
Libur semester usai, mereka kembali melanjutkan sekolah, Val dan Bryan kembali seperti biasa, meski terkadang masih merasa canggung apalagi bila bertemu Vina dan CIndy. Tak terasa waktu kelulusan Kelas 3 sudah didepan mata, siswa kelas 3 berusaha keras menyelesaikan sekolah tingkat atas mereka demi masa depan yang menjanjikan, tak terkecuali Bryan. Meski berasal dari keluarga berada dan mewarisi semua usaha orang tuanya, Bryan tidak ingin tinggal diam, Bryan punya tanggung jawab yang harus diemban ke depan, yaitu melanjutkan masa kejayaan keluarganya. Bila hanya bermalas malasan bukan tidak mungkin harta yang digadang-gadang tidak habis tujuh turunan lenyap seketika. Dengan kesibukan jadwal bimbingannya, Bryan jadi jarang menemui Val, meski Val paham akan keadaan ini, tapi terasa ada yang hilang dirasakan Val.
"Woiiii... ngelamun aja, ngelamunin apa Val?"
"Ga papa Cin, ga kerasa ya kita udah mau naik kelas 3"
"Iya....Bentar lagi kita harus kerja keras buat lulus lagi, perasaan baru kemarin aku berjibaku di ujian kelulusan SMP, ini bentar lagi udah mau kelulusan SMA aja" Jawab Cindy
"Masih ada setahun Cin, pasti kita bisa, habis itu kita kuliah bareng, nikmatin masa kuliah bareng lagi, iya kan? Seperti janji kita waktu itu"
Dengan tarikan napas panjang Cindy menjawab, "Kayaknya aku ga bisa Val"
"Lho kenapa?"
"Aku disuruh ikut Mama ke Paris, disana usahanya lagi terang benderang, dia mau aku nerusin bisnisnya"
"Oh ya?? Kamu Vin?"
"Masih sama, aku mau masuk Kedokteran dan lanjut spesialis"
"Kok kamu ga ikut jejak Papa kamu, padahal sukses banget lho"
"Aku ga bakat di situ Val, biar adek aku aja yang lanjutin, si Nicko kan hobinya sama dengan Papa aku, jadi biar dia yang ngelanjutin, aku punya cita-cita aku sendiri"
"Dari tadi nanyain kita, kamu sendiri Val?"
"Aku juga masih sama, kuliah bisnis akuntansi, aku mau nanti saat aku punya bisnis sendiri, aku bisa ngehandle dan paham semua tentang manajemen keuangan aku, jadinya angka kerugian bisa diminimalisir"
"Dasar kamu Val, sok paham aja"
"Ya karena belum paham makanya aku belajar lah Cin..."
Yang diakhiri dengan saling olok mengolok diantara mereka
Akhirnya hari itu datang juga, hari dimana pengumuman kelulusan dikumandangkan, seluruh Kelas 3 SMA Booxter berhasil lulus dengan peringkat terbaik se Kota A, tidak perlu di tanyakan lagi, nama besar SMA ini dan keberhasilan lulusannya menjadi buah bibir seantero Kota A, banyak perguruan tinggi yang berlomba lomba menawarkan masuk ke kampusnya pada lulusan2 terbaik SMA ini. Val dilanda gundah, masa SMA ini begitu indah dengan kehadiran Kak Bryan di sampingnya meski hanya setahun.
Hari ini semua siswa dan siswi berkumpul di Aula tempat pertama kali menjadi siswa baru untuk mengikuti ceremony kelulusan senior yang akan meninggalkan SMA ini menuju dunia baru mereka. Bryan di daulat menjadi perwakilan dari Kelas 3 untuk berpidato. Val menunggu saat itu, beberapa bulan Val tidak melihat sosok pangerannya itu, karena Val sengaja membiarkan Kak Bryan berkonsentrasi dengan ujiannya. Sosok laki-laki tampan itu berdiri dari barisan Senior Kelas 3 menuju mimbar di tengah panggung, wajah tampan nan teduhnya sangat dirindukan Val, membayangkan dia akan berpisah jarak saja membuat Val merasa sedih. Kak Bryan melangkah dengan gagah menuju mimbar dan memulai pidatonya.
"Selamat pagi semuanya, saya mewakili seluruh angkatan Kelas 3 mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada kepala sekolah, para guru terutama wali kelas kami yang selalu membantu kami dalam setiap kesulitan yang kami hadapi, tanpa kalian, kami bukan apa apa.
