
Setelah Mr. Howard kembali ke dalam rumahnya, Val mencoba mencari tahu alasan kenapa semua kejadian tadi tidak diceritakan kepada orang dewasa yang jelas jelas sudah di depan mata, yaitu Mr. Howard.
"Hei, apa maksudmu dengan tidak terjadi apa apa? Bukannya tadi jelas jelas mereka membully temanmu? Knapa ga cerita sama Mr. Howard?"
"Jangan sok pintar gadis kecil, tadi itu tidak seperti apa yang kamu bayangkan di kepalamu, jangan terlalu banyak menonton serial remaja di TV, jadi imajinasimu tidak terlalu jauh bermain"
"Astaga, kalau tahu ini yang bakal aku terima, lebih baik aku ga bantuin kalian"
"Ya, seharusnya kamu memang tidak melangkah terlalu jauh, memangnya kami yang meminta bantuanmu tadi"
"Apa?? Hahahaha... Ya ampun, seharusnya aku hanya jadi penonton tadi, menyesal memang selalu di akhir"
"Ya, seharusnya anak kecil seperti kamu tidak perlu terlalu mencampuri urusan orang lain apalagi orang yang lebih tua"
"Anak kecil katamu, sepertinya usia kita ga beda jauh juga, kalian yang seharusnya malu, merasa dewasa tapi tidak menyelesaikan masalah baik baik dan di tempat yang lebih tertutup, kalo memang ga ada masalah atau lebih tepatnya ga butuh dibela dan dibantu, ini malah bertingkah di jalan umum, yang masih bocah siapa?"
"Lancar juga anak seumur kamu berkata kata ya, terserah kamu, aku ga mau berdebat sama bocah seperti kamu dan teman temanmu"
"Oh, jadi begini ya cara orang dewasa berterima kasih?"
"Berterima kasih? Untuk apa? Kami ga merasa sedang dibantu tuh sama kamu"
"Oh ya ampun, aku baru ketemu laki laki yang tidak tahu dibantu kayak kamu, ga ngerti kamu itu terlalu angkuh atau apa ya namanya, tipe kamu menambah koleksi orang aneh di kamus aku"
"Sudah aku bilang kami ga minta bantuan siapa siapa apalagi sama anak kecil kayak kamu, kamu aja yang terlalu kepedean dan merasa sudah berjasa pada kami"
"Cukup katakan terima kasih dan aku akan ucapkan terima kasih kembali"
"Oh ya? Untuk apa? Merasa jadi pahlawan kecil untuk orang yang lebih tua darimu? Lucu sekali"
"Ya setidaknya, bukan aku yang punya fisik dewasa tapi pikiran bocah"
"Hei, jaga kata katamu nona kecil"
"Val, sudahlah..."
"Kenapa Vin? Kamu ga dengar apa yang dia bilang tadi?"
"Val, dia itu kakak kelas kita yang sekolah di sebelah kompleks sekolah kita"
"Oh ya? Jadi dia anak SMA Boxteer? Aneh ya, kompleks sekolah kita yang terkenal dengan sopan santunnya, sekolah bergengsi terfavorit se antero Kota A, masa iya contoh ini adalah salah satu hasil didikannya? Jauh dari kata sempurna, padahal sudah hampir lulus mungkin ya"
__ADS_1
"Val..."
"Jaga kata katamu gadis kecil, aku ga suka beradu mulut dengan anak kecil seperti kamu"
"Oh yaa?? Kamu malu beradu mulut sama aku atau kamu memang mengakui kalo kamu terbantu sama apa yang sudah aku lakuin ke kamu kan?"
"Keras kepala banget ya kamu"
"Kamu yang cari... (kata kata Val terputus oleh anak laki laki yang satunya)"
"Terima Kasih..."
"Apa? Aku ga denger, kamu bilang apa? Bisa di ulang kan?"
"Ya, aku bilang Terima Kasih, sudah selesai kan? Apa yang kamu mau sudah kamu dapat kan? Jadi ga usah memperpanjang apa apa lagi"
"Lex, kok kamu mau berterima kasih sih sama anak ingusan macam dia"
"Sudahlah Cal, untuk kamu gadis kecil masih ada lagi yang kamu butuh selain kata terima kasih?"
"Tidak ada, terima kasih kembali"
"Ayo kita pulang Cal"
"Berkat dia kita memang sedikit tertolong kan Cal, tidak bisakah kita pulang sekarang? Aku hanya ingin berada di rumah sekarang"
"Oke, aku telpon Pak Min sekarang"
Aku terpaku di tempat, yang aku mau memang sudah terwujud, aku menerima ucapan terima kasih, tapi bukan dari anak yang beradu argumen dengan aku tadi, tapi dari anak yang selalu dihina oleh anak gempal yang tadi, sampai mereka berdua berlalu dengan mobilnya aku masih terpaku di tempat.
"Val, lho kenapa bengong?"
"Itu tadi siapa Vin?"
"Maksudmu Caleb dan Bryan?"
"Caleb dan Bryan?"
"Iya, Caleb yang berdebat denganmu tadi, dan yang satunya lagi Bryan"
"Siapa mereka? Kenapa kalian terlihat takut dan enggan manjangin masalah? Padahal dia yang udah salah"
__ADS_1
"Ya , mereka kan kakak kelas kita Val"
"Terus kenapa? Kakak kelas kan harus bisa ngasih contoh baik, bukan gitu?"
"Mereka itu anak dari orang orang terkaya di Kota ini Val, ayah Bryan malah pemegang saham terbesar di Yayasan sekolah kita"
"Val, intinya sebaiknya kita menjauh dari mereka berdua, kalo ga mau kena masalah, aku aja yang satu kompleks sama mereka ga mau tuh berurusan sama mereka, takut ada salah kata sedikit, habis deh kita"
"Ah yang bener Cin? Kayak cerita telenovela aja, berasa berurusan dengan gembong gembong mafia gitu"
"Ya, percaya ga percaya, sepertinya gitu Val"
"Kamu ga lagi nakut nakutin aku sama Val kan Cin?"
"Ya ga lah Vin, ngapain juga aku nakut nakutin, bukannya harusnya kamu juga hapal sama mereka berdua?"
"Aku tau, tapi aku ga kenal, orang tua aku jarang membicarakan orang tua mereka, kata orang tua aku, kami lebih baik tidak mencampuri yang bukan urusan kita Cin, jadi ya seperti itulah..."
"Masa sih? Kok jadi merinding merinding sedap ya kalo dipikir lagi, lumayan serem, kalo gitu bisa jadi sedikit gawat ya? Oh ya ampun, kenapa aku harus menjadi sosok baik di waktu yang salah sih"
"Val, val... Yang udah biarin aja udah, toh kamu juga sudah bener kok Val, kalo kamu ga ada, mungkin lebih parah lagi keadaannya Val, mereka pasti secara ga langsung ngucapin makasih juga dalam hati"
"Tapi kamu denger sendiri kan Cin, dia ga ada syukur syukurnya, malah bilang aku nyampurin urusan mereka lagi"
"Ya udah biarin aja ya Val... Anggap aja kamu udah dapat catatan baik di surga"
"Iya deh, aku balik duluan ya kalo gitu, kalian masih nunggu supir kan? Atau mau singgah di rumah aku dulu?"
"Ga usah Val, makasih, supir aku bentar lagi nyampe, aku mau disuruh mami aku nemenin ke toko langganannya bentar"
"Aku nebeng Cindy Val, supir aku lagi ke bengkel tadi"
"Oke deh kalo gitu aku jalan ya"
"Hati hati ya Val..."
"Kalian juga..."
Val mengayuh sepedanya kembali ke rumah, mood nya untuk bermain sepeda menguap sudah, yang ada hanya rasa kesal. Val berharap dalam hati, dia tidak akan pernah bertemu dengan dua orang itu lagi. Hanya buat mood senang menghilang seketika saja. Niat baik malah dapat apes, ini bagaimana ceritanya mau nolongin malah dibilang ikut campur sih, kesel banget deh jadinya. Val berusaha untuk memperkecil kemungkinan dia lebih mengenal kedua orang itu lagi, karena mereka berada dalam satu kompleks yayasan mereka.
Val datang ke sekolah hanya untuk belajar dan pulang selalu tepat waktu, itu yang selalu Val lakukan setiap harinya, sebisa mungkin tidak aktif di sekolah, kondisi Val yang memang sedang dalam persiapan ujian akhir kelas 3 SMP membantu Val untuk tidak terlalu aktif di kegiatan apapun diluar rutinitas sekokah. Posisi SMA di Yayasan sekolahnya memang berbeda dengan tempat SMP nya berada meskipun masih berada dalam satu kompleks, jadi pertemuan masih bisa dihindari...
__ADS_1
Apa?? Pertemuan?? Apa maksudnya pertemuan, bukannya dengan berharap tidak ada pertemuan, berarti aku masih berharap adanya kemungkinan bertemu, aduuhhh mikir apa aku ini, sudahlah jalani hari seperti biasa dan sewajarnya saja anggap tidak pernah ada kejadian apa apa.