Pesiar yang saat ini tengah berlayar di tengah laut dangkal sekitaran pantai. Setibanya di kapal pesiar, Val dan kedua sahabatnya langsung bergabung bersama teman-teman kelasnya yang sudah terlebih dahulu datang, Val mencari kesana kemari tapi tidak melihat Kak Bryan.
"Ngapain sih dicariin, nanti juga bakal nyamperin"
"Apaan sih Cin"
"Emang bener kan, tuhhh, orangnya udah ada di belakang kamu"
"Val"
"Kak Bryan" Kak Bryan terlihat tampan mengenakan kemeja dan jas model simpel dipadu dengan sebuah jeans memberikan kesan formal tapi santai, dengan senyumnya dia mendatangi Val
"Kamu dari tadi datangnya?"
"Iya semua udah baik baik aja, kamu sendiri?"
"Aku? Aku baik baik aja Kak, aku kira terjadi apa apa sama Kakak"
"Aku baik" Ujar Bryan sembari pamit pada Val akan bergaul kembali bersama teman angkatannya
Mereka menghabiskan malam bersama menikmati sebuah pertemuan yang segera berakhir, senior cewek banyak yang menangis terharu melihat kejutan yang disiapkan oleh Bryan, mulai dari video sejak mereka masuk hingga lulus, kue angkatan yang ukurannya fantastis, sajian ala anak muda diiringi lantunan musik perpisahan zaman now, sampai pada puncaknya letusan kembang api warna warni yang mewarnai langit malam menambah keharuan mereka yang akan meninggalkan sahabat dan kenangan terbaiknya di SMA, ada sebuah pertanyaan yang mengganjal di hati Val tentang hubungannya bersama Kak Bryan nanti, Val teringat ajakan Kak Bryan untuk ikut bersamanya ke Amerika, sepertinya bukan hal yang buruk, di sana dia bisa kuliah sembari mewujudkan mimpinya dan terus mendampingi Bryan. Orang tuanya juga pasti tidak akan keberatan dengan keputusannya, selama Val masih ingat untuk menggapai mimpinya. Acara puncak telah selesai, sebagian anak SMA Booxter sudah pulang, Val dan kedua sahabatnya masih bercengkrama di sebuah meja yang terletak di anjungan kapal ini ketika Kak Radit datang...
"Vin, aku boleh bicara sesuatu"
"Kak Radit? Mau bicara apa Kak?"
"Aku suka kamu, kamu mau jadi pacar aku?"
"Makasih Kak, tapi maaf aku ga nyari pacar, aku cari suami"
"Maksud kamu kita langsung nikah?"
"Aku mau menikah dengan seorang yang sudah mapan dan tidak hanya bergantung pada kekayaan orang tuanya"
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Maaf Kak, aku ga berpikir pacaran dulu, aku mau meraih mimpi aku jadi dokter, kalo udah baru aku mikirin laki-laki yang akan nikahin aku, tidak ada pacaran dalam kamus aku Kak, aku minta maaf"
Kedua sahabat Vina hanya bisa melongo saling pandang melihat dan mendengar langsung kelakuan sahabatnya itu, Vina memang terkenal sedikit kutu buku dan serius, tapi mereka belum pernah melihat pemandangan seperti ini, wajah Kak Radit yang lumayan tampan seketika memucat, tapi dia berusaha tetap tegak berdiri di depan Vina dan berkata
"Tunggu aku, dan aku bakal buktiin aku bisa dan sanggup jadi kriteria calon suami kamu, berjanjilah kamu ga akan pacaran dan menikah sebelum kamu sukses menjadi dokter"
"Oke, semangat Kak"
"Kamu juga"
Kak Radit pamit pada Val dan Cindy lalu menghilang dari pandangan, sepertinya Kak Radit langsung pulang
"Kamu sadis ya Vin"
"Sadis apanya Cin? Memang seperti itu kan seharusnya, kita harus punya prinsip, aku ga nyindir kamu ya Val jadi jangan berpikiran aneh aneh, setiap orang punya penilaian dan prinsipnya sendiri"
Val tersenyum kecut mendengar kata-kata Vina, dalam hatinya mengakui prinsip Vina memang luar biasa.
"Val, balik yuk, kamu mau nungguin Kak Bryan?"
"Ga papa, kita pulang bareng aja, mungkin dia masih sibuk"
"Dari tadi aku liat kalian ga pernah bareng, tadi cuma sekilas aja kan? kamu yakin kalian baik baik aja? Biasanya Kak Bryan nempel kayak perangko ke kamu dan ga bisa dilepasin?"
"Cindy benar, kalian ga papa?"
"Ga papa, beneran" Val sebenarnya juga menyadari perubahan sikap Kak Bryan, tapi tidak bisa menemukan apa yang salah sampai Kak Bryan berubah. Ketika mereka bersiap untuk pulang Kak Bryan datang
"Kalian udah mau pulang?"
"Iya Kak, kakak lanjut aja"
"Nanti dulu ya, tunggu sebentar lagi, aku masih ada perlu sama Val, kalian bisa nungguin kan? Atau ga nanti aku yang antar Val pulang"
Demi melihat wajah Val yang meminta untuk ditemani, mereka berdua akhirnya tinggal, mereka merasa ada yang tidak beres dengan Kak Bryan. Benar saja, tak lama Kak Bryan berteriak pada Kak Carlos, senior cowok yang terkenal cabul dan suka sembarangan sama cewek, ga ada yang berani sama dia, karena papanya punya kumpulan preman yang tersebar di Kota ini.
"Carlos, nih, loe liat kan, ini cewek gue, tadi aja baru gue kasih cincin sesuai warna kesukaan dia, mana Val, liatin sayang" Bryan mengangkat tangan kiri Val dan memperlihatkan cincin yang tadi siang sudah disiapkan Kak Bryan, Vina dan Cindy ikut terkejut melihatnya, Kak Bryan tidak pernah seperti itu
"Yoi, mantap bro, lanjut aja"
"Oke Bro" Bro??? Seingat Val Kak Bryan ga suka bergaul dengan anak berandal seperti Kak Carlos, kenapa sekarang seperti ini?
"Kalian tunggu di sini, ada yang mau aku bicarain berdua dengan Val"
Kak Bryan kemudian mengajak Val turun ke dek bawah, kedua sahabat Val punya firasat yang benar-benar ga enak, tapi mereka ga bisa menghentikan Kak Bryan, Val juga mengisyaratkan untuk tenang dan melihat keadaan dulu. Mereka berdua akhirnya kembali duduk dan menunggu Val selesai berbincang dengan Kak Bryan.
__ADS_1