Saya tidak bisa berkata banyak, karena saya tidak suka banyak berbicara tapi satu pesan yang ingin saya sampaikan pada semua yang hadir di sini, terima kasih sudah menjadi satu bagian kehidupan saya di sini, dan saya yakini semua itu indah, jadikan hari ini sebagai tumpuan refleksi diri kita ke depan, semoga kita bisa bertemu dengan keadaan terbaik kita di masa depan, terima kasih SMA Booxteer" Yang disambut dengan tepuk tangan semua yang hadir di sana, "Val bangga sama kakak" Bisik Val dalam hati.
Usai acara tersebut, Val dan kedua sahabatnya kembali ke kelas, Val tidak ingin mengganggu Kak Bryan yang mungkin masih ingin berkumpul dengan teman teman seangkatannya.
"Kamu ga ngedatangin kak Bryan Val?"
"Ga usah dulu Vin, kali aja mereka masih ada acara angkatan, mereka kan udah mau pisahan"
"Tapi kamu udah ngehubungin Kak Bryan kan?" Yang dibalas gelengan kepala Val
"Kok gitu? Kamu ga putus kan?" Sambar CIndy
__ADS_1
"Ya ga lah, aku cuma break karena Kak Bryan mau fokus ujian aja"
"Kirain kamu putus Val"
"Ga kok" Tak berapa lama Bryan datang ke kelas Val dan menghampiri Val
"Val"
"Ehh yang lagi dipikirin akhirnya nongol juga" Sahut Cindy yang dibalas cubitan oleh Val, Bryan tersenyum mendengarnya
"Ada apa Kak?"
"Kamu ada waktu siang ini?"
"Ada Kak"
"Aku tunggu kamu di balkon sekolah jam 1 siang, kalian juga datang"
"Mau ngapain Kak? Kan acara sekolah nanti malam"
"Ga papa, kamu datang aja" Jawab Bryan sambil berlalu pergi Val penasaran apa lagi yang akan Bryan berikan padanya
"Cieeee... yang mau dapat surprise lagi"
"Apaan sih, kalian terlibat kan?"
"Ga tuh, curigaan banget, sekali kami kompromi belum tentu setiap saat kami kompromi kali Val" Jawab Cindy
"Ga usah tegang gitu, kamu nikmatin aja Val"
"Iya nih..." Val hanya membalas dengan cengiran
Saat mereka bertiga tengah membahas libur kenaikan kelas, Caleb mendatangi Val
"Val"
"Kak Caleb, ada apa Kak?"
"Aku mau bicara sebentar, keluar yuk" ajak Caleb sembari menarik tangan Val, kedua sahabatnya hanya bisa terpana melihat Val keluar bersama Caleb. Sesampainya di ruang laboratorium, Caleb melepaskan tangan Val
"Ada apa Kak?"
"Val, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan ke kamu sejak lama, kamu ingat kata kataku kemarin di Villa?"
"Iya, ingat"
"Apa pendapat kamu?"
"Maksudnya Kak?"
"Aku mau kamu jujur jawab pertanyaan aku, bagaimana perasaan kamu ke aku?"
__ADS_1
"Perasaan aku Kak? Aku suka sama Kak Bryan..." kata-kata Val diputus oleh ucapan Caleb
"Aku Val, aku.... Bagaimana perasaan kamu ke aku, jawab jujur, kamu suka aku?"
"Aku......"
"Kalo aku yang duluan menyatakan suka ke kamu, apa kamu bakal terima aku?"
"Kak, ini......"
"Jawab Val, aku mau kamu jujur tentang perasaan kamu ke aku Val, sebelum aku pergi"
"Pergi?? Kakak mau pergi kemana Kak?"
"Jawab aja pertanyaan aku Val, apa kamu bakal nerima aku seandainya aku duluan yang nembak kamu Val? Apa selama ini kamu punya perasaan seperti perasaan aku ke kamu?"
"Perasaan kakak ke aku?"
"Iya, bahkan dari awal kamu nyari masalah sama aku di dekat rumah Mr. Howard kemarin, aku merasa selalu terganggu dengan keberadaan kamu, aku ga tenang kalo ga ganggu kamu seharian, aku ga tenang kalo aku ga liat kamu seharian, tapi bodohnya aku, aku ga mau berdamai sama perasaan aku sendiri, aku terlalu memandang tinggi diriku kalau aku bisa setia hanya pada satu wanita, nyatanya ga Val, aku suka kamu Val, melihat kamu dengan Bryan buat aku nahan nyesak di dada, makanya sekarang Val, sebelum aku benar-benar pergi dari kalian berdua, aku mau kamu jujur Val sama perasaan kamu ke aku, apa kamu punya perasaan yang sama dengan aku Val, jawab aku Val"
"AKuu..."
"Jawab Val , jawab..."
Dibentak seperti itu membuat Val menangis sembari mengeluarkan semua unek unek yang ada di dalam hatinya
"Aku ga tau perasaan aku ke kakak itu seperti apa, yang aku tau saat itu, aku benci di ganggu kakak, aku ga suka selalu dikerjai kakak, aku bahkan ga mau ada dalam satu jangkauan jarak dengan kakak..." Jawab Val
"Makasih Val..." Ucap Caleb sambil melangkah pergi meski kaget dengan pengakuan Val, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar Val bersuara kembali
"Tapi meski kesal aku bahagia beradu mulut dengan kakak, setiap kakak isengin aku, aku senang, aku bahkan senang melihat kakak menggoda Cindy, berharap setiap aku bersama Kak Bryan, kakak juga ada di sana, apa aku salah kalau aku seperti itu Kak? Aku bingung Kak, Kak Bryan baik sama aku, jujur aku bahagia dengan Kak Bryan, kalo ditanya perasaan aku seperti apa, aku bingung, aku takut melakukan kesalahan Kak...." Tumpah Val dan menagis sejadi jadinya di depan Caleb.
Caleb mendekati Val yang sudah berjongkok menutup mukanya yang basah dengan air mata, meraih wajah Val, melihat kejujuran yang tergambar di mata Val lalu tersenyum
"Ga papa Val\, kamu ga salah apa-apa\, aku yang terlambat\, Bryan orang yang baik meski sedikit dingin\, tapi itu karena kecelakaan kemarin\, sekarang aku bisa lega menyerahkan Bryan di tangan kamu\, kamu harus jaga baik-baik sahabat aku itu\, jangan pernah kecewakan dia\, aku bakal keluar dari kehidupan kalian\, aku ga mau kamu bingung lagi dengan perasaan kamu dan terima kasih karena kamu sudah mau jujur ke aku" Ucap Caleb sembari menangkup wajah Val dan mendekatkan ke wajahnya. Caleb mengecup manis bibir Val\, bibir yang sudah lama dia rindukan\, Val merasakan perasaan baru bersama Caleb\, Caleb melepas kecupannya\, namun Val tidak rela\, Val menyentuh wajah Kak Caleb\, mengelusnya pelan dan membawa bibirnya menyentuh bibir Kak Caleb\, menyesap setiap inchi bibir seksi Kak Caleb\, meng***ap dan tak ingin melepaskan\, mereka berpagutan sambil berpelukan erat\, menumpahkan segala tanya dan rasa yang baru terbuka di hadapan mereka\, mereka hanyut dalam perasaan masing masing.
Val diam terpaku saat Caleb mengecup lembut dahi Val, kedua mata, hidung, kedua pipi lalu bibir Val, dan berlanjut ke leher jenjang Val, Caleb mengecup centi demi centi leher Val, hanya mengecup, tidak meninggalkan jejak sama sekali, Caleb melakukannya dengan lembut lalu berhenti kembali di bibir Val, mengecup singkat, dan memeluk tubuh mungil Val dengan erat, Caleb mengajak Val keluar dari laboratorium.
"Terima Kasih untuk semua ini Val, aku harap kamu ga menyesal, aku minta jaga Bryan baik baik untuk aku, jangan pernah kecewakan dia, bahagialah bersamanya"
"Kakak mau kemana?"
"Kamu ga perlu tau"
"Kalo aku atau Kak Bryan atau yang lain mau ketemu kakak?"
"Sebaiknya ini pertemuan terakhir kita Val, jangan pernah lupa kenangan kalo kamu pernah kenal aku ya"
"Iya Kak"
Mereka berdua berpisah di persimpangan, Val kembali ke kelasnya sementara Caleb menuju parkiran
__ADS_1
"Lebih baik seperti ini" Ucap Val dalam hati