
Val menarik tangan Vina dan melangkah secepat mungkin meninggalkan lantai 3, perasaan Val tidak terima diperlakukan seperti itu, memang apa kesalahannya sampai dia bisa diperlakukan begitu? Apa karena mereka "KAYA" jadi boleh seperti itu. Aarrrgghh Val ga habis pikir apa yang ada dalam otak kakak kakak aneh itu.
"Gimana gimana Val?" Nayla memberondong Val saking penasaran akan hasilnya
"Nanti bukunya dikasih sama kakak panitia"
"Jadi berhasil nih? Aih senangnya, aku pikir kita bakal muter muter ga jelas lagi, ternyata masih bisa nyantai sedikit"
"Aku ke taman bentar ya, mau nyari angin segar"
"Oke Val, you're the best deh..."
Val menuju taman yang berada di samping Hall mereka, Vina mengikuti dari belakang
"Val, kamu ga papa?"
"Ga papa Vin"
"Omongan kakak kakak itu ga usah kamu ambil pusing ya Val"
"Ga Vin, omongan mereka emang bener kok, aku paham siapa aku dan siapa mereka, secara langsung mereka mau ngomong aku ga layak kan?"
"Ga layak gimana? Kamu pinter banget kali"
"Ya, tapi dari keluarga yang mereka anggap KURANG, iya kan?"
"Yahhh... Ga usah dipikirin itunya Val, yang penting kamu tunjukkin kamu juga ga kalah saing klo soal otak sama mereka"
"Makasih ya Vin"
Val bersyukur punya sahabat sahabat yang menerima Val apa adanya, teman teman yang lain juga baik, Val memang dari keluarga sederhana, Papa dan Mama Val pegawai biasa, cukuplah untuk makan dan menyekolahkan anak anaknya di sekolah terbaik, tapi tidak dengan memberikan fasilitas mewah seperti tas mewah, jam mewah, apalagi mobil. Berbeda dengan sahabat sahabatnya, meski Vina bukan berasal dari keluarga pebisnis sukses seperti Cindy, tapi ayah Vina cukup terpandang di bagian pemerintahan Kota A, sedangkan ibunya seorang pengacara kondang. Tapi mereka tetap mau bersahabat dengan Val, mereka bilang yang mereka butuh itu sahabat yang bener bener sahabat, merekalah yang banyak membantu Val selama bersekolah di Sekolah Yayasan nomor 1 di kota ini.
Tak terasa masa MOS sudah berakhir, syukurnya tak terjadi apapun seperti bayangan Val, Val berharap bisa punya masa SMA yang tenang tanpa gangguan, Val hanya ingin lulus dari sekolah ini dan melanjutkan cita citanya membanggakan keluarga. Namun kenyataan ternyata tak semudah yang Val bayangkan, CCTV di sekolah ini tidak semudah itu melupakan kejadian yang menjadi topik hangat dikalangan siswi senior SMA Boxteer. Val menjadi perbincangan karna sudah berani masuk ke ruangan "SAKRAL" bagi kaum hawa di sekolahnya. Hari pertama Val masuk saja, Val merasa ada hawa dingin yang mengikutinya sampai di kelas, tatapan tatapan aneh yang entah maksudnya apa memandangi Val sampai ke pintu kelas, baru saja sampai di depan kelas, Val sudah dicegat oleh 3 siswi senior.
"Kamu yang namanya Val?"
__ADS_1
"Iya kak"
"Kamu siswa baru, cantik juga ga, kok bisa berani masuk ke ruangan itu?"
"Bukannya berani masuk ruangan itu kak, tapi aku dipanggil kakak Ketua Panitia"
"Oh ya? Penting banget ya sampe dipanggil ke sana" Dan bla bla bla banyak lagi yang senior senior ini sampaikan yang entah apa maksudnya Val ga nangkap, intinya hanya kenapa Val bisa masuk di ruangan itu.
Ya jangan tanya aku kenapa aku dipanggil, tanya sama yang manggil lahh, Val merutuk dalam hati, kesal hari pertamanya harus ada insiden seperti ini. Tak berapa lama Cindy dan Vina datang, hampir bersamaan dengan bel tanda masuk berbunyi. Akhirnya diselamatkan oleh bel. Mendengar suara bel para senior itu pun bubar.
"Oke, kali ini kamu selamat, tapi jangan pernah berani coba coba dekat dengan Caleb ataupun Bryan, kalo kamu masih pengen nafas di SMA ini" Ucap senior cewek itu sambil berlalu.
"Kenapa Val?"
"Nanti aku ceritain pas jam istirahatya, guru dah masuk"
"Oke..."
Bel kembali berbunyi tanda jam istirahat datang, semua siswa dan siswi berbondong bondong menuju ruang makan untuk makan siang mereka tak terkecuali Val, Vina dan Cindy. Ketiga sahabat itu beriringan menuju ruang makan dan mengambil makanan sesuai selera masing masing. Mereka memilih makan di bangku taman sambil bertukar cerita.
"Senior itu pada ganggu kamu?"
"Ga Cin, cuma nanya tentang kejadian yang MOS kemarin"
"Yang kamu dipanggil kak Caleb?"
"Iya"
"Maaf Val, sebenarnya waktu kemarin kamu bilang mau ketemu kak Caleb dan dipangil ke ruangan "itu" aku udah menduga pasti bakal terjadi sesuatu, tapi karena pikiran aku lagi full sama MOS jadi ga kepikiran ke sana, sampai di rumah baru aku ingat ingat lagi, tapi kan kamu sama Vina udah ke sana, makanya aku udah ga bahas lagi, apalagi setelahnya kan MOS kita baik baik aja, jadi aku pikir udah ga ada apa apa, ternyata masuk sekolah baru kejadian, maaf ya..."
"Ga papa Cin, toh kamu juga ga nyangka bakal gini kan"
"Iya Val"
"Yang aku ga terimanya kenapa nanya sama aku, jelas jelas aku yang dipanggil, saksinya banyak kok, ada Vina dan semua temen satu kelompok aku, kenapa malah aku yang disalahin sih?"
__ADS_1
"Mana ada yang berani nyalahin duo maut itu Val, mereka kayak punya dunia sendiri di sini, bahkan aturan aja bisa mereka buat kali Val"
"Segitu berpengaruhnya ya Cin?"
"Kamu ga tau dunia bisnis itu kejam Val, lebih baik diam daripada salah nyenggol orang"
"Huffttt emang udah nasib aku kali ya, apes, niat nolongin malah gini, akunya juga sih yang sok kepedean ikut campur urusan orang lain"
"Udahlah Val, aku yakin senior itu cuma ngegertak aja kok, karena sebenarnya mereka yang pengen masuk ke sana, besok besok juga ga bakal datang lagi, yang penting kamu buktiin aja ke mereka kalo kamu emang ga ada hubungannya sama Kak Caleb atau Kak Bryan itu"
"Semoga deh Vin... Aku cuma pengen selesai SMA ini tanpa ada masalah, itu aja..."
"Iya, iya... Yuk cabut, bentar lagi dah bel masuk kelas nih"
"Ayo, btw giat ekskul dimulai kapan ya?"
"Kalo ga salah pertengahan semester depan Val, soalnya kita masih harus ikut materi dasar kan"
"Oooo gitu, aku udah ga sabar mau panahan atau renang, sekalian rileksin pikiran"
"Sabar Buuu..." Dan mereka tertawa berbarengan
Usai mereka makan, mereka kembali ke kelas untuk melanjutkan materi sekolah, untung selanjutnya semua berlanjut biasa saja, Val bisa bersekolah seperti biasa, meski terkadamg masih ada yang melihatnya dengan ekor mata, atau ada yang mencari tahu langsung ke Val perihal kejadian MOS kemarin, hanya saja masih dalam batas wajar dan Val menjawab sesuai kenyataan, berharap mereka paham bahwa Val bukan seperti yang mereka bayangkan. Val ga pernah ada niat untuk mendekati kedua atau salah satu dari orang itu. Val hanya menjalankan perintah aja kemarin, Val berharap sampai lulus SMA pun Val ga nemu alasan yang mewajibkan Val berurusan dengan kedua kakak kakak itu. Val ingin sekolah dengan tenang aja, ga butuh dikenal atau pansos atau apapun istilahnya itu.
Namun semua hanya harapan Val, karena ga butuh waktu lama Val harus kembali berurusan dengan salah satu dari makhluk yang paling dihindarinya di sekolah itu....
NOTE :
Hai hai readers tersayang, dukung aku ya buat belajar nulis terus, jadi pemula itu buat nyari alur ceritanya ternyata ga gampang.
Salute deh buat para penulis senior...
Kalo suka sama ceritaku, dilike dan dikomen ya...
Aku juga butuh masukan nih, biar bisa lebih baik lagi nulis novelnya...
__ADS_1
Ditunggu saran dan kritik membangunnya ya readers sayang